
Foto: Alex Lalisang
Debutnya sebagai penulis skenario film langsung diganjar penghargaan bergengsi. Untuk mencapai posisi itu Jenny Jusuf telah mengasah kemahiran menulis dengan menekuni hampir semua lahan yang berhubungan dengan tulis-menulis, dari menjadi penerjemah, penulis buku, jurnalis, hingga penulis naskah televisi.
Bukan Penulis Instan
Jenny tak menyangka saat namanya disebut sebagai pemenang penulis skenario adaptasi terbaik dalam Film Festival Indonesia 2015 lewat film Filosofi Kopi. Meski berpengalaman menulis skenario untuk televisi, ini adalah karya pertamanya dalam menulis skenario film. Kerja kerasnya mendalami dan mengembangkan karakter dari cerita pendek menjadi sebuah skenario film berdurasi hampir dua jam, terbayar.
Sejak menerima tawaran pada tahun 2011, ia segera melakukan riset dan banyak berdiskusi dengan Dewi Lestari, penulis cerita pendek tersebut, hingga akhirnya selesai pada tahun 2014. Perjalanan yang panjang itu berakhir bahagia, sebahagia kisah tokoh utamanya. Bukan cuma satu, ia juga meraih Piala Maya 2015 dan penghargaan sebagai Penulis Naskah Film Terbaik dalam Bandung Film Festival 2015.
“Penghargaan bagi saya adalah sebuah bonus dan pengakuan. Kesuksesan Filosofi Kopi awalnya sedikit membuat waswas, tapi saya lantas sadar bahwa saya menulis karena mencintai pekerjaan ini. I love scriptwriting so much I would do it without getting paid. Saya menulis karena rasa cinta ‘mengharuskan’ saya untuk menulis. Setelah sampai di titik ini, pengakuan, penghargaan dan kesuksesan tidak lagi menjadi beban,” ujar penggemar penulis naskah Richard Linklater, yang menulis naskah film Before Sunrise, Before Sunset, dan Before Midnight itu.
Bagi wanita kelahiran 30 Januari 1984 ini, merangkai cerita dan kata-kata adalah napas hidupnya. Ia nyaris tak pernah lepas dari berbagai jenis bacaan sejak bisa membaca pada usia 2,5 tahun. Sebagaimana anak SD, ia pun mulai belajar menulis. Saat remaja, menulis menjadi hobi gadis berkacamata minus 5 ini. Ia memberanikan diri mengirim naskah ke berbagai lomba menulis, majalah, dan penerbit. Naskah pertamanya dipublikasikan di majalah remaja Cerita Kita tahun 2006, dan tahun 2008 ia menerbitkan kumpulan cerita pendek dalam buku berjudul VAJRA.
Walau tak sempat mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, ia begitu semangat mengasah kemampuan dengan menjajal berbagai pekerjaan yang berhubungan dengan tulis-menulis, seperti penerjemah, blogger, editor buku di penerbit Bentang, dan jurnalis di NGO iklimkarbon.com.
”Orang suka mengira saya penulis naskah instan, padahal saya mulai menulis sejak tahun 2010 dari penulis naskah televisi Sketsa dan Oh Ternyata, serta sinetron Putih Abu-Abu,” ujar penggemar makanan berkeju ini. Tahun 2015 ia juga sempat menerbitkan buku Eat Play Leave: Kisah Bule-Bule Bali berdasarkan pengalaman dan pengamatannya sejak tinggal di Bali, 4 tahun belakangan ini.
Bisa dibilang, ia tengah menikmati pekerjaan menulis skenario film, yang menuntutnya untuk bisa menyelami dimensi karakter-karakter sebagai ‘aktor pertama’ dari cerita tersebut, berusaha melihat dari sudut pandang seorang produser, sutradara dan editor, dan mengira-ngira perspektif penonton. Semua terasa sangat menarik baginya.
“Menulis Critical Eleven bisa dibilang pengalaman menulis saya yang paling menantang sejauh ini, karena saya harus bisa menyelami dimensi karakter-karakter yang sudah menikah dan menantikan kehadiran anak. Dua hal yang sama sekali belum pernah saya alami,” jelasnya, bersemangat.
Seperti saat menulis Critical Eleven, impiannya untuk bisa bekerja sama dengan dua aktor favoritnya, Reza Rahadian dan Adinia Wirasti, pun terwujud. “Critical Eleven tidak hanya memberikan saya pengalaman yang amat menantang, tapi juga seorang teman karib,” jelasnya penuh semangat, tentang pertemanannya dengan Ika Natassa.
Di tengah kesibukannya menulis naskah ia juga sedang mempersiapkan workshop mengenai penulisan skenario, bekerja sama dengan sebuah start up bernama Writing Table. “Inginnya, sih, tahun ini mulai menulis novel, kalau ada waktunya,” katanya.
(Klik halaman di bawah untuk melanjutkan membaca)

Foto: Alex Lalisang
Berdamai dengan Masa Lalu
Melihat Jenny, sering kali orang langsung menangkap sosok wanita yang ramah dan ceria, apalagi jika pernah membaca bukunya yang berjudul Eat Play Leave: Kisah Bule-Bule Bali, yang nyeleneh. Namun, di balik senyum wanita bertinggi 165 cm dan berat 48 kg itu, ada luka yang perlu waktu bertahun-tahun untuk ia sembuhkan.
Lahir dari keluarga yang bercerai, anak tertua dari dua bersaudara ini mengaku memiliki masa kecil yang jauh dari bahagia. Meski pikirannya memblokir pengalaman buruknya itu, batinnya tak akan lupa. “Banyak sekali yang saya alami selain pelecehan seksual. I was severely abused during my childhood and teenage years. Tidak hanya itu, saya pun sakit-sakitan sejak kecil. Lebih dari sekali saya berpikir untuk mengakhiri hidup dan merasa depresi adalah ‘makanan’ sehari-hari,” ungkapnya.
Saat remaja, ia berusaha mencari kedamaian dengan aktif di gereja. Namun, tak dipungkiri, ia tumbuh menjadi wanita yang sering menggantungkan kebahagiaan kepada orang lain, kekasih tepatnya, hingga kerap mengalami kekecewaan. Ini yang mendorongnya untuk mencari ‘pengobatan’.
“Saya mulai menerapkan self-healing techniques yang saya pelajari dari guru meditasi saya, Reza Gunawan, pada tahun 2008. Sejak itu, saya mengikuti beberapa retreat meditasi, menjalankan terapi akupunktur, bach flower remedies, homeopati, dan lainnya. Sejak tahun 2012 saya tidak lagi mengonsumsi obat-obatan dan hanya menggunakan produk-produk alami untuk menjaga kesehatan,” kisahnya.
Meski getir, ia tak ragu membuka pengalaman hidupnya. Pengalaman itu justru membentuk dirinya menjadi wanita yang menurutnya kuat, sehat, bahagia, sejahtera, damai, dan lebih bijaksana. “Saya memiliki komitmen pada diri sendiri: apa pun yang saya alami membuat saya lebih baik, bukan lebih pahit. Termasuk patah hati. Saat Anda pegang mindset ini, Anda tak akan menjadi ‘rusak’ karena segala sesuatunya akan membentuk Anda menjadi pribadi yang lebih baik,” jelasnya.
Ia tak memungkiri, ada orang-orang yang berjasa atas kebangkitan dirinya. Setidaknya, ada tiga orang yang ia sebut paling besar jasanya: Reza Gunawan, Vito Mucci (USA), dan Shantam Nityama (USA). Bagi Jenny, ketiga terapis itu adalah penyembuh dan guru yang luar biasa.
Bahagia versinya kini adalah menikmati kebebasan dan merasa cukup. Kebebasan untuk melakukan apa yang ia cintai dengan caranya sendiri. Ia memang masih menggenggam impian untuk bisa menjejakkan kaki, traveling ke negeri-negeri impiannya, yaitu Inggris, Bhutan, Islandia, dan Jepang. Namun, bukan berarti ia tidak bahagia. Filosofinya kini adalah merasa cukup dengan apa yang ia miliki dan tidak merasa kurang ketika apa yang ia inginkan belum bisa diraih. Puas dengan sedikit, bukan banyak.
Ia mengaku sudah berdamai dengan masa lalu dan masa kini. Ya, kini ia berusaha berdamai dengan segala kemungkinan yang terjadi di masa depan. Ia mengaku lebih senang hidup tanpa rencana. “Jangankan 5 tahun ke depan, minggu depan mau ngapain saja saya belum tahu. Hidup yang terbaik adalah hidup yang tidak direncanakan, setidaknya menurut saya. Sekarang saya jauh lebih relaks. Kalau memang sudah jatahnya, enggak akan ke mana,” katanya. Padahal, lima tahun lalu wanita penyuka warna hijau ini mengaku begitu terpacu untuk mengejar mimpi sampai sering stres dan frustrasi.
Kalaupun ada yang betul-betul ingin ia usahakan adalah berbagi pengalaman hidup dari apa yang ia petik selama ini kepada sesama wanita. “Many women are struggling,” katanya. Menurutnya, wanita sangat membutuhkan dukungan dan kasih sayang tulus dari sesama wanita. Jenny pun ingin menciptakan karakter wanita kuat dalam naskah film. “Ketangguhan dan energi seorang wanita itu luar biasa. Tapi sayangnya, yang banyak disajikan adalah tangguh seperti pria,” katanya. (f)
Baca Juga: