Foto: Hermawan

Banyak orang mengenal Inayah Wulandari (35) sebagai si bontot dari empat bersaudara, putri dari Presiden RI ke-4, K.H. Abdurrahman Wahid. Gayanya pun terkenal nyentrik dengan rambut warna warni, berbeda dengan citra keluarganya yang datang dari kalangan ulama.

Namun, tak berarti wanita kelahiran 31 Desember 1982 ini lupa pada semangat cinta pluralisme yang menitis dari sang ayah, dan yang kini ia teruskan dalam setiap langkahnya. Melalui gerakan Positive Movement, wanita yang akrab dipanggil Nay ini mengobarkan semangat cinta damai. Ia percaya bahwa perubahan tidak menunggu siapa ada di posisi mana. Perubahan bisa dimulai saat ini juga, di mana pun seseorang ditempatkan.

“Semua orang ingin happy,” ungkap Nay, Koordinator Positive Movement, saat mengawali obrolan santai bersama femina di kediamannya, di Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jumat (13/10). Ditemani teh hangat dan kelezatan comro gurih pedas yang jadi suguhan andalan ibundanya, Sinta Nuriah, Nay mulai membagikan ide-ide bahagianya yang mengubah melalui gerakan Positive Movement, yang merangkul kaum muda di kisaran usia 17-25 tahun itu.

Gagasan happiness movement ini muncul saat Nay tersadar bahwa seminar pluralisme dan toleransi, dialog antaragama, atau orasi-orasi tentang kebinekaan hanya menarik dan menyentuh kelompok orang muda yang sama, yaitu orang-orang yang sebenarnya telah sepaham. Sementara, mereka yang tidak tertarik dengan acara serupa masih belum tersentuh.

Ada kebutuhan substansial dari orang-orang muda ini yang butuh disentuh, diakui, dan bersama-sama dicari solusinya. Ia pun mulai berganti strategi pendekatan dan menemukan bahwa kunci dari transformasi berpikir adalah dengan menjadi orang-orang yang bahagia.

Melalui lembaga swadaya masyarakat Positive Movement, yang digerakkannya sejak tahun 2006, Nay mengajak orang muda untuk menularkan kebahagiaan dan optimisme di semua segi kehidupan. Misalnya, mengadakan camp atau program self healing bagi anggota komunitas. Ragam kegiatan lainnya bisa dipantau melalui akun Facebook, @positive.movement.indonesia. Cara ini rupanya berhasil menarik orang muda untuk bergabung.

“Sebab, pada akhirnya mereka sadar bahwa apa pun latar belakang mereka dan berapa pun perbedaan yang ada, mereka punya lebih banyak persamaan. Mereka berbagi keinginan, mimpi, sekaligus kekhawatiran yang sama,” ungkap Nay, yang siang itu terlihat tampil santai tapi gaya dengan padanan jaket dan celana washed denim biru muda.

Kesadaran ini membuat mereka tidak lagi bicara soal perbedaan atau ide yang muluk-muluk.
Namun, berawal dari diri sendiri, mereka mengusahakan langkah kecil yang bisa dilakukan untuk membuat perubahan yang berdampak. Dalam salah satu acara camp mereka, misalnya, Nay sangat terkesan oleh kreativitas anak-anak muda ini saat memanfaatkan modal yang terkumpul untuk menolong dan membuat bahagia orang lain.

“Dana itu diambil dari uang denda yang harus dibayarkan saat seseorang mengeluh,” ujar Nay, separuh geli. Sebab, ketika dibuka, jumlahnya lumayan juga! Dana inilah yang kemudian dibagikan kepada masing-masing kelompok untuk dijadikan modal. “Syaratnya, bantuan tidak boleh dalam bentuk uang. Jadi, mereka harus mencari cara lain,” terangnya.

Ada yang kemudian membagikan buku cerita anak-anak secara gratis, dan banyak lagi. Nay mengatakan, semangat persaudaraan dan kolaborasi untuk mencari solusi bersama inilah yang perlu terus dipupuk di antara orang muda Indonesia. Terlebih di era post truth, di mana keyakinan dan emosi pribadi lebih berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding fakta-fakta objektif. Ini adalah era ketika haters menjadi sebuah profesi dan segala sesuatu dikapitalisasi untuk kepentingan sekelompok golongan yang  hendak memecah belah persatuan.

“Saya percaya, berita-berita hoax bernada kebencian ini gampang menyebar karena masyarakat punya kemarahan itu. Mereka sama-sama punya rasa sakit karena diperlakukan tidak adil selama puluhan tahun,” ujarnya, tentang fenomena perang opini di media sosial atau grup chat.

Demi mengobati ‘luka lama’ ini, Nay bersama rekan-rekannya di Positive Movement kerap menggelar kegiatan self healing bersama komunitas Capacitar Indonesia. Melalui serangkaian teknik, termasuk meditasi, yang membantu tubuh untuk menyembuhkan diri dari berbagai trauma dan rasa sakit akibat kehidupan yang penuh kekerasan dan ketidakadilan.

Nay berharap masyarakat bisa mengambil waktu untuk menelisik ke dalam sisi emosional mereka dan semua rasa sakit yang menjadi trauma. “Sebab, hanya dengan cara ini mereka bisa dengan lebih jernih dan objektif melihat sebuah masalah. Mereka tidak gampang lagi terhasut. Masyarakat akan terlatih untuk berpikir kritis dan tidak reaktif dalam menanggapi segala sesuatu yang memancing emosi,” tegas Nay.

Selanjutnya: Perubahan Tidak Menunggu
 
 

Perubahan Tidak Menunggu

“Perubahan itu tidak menunggu kita nanti menjadi siapa dan ada di posisi mana,” ucap Nay, mengutip pesan almarhum ayahnya yang akrab dipanggil Gus Dur. “Perubahan bisa dimulai saat ini, di tempat sekarang saya berada,” lanjutnya. Nay belajar meneladani sikap hidup ayahnya yang tidak banyak bicara, tapi aktif mendengar dan berkarya.

Ia menyaksikan bahwa di sepanjang hidupnya Gus Dur pun mengerjakan banyak hal: menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Ketua PBNU, mengajar, dan menyediakan diri untuk mendengar keluh kesah orang-orang kecil.

“Buat Bapak, semua orang punya cerita yang patut didengarkan. Ini yang menurut saya jadi kekuatan Bapak,” cerita Nay, tentang rutinitas Gus Dur menerima tamu dan mendengarkan curahan hati mereka, jauh sebelum beliau menjadi Presiden RI.

Tiap pagi, selesai salat Subuh, Gus Dur akan membuka pintu ruang tamunya, menerima tamu yang telah mengantre sejak semalam sebelumnya. Semua dilayani sesuai urutan kedatangan. “Kalau yang datang tukang sapu duluan, yang menteri juga harus menunggu giliran,” cerita Nay.

Mereka duduk sama rendah, lesehan di atas gelaran karpet. Selama lima jam tersebut Gus Dur akan menyediakan dirinya untuk mendengarkan curahan hati tiap orang yang datang.

Nay belajar bahwa ibu-ibu yang datang naik odong-odong itu tentunya tidak mendatangi Gus Dur karena beliau punya ide-ide brilian tentang pluralisme. “Mereka datang ke Bapak karena mereka tahu Bapak mendengarkan mereka, peduli, dan membela nasib mereka,” ungkap Nay, tentang teladan yang ditinggalkan Gus Dur, yang coba terapkan dalam setiap langkahnya.

Bahkan, dalam tulisan di atas nisannya pun, Gus Dur yang wafat pada 30 Desember 2009 itu dikenang bukan sebagai pejuang pluralisme, tapi sebagai seorang humanis: ‘Di sini berbaring pejuang kemanusiaan’. Tulisan yang juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Arab, dan Tiongkok itu menjadi sebuah pengingat bagi Nay untuk lebih memfokuskan gerakannya pada kemanusiaan.

Ia merasa bahwa ada sesuatu yang hilang saat gerakan toleransi beragama terus digembar-gemborkan. “Bukan agamanya yang jadi sumber masalah, tapi toleransinya,” ungkapnya. Jika bicara soal toleransi, berarti bicara soal relasi antarmanusia. “Masalahnya, sekarang ini kemanusiaan kita telah tereduksi, tidak ada lagi empati,” lanjut Nay, sedih dengan era yang lebih mengagungkan idealisme dan ego sektoral di mana perbedaan menjadi sebuah ancaman.

Maka, dengan caranya sendiri ia menggelitik telinga dan hati nurani orang lewat puisi-puisi ciptaannya yang ia bacakan sendiri. Dua di antaranya adalah puisi percakapan antara seorang santri dengan kiainya tentang pemahaman Indonesia yang plural dan Pancasila, serta puisi berjudul Doa Millennial di Penghujung 2016.

Puisi kocak kekinian ini disebut-sebut paling banyak diperbincangkan orang. Berisi sindiran terhadap gegar budaya di era media sosial, serta perbenturan antara nilai-nilai humanisme dan akidah agama yang kaku.

Di sisi lain, melalui kiprahnya di seni akting dalam serial komedi situasi Oke Jek, Nay juga berhasil merengkuh lapisan kaum muda yang awalnya tidak terjangkau oleh gerakan positif yang dirintisnya sejak tahun 2016. Kekocakannya dalam memerankan tokoh Naya, bos layanan ojek online Oke Jek yang bawel, tidak hanya membuat para fans ingin mengenal sosok pribadinya, tapi juga mencari tahu aktivitasnya di luar sorot kamera.

“Mereka mulai follow media sosial saya. Awalnya mungkin mereka berharap saya akan banyak bicara soal tontonan itu sendiri. Tetapi, di luar dugaan saya justru banyak memasukkan konten-konten sosial. Akhirnya mereka ikut terpapar,” ungkapnya, saat menjelaskan alasannya menerima tawaran peran itu.

Nay tidak takut jika keputusannya bermain sinetron akan menimbulkan tanda tanya atau nada sumbang mengingat latar belakang keluarganya yang banyak berkecimpung di dunia akademisi. “Apa pun itu, apa yang bisa saya kerjakan sekarang, akan saya lakukan. Jika saat ini bermain sinetron komedi bisa membuka jalan agar orang muda mengenal pergerakan yang saya perjuangkan, mengapa tidak?” jawab wanita yang sejak SMA memang telah menggeluti dunia teater ini, santai.

Selanjutnya: Belajar dari Gus Dur
 
 

Belajar dari Gus Dur

Sejak dulu, bahkan saat ayahnya menjabat sebagai Presiden RI ke-4, adik dari Alissa
Qotrunnada Munawaroh (Lissa), Zanuba Arifah Chafsoh (Yenny), dan Anita Hayantunnufus (Nita)
ini memang terkenal paling ‘rebel’.

Rambutnya yang dicat warnawarni, sikap cuek, dan bicaranya yang ceplas-ceplos tidak hanya mengundang komentar banyak orang, tapi juga menjadi umpan manis media massa. Mengingat ini, Nay yang kini tampil dengan rambut pirang, tertawa geli.

Ia bercerita, di masa itu, kakak pertamanya, Lissa, pernah berteriak protes. Ia mengadukan rambut warna-warni Nay kepada sang ayah, yang kemudian memanggilnya. “Kamu tahu kalau secara fiqih mengecat rambut itu dilarang? Kamu siap menanggung konsekuensinya, termasuk jika dihujat orang?” tanya Gus Dur kepada Nay.

Dengan tegas Nay menjawab, “Saya tahu dan siap.” Lalu, dengan gaya santainya, Gus Dur berkata kepada Lissa, “Lha, wong, anaknya sudah siap nanggung risiko, kok, kamu yang ribut.” Masalah selesai di situ. Dari sang ayah, Nay belajar untuk tidak melihat masalah sebagai penghalang.

Sebaliknya, masalah hadir sebagai pemicu kreativitas dalam mencari solusi. Ia pun berkisah nostalgia ayahnya saat menjadi mahasiswa perantauan di Universitas Kairo, Mesir. Saat itu, di asrama mahasiswa Indonesia, tiap orang mendapat giliran memasak. Tiap tiba giliran Gus Dur, mereka selalu bisa menikmati daging. Mereka keheranan, sebab mereka tahu tak ada cukup uang untuk membuat menu mewah ini.

“Rahasia Bapak terbongkar ketika salah satu mahasiwa Indonesia ditanyai pedagang daging di pasar. ‘Mana temanmu yang punya 20 anjing itu?’” Rupanya, selama itu Gus Dur mendapat sisa-sisa tetelan daging untuk ‘20 anjingnya’ di rumah. Kami pun tertawa terpingkal-pingkal mengenang akal-akalan Gus Dur ini.

Semangat mencari solusi ini juga yang ingin Nay lanjutkan pada generasi muda saat ini. “Indonesia
membutuhkan calon-calon pemimpin bangsa yang berorientasi solusi,” tegasnya.

Dalam kenangan Nay, ayahnya itu punya cara unik dalam mendidik putri-putrinya. “Waktu kecil, saya tidak hanya dicekoki dengan cerita-cerita Nabi, tapi juga dengan cerita-cerita wayang. Dengan cara inilah Bapak memasukkan pesan moral,” ungkap pencinta wayang yang beberapa kali bermain wayang orang, seperti Arjuna Galau (2013) dan Lahirnya Parikesit (2015) ini.

Ia juga ingat, ketika beberapa buku dibredel di era Orde Baru, Gus Dur malah membawakannya buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer yang ada dalam daftar larangan.

Masih lekat di ingatannya, saat masih tinggal di Istana, ayahnya sering mengajak Nay untuk ikut berkunjung ke beberapa tokoh penting nasional, seperti Pramoedya, S.K. Trimurti, dan Benny Moerdhani. “Ayo, ikut Bapak!” ajak ayahnya, selalu tiba-tiba.

Disangkanya, waktu itu ia akan menjadi saksi dari pembicaraan serius tingkat negara. Kenyataannya, ini menjadi acara santai kunjungan sahabat, di mana para tokoh itu membagikan kisah-kisah nostalgia mereka.

“Om Benny bercerita saat ia terjun ke medan perang. Bu S.K. Trimurti sibuk nembang, dan bercerita saat beliau rapat hingga pukul 2 pagi untuk mempersiapkan pertemuan Sumpah Pemuda, dan menyambut rombongan pemuda dari luar Jawa,” cerita Nay. Pertemuan-pertemuan ini membuatnya menyerap ilmu dan semangat kebangsaan langsung dari mereka yang terjun memperjuangkannya.

Nay mengaku, sangat berat meneladani ayahnya yang bisa terus maju dan fokus mengerjakan visinya, dengan atau tanpa dukungan. Ketika serangan kelelahan itu muncul, Nay punya cara untuk mengembalikan fokus serta membangkitkan lagi semangatnya, yaitu dengan traveling. Salah satu hobi yang juga ditularkan oleh Gus Dur yang gemar traveling dan lebih suka bermalam di ashram atau vihara untuk berjumpa teman-temannya.

Baru-baru ini, bersama rekan-rekannya, Nay berkelana selama tiga minggu di India. Ladakh, yang berbatasan dengan Tibet, menjadi salah satu kota yang dikunjunginya. Ia sangat terkesan saat tahu bahwa Islam menjadi agama kedua terbesar setelah Buddha di sana. Uniknya, meski berjilbab, para wanita muslim di Ladakh tetap mengenakan pakaian sari, dengan perutnya yang mengintip. Dan itu tidak menjadi soal di sana.

“Setelah sering kena hujat sebagai anak kiai yang tidak berkerudung dan punya rambut warna-warni, pengetahuan ini menjadi sesuatu yang sangat menyegarkan buat saya,” ceritanya, tertawa.

Baginya, bepergian dan berinteraksi dengan orang-orang di luar zona nyaman memberikan perspektif baru, dan membuatnya belajar untuk bersyukur. Sebab, apa yang selama ini dianggap sebagai masalah, di tempat lain hal ini bahkan bukan apa-apa.

“Begitu melihat lalu lintas Kota New Delhi, saya baru bisa bersyukur tinggal di Jakarta. Meskipun macet, kendaraan masih teratur,” ujarnya, geli.

Selanjutnya: Si Bungsu Kesayangan
 
 
 


Mendengar semua kisahnya bersama sang ayah, agaknya tak berlebihan jika femina mengatakan bahwa Nay adalah bungsu kesayangan Gus Dur. Mendengar ini, Nay mengulas senyum dan membuat sebuah pengakuan yang cukup mengejutkan. “Kedekatan dengan Bapak itu sebuah proses yang panjang. Saya pernah marah karena Bapak jarang ada untuk saya,” ungkapnya.

Kondisi ini membuat Nay, yang saat itu baru memasuki masa kuliah, memberontak dan protes.
“Masak saya lebih sering ketemu bapaknya teman saya, daripada bapak sendiri?” katanya waktu itu kepada Gus Dur. Kemarahan ini oleh sang ayah disikapi dengan hati terbuka. “Waktu itu Bapak minta maaf kepada saya,” kenang Nay.

Momen ini tidak hanya berhasil melumerkan hatinya yang mengeras, tapi menjadi titik balik yang menggerakkan dan menginspirasi di jalur perjuangannya saat ini. “Bapak tidak boleh bekerja dan capek sendiri. Saya harus membantunya dengan melakukan apa pun yang bisa saya lakukan,” ungkap Nay, yang masih setia menggenggam tekad yang sama untuk menyebarkan semangat cinta damai dan
pluralisme. (f)