Foto: NORA"Dont want to brag or anything but the designer is my mom."
Tulisan ini terpajang di layar konferensi Indonesian Womens Forum hari kedua (22/9). Orang yang disebut mom dalam kalimat tadi dan berdiri di depan layar adalah Arvila Delitriana mengatakan, kalimat tersebut lah yang membuat ia menjadi populer.
Ia menceritakan bahwa namanya melejit saat ia disebut oleh Presiden Joko Widodo di tiga media sosial Presiden, sekaligus sebagai orang yang berada di balik pembangunan LRT Jabodebek. "Anak saya retweet Presiden Jokowi. Dia bilang 'dont want to brag or anything but the designer is my mom.' Dia lupa dia me-retweet seorang Presiden, sehingga dia panik ketika banyak sekali yang membalas komennya. Dia nggak nyangka, "cerita Arvilla.
Ia pun tidak menyangka kalau setelah dua puluh athun bekerja sebagai engineer, namanya mendadak menjadi trending topic, dicari orang, dan diburu wartawan.
Ada hal membuatnya kecil hati dari prestasinya ini. Menurutnya, di luar prestasinya sendiri, ia menjadi terkenal karena ia adalah seorang wanita yang dianggap sangat minim jumlahnya di dunia engineering. "Memangnya kenapa kalau saya wanita, "curhatnya. "Hal ini menunjukkan bahwa wanita masih dianggap aneh bila berada di dunia pekerjaan yang dinilai sangat maskulin."
Meski begitu Arvila tetap bersyukur bahwa akhirnya orang bisa melihat bahwa wanita juga mampu menjadi sosok yang punya kontribusi.
Bicara di depan audiensi IWF 2019, Arvila bercerita bahwa jembatan bentang panjang LRT Jabodebek bukanlah pekerjaan jembatan pertama dan satu-satunya yang pernah ia garap. Sebelumnya ia sudah pernah mendesain banyak jembatan di banyak daerah Indonesia seperti Jembatan Kali Kuto Semarang, Jembatan Soekarno Manado, Layang Pasopati di Bandung, juga di Riau.
Foto: NORAAntara Passion dan Perasaan Bermanfaat
"Saya jatuh cinta sama pekerjaan saya. Saya senang sekali dengan pekerjaan mendesain jembatan, u"jar Arvila.
Ia mengaku, dari pekerjaannya tersebut ia merasa menjadi orang yang dapat memberi manfaat bagi banyak orang. "Saya benar-benar melihat bahwa jembatan itu the real connecting people. Kalau ke daerah-daerah yang jauh di pelosok, saya bisa melihat kalau orang-orang yang tadinya naik kapal, akhirnya bisa dengan mudah menyeberangi sungai-sungai ganas lewat jembatan, di situlah passion saya, "tuturnya.
Passion dan perasaan bermanfaat tersebut lah yang membuatnya mampu konsisten di bidangnya.
Arvila merasa beruntung bahwa ia hidup di lingkungan yang sangat suportif dan mampu memfasilitasi kehidupannya sebagai seorang ibu, termasuk rekan kerjanya yang pria. Ia memberi contoh pada suatu saat ketika anaknya masih dalam masa menyusui, pemimpin rapat, berkata "Kita break dulu ya rapatnya, ini Ibu mau menyusui." Saat itu ia sedang membawa anaknya ikut rapat, dan si anak menangis.
Bahkan, orang yang pertama kali mendukungnya untuk terjun ke bidang desain jembatan juga adalah seorang laki-laki, yakni dosennya di ITB. Ia yang awalnya sempat ragu untuk mengerjakan proyek jembatan karena memiliki tanggungan, yakni anak-anak di rumah, akhirnya berani menjawab "iya" pada tawaran dosennya tersebut
Sang dosen juga memotivasi bahwa wanita pasti mampu berkomitmen dan membagi prioritas. (f)
Lela Latifa
Editor: Nuri Fajriati
Baca Juga:
Merayakan Inklusifitas Dalam Indonesian Women's Forum 2019
Yenny Wahid, Masa Depan Adalah Wanita
Apakah Pria Masa Kini Masih Percaya Stereotipe Wanita?