Dok. Femina Media / Adelli Arifin




Rentang karier Dedeh Erawati (39) yang panjang di dunia atlet lari gawang, menemui babak baru. Di usianya yang nyaris kepala empat, ia mendobrak batasan-batasan yang selama ini diyakini oleh para atlet tanah air sebagai akhir dari masa kariernya, dengan berbagai prestasi yang tak henti-hentinya ia dapatkan. Dan dapat ia pastikan, ia tak akan berhenti.

Datang langsung ke sesi latihan rutinnya di Gelanggang Olahraga Rawamangun, Jakarta, femina melihat kepiawaiannya melompati gawang tinggi hingga mendengar perjalanan hidupnya yang seru, yang menjadi warisan berarti bagi putri semata wayangnya, Diva Renata Amelia Jayadi (17).


Pensiun Usia Dini?

Selama 25 tahun kariernya sebagai atlet lari gawang, di kompetisi nasional maupun internasional, sudah banyak pencapaian yang pernah diraih Dedeh. Mulai dari pemecahan rekor nasional nomor lari 100 meter gawang putri yang tetap bertahan dari tahun 2005, nomor lari estafet 4x100 meter, menjadi satu-satunya atlet Indonesia yang diundang di Kejuaraan Atletik Grand Prix Asia sejak tahun 2006 sampai 2011, merebut medali di hampir semua seri, sampai juara bertahan di ajang World Masters Athletics sejak tahun 2016.

Di antara rentetan pencapaian, tanpa ragu Dedeh mengatakan bahwa medali perak yang ia dapatkan di SEA Games 2005 di Manila, Filipina, adalah kemenangannya yang paling berarti. “Mungkin itu bukan medali pertama atau tertinggi yang pernah saya dapatkan, tapi itu adalah momen pertama kalinya saya dapat bangkit dari keterpurukan dan mengalahkan atlet-atlet lain dengan kemampuan yang tak kalah hebatnya di kompetisi internasional,” kenangnya sumringah. 

Napak tilas ke masa lalunya, Dedeh mengaku bahwa sebelum kemenangan itu ia merasa tak bisa maksimal sebagai atlet lari gawang. Walau sempat mendapatkan medali emas di ajang PON 2000 di Jawa Timur, namun ia merasa perkembangan kariernya berjalan stagnan semenjak bergabung dengan Pelatnas di tahun 1997. Ia tak bisa memecahkan rekor terbaik, yang menurutnya membuatnya gagal mendapatkan medali di berbagai pertandingan bertaraf internasional. Karena hal ini pula, perasaan gagal sempat menggelantungi hatinya, yang membuatnya berniat untuk menggantungkan sepatu sebagai atlet lari gawang di tahun 2002. 

“Rasanya, saya sudah melakukan yang terbaik, tapi kok perkembangannya begini-begini saja. Saya merasa sangat hopeless. Sempat terbersit untuk berhenti saja jadi atlet, dan bekerja di sebuah bank swasta saat itu. Tapi ternyata Tuhan berkata lain,” cerita Dedeh yang akhirnya bertemu dengan Fachmy Fahrezzy, seorang pelatih untuk aerobic gymnastic yang saat itu menatap heran dirinya karena tak kunjung melihatnya berlatih di lapangan.

Dedeh ingat betul perkataan Kakak Fachmi, begitu ia biasa disebut yang kini juga menjadi pelatihnya, bahwa ia berani bertaruh bisa membuat Dedeh ikut kejuaran kelas Olimpiade jika berlatih dengan benar. Karena Fachmi percaya, sesungguhnya wanita kelahiran 25 Mei 1979 ini bukannya tak bisa maju, hanya saja potensi dalam dirinya belum diasah lebih maksimal. 

Benar saja, rutin berlatih dengan Fachmi, membuat Dedeh lebih memahami kelebihan dan kekurangan dirinya. Tahap demi tahap ia bisa memperbaiki diri, memupuk semangat dan mimpi besarnya untuk bertanding di Olimpiade. Kemenangan demi kemenangan pun ia rebut sejak 2003. Diawali dengan medali emas untuk PON 2004 di Sumatera Selatan, medali perak di SEA Games 2005, medali emas di SEA Games 2008, medali perak di SEA Games 2011, medali emas di SEA Games 2013 dan kembali mendapat perak di SEA Games 2015.

Termasuk mimpinya yang terlunasi ketika akhirnya ia bisa merasakan menginjakkan kaki di lapangan atletik di Olimpiade Beijing tahun 2008. Walau tak menang, Dedeh merasa bangga dirinya bisa berkompetisi dengan atlet-atlet terkenal lainnya, yang biasanya hanya bisa ia lihat di layar kaca.


(lanjut ke halaman berikutnya)

BACA JUGA :
Pertama Kali Ikut Asian Games, Emilia Nova Raih Perak dari Lari Gawang 100 Meter
Belajar Tentang Mental Sukses Dari Atlet Dedeh Erawati
Women Sport Foundation Indonesia Diresmikan untuk Mendukung Prestasi Atlet Wanita

 
 


Dok. Femina Media / Adelli Arifin




Mendobrak Batasan ‘Golden Age’

Impiannya untuk bisa sampai ke Olimpiade sudah terpenuhi, namun tak lantas membuat Dedeh berhenti. Masih banyak mimpi yang ingin ia raih di dunia yang ia geluti, termasuk menjadi pengajar bagi para atlet-atlet muda. Tapi ada satu hal yang membuat ia tersentil, yang diucapkan oleh pelatihnya. 

“‘Percuma kamu pecah rekor setinggi-tingginya kalau kamu tidak belajar ilmunya, tidak akan tercapai.’ Di situlah akhirnya saya menerima tantangannya untuk melanjutkan studi S2 jurusan Ilmu Olahraga di Universitas Negeri Jakarta,” papar Dedeh yang mengaku bahwa memahami ilmu biomekanik dalam berolahraga banyak membantunya memahami gerak tubuh sehingga bisa lebih optimal dalam berkompetisi.

Lebih dari itu, dengan ilmu-ilmu yang didapatkannya, Dedeh berkeinginan untuk dapat mentransfer ilmunya tersebut kepada orang lain. Wanita yang kini tengah menyelesaikan disertasi S3-nya ini menjadi pelatih fisik untuk atlet-atlet rugbi dan pelatih di Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia.

Dengan usianya yang semakin matang, tak menghentikan Dedeh untuk terus berkompetisi lagi di taraf yang berbeda, seperti mempertahankan gelar juara di World Master Athletics sejak tahun 2016, yang merupakan kejuaraan atletik untuk mereka yang di atas 30 tahun. Bahkan menariknya, Dedeh juga menjadi atlet Indonesia pertama yang mengikuti kejuaraan dunia tersebut. 

Ketika ditanya apa yang memotivasinya untuk terus aktif, ia menjawab, “Mendengar lagu Indonesia Raya berkumandang yang dinyanyikan oleh ribuan penonton di lapangan dan bendera merah putih yang berkibar paling tinggi itu bikin merinding dan membanggakan. Ini tidak bisa dibayar oleh uang,” imbuhnya bangga.

Tetap aktif dan berprestasi di atas usia 30-an membuat banyak orang heran. Maklum, selama ini ada stereotipe yang mengatakan bahwa usia emas atlet maksimal adalah 25 tahun, yang katanya setelah itu kecepatan manusia tidak bisa lagi bertambah. Tapi ternyata itu tidak berlaku bagi Dedeh.

“Saya justru pencapaian maksimalnya di usia 32 tahun, jauh di atas golden age. Ini karena motivasi dan kemauan kuat. Jangan merasa tua setelah usia 25 tahun, karena sebenarnya kita bisa melewati itu,” saran Dedeh yang bulan Maret ini mengikuti kejuaraan World Masters Athletics untuk mempertahankan gelar emasnya yang ke-4.


(lanjut ke halaman berikutnya)

BACA JUGA :

Pertama Kali Ikut Asian Games, Emilia Nova Raih Perak dari Lari Gawang 100 Meter
Belajar Tentang Mental Sukses Dari Atlet Dedeh Erawati
Women Sport Foundation Indonesia Diresmikan untuk Mendukung Prestasi Atlet Wanita

 


Dok. Femina Media / Adelli Arifin
 



Ibu, Sahabat dan Panutan bagi Anak

Seperti kehidupan yang berproses, kehadiran putri semata wayangnya Diva Renata Amelia Jayadi pada tahun 2002 menumbuhkan semangat baru bagi Dedeh. Tentu sebagai orang tua, ia berharap putrinya juga bisa menjadi atlet walau tak berusaha memaksa pilihan kariernya.

“Awalnya Diva tidak menunjukkan ketertarikan untuk ikut kelas atletik, tapi diam-diam saya biasakan dia untuk main sepatu roda dan sepeda, supaya bisa menguatkan kakinya. Dianya sih senang-senang saja, hehehe...,” tutur Dedeh.

Selain itu, untuk memupuk semangat dan ketertarikannya, Dedeh kerap kali menceritakan tentang momen-momen kemenangannya ketika menjuarai suatu kompetisi. “Waktu kecil, saya suka ajak dia buka-buka album lama dan bersihin medali. Sambil begitu, saya cerita bahwa medali ini didapatkan pas kapan, atau foto ini pas lagi ngapain. Dia jadi tahu bagaimana serunya jadi atlet,” kenangnya.

Namun ternyata memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Talenta atlet nampak jelas pada Diva yang berhasil lolos tes pembibitan lompat galah saat dirinya masih kelas 6 SD, yang akhirnya membawa dirinya bergabung dengan Pelatnas saat kelas 1 SMP. Menurut Dedeh, ini sama persis dengan apa yang terjadi padanya, yang mana pertama kali ia bergabung dengan Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar Jawa Barat saat masih 1 SMP juga.

Harus tinggal terpisah dengan Diva di usia sangat muda, tak membuat Dedeh khawatir akan kehilangan momen bersama. Ia selalu memanfaatkan waktu libur putrinya dengan maksimal, seperti mengajak nonton dan makan bersama, walau hanya dapat waktu 2 jam saja.

“Tentu saja kangen, tapi kita sudah terbiasa dengan kehidupan seperti ini. Apalagi Diva dan saya tipikal orang yang sangat suka di lapangan, jadi kita nikmatin aja dan tidak pernah putus komunikasi,” tuturnya. 

Dedeh pun tak takut bahwa hubungan dengan putrinya akan renggang karena terpisah jarak. “Aku membangun hubungan seperti teman dengan Diva, sehingga kita selalu akrab, terbuka dan dia lebih nyaman cerita tentang apapun ke saya. Hubungan yang seperti ini lebih nyaman buat kita berdua, daripada kaku yang justru akan memberi jarak bagi kita berdua,” pungkas Dedeh lagi yang sering mendengar orang mengatakan bahwa dirinya dan Diva sudah seperti kakak-adik. Menurut Dedeh, yang penting adalah memberikan kebebasan dan kepercayaan yang terarah pada putrinya, agar terjalin hubungan yang baik.

Sebagai seorang atlet, Dedeh pun tak pernah lupa untuk mentransfer ilmu yang dimilikinya pada sang putri. Di sela-sela percakapan santai keduanya, ia akan menyampaikan sarannya tentang bagaimana teknik-teknik yang bisa dicobanya dalam melakukan lompat galah. Dedeh pun tak pernah absen berkomunikasi dengan pelatih Diva untuk mengetahui kemajuan dari putrinya, untuk bisa memberikan masukan yang tepat padanya.

Termasuk, memberikan pesan pada Diva agar tak mudah merasa tertekan hanya karena orang tuanya pemegang rekor atau pernah mendapat medali emas. “Saya selalu bilang sama dia, bisa menang memang membanggakan, tapi menang-kalah kan hal yang biasa. Yang penting adalah dia menikmati apa yang dia lakukan dan jangan pernah berhenti belajar. Karena ketika kita berhenti belajar, disitulah kita mulai kalah,” tutur Dedeh berpesan. (f)


BACA JUGA :

Pertama Kali Ikut Asian Games, Emilia Nova Raih Perak dari Lari Gawang 100 Meter
Belajar Tentang Mental Sukses Dari Atlet Dedeh Erawati
Women Sport Foundation Indonesia Diresmikan untuk Mendukung Prestasi Atlet Wanita