
Foto : AFP
I feel like I’m here to bust stereotypes of Muslim women, " ujar Halima Aden (19) pada media di AS.
Setelah penampilannya di ajang Miss Minnesota USA tahun 2016, Halima langsung mencuri perhatian publik. Ia menjadi wanita berhijab pertama yang ikut dalam kontes kecantikan di Amerika Serikat. Meski tak berhasil meraih mahkota, jalannya di panggung catwalk terbuka lebar.
Yuk, kenalan dengan wanita mengagumkan ini.
Usianya bahkan belum kepala dua, tapi Halima sudah membuat perubahan besar bagi dirinya dan lingkungannya. Semua bermula saat ia membulatkan tekad untuk mengubah pandangan orang Amerika, tempatnya bermukim saat ini, tentang wanita muslim berhijab lewat kontes kecantikan. Walaupun langkahnya harus terhenti cukup awal, hanya sampai 15 semifinalis dari 45 peserta Miss Minnesota USA 2016, Halima sudah berhasil menorehkan prestasi yang diperbincangkan banyak orang. Wanita keturunan Somalia itu menjadi wanita pertama yang tampil mengenakan Burkini (busana renang tertutup) di Miss Minesota USA.
Banyaknya pesan kebencian terhadap umat Islam di Minnesota, terutama setelah Donald Trump resmi menjadi presiden Amerika Serikat, justru menggerakkan nurani Halima untuk memperjuangkan komunitasnya yang minoritas di negeri adidaya itu.“Kontes ini digelar pada waktu yang tepat ketika komunitas kami membutuhkan representasi positif, terlepas dari retorika pemilu. Saya pikir ini akan membuka mata
banyak orang,” katanya.
Keluarga Halima datang ke Amerika sebagai pengungsi dari Somalia, pada 2005. Ketika itu usia Halima baru genap 7 tahun. Bersama ibu dan adik laki-lakinya, Halima tinggal di St. Cloud, Minnesota, salah satu lingkungan komunitas masyarakat Somali, dimana mayoritas wanitanya mengenakan hijab. Alasan yang mendorong Halima untuk juga berhijab. “Karena saya melihat ibu saya mengenakan hijab, dan saya ingin terlihat seperti dia,” ungkap Halima, kepada Vogue. .
Tumbuh sebagai remaja muslim berhijab,Halima pernah menjadi korban bullying. Terutama ketika ia di sekolah menengah, temannya mengejek dengan sebutan wanita botak, karena rambutnya tak terlihat. “Selama ini saya berpikir, berbeda itu hal yang negatif. Baru ketika beranjak dewasa saya mulai menyadari kita semua terlahir tidak sama. Dunia akan terlihat membosankan jika semua terlihat sama,” katanya.
Halima tak memendam dendam. Ia sadar bahwa sebagai minoritas, tidak banyak orang yang mengenal agama dan budaya Islam. Ia mengaku bahagia tinggal di Amerika, di mana semua orang bebas untuk mengekspresikan diri. Saat ia berada di belakang panggung Miss Minessota, Halima tidak merasa berbeda dengan peserta lainnya, meski saat itu ia mengenakan hijab.
“Saya duduk bersama mereka. Meski saya tidak tampak seperti umumnya peserta kontes kecantikan. Saya bangga bisa mengikuti kontes ini karena saya bisa mengirimkan pesan bahwa Anda tidak perlu menjadi orang lain untuk menjadi cantik.”
Saat tampil di atas panggung Miss Minnesota USA, wanita penggemar warna hitam ini mengenakan abaya bermotif lengkap dengan kerudung warna hitam. Penampilan tersebut justru menuai banyak komentar dan pujian. Halima membuktikan bahwa kecantikan bisa datang dalam banyak rupa.
Di mata Halima, kontes kecantikan ini tak hanya berbicara tentang kecantikan. “Tapi bagaimana kita menjadi percaya diri. Saya tidak pernah berpikir saya bisa mengikuti kontes kecantikan seperti ini, tapi ternyata sekarang saya bisa. Ini sebuah platform yang besar untuk menunjukkan ke dunia siapa saya.”
Selanjutnya, karier Halima sebagai model.
Untuk ukuran model, dengan tinggi 166 cm, Halima sangat mungil. Tapi ini bukan penghalang langkahnya di catwalk. Terbukti, pemilik akun instagram @kinglimaa dengan 182.000 followers ini telah menandatangani kontrak dengan agency model internasional, IMG Models, yang juga menaungi nama-nama populer seperti Gigi Hadid, Kendall Jenner dan Chrissy Teigen. Baru-baru ini, ia juga menjadi bintang untuk brand olahraga, Nike. Apakah dunia mode sudah siap menerima penampilannya dan tidak akan mengubahnya?
Diakui wanita yang gemar tampil dengan gaya make up natural ini, ketika dirinya memilih berkonsetrasi di dunia mode, banyak orang yang mendukung, walaupun tak sedikit pula yang khawatir Halima akan memperagakan busana yang tidak sesuai dengan penampilannya yang berhijab.
“Tidak berlebihan jika ada orang tua yang khawatir, karena saya sekarang memberikan pengaruh besar untuk anak-anak mereka. Tapi, tidak ada seorang pun di dunia fashion
yang bisa memaksa saya untuk melakukan hal tersebut,” katanya.
Tahun lalu ketika berjalan untuk brand Yeezy di New York serta Max Mara dan Alberta Ferretti di Milan, Halima mengenakan mantel dengan hijab yang terlihat serasi. Penampilannya menuai pujian. Halima sendiri cukup terkejut dengan pilihan pakaian yang disiapkan oleh Max Mara, karena benar-benar diperuntukan bagi dirinya yang mengenakan hijab.
Menurut Ian Griffiths, Creative Director Max Mara, saat itu selain pertimbangan pasar bahwa mantel Max Mara banyak dikenakan oleh wanita berhijab, kepribadian Halima yang kuat membuatnya sangat bersinar. “Di catwalk dia menampilkan citra diri sebagai wanita cerdas, percaya diri, ambisius, dan pemberani,”ungkap Ian.
Selanjutnya, Halima tumbuh kuat di tengah perbedaan.
Kepribadian Halima yang kuat dan menghargai perbedaan tak lepas dari pengalaman masa kecilnya di Kukuma, sebuah tempat penampungan di Kenya, dimana Halima tinggal bersama anak-anak dari berbagai suku. Di sini lah ia belajar tentang menghargai perbedaan dengan mengenal banyak agama dan kepercayaan.
“Saat Natal, meski kami tidak memiliki banyak hadiah, teman ibu saya seorang Ethiopia beragama Kristen akan memasak untuk kami. Di saat lain, ketika saya dan keluarga merayakan Idulfitri, keluarga Muslim akan memasak,” kisahnya.
Berdasarkan ingatannya, ia tak merasa kehidupan selama di penampungan begitu sulit. “Toh saat itu saya tidak tahu arti kemudahan,” katanya bijak. Tumbuh dalam komunitas yang heterogen membawa konsekuensi positif dalam hidupnya. Halima sangat mudah bersahabat dengan siapa saja, tanpa memandang penampilan mereka atau darimana ia berasal.
“Ironisnya, ada saja orang yang menggoda para gadis yang berpakaian lebih terbuka, tapi di sisi lain mereka juga mengolok-olok saya yang memilih berpakaian tertutup,” ia tertawa. “Saya rasa masyarakat memberikan tekanan yang terlalu besar pada bagaimana cara berpenampilan seorang gadis,” tambahnya.
Meski begitu ia tak pernah ambil pusing. Ia cukup yakin kelebihan seseorang akan dinilai lebih dari sekadar penampilan fisiknya. “Mengenakan hijab justru membuat saya terlindungi dari macam-macam komentar yang umumnya diterima para model, seperti ‘kamu terlalu kurus’, ‘pinggul besar’, dan banyak lagi. Saya tidak perlu khawatir tentang hal tersebut,” katanya.
Menjadi diri sendiri, itulah terobosan Halima untuk dunia fashion. Ia pun tak ingin mengubah penampilannya hanya untuk memenuhi keinginan pasar. “Thanks, but no thanks to any job that would require me to change my values,” katanya, yakin. (f)
Baca Juga:
Filosofi Fashion Rani Hatta
Kelembutan Asri ‘Achie’ Yuniar, Di Balik Lengkingan Musik Cadas