Foto: Shinta Meliza

Diabetes bisa menjadi masalah siapa saja, terutama bagi mereka yang tidak menjalankan pola makan sehat dan kurang berolahraga. Survei yang dilakukan oleh portal kesehatan 1Health.id pada tahun 2015 menyebutkan, sekitar 9 juta orang Indonesia hidup dengan diabetes. Bahayanya, 50% di antaranya tidak menyadari kondisi kesehatannya. Dan, 25% dari mereka terjangkit diabetes karena kurangnya aktivitas fisik dan menjalankan diet tidak sehat. Pengalaman sang ayah yang menderita diabetes pula yang akhirnya mendorong Jansen Ongko, M.Sc, R.D. (35)  mendalami ilmu gizi di Amerika Serikat. Kembali ke Indonesia, ia menyebar virus hidup sehat lewat pola makan dan olahraga. 

Memulai dari Bawah
Jansen kecil hidup dalam keluarga yang serba berkecukupan di Kalimantan. Keluarga besarnya tergolong pengusaha sukses. Tak mengherankan, sejak kecil  ia sudah akrab dengan konsep berdagang. “Saat SD, saya sering membawa barang dagangan, seperti alat tulis dari toko milik ayah saya dan menjualnya kepada teman-teman di sekolah. Dari situ saya banyak belajar soal manajemen dan pencatatan keuangan,” kenangnya, membuka percakapan dengan femina di pusat kebugaran miliknya Fitness Embassy.

Menginjak SMP, Jansen pindah ke Surabaya, di mana ia harus belajar mandiri. Sambil bersekolah, ia merajut cita-citanya untuk menjadi pengusaha seperti sang ayah. Namun, mimpi tersebut buyar ketika tahun 2000, saat ia masih di SMA, ayahnya, Hingki O.S., meninggal akibat penyakit diabetes. “Jujur, pengalaman tersebut menjadi turning point hidup saya. Saya penasaran, mengapa Ayah bisa menderita diabetes, sampai meninggal dunia,” kenangnya. 

Menutupi kesedihannya ditinggal sang ayah, Jansen mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk gizi. Ketertarikan tersebut terus berlanjut hingga ia mengambil kuliah di jurusan Nutrition, Dietetics, and Food Science di California State University dan melanjutkan studi Master of Science in Kinesiology di kampus yang sama. 

Untuk pilihannya ini, keluarga besarnya tak mendukung, karena ada anggapan jurusan yang ia ambil tidak populer dan tidak memiliki masa depan yang jelas. “Selama kuliah, saya mencukupi kebutuhan sehari-hari dengan bekerja paruh waktu sebagai pelayan restoran cepat saji,” kata Jansen. 

Selama mendalami ilmu gizi di Amerika Serikat, perlahan-lahan Jansen  mulai menerapkan pola hidup sehat. Salah satunya, menjaga kondisi tubuh dengan rutin berolahraga, makan makanan sehat, dan istirahat yang cukup. Pola sehat yang lama-kelamaan menjadi sebuah kebiasaan.

Tahun 2009, setelah mendapat gelar Registered Dietitian (RD), Jansen memilih untuk kembali ke Indonesia. Satu niatnya saat itu adalah mengaplikasikan ilmunya sebagai ahli gizi. Namun, banyak kendala yang ia temui di awal kariernya, karena faktanya di Indonesia tak banyak orang yang paham tentang profesi nutrisionis (ahli gizi).

“Rata-rata orang di Indonesia sudah merasa cukup dengan membaca atau mencari informasi lewat internet. Jadi, memang sulit untuk mendapatkan orang yang percaya pada ahli gizi,” ungkap pria kelahiran 14 Januari 1982 ini. Dengan bermodal kartu nama, Jansen ‘menjual’ kapasitasnya sebagai ahli gizi lewat teman dan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Berjalan selama beberapa bulan, ia tak melihat hasil yang cukup menggembirakan. Ia pun mulai memutar otak dan akhirnya memutuskan untuk membuat situs www.ask-jansen.com. “Ketika membuat situs ini saya meminta bantuan seorang teman. Bayarannya pun dicicil,” katanya. 

Di situs ini, Jansen membuka kesempatan bagi siapa saja untuk berkonsultasi secara online. Finalis BOC  Menshealth Indonesia 2012 ini juga aktif menulis untuk berbagai artikel kesehatan. Seiring jalan, ia juga menambah pengetahuannya dengan mengikuti berbagai jenis pelatihan terkait gizi, olahraga, dan kesehatan.

Menjadi ahli gizi tanpa menyandang gelar dokter, tak jarang Jansen mendapat cibiran dari orang lain yang mempertanyakan kredibilitasnya. “Saat ada yang bertanya langsung lewat media sosial, saya jelaskan bahwa belajar tentang gizi bisa dari mana saja, dan studi serta pelatihan yang saya lakukan bisa diuji kredibilitasnya,” tegas penyuka kopi ini. 

Butuh waktu dua tahun untuk Jansen mendapat kepercayaan dari masyarakat bahwa ilmu kesehatan dan olahraga yang ia pelajari selama 6 tahun di Amerika Serikat, bisa dipercaya. Tahun 2012, setelah aktif berbicara tentang gaya hidup sehat di Menshealth Indonesia, Jansen mulai dilirik oleh media. Namanya pun perlahan dikenal publik dan menjadi pembicara di beberapa acara kesehatan.

(Klik halaman di bawah untuk melanjutkan membaca)
 
 

Foto: Shinta Meliza

Terus Mengedukasi
Sepuluh tahun lebih menjadi nutrisionis, berbagai jenis klien pernah ia hadapi. Tapi, siapa pun kliennya, ia akan menjelaskan tentang perbedaan ahli gizi dengan dokter. “Kalau dokter itu memperbaiki, kalau ahli gizi lebih ke memberi saran, tindakan preventif dengan mengubah gaya hidup,” kata Jansen, tegas. 

Biasanya, pada saat konseling Jansen akan melihat pola makan, olahraga, dan kebiasaan dari klien yang sedang ia tangani. “Agar lebih efektif,  tiap bertemu dengan klien saya mulai dengan menanyakan masalah mereka. Dari sini saya baru memberikan saran bagaimana mengubah gaya hidup lebih sehat. Selain itu, pengalaman klien juga menjadi ide menarik untuk bahan tulisan saya, baik untuk media massa maupun untuk website,” jelas Jansen.

Jansen mengklaim hampir 90% klien yang datang kepadanya sukses menjalankan hidup sehat yang ia sarankan. “Saya melihat mereka berhasil karena punya semangat besar untuk belajar. Saya membantu mereka untuk memahami manfaat positif dari hal-hal yang saya sarankan,” katanya. 

Walaupun begitu, berdasarkan pengalamannya, Jansen melihat kendala terbesar masyarakat untuk menjaga tubuh tetap sehat adalah minimnya keinginan untuk berolahraga. Itulah sebabnya, meski diakui Jansen saat ini masyarakat   makin teredukasi tentang gaya hidup sehat, ia tidak ingin berhenti untuk menyebarkan virus sehat lewat pola makan dan olahraga. 

Salah satunya dengan mendirikan Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia (APKI) dan Garuda Institute, pada tahun 2014. Keduanya menjadi wadah untuk mendidik pelatih-pelatih kebugaran bersertifikat internasional. Dari peserta awal yang tak sampai 10 orang, kini Jansen telah memiliki 140 orang tenaga terlatih. Lulusannya pun sudah tersebar di berbagai pusat kebugaran di Indonesia. Pria pemilik tinggi 172 cm dan berat badan 71 kg ini juga mendirikan Lagizi Health & Nutrition Services untuk memenuhi permintaan masyarakat Indonesia akan jasa pakar kesehatan profesional, khususnya ahli gizi.

Februari lalu, Jansen membuka pusat kebugaran Fitness Embassy di kawasan Kebayoran Baru. Meski baru memiliki satu cabang, pusat kebugaran miliknya ini tampil beda, dengan privasi anggotanya. “Dengan konsep ini, seseorang akan mendapatkan latihan sendiri yang fokus, sehingga tujuannya lebih cepat tercapai,” jelasnya. Beberapa selebritas menjadi anggota Fitness Embassy, seperti Abimana Arya, Arifin Putra, dan Tara Basro. 

Tidak cukup puas dengan tiga proyek yang sudah ada, tahun ini Jansen berencana untuk membuka Diploma Fitness yang merupakan pusat pendidikan lanjutan bagi para trainer.  Juga Goifex yang merupakan pameran makanan sehat dan alat olahraga yang akan diadakan pertengahan Agustus nanti. “Kami akan mendatangkan master trainer dari Amerika Serikat yang namanya masih dirahasiakan,” ungkap project leader Goifex ini.

Belakangan ini, Jansen juga sedang menggalakkan konsep rainbow eating,  bekerja sama dengan salah satu kliennya. Konsep ini mengatur asupan bahan makanan ke dalam tubuh berdasarkan warna. “Terkadang, orang susah  menghafalkan kandungan gizi yang ada di   tiap bahan makanan. Jadi, saran saya, akan lebih mudah mengonsumsi sayur dan buah dengan warna yang berbeda, karena  tiap warna memberikan nutrisi dan vitamin yang berbeda pula. Konsep ini bukan untuk diet, tapi untuk menjaga kesehatan,” jelas penulis buku We Are What We Eat ini.

Kini, dengan segudang kesibukannya, Jansen tak pernah absen menjalankan hidup sehat dan berolahraga minimal 3 kali seminggu. Ia juga terbiasa mengatur asupan makanan dengan memenuhi kebutuhan protein dalam tubuh, menghindari makanan yang digoreng, memperbanyak konsumsi sayur dan buah, serta tidur cukup. “Dari sekian banyak jenis olahraga, saya paling sering melakukan olahraga weight training karena dapat membangun kekuatan tubuh sehingga saya tak mudah lelah,” kata pria yang tengah sibuk menyusun buku tentang teknik dan panduan penggunaan alat-alat olahraga ini. (f)

Baca Juga: