Foto: Zaki Muhammad
 
Menteri Luar Negeri ke-18 Indonesia, satu-satunya wanita yang pernah menjabat sebagai Menlu, Retno Marsudi (54), adalah role model. Betapa tidak, ia telah berkarier sebagai diplomat selama tiga dekade, yang tentu kaya akan pengalaman bertemu tokoh-tokoh dunia dan menangani masalah internasional. Di ruang kerjanya di Taman Pejambon, Jakarta Pusat, awal April lalu, kepada femina ia bercerita tentang kariernya, perdamaian dunia, peran Indonesia, peliknya perlindungan WNI di luar negeri, hingga aksesori andalannya.

PELAYAN WNI
“Saya berasal dari keluarga sederhana yang hidup di desa. Saya tahu bagaimana hidupnya orang susah,” katanya. Seperti juga sosoknya yang membumi, gaya diplomasinya juga down to earth. Sejak diangkat sebagai Menteri Luar Negeri oleh Presiden Joko Widodo tahun 2014, ia menempatkan diri sebagai pelayan dan pelindung WNI yang tersebar di seluruh dunia.
 
Indonesia belakangan ini banyak dikunjungi pemimpin negara asing. Apakah ini pertanda positif? 
Saya melihat ada tiga hal. Pertama, stabilitas politik. Kedua, stabilitas ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 5 persen. Ketiga, karena peran kita di kawasan dan di dunia. Negara lain melihat bagaimana peran kita menjadi jembatan membantu negara lain, tanpa menimbulkan masalah. Karena itu, penting bagi mereka untuk datang ke Indonesia. Kita ini negara besar, jumlah penduduk besar, dan kemampuan ekonomi kita besar.
 
Apa program prioritas Anda? Benarkah berfokus pada diplomasi ekonomi?
Bread and butter dari hubungan diplomatik ada di ekonomi. Yang lain sifatnya lebih untuk membuka hubungan. Diplomasi yang membumi itu antara lain diplomasi ekonomi, karena ekonomilah yang akan membuat masyarakat merasakan buah dari diplomasi itu. Politik luar negeri yang saya terapkan sekarang adalah berusaha sedekat mungkin melindungi kepentingan rakyat kita.

Secara umum, ada empat prioritas politik luar negeri: Pertama, melindungi kepentingan nasional. Kedua, melindungi WNI dan badan hukum Indonesia yang ada di luar negeri. Ketiga, meningkatkan diplomasi ekonomi. Keempat, meningkatkan peran Indonesia di dunia internasional.

Salah satu layanan baru dari Kemlu yang sudah dua tahun lebih ini diadakan adalah SMS blast yang berisi kontak KBRI dan nomor hotline. Tiap WNI mendarat di luar negeri, buka ponsel, pasti ada tulisan kontak KBRI. Ini kelihatan sepele, tapi  manfaatnya besar.
 
Bagaimana menangani TKI yang begitu banyak masalahnya?
Pada kasus TKI, KBRI biasanya memberikan perlindungan sementara di shelter. Tiap kali saya berkunjung ke konsulat, saya bicara langsung dengan mereka. Kesulitannya adalah kadang-kadang pada saat mereka ditanya bekerja di mana, jawabnya tidak tahu. Ditanya nama majikannya, juga tidak tahu. Siapa yang mengirim, mereka juga tidak tahu. Pada kasus semacam ini, butuh waktu untuk menelusuri. Pokoknya, yang penting dia selamat dulu.

Salah satu upaya untuk melindungi TKI, Maret lalu, saya mengunjungi TKI di ladang sawit di Johor Bahru dan di hadapan perusahaan, saya titipkan langsung mereka. Saya bilang, kalau ada apa-apa dengan warga negara dan TKI kami, Anda berhadapan dengan saya.
 
Kasus WNI yang menjadi terdakwa dalam pembunuhan Kim Jong Nam di Malaysia, bagaimana Anda melihatnya?
Di dalam istilah hukum, kita mengenal istilah presumption of innocence until proven. Siti Aisyah ditangkap tanggal 16 Februari 2017, hari itu juga mesin proteksi kita sudah berjalan. Verifikasi data imigrasi, kirim nota diplomatik.

Kami datang ke kepolisian untuk bertemu yang bersangkutan dan menyiapkan pengacara. Mesin proteksi itu berlapis sampai ke level saya. Saya aktif melakukan komunikasi dengan Menlu Malaysia. Kami meminta akses ke konsuleran, diberikan. Kami sedang mengembangkan konstruksi kasusnya dari pengakuan Siti Aisyah kepada pengacara. 
 
Pelajaran berharga yang Anda peroleh dari pemimpin dunia?
Baru tadi pagi (6/4/17) saya mendampingi Wapres Jusuf Kalla sarapan dengan Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani. Saya tersentuh dengan apa yang dikatakannya. Ia mengatakan, “The story of Indonesia is a story of achievement, of success. Tolerance and pluralism.”

Karena menurut beliau, terciptanya damai, bersatu, demokrasi itu tidak bisa terjadi begitu saja. Harus ada upaya untuk menjadikan hal itu ada, dan terus dirawat. Jika itu hilang, belum tentu damai itu bisa terjadi lagi. Contohnya Afghanistan, bagaimana beratnya mereka menciptakan perdamaian di negara itu.
Kita sangat beruntung. Sejak lahir, kita sudah tahu bahwa masyarakat kita berbeda-beda. Mari kita jaga supaya kebinekaan itu tetap ada. Perdamaian dan stabilitas adalah basis dari semua mimpi yang ingin kita wujudkan, apa pun bisa diwujudkan kalau ada landasan itu.

Simak apa kata Retno Marsudi tentang dukungan keluarga terhadap kariernya di laman berikutnya.
 
 


Foto: Zaki Muhammad
DUKUNGAN KELUARGA
Istri dari Agus Marsudi yang berprofesi sebagai arsitek ini mengakui, dukungan dan komunikasi dengan keluarga adalah salah satu rahasia sukses kariernya. Ibu dua anak, Dyota Marsudi dan Bagas Marsudi, ini kini bisa bernapas lega karena anak-anaknya sudah tumbuh dewasa dan mandiri. Dyota sudah menikah dan mendirikan start up di Singapura. Sementara Bagas, lulusan kedokteran dan sedang magang di rumah sakit di Jakarta. “Empat anggota keluarga bisa berada di empat tempat berbeda. Tapi, kami tenang, karena tahu masing-masing melakukan tugasnya dengan baik,” ujar wanita kelahiran Semarang, 27 November 1962, ini.

Sebagai seorang ibu, value apa yang Anda terapkan untuk kedua anak Anda?
Saya berusaha menjadikan anak-anak mandiri dari kecil. Mereka saya terapkan jadwal, jam berapa bisa nonton TV, belajar, dan tidur. Dalam situasi apa pun, misalnya, saat saya ada tamu, pukul 8 malam anak-anak bersiap tidur. Mereka datang menemui saya, lalu salim dan bilang, “Mami, good nite!” Itu yang membuat saya bersyukur. Saya tidak bisa bersama mereka 24 jam, tapi mereka bisa mandiri dan melaporkan kepada saya apa yang mereka lakukan.

Anak-anak saya tipe anak yang betah di rumah. Saya selalu berusaha membuat rumah itu nyaman. Kebiasaan kami sejak dulu hingga sekarang adalah keruntelan di kamar. Nonton televisi bareng, ngobrol… itulah dunia kami. Kalau bosan, makan di luar, lalu balik lagi.

Saya tidak pernah punya pengalaman kebingungan menanyakan mereka, “Kamu di mana?” Mereka selalu pulang. Bisa dibilang, bonding kami kuat. Rumah adalah tempat kembali yang paling mengasyikkan.
 
Masa-masa terberat sebagai ibu yang berprofesi sebagai diplomat?
Saat penempatan pertama saya di Australia, anak pertama masih berusia 1,5 tahun. Dubes saya waktu itu adalah (alm) Sabam Siagian. Tuntutan beliau tinggi sekali.

Saat anak saya usia 3,5 tahun, saya hamil lagi. Kehamilan kedua mengalami masalah karena sering perdarahan. Belum lagi, tantangan hidup di luar negeri, segala sesuatu dilakukan sendiri. Saya menyiapkan makanan, menyetir, antar-jemput anak, bertemu tamu, dan sebagainya. Suami tidak selalu bisa menemani. Saat di Australia, suami ikut untuk sekolah. Pokoknya diatur sehingga tidak ada pihak yang dirugikan.
 
Sebagai wanita, apa pertimbangan Anda dalam memilih busana acara resmi?
Saya penggemar fashion Indonesia. Saya senang belanja, terutama kalau sedang ada pameran kain Nusantara ataupun desainer Indonesia, seperti di Jakarta Fashion Week tahun lalu.

Yang sering ditanyakan oleh para wanita Menlu negara lain adalah bros yang saya kenakan. Sebab, saya memang sering ‘bermain’ dengan bros. Pertimbangannya, acara resmi kebanyakan mengenakan warna hitam dan gelap, jadi, supaya lebih ‘terangkat’ saya mengenakan bros. Saya punya banyak koleksi bros, sebanyak koleksi baju, tas, dan sepatu, ha… ha… ha…. 

Semua itu selalu saya siapkan dari malamnya. Biasanya semalam apa pun saya pulang, saya sudah mikir besok bajunya apa. Saya sudah siapkan dari baju, tas, dan padanan aksesori, di atas tempat tidur. Selarut apa pun itu. Saya tidak mau baru cari pagi harinya, karena biasanya runyam. (f)

Ficky Yusrini (Kontributor)
 
Simak profil Wanita Hebat lainnya di:

Tisye Diah Retnojati, Sukses Melesatkan Karier Dari Posisi Customer Service Officer ke Jajaran Direksi
6 Wanita Inspiratif Bicara Soal Perjuangan Mereka dalam Semangat Kartini
Pendeta Merry Kolimon, Memimpin dengan Semangat Feminisme di Kupang