Foto: Hermawan

Tak banyak orang yang bisa senekat Gobind Vashdev (45). Ia rela melepas semua kenyamanan dan keuntungan materi demi balas budi pada alam yang telah memberikannya banyak hal dalam kehidupan. Ia juga menyumbang uang dari bukunya yang terjual laris di pasaran demi ‘membayar utang’ atas  tiap helai kertas yang ia gunakan untuk karya-karyanya. Kepada femina, Gobind menceritakan tiap keputusan ‘menyimpangnya’ yang justru kini menjadi inspirasi banyak orang.
 
Kebanyakan orang mengenal Gobind sebagai praktisi self-healing sejak tahun 2007 lalu. Ia berkeliling Indonesia  --bahkan hingga ke Hong Kong-- untuk berbagi ilmu tentang bagaimana mengatasi trauma, berkawan dengan penderitaan, hingga mencari kedamaian dalam diri. Kebanyakan, praktik self-healing tersebut ia lakukan tanpa pungutan biaya.

“Tujuan saya adalah ingin membantu mereka yang membutuhkan dengan hati. Ini adalah kontribusi saya kepada dunia yang telah memberikan banyak kebaikan,” cerita pria yang sudah belajar teknik self-healing dari Capacitar sejak tahun 2003 ini.

Di sisi lain, ia juga menjadi salah satu penulis buku best-seller yang sudah dicetak ulang hingga 19 kali, berjudul Happiness Inside. Buku ini bercerita tentang kisah reflektif bagaimana rasa syukur, mental positif, dan harapan akan membantu menggiring kita pada kebahagiaan di dalam hati. Bahkan, baru-baru ini ia kembali meluncurkan buku berjudul 99 Wisdom yang berisi kumpulan cerita perjalanan hidupnya yang mengajarkannya berbagai macam kebijaksanaan.

Bagi Gobind, buku-buku hasil karyanya tak sembarang dicetak hanya untuk mencari keuntungan. Ia mendedikasikan  tiap rupiah yang didapat dari hasil penjualan buku tersebut untuk membantu sesama. Bahkan, sebagai bentuk balas budinya kepada alam yang telah mengizinkannya menggunakan kertas untuk menyebar kebahagiaan dalam bentuk tulisan, Gobind akan menanam satu pohon untuk tiap penjualan satu bukunya.

Di balik pemikiran-pemikirannya yang dekat dengan alam, Gobind juga punya gaya hidup yang nyentrik dan unik. Tidak seperti kebanyakan orang yang senang dengan sepatu keren dan necis, Gobind justru melepaskan atribut tersebut demi mendekatkan diri dengan alam. Tahun ini sudah masuk tahun keempat pria keturunan India ini hidup tanpa alas kaki. Begitu pula ketika ia datang ke femina untuk wawancara dan sesi foto, kaki-kakinya melangkah tanpa alas kaki. “Saat ke Jepang, di musim dingin, kaki-kaki ini bersentuhan dengan salju yang beku,” cerita Gobind.

Pilihan gaya yang nyentrik ini memang kerap menjadi perhatian orang. Tapi, ia tak pernah merasa terganggu dengan pandangan penuh tanya dari orang lain. “Jangan khawatir. Orang Indonesia biasanya bicara tentang hal buruk di belakang dan memuji di depan orangnya. Jadi, saya justru sering mendapatkan pujian,” katanya, sambil bercanda.

(klik halaman selanjutnya untuk melanjutkan membaca)
 
 

Foto: Hermawan

Awalnya, ia mulai berjalan tanpa menggunakan alas kaki sejauh ratusan kilometer selama beberapa waktu, untuk menggalang dana demi mendukung gerakan kemanusiaan organisasi Solemen di Bali, yang membantu anak-anak telantar. Namun  kemudian, salah satu pendiri organisasi Solemen Indonesia, Robert Epstone, yang bertekad tidak mengenakan alas kaki hingga tidak ada satu pun anak telantar di Indonesia, menginspirasinya untuk meneruskan aksi ‘nyeker’ dan menyumbangkan dana bagi mereka yang membutuhkan.

“Perlu satu tahun bagi saya untuk menguatkan diri agar bisa menjadi soleman. Termasuk memikirkan ratusan pertanyaan yang memenuhi otak, ‘bagaimana kalau penghasilan saya menurun karena tidak pakai sepatu, bagaimana kalau ‘nyeker’ dan tidak boleh masuk pesawat, bagaimana kalau kaki saya menginjak paku dan lain sebagainya,” kenangnya.

Namun, segala kekhawatirannya tersebut sontak runtuh ketika Robert menunjukkan sebuah sepatu berdesain khusus tanpa sol, sehingga kaki bisa tetap menapak bumi. Sejak saat itu ia pun siap masuk dalam sebuah kehidupan yang mendekatkannya pada bumi dan mendedikasikan tiap langkah kakinya untuk mengumpulkan dana bagi mereka yang membutuhkan.

Bertahun-tahun hidup tanpa alas kaki, Gobind belajar menyingkirkan perasaan untuk mengidentifikasi dirinya sendiri ataupun orang lain dan melepaskan kekhawatiran ‘apa kata orang’. “Apa yang dipikirkan orang lain itu bukan tentang diri saya, melainkan tentang persepsi baik atau buruk yang dipikirkan olehnya terhadap suatu hal. Apa yang mereka pikirkan tentang saya bukanlah urusan saya,” ujarnya, bijak.

Selain itu, gelombang elektro negatif yang ia dapatkan dari menginjak bumi secara langsung  membuatnya merasa lebih sehat, emosi lebih stabil dan ketika terjadi inflamasi lebih cepat sembuh. Lebih dari itu, ia jadi lebih akrab dengan alam dan peka terhadap lingkungan sekitar. Diakui Gobind, ia bisa merasakan jika akan terjadi sesuatu pada bumi.

“Susah dijelaskan secara harfiah, tapi ada getaran yang aneh jika akan terjadi suatu bencana. Misalnya, jika akan ada badai atau gempa seperti di Jepang beberapa tahun lalu, beberapa jam sebelumnya saya bisa merasakan hal tertentu ketika menapak bumi,” jelas pria yang lahir dan besar di Surabaya, Jawa Timur, ini.

Ada banyak titel yang tersemat dalam diri Gobind: motivator, inspirator, penulis, pelatih penyembuh trauma, hingga pembicara publik. Akan tetapi, putra ketiga dari lima bersaudara pasangan Vashdev Ramchand dan Bhaga ini enggan disebut demikian. Baginya, ia hanya seseorang yang bekerja dengan hati. Ketika ia ingin membantu orang lain mengatasi trauma, ia melakukan hal itu karena panggilan hatinya. Juga ketika ia ingin menyebarkan virus cinta damai melalui cerita kebijaksanaan yang ia tulis dalam buku,  itu karena hatinya menginginkan kebahagiaan bagi semua orang. Tidak mengherankan, ia menulis di akun Facebook-nya sebagai ‘a heart worker’, si pekerja hati. (f)

Baca Juga: