Foto: Dok. Pribadi


Hanya segelintir wanita tangguh yang berani menyelam di industri pertambangan. Febriany Eddy (44), salah satunya. Kini ia merupakan satu-satunya wanita yang berada di jajaran direksi Vale Indonesia, perusahaan yang bergerak di industri pertambangan nikel. Ia menjabat sebagai Deputy CEO, PT Vale Indonesia Tbk. Wanita yang namanya masuk daftar Top 25 Most Influential Women in Treasury in Asia Pacific (2015) ini sangat memahami dunia kerjanya. Dengan passionate ia bicara tentang energi tak terbarukan, leader mindset, inklusivitas dan gaya leadership pria dan wanita. 

Membuka Kesempatan Bagi Wanita

Perlu diakui, industri pertambangan memang bukan dunia yang menarik minat banyak wanita. Di Vale Indonesia sendiri, wanita mengambil porsi sekitar 7%-8% dari total karyawan. Febri yang lahir di Palembang ini menyadari, angka tersebut masih sangat rendah. Dan ia berambisi untuk menggandakan partisipasi wanita dalam beberapa tahun mendatang, yang disadarinya bukanlah hal mudah.

Febri mengakui bahwa industri pertambangan memang masih didominasi oleh pria, sehingga terlihat sangat tidak ramah bagi wanita. Di sisi lain, dari pihak wanita juga ada keengganan untuk bergabung. Ia melihat, banyak perusahaan masih menerapkan pembatasan, termasuk di perusahaannya. Sebagai contoh, sejumlah
leader memandang ada aktivitas tertentu tidak pantas dilakukan oleh wanita.

“Kita harus mengubah
mindset ini. Pe-er kami sebagai leader adalah mematahkan persepsi. Saya tidak bilang bahwa semua pekerjaan bisa dilakukan oleh wanita dan pria. Namun, setiap kali timbul keraguan, kita lihat hasil studinya. Kalau tidak ada studinya, mari kita melakukan studi secara khusus. Jangan berdasarkan pada persepsi dan praktik masa lalu. Jika dari studi ilmiah terbukti bahwa wanita memang tidak bisa, saya tidak akan memaksa. Tapi, kalau terbukti bisa, kenapa harus ditahan?,” kata Febri, yang menggenggam dua gelar MBA, dari UCLA Anderson dan National University of Singapore.

Ia mencontohkan, ketika ada kesempatan promosi ke tingkat manajer pada posisi tertentu, banyak
leader mengungkapkan bahwa posisi itu tidak bisa diberikan kepada wanita karena dianggap terlalu berat. Mereka khawatir, jika wanita yang menempati posisi itu, keluarga mereka akan terbengkalai.

Febri menegaskan agar kesempatan tersebut dibuka lebar dan tidak dibatasi. “Kalau memang ada kandidat wanita yang layak, berarti dia sudah tahu betul konsekuensi dari posisi tersebut. Kalau dia memang melamar posisi itu, berarti dia berminat. Jangan menilai dia karena dia wanita. Kita hilangkan gender dan melihat betul-betul soal kemampuannya. Saya tidak memaksa harus wanita, yang ingin saya tekankan adalah memberi kesempatan yang sama.”

Di sisi lain, wanita yang pernah berkarya di PricewaterhouseCoopers Jakarta dan Amsterdam ini selalu menegaskan kepada karyawan perempuan di perusahaannya agar tidak mengharapkan perlakuan spesial. Namun, ia melihat banyaknya fasilitas untuk wanita yang masih perlu diperbaiki di perusahaannya. Antara lain, toilet untuk wanita. Selama ini di lapangan tidak dibedakan toilet untuk wanita dan pria. Menurutnya, perusahaan wajib menyediakan kebutuhan mendasar semacam itu.

Meski berada di dunia yang didominasi pria, Febri betah bekerja di industri pertambangan. Ia senang karena bisa pergi ke tempat-tempat yang tidak banyak didatangi orang, senang karena belajar melihat kehidupan dari kacamata berbeda. Saat pergi ke Sorowako, Sulawesi Selatan, tempat Vale Indonesia beroperasi, ia melihat keterbatasan-keterbatasan yang tak akan ditemukan, jika tinggal di kota besar. Hal ini membuatnya bersyukur atas apa yang dimiliki dan atas apa yang tidak dimiliki. 


Baca Selanjutnya: 
Membuka Ruang Dialog

 


Foto: Dok. Pribadi 

Membuka Ruang Dialog

Bicara tentang kepemimpinannya, Febri yang sebelumnya memegang kursi Chief Finance Officer senang berdiskusi dengan timnya di bagian keuangan dan supply chain. Tim tersebut sudah mengenalnya selama kurang lebih lima tahun. Ia bertanya, “Menurut kalian, apa langkah yang harus saya ambil agar bisa menjadi pemimpin yang lebih berhasil. Beri saya feedback.” 

Ada anggota tim yang memberi masukan bahwa cara berkomunikasi di luar
finance akan jauh berbeda. Ia sebutkan, di divisi keuangan, orang yang bisa bekerja sama dengan Febri adalah orang yang detail, eager, dan disiplin. Sebagai pemimpin ia harus merangkul semua orang dengan karakter beragam.

Feedback tersebut membuat Febri yang fasih berbahasa Mandarin ini memutuskan untuk mengikuti coaching. “Banyak hal baru yang saya pelajari. Salah satunya tentang personal branding. Dulu tidak pernah ada effort yang disengaja untuk membangun personal branding. Sekarang saya meyakini pentingnya hal tersebut, sehingga perlu effort khusus untuk membentuk dan menjaganya. Sangat powerful jika bisa dilakukan dengan sustainable,” kata Febri, yang menjalani coaching secara online dan tatap muka bersama Erwin Parengkuan dari TALKINC.

Selain belajar menghadapi berbagai tipe orang, ia juga belajar tentang bagaimana menyampaikan pesan dengan motivasi dan inspirasi, belajar bahwa 60% komunikasi datang dari bahasa tubuh dan gestur, belajar tentang pentingnya raut wajah dan intonasi suara. Hal-hal yang sebenarnya sudah ia ketahui, tapi tidak disadari secara penuh.

“Yang paling penting adalah
self awareness. Saya selalu mencoba meluangkan waktu beberapa saat untuk mengevaluasi diri. Ketika diam dan merefleksikan hari-hari yang baru dilalui, saya mulai melihat hal-hal yang tidak terlihat sebelumnya, menyadari yang tidak disadari. Bagi saya, evaluasi itu penting agar kita menjadi lebih baik.”

Komunikasi secara
online, yang sekarang menjadi sebuah kebiasaan baru, membawa tantangan tersendiri baginya. Jika biasanya dapat langsung melihat perubahan suasana hati atau sikap timnya, kini ia perlu lebih sensitif dan mawas dalam membaca raut wajah dan menyimak tekanan suara. Tak hanya mengamati, ia juga tak enggan bertanya. Saat awal ketika pandemi baru menerpa Indonesia dan semua orang disergap rasa khawatir di tengah ketidakpastian, ia mengadakan semacam sesi sharing bertema ‘How Do You Feel?’. 

“Tanpa agenda apa pun, sejumlah
leader perusahaan saya kumpulkan. Ketika itu saya hanya bertanya, “Bagaimana perasaan Anda saat ini?” Mereka lalu bercerita, mengeluarkan unek-unek, sampai ada yang menangis. Saya mendengarkan apa yang mengganggu pikiran mereka, mencari tahu apa yang bisa dilakukan perusahaan untuk meringankan beban mereka. Dialog ini ternyata sangat powerful. Bahkan orang yang keras ketika di lapangan pun bisa terlihat rapuh,” tutur Febri, yang mendapatkan apresiasi luar biasa besar karena membuka dialog semacam itu.

Karena situasi pandemi sudah mulai lebih terkendali, frekuensi dialog itu tidak lagi setinggi dulu. Di samping itu, perusahaan juga telah membangun fondasi dengan cara menyiapkan berbagai program untuk meningkatkan kesehatan mental, termasuk menyediakan psikolog.

Memimpin perusahaan dari jarak jauh sebetulnya sudah biasa dilakukan oleh Febri sebelum pandemi. Ia di Jakarta, timnya di Sorowako. Ia memegang prinsip:
you cannot be everywhere but communication can be anywhere. Secara fisik ia tidak bisa hadir setiap saat, tapi komunikasi selalu ada setiap saat. Baginya yang penting adalah continuous engagement.

“Komunikasi secara
online membuka kesempatan besar. Dulu saya harus merencanakan kapan harus pergi ke Sorowako dan tempat-tempat lain. Sekarang saya bisa terkoneksi dengan tim di Sorowako kapan saja. Yang saya lakukan adalah meningkatkan frekuensi dialog, agar tim selalu merasakan keberadaan saya, tidak merasa ditinggalkan,” kata ibu dari Kyra (7) dan Evan (4,5) ini.

Ketika berkomunikasi dengan generasi milenial, Febri memiliki strategi tersendiri. Pertama, mendengarkan dengan sungguh-sungguh tanpa agenda. Ia mengakui, hal ini tidak mudah. Sering kali orang mendengarkan tapi sebetulnya tujuannya adalah meyakinkan dia untuk melakukan sesuatu. Kedua, memberi ruang untuk menyampaikan aspirasi. 


Baca Selanjutnya: 
Perbedaan Itu Perlu
 
 
 
 
Foto: Dok. Pribadi

Perbedaan Itu Perlu

Dalam menjalani peran sebagai pemimpin, Febri menyadari bahwa cara pria dan wanita dalam memandang dan menyelesaikan masalah itu berbeda. Ia menggarisbawahi, yang paling utama adalah menyadari perbedaan itu, lalu belajar menghargai dan menerima perbedaan, agar bisa menjalin dialog dan mengambil keputusan dengan lebih baik.

Wanita yang mendapatkan penghargaan Asian Superwomen for Sustainability (2019) ini mengamati, pria lebih
action oriented, sementara wanita memerlukan waktu lebih lama dalam mengambil keputusan karena melihat aspek yang lebih kompleks. Akibatnya, ketegangan pun terjadi. Namun, ia belajar menghargai bahwa caranya bukan cara terbaik. Pada kondisi tertentu ketika keputusan harus diambil dengan cepat, ia harus menerima bahwa itu adalah jalan terbaik.

Vale Global memiliki motto:
Difference Makes All the Difference. “Motto ini mengandung makna bahwa perbedaan adalah sumber kekuatan. Dilihat dari konteks bisnis, dunia dalam kondisi VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity). Untuk mempromosikan pemikiran inovatif dan collective intelligent, perbedaan itu perlu. Kalau tidak ada perbedaan persepsi dan pandangan, solusi yang terpikirkan hanya itu-itu saja. Padahal, di dunia yang VUCA ini kita perlu solusi berbeda,” kata Febri, yang mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia. 

Mengenai
collective intelligent, Febri menyebutkan bahwa mengakui perbedaan saja tidak cukup. Perusahaan harus menciptakan lingkungan yang inklusif. Artinya, di lingkungan ini setiap pendapat dihargai, setiap orang bisa menjadi diri sendiri, bisa bebas menyampaikan aspirasi, mampu mendengarkan perspektif yang berbeda, dan kemudian berdialog untuk mencari solusi yang disepakati bersama. 

“Pada masa-masa awal berkarier, saya pikir saya harus jadi seperti pria dan kemudian saya memang mengkondisikan diri menjadi seperti pria agar bisa
survive. Ketika di lapangan, saya bicara dengan keras, lugas, dan selalu mengutamakan action. Namun, saya kemudian menyadari bahwa tidak bisa demikian. Justru perbedaan itulah yang dicari. Saya harus menjadi diri sendiri. Bagaimana seorang manusia bisa memberikan potensi terbaiknya, jika dia tidak bisa diberi ruang untuk menjadi diri sendiri?,” ungkap Febri. 

Ia bercerita, pada 2020 Vale Global mencanangkan komitmen
Diversity and Inclusion. Program ini bukan diadakan karena ekspektasi sosial, melainkan karena mereka percaya bahwa ada value luar biasa besar yang bisa diciptakan dari komitmen ini. 

Meski sangat sibuk sebagai pimpinan perusahaan, Febri tak melupakan pekerjaan rumah tangga, termasuk memasak. Ia sendiri meyakini bahwa tidak ada yang namanya
work-life balance. Yang ada adalah keharmonisan antara kehidupan profesional dan personal. 

Sejak awal ia dan sang suami, Leith, bersepakat bahwa anak dan rumah adalah tanggung jawab bersama. “Kalau saya sibuk, dia yang akan mengurus rumah dan anak dengan senang hati, dan sebaliknya. Kalau sama-sama sibuk, kami bicarakan siapa yang perlu mengalah,” kata Febri, yang sangat bersyukur karena suaminya sangat pengertian dan sangat mendukung kariernya. (f) 

Penulis: Veronica Wahyuningkintarsih (Kontributor - Jakarta)


Baca Juga: 

Respek, Kunci Sukses Komunikasi Kepemimpinan 
Dewi Nur Aisyah, Pakar Epidemologi Moderen Wanita Satu-Satunya yang Dimiliki Indonesia 
Prof. Dr-Eng. Eniya Listiani Dewi, B.Eng., M.Eng Profesor Energi yang Senang Lobbying