Dok. Dodi Risdianto
“Sudah melayang di atas flyover, melengkung pula di ketinggian. Begitulah rumitnya pekerjaan jembatan bentang panjang untuk LRT Jabodebek yang melayang di atas flyover Kuningan, Jakarta Selatan, ini. Untunglah, sang insinyur, Ibu Arvila Delitriana, lulusan Institut Teknologi Bandung, berhasil merancang jembatan menakjubkan itu dan tersambung dengan presisi sejak kemarin.”
Demikian yang dituliskan oleh Presiden Jokowi di media sosialnya yang menyadarkan masyarakat bahwa ada wanita hebat di balik jembatan LRT yang membuat banyak orang terkagum-kagum. Bagaimana tidak? Jembatan lengkung rancangannya itu telah memecahkan dua rekor sekaligus dari Museum Rekor Indonesia (MURI), yaitu jembatan kereta box beton lengkung dengan bentang terpanjang dan jembatan dengan pembebanan axial static loading test terbesar.
Nama Arvila Delitriana mencuat ke publik ketika unggahan Presiden RI, Joko Widodo, mengungkap sosok di balik pembangunan LRT Jabodebek. Dalam hitungan jam, wanita yang akrab dipanggil Dina ini pun menjadi viral.
Puluhan tahun bekerja sebagai bridge engineer, ia tak menyangka namanya mendadak jadi perbincangan banyak orang. Namun, dari situ pula ia belajar, ketika namanya diapresiasi sebagai bridge engineer wanita inspiratif tanah air, itu berarti masih banyak pekerjaan rumah untuk menjadikan profesi ini lebih banyak digeluti wanita.
Ketika menjadi pembicara di ajang Indonesian Women’s Forum 2019 yang diadakan oleh femina di Gandaria City, akhir November 2019, ia mengaku justru merasa kecil hati dari prestasi besarnya tersebut. Bagaimana tidak, ia menjadi terkenal karena ia adalah seorang wanita yang dianggap minoritas di dunia engineering.
“Memangnya kenapa kalau saya wanita? Hal ini menunjukkan bahwa wanita masih dianggap aneh bila berada di dunia pekerjaan yang dinilai sangat maskulin ini,” paparnya, di hadapan kurang lebih 1.000 peserta IWF 2019 tersebut. Namun, Dina cukup bersenang hati, kendati masih jadi minoritas kini sudah makin banyak wanita yang menggeluti dunia engineering seperti dirinya.
“Peluang wanita sangat besar untuk menggeluti industri ini. Wanita punya nilai tambah karena tidak hitung-hitungan dalam bekerja, lebih sabar, teliti, dan multitasking. Kita akan melakukan yang terbaik terlebih dahulu sebelum diberikan timbal baliknya. Kita komitmen dan penghargaan akan datang dengan sendirinya,” ujarnya, optimistis akan makin banyak bridge engineer wanita. Salah satunya adalah anak asuhnya di tempatnya bekerja kian banyak diisi wanita.
Jembatan bentang panjang LRT Jabodebek sendiri bukanlah jembatan pertama yang pernah didesainnya bersama tim. “Kalau jembatan yang besar mungkin sudah lebih dari 20-30 jembatan, sementara jembatan yang kecil lebih banyak lagi,” papar Dina, yang mengaku tak pernah menghitung sudah berapa banyak jembatan yang pernah ia desain. Beberapa di antaranya yang terkenal adalah Jembatan Kali Kuto Semarang, Jembatan Soekarno Manado, Layang Pasopati di Bandung, juga di Riau.
Bagi Dina, membangun jembatan dan membantu menghubungkan satu daerah dengan daerah lain adalah pencapaian paling membanggakan dalam hidup dan kariernya. Ia menyaksikan bagaimana dulunya untuk menyeberangi sungai, masyarakat harus mengandalkan perahu. Belum lagi, tak bisa diseberangi kala malam karena terlalu gelap, yang tentu akan menyulitkan warga untuk beraktivitas terutama dalam keadaan darurat.
Ketika akhirnya jembatan tersebut jadi, dan melihat masyarakat bolak-balik dengan mudahnya, bagi Dina seru sekali melihatnya. Karena kebanyakan jembatan yang dibuatnya adalah jembatan dengan bentuk ikonis, maka sering kali bentuk jembatan itu jadi ikon daerah tersebut.
“Penghargaan yang saya rasakan adalah dengan membangun jembatan tersebut, bisa menyatukan banyak orang, mempermudah aktivitas dan kegiatan warga sekitar, yang secara langsung dan tidak langsung memperbaiki perekonomian warga sekitar. Penghargaan itu priceless,” jelasnya.
(Lanjut ke halaman berikutnya)
BACA JUGA :
Astri Puji Lestari, Arsitek yang Menjalani Hidup Minim Sampah Sejak Kecil
Greta Thunberg, Aktivis Lingkungan Termuda yang Gerakkan Jutaan Orang di Dunia
Dr. Nathania Karina, Konduktor Wanita Indonesia yang Akan Memimpin Orkestra Remaja TRUST di Vienna, Austria
Dok. Dodi Risdianto
Melihat ke belakang, Dina mengaku ia tak pernah memimpikan dirinya akan menjadi bridge engineer. Memang, setelah mengenyam pendidikan teknik sipil di Institut Teknik Bandung, ia sempat bekerja sebagai konsultan perencanaan gedung selama 4 tahun. Namun, setelahnya Dina bersama suami memutuskan pindah ke Bandung.
Kala itu, yang tebersit dalam pikirannya setelah berhenti dari pekerjaannya hanya ingin menjadi ibu rumah tangga sambil menjadi guru senam atau membuka day care di rumah. Tapi, dorongan sang ibunda, Siti Rukiah Lubis, untuk meneruskan sekolah dan bekerja agar menjadi wanita yang mandiri, sangatlah kuat.
“Ibu menyarankan untuk meneruskan S-2 atau bekerja, supaya setidaknya saya punya pegangan sendiri tanpa harus bergantung terus kepada orang lain,” cerita Dina. Ia mengaku sangat tergerak, karena sebenarnya sang ibunda hanyalah seorang ibu rumah tangga dengan lulusan SMA, tapi justru begitu kuat mendorongnya untuk tetap berkarya sambil tetap mengurus anak.
Berbekal dukungan sang ibu dan restu suami, Dikky Achmad Sidik, Dina akhirnya meneruskan pendidikannya di ITB. Semasa kuliah, ia bertemu dengan Jodi Firmansyah, seorang teknokrat yang dulu kerap membantu almarhum B.J. Habibie dalam membuat jembatan panjang di Batam. Jodi yang juga menjadi pengajar di ITB, mengajak Dina untuk membantunya mengerjakan proyek-proyek jembatan.
Dengan kondisi saya yang sudah memiliki anak, Dina mengaku Jodi memberikan keleluasaan padanya untuk tetap bisa mengurus kedua putranya, Aufar Lazawardi Sidik dan Auzan Lakaswara Sidik, sambil bekerja. Ia diperbolehkan membawa anaknya ke kantor dan mendapatkan jam kerja yang fleksibel apabila di pagi hari harus mengurus anak terlebih dahulu. “Yang penting target kerja terpenuhi. Dengan itu, akhirnya saya setuju bekerja dengan Pak Jodi tahun 2001,” cerita Dina.
Kendati bergelut di dunia pekerjaan yang cenderung dikenal sangat maskulin, Dina merasa beruntung lingkungan sekitarnya sangat mendukung. Sebagai contoh, pada saat anaknya masih dalam masa menyusui, pemimpin rapat sempat menghentikan rapatnya. “Kita break dulu, ya, rapatnya, ini Ibu mau menyusui,” kenangnya, ketika sang putra menangis saat ikut rapat.
Begitu juga dengan suaminya yang tak putus untuk terus mendukungnya. Sama-sama lulusan jurusan teknik dari ITB, sang suami tahu betul dunia karier yang digeluti Dina. Tak jarang, momen makan malam bersama jadi ajang berdiskusi soal pekerjaan yang menurut Dina sangat membantunya dalam mengatasi masalah di kantor.
Namun memang, diakui Dina, membagi waktu antara pekerjaannya yang terkadang mengharuskannya pergi ke pelosok daerah dengan keluarga menjadi tantangan yang cukup berat. “Sebagai bargaining position agar bisa bekerja sambil mengurus anak, saya harus memberikan hasil kerja yang dua kali lebih baik dari pria. Kalau saya bekerja lebih baik dari pria, tidak ada alasan orang lain menolak pekerjaan saya, walaupun sambil mengurus anak,” ceritanya.
Nyaris dua dekade menjadi bridge engineer, Dina tahu betul sepak terjang dan tantangan dalam kariernya yang telah menempanya menjadi salah satu yang terbaik di bidangnya. Bukan mustahil baginya untuk membangun jembatan terbesar di negeri ini. Misal saja, keinginannya untuk membuat jembatan yang menghubungkan Balikpapan dengan Penajem Paser Utara yang kelak akan menjadi ibu kota Indonesia, dengan panjang kira-kira 7 kilometer. Namun ternyata, bukan hanya itu mimpi terbesarnya.
“Saya ingin membangun jembatan-jembatan kecil di pelosok yang belum terjamah orang. Saya ingin orang-orang yang tak diperhatikan ini dimudahkan hidupnya dengan keberadaan jembatan. Ini akan membantu mereka dari berbagai sisi kehidupan,” katanya. (f)
BACA JUGA :
Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, Jadi Orang Paling Berpengaruh di Dunia
Namira Zania : Penari & Model Down Syndrome yang Buktikan Pengidap Disabilitas Intelektual Juga Bisa Berkarya
Silvia Halim Mengurai Kekusutan Jakarta