Dok. Femina Media / Shinta Meliza




Siapa yang akan terbersit memiliki pekerjaan yang berkutat dengan sampah? Kotor, menjijikkan dan memberikan aroma tak sedap, yang justru akan membuat banyak orang menjauhinya. Tapi ternyata tidak bagi Dr. Aretha Aprilia, S.T., M.Sc, seorang environmental specialist, yang justru ditakdirkan untuk memiliki hubungan yang akrab dengan sampah.

Wanita yang sudah berkiprah di dunia pelestarian lingkungan, khususnya sampah, di sejumlah negara ini memutuskan untuk kembali ke tanah air. Panggilan hati membawa dirinya untuk mengabdi dan mencarikan solusi permasalahan negeri yang jarang ingin dilakukan orang lain.


Aretha muda telah mengenyam pendidikan di berbagai Negara, seperti kursus kepemimpinan di UNEP-Tongji University Asia Pacific Leadership Programme on Environment for Sustainable Development di Shanghai dan Suzhou, mendapatkan gelar Master of Science, Urban Environmental Management, Wageningen University di Belanda, hingga meraih gelar Doctor of Philosophy, Energy Science di Kyoto University, Jepang. 

Ia pun telah berkarier di banyak negara. Mulai dari konsultan untuk Mitsubishi Research Institute dan Institute for Global Environmental Strategies yang berbasis di Tokyo,
research assistant dan Ph.D researcher untuk Kyoto University, hingga bekerja di United Nations Environment Programme kantor regional Asia dan Pasifik di Bangkok, Thailand.

Melihat
portfolio kerjanya yang cemerlang ini tentu akan membuat siapa pun merasa terinspirasi. Ia bisa menjadi apa pun yang diinginkannya di dunia karier internasional. Lantas, apa yang membuat dirinya memutuskan untuk kembali ke tanah air daripada mengembangkan karier gemilangnya di dunia internasional?

“Sepuluh tahun tinggal dan berkarier di berbagai negara seperti Belanda, Prancis, Thailand, hingga Jepang, saya merasa punya ilmu dan menganggap bahwa Indonesia justru lebih membutuhkan ilmu saya. Mungkin terdengar klise, tapi saya ingin melakukan sesuatu untuk negara. Karena sayang saja bahwa sebenarnya kita punya potensi untuk melakukan hal yang lebih baik. Tapi entah
kenapa, untuk masalah persampahan, kita masih belum benar manajemennya,” papar Aretha, yang juga menjadi pembicara di Indonesian Women’s Forum 2019, akhir November. 

Maklum saja, memang untuk urusan energi terbarukan, masih sesuatu yang baru di Indonesia. Maka dari itu, tanah air membutuhkan ahli-ahli terbaiknya untuk mengembangkan potensi tersebut agar programnya berjalan dengan baik. Inilah yang mendorong Aretha untuk ‘pulang kampung’. “
Bisa dibilang, ini panggilan hati. Mothership is calling,” katanya. 

Saat ini, Aretha juga bekerja di sebuah perusahaan konsultan teknik asal Amerika Serikat, CDM Smith, yang mengerjakan proyek permasalahan sampah di beberapa kota di Indonesia. Salah satunya adalah mengerjakan studi kelayakan sistem manajemen persampahan yang mutakhir, yang belum diimplementasikan di Indonesia. Sederhananya, Aretha bekerja mencari solusi permasalahan sampah di tanah air yang bisa berdampak baik bagi lingkungan. 

Memiliki pengalaman kerja yang cemerlang di luar negeri tak lantas membuat perjalanan kariernya mulus begitu saja. Tak jarang ia dipandang sebelah mata hanya karena ia wanita. Terlebih lagi, saat awal bekerja di Indonesia ia sudah menduduki posisi
leader di usia muda yang mengepalai para senior yang mayoritas adalah pria. Beban ganda, sebagai wanita dan berusia muda, tak ayal harus dihadapi oleh Aretha

“Pada akhirnya yang bisa saya lakukan adalah menunjukkan bukti bahwa saya bisa bekerja. Saya harus multifaset dan memastikan bahwa apa yang kita katakan didengar.   Sebagai wanita, kita harus
doing extra miles untuk memimpin sesuatu,” paparnya.

Memang, menurut Aretha, dari segi pengalaman, bawahannya saat itu memiliki pengalaman di lapangan yang lebih banyak, namun secara keahlian akadems dirinya lebih unggul. Bahkan, hal ini pun sempat menjadi bahan bercandaan para koleganya.

“Mengapa sudah sekolah tinggi-tinggi, tapi kerjanya di sini? Kalau sudah S-3 kan harusnya jadi dosen saja,” kata Aretha, mengingat celetukan para rekan kerjanya tersebut. 


Namun pada akhirnya, dengan kegigihan yang tak lelah ditunjukkan  Aretha, para koleganya pun bisa menerima dirinya dan mengakui kemampuannya. Jika ada masalah, ia akan berdiskusi dengan koleganya secara terbuka.

“Intinya, kita jangan merasa terintimidasi dengan tekanan-tekanan tersebut, karena nantinya kita yang rugi,” ujar Aretha,  memberikan saran. Kini ia pun merasa beruntung karena memiliki lingkungan yang mendukung, salah satunya atasannya yang telah memercayakan dirinya untuk mengisi posisi tersebut. 

Segala perjuangannya pun berbuah manis. Bagaimana tidak? Aretha diganjar banyak penghargaan internasional. Mulai dari penghargaan Green Talents 2017 dari pemerintah Jerman di Berlin, 50 Most Impactful Green Leaders Award di Mumbai, India, hingga terpilih sebagai Climate Change Professional Fellow oleh US Department of State untuk program di New York dan Washington DC, Amerika Serikat.

“Ini pun menjadi pencapaian yang berharga dalam hidup saya,” ujarnya, bangga. 



(Lanjut ke halaman berikutnya)


BACA JUGA :

Arvila Delitriana, Kisah Sukses Bridge Engineer LRT Jabodebek Kuningan yang Memukau Presiden RI Joko Widodo
Greta Thunberg, Aktivis Lingkungan Termuda yang Gerakkan Jutaan Orang di Dunia
Silvia Halim, Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta dan Ribuan Tantangan untuk Membangun MRT Jakarta

 

 


Dok. Femina Media / Shinta Meliza




Walau dalam pekerjaannya harus berkutat dengan sampah, Aretha merasa tak masalah. “Saya merasa ini menjadi ikigai (makna hidup) saya. Saya selalu merasa excited ketika harus memikirkan solusi yang terbaik untuk mengatasi masalah sampah ini dengan kondisi di tanah air yang ada,” ujarnya, penuh semangat.  

Aretha mengingat betul bagaimana dulu saat kuliah S-2 di Belanda, seorang dosen yang bercerita tentang kiprah UN Environment Programme, membuatnya sangat tertarik pada industri ini. Bahkan, ia juga bermimpi untuk bisa bekerja di lembaga tersebut. Mimpinya tersebut membawa Aretha untuk mengenyam pendidikan S-3 di Jepang dengan fokus pada ilmu
waste energy.

Pada tahun 2005, Aretha akhirnya menyadari bahwa masalah persampahan adalah problem yang besar bagi negara berkembang, khususnya Asia. “Bahkan, sektor ini dianggap aneh, padahal di dunia internasional sudah jadi pembicaraan. Kemudian saya pikir, bagaimana di Indonesia, ya? Dari sini saya makin tertarik menyelami ilmu ini dan berupaya agar bagaimana Indonesia bisa mengadopsi pemilahan sampah dari sumbernya, hingga akhirnya sampailah saya di sini,” kenangnya.

Namun memang, dalam menjalani kariernya, tak jarang dirinya dianggap aneh. Bahkan, ia kerap diledek oleh suaminya,
Dr. Nuki Agya Utama, atas pekerjaan yang telah membesarkan namanya tersebut.

“Suami saya selalu meledek, masa
princess mainnya ke landfill? Tapi, saya justru menganggap ini adalah pekerjaan yang menarik. I’m fine and it’s fun,” katanya, sambil tertawa. Memang, aroma tak sedap dari sampah-sampah yang harus ditelitinya tersebut tak bisa dihindari. Namun, dapat bertemu dengan banyak orang, baik itu pemulung maupun  petugas Dinas Lingkungan Hidup, memberikannya banyak perspektif menarik tentang sampah.

Tugasnya untuk meneliti sejumlah tempat pembuangan sampah memberikan warna yang menarik. Misalnya, ketika mengunjungi TPA Bantar Gebang, Bekasi, memberikannya pandangan yang berbeda tentang banyak hal. 

“Jakarta,
tuh, bukan hanya soal gedung-gedung tinggi. Bantar Gebang itu  back end-nya Jakarta yang selalu membuat saya merasa takjub tiap kali datang ke sana. Bagaimana tidak? Kok, ya, bisa sampah menumpuk hingga 30 meter lebih tingginya?” ujarnya.

Hal ini menyadarkannya bahwa tanah air sudah darurat sampah dan membutuhkan solusi nyata, bukan omongan belaka. Karena masalah persampahan ini seperti bom waktu, kalau tidak ditangani cepat, akan membuat kita tenggelam dalam sampah. Inilah yang membuatnya memiliki perhatian besar pada permasalah sampah dan lingkungan.

Menurut Aretha, sebagai wanita, ia merasa memiliki sifat
altruism yang membuatnya lebih memperhatikan permasalahan lingkungan. “Sifat ini seperti nature-nya wanita. Kita merasa ingin mengayomi dan mengurus, salah satunya alam dan lingkungan, agar menjadi lebih baik,” paparnya.

Telah mengenyam pendidikan tertinggi, berkarier di dunia internasional, hingga kembali ke tanah air mengikuti panggilan hatinya, tak lantas membuat Aretha puas. Salah satu goal besar dirinya adalah ingin bisa menjadi
decision maker.

“Karena, sekarang ini 
decision maker itu government driven. Industri ini mau ngomong apa, tapi pemerintah tidak mendukung, ya, akan sulit. Maka, harapan saya ingin bisa masuk ke dalam ranah itu di kancah nasional,” paparnya. (f)



BACA JUGA : 

Ratih Citra Sari, Menembus Belantara Demi Membantu Pasien Korban Bencana
Tiza Mafira, Perintis Gerakan Diet Kantong Plastik Indonesia Mendapat Apresiasi Badan Lingkungan PBB
Untung Berlipat Bisnis Jamur Tiram