
Foto: Peter F Momor
Kehidupan para petani dan peternak yang sebenarnya menjadi tulang punggung penyediaan bahan pangan di negara kita memang masih jauh dari kata layak. Berangkat dari kepedulian dan keinginan untuk membantu para peternak sapi perah mendapatkan penghidupan yang lebih baik inilah Anne Sri Arti (42) memulai langkah bisnisnya.
Kini, tidaklah mudah untuk membuat janji bertemu dengan Pemenang Penghargaan Khusus Social Entrepreneur dan Penghargaan Khusus Green Entrepreneur Lomba Wanita Wirausaha Femina 2013 ini. Belakangan jadwalnya begitu padat sebagai konsultan peternakan di berbagai daerah di Indonesia. “Saya bahkan belum sempat pulang ke Sukabumi. Kemarin baru pulang memberikan pelatihan di daerah, lantas pagi ini ada acara di Jakarta,” katanya, tersenyum.
Lima tahun lalu mungkin Anne, asal Sukabumi, tidak pernah membayangkan posisi yang ia capai saat ini: seorang wanita pebisnis sukses dengan omzet ratusan juta, konsultan peternakan, dan yang tak kalah penting adalah penggerak peternak lokal untuk mendapatkan hidup yang lebih layak. Hal terakhir inilah yang sebenarnya menjadi penyemangat Anne untuk terus berbuat sesuatu untuk dunia peternakan, khususnya sapi perah.
Ketika memulai bisnis ini pada tahun 2009, Anne menyaksikan bagaimana susahnya kehidupan para peternak sapi perah. Meski para peternak ini menghasilkan susu, sayangnya anak-anak mereka malah tak sempat mencicipi minuman sarat gizi itu. “Mengapa? Karena harga jual susu yang sangat murah membuat para peternak harus menjual seluruh susu hasil produksinya untuk mendapatkan uang,” ungkap Presiden Pengolahan Pemasaran Hasil Pertanian, organisasi yang bermisi mendorong kehidupan petani lokal, ini.
Senyum yang sempat tersungging di bibir wanita pemilik perusahaan Makmur Agro Satwa (MAS) ini pun perlahan meredup dan wajahnya menjadi serius ketika ia berkisah tentang bagaimana susahnya hidup sebagai peternak sapi perah. Bayangkan saja, menurutnya, untuk bisa menghidupkan sapi, peternak harus mengeluarkan biaya yang besar, mulai dari pangan, vitamin, dokter hewan, hingga obat-obatan. Tapi, ketika dijual ke pengepul, susu-susu hasil perahannya dihargai murah. Menyedihkan sekali!
“Waktu itu, harga susu sapi per liter hanya Rp2.800 – Rp3.100. Padahal, untuk bisa balik modal saja, peternak seharusnya menjual susu tersebut seharga Rp3.800. Jangankan untuk mendapat keuntungan, yang ada para peternak harus nombok terus-menerus. Biaya untuk hidup sapi pun makin ditekan. Akibatnya, kualitas susu pun berkurang. Ya, bagaimana mau kasih makan sapi, kalau untuk kebutuhan ia dan keluarganya saja sulit,” kata Anne.
Berangkat dari keprihatinan inilah, wanita yang sempat bekerja di perusahaan perbankan di Jakarta ini, akhirnya memutar otak untuk bisa bertahan hidup setelah keputusannya berhenti kerja dan memboyong keluarganya ke Sukabumi. “Saya lihat, kalau terus-menerus menggantungkan hidup keluarga saya pada sapi-sapi yang saya titipkan di peternak sekitar rumah di Sukabumi, saya tidak bisa makan. Yang ada rugi terus,” katanya. Ia pun lantas mulai mencoba-coba untuk mengolah susu menjadi aneka ragam olahan. Formula pun ia dapatkan dari berbagai sumber untuk membuat susu menjadi yoghurt dan puding, produk awal MAS.
Dengan menjual produk susu olahan, bukan susu murni, Anne berharap akan mendapatkan keuntungan lebih. Saat itu, yoghurt dan puding produksinya ia pasarkan ke warung-warung di sekitar rumah. Awalnya, usaha yang ia mulai dengan pinjaman modal Rp1.000.000 dari sang ibu dan freezer yang mencicil pada leasing ini terlihat menjanjikan. Produknya banyak diminati anak-anak.
Tapi, semua itu hanya bertahan 6 bulan. Karena tak mampu membayar cicilan, freezer miliknya harus kembali ditarik leasing. “Bingungnya, harus meletakkan semua produk saya di mana. Sampai-sampai ada yang saya titipkan di kulkas saudara dan tetangga,” ceritanya. Bukannya patah semangat, wanita ulet ini justru mencoba kedua kalinya untuk membeli freezer lewat leasing, tapi kali ini menggunakan nama suaminya, Sentot Joko Priyono.
Tak ingin kembali gagal, wanita lulusan D-3 perbankan ini pun mencoba ragam olahan susu lainnya, maksudnya agar konsumen yang kebanyakan anak-anak tidak bosan. Ia pun memproduksi yoghurt dalam berbagai kemasan seperti stick dan cup. Seperti berulang, baru berjalan 9 bulan, leasing mengambil kembali freezer keduanya karena ia tak mampu membayar cicilan.
Benturan yang datang bertubi-tubi di awal bisnis ini ternyata membuat mental Anne makin terasah. Sempat bingung, mengapa produknya laku di pasaran, tapi tidak mendatangkan uang. Ia melihat ada yang salah pada konsep bisnisnya. Ternyata, uang yang ia miliki banyak tertahan di warung-warung tempat ia menitipkan produknya, sehingga membuat produksinya tersendat-sendat.
Setelah memutar otak, Anne sampai pada ide untuk memasarkan susu olahan di sekolah-sekolah lewat gerakan minum susu untuk anak-anak sekolah. “Saya pikir dengan bekerja sama dengan sekolah, saya akan membuat pasar yang pasti untuk produk saya. Karena anak-anak ini akan membeli produk saya satu minggu sekali untuk mereka konsumsi di sekolah,” ungkap Anne, yang memulai gerakan ini pada tahun 2011 di daerah pinggiran Sukabumi.
(Klik halaman di bawah untuk melanjutkan)

Foto: Peter F Momor
Berbekal konsep gerakan minum susu di sekolah, Anne mulai mengetuk satu per satu pintu sekolah untuk mengajak bekerja sama. Meski ternyata ide baru itu juga tak semudah yang ia duga. Pasalnya, walaupun konsep sudah matang, dari 10 sekolah yang ia datangi, hanya ada 1 yang mau mencoba programnya. Tapi memang tidak ada prestasi tanpa perjuangan. Tapi, patah semangat tidak ada dalam kamus hidup Anne. Ibu dua anak ini terus berkunjung dari satu sekolah ke sekolah lainnya.
“Ketika menjalankan program ini, saya harus menjelaskan kepada kepala sekolah, lalu dewan guru dan orang tua murid tentang manfaat susu bagi anak. Kepada anak-anak saya juga sosialisasikan tentang susu dan bagaimana mengonsumsinya. Karena produk saya adalah susu pasteurisasi, jadi memang harus dikonsumsi saat itu juga, tidak bisa dibawa pulang,” kata wanita yang sejak masa kuliah sudah mulai berbisnis dengan berjualan sepatu ini.
Sejak mampu menciptakan pasar pasti lewat gerakan minum susu ini, kapasitas produksi MAS makin banyak. Hal ini tentu dibutuhkan pasokan susu yang makin banyak jumlahnya sehingga Anne terus meragkul lebih banyak peternak untuk menjual produk susu murni kepadanya. Jika di pasaran susu murni hanya dihargai Rp4.000 per liter, maka Anne membeli susu peternak dengan harga Rp5.500 per liternya. Tapi, ini tak berarti ia bisa dengan mudah mendapatkan susu murni. Yang terjadi justru para peternak itu tak mau menjual susu kepada perusahaannya karena mereka harus menjual kepada KUD (Koperasi Unit Desa).
“Seumur hidup mereka bergantung pada KUD. Walaupun susu itu dibeli dengan harga murah, mereka mendapatkan bantuan keuangan dari KUD. Gara-gara hal ini juga saya kerap jadi pihak tertuduh kalau asupan susu di KUD berkurang, padahal belum tentu peternak itu menjual semua susunya kepada saya. Tak bisa dipungkiri, di bisnis ini ada banyak pihak yang ‘bermain’,” ungkap Anne, yang kerap mendapat embusan isu-isu tak sedap seputar perusahaannya.
Jika awalnya Anne melawan sistem yang sudah lama ada tersebut dengan ‘galak’, kini setelah bisnisnya makin membesar, ia memilih bermain ‘damai’. Baginya, daripada memperbanyak musuh, lebih baik ia mencari solusi yang menguntungkan. “Sekarang kalau ada peternak yang datang ke saya untuk menyetorkan susunya, saya tanya berapa produksinya. Biasanya setengah saya ambil, setengahnya lagi saya minta mereka pasarkan ke KUD,” katanya.
Kesuksesan program minum susu dan perjuangan Anne mengangkat harkat hidup para peternak sapi perah membuahkan beragam penghargaan. Di antaranya menjadikan MAS sebagai Juara I Pengolahan Susu tingkat Kabupaten Sukabumi, Wakil Jawa Barat untuk mengikuti lomba Adikarya Ketahanan Pangan Tingkat Nasional 2012, sekaligus menjadi wakil Jawa Barat dalam Pengolahan Pemasaran Hasil Peternakan (PPHP) Award 2012.
Atas semua prestasi yang berhasil dicapai, wanita yang menjadi Ketua Umum Ikatan Pengusaha Agribisnis Indonesia ini tak merasa berbesar hati. Ia bahkan mengaku tak percaya diri ketika akhirnya lolos menjadi salah satu finalis Lomba Wanita Wirausaha Femina 2013. “Waktu datang untuk penjurian, saya lihat finalis lainnya punya bisnis yang menarik, omzet yang besar dan sangat percaya diri. Sedangkan saya, merasa bisnis saya belum apa-apa,” ungkap Anne, yang menjadi finalis setelah didaftarkan oleh adiknya, Iwan Taruna, usai membaca femina milik rekan kerjanya.
Anne juga tak menyangka ketika akhirnya ia berhasil merebut dua gelar di Lomba Wanita Wirausaha Femina 2013. Memang, bukan soal omzet yang mencuri perhatian juri kala itu hingga memilihnya menjadi pemenang di dua penghargaan khusus, justru semangat Anne untuk memberdayakan peternak di daerahnya dan tujuan mulianya ingin menyehatkan anak bangsa, membuat ia layak menang. “Bagi saya, bisnis tidak selamanya tentang mendapatkan uang, tapi bagaimana mendapatkan kepuasan hati. Itu prinsip usaha saya, sehingga saya tidak selalu mencari uang,” katanya.
Diakui Anne, kemenangan di Lomba Wanita Wirausaha Femina inilah yang kemudian menjadi cahaya terang dalam bisnisnya. Keberhasilannya mulai dilirik banyak media, ia pun beberapa kali diliput oleh televisi dan radio. Berbekal pengetahuannya yang mendalam tentang peternakan sapi perah, berbagai pihak lantas menghubunginya untuk menjadi pembicara. Salah satunya adalah Departemen Pertanian Repubik Indonesia yang menjadikan Anne sebagai salah satu konsultan untuk sharing ilmu tentang peternakan sapi perah dan pengolahannya kepada peternak-peternak di daerah.
“Sehari-hari saya tak lagi berkutat hanya di kandang sapi dan susu. Saya mulai keliling daerah, berbicara dari satu seminar ke seminar lainnya untuk berbagi ilmu. Semua itu juga saya manfaatkan untuk mengembangkan jaringan bisnis. Saya membuat konsep bisnis baru dengan membuat sentra-sentra susu di berbagai daerah. Saya mengajarkan mereka bagaimana mengolah susu, membagi formulanya, dan pada akhirnya membuka pasar untuk menjual olahan susu,” ungkap Anne, yang membebaskan anak asuhannya untuk membuat merek sendiri.
(Klik halaman di bawah untuk melanjutkan)

Foto: Peter F Momor
Memanfaatkan apa yang ada di depan mata dengan semaksimal mungkin dan selalu menggunakan hati menjadi poin penting dalam mengembangkan bisnisnya. Inilah yang dilakukan Anne Sri Arti ketika ia melihat celah-celah untuk memperbesar produksinya. Konsentrasi produksinya pun tak hanya di Sukabumi, tapi sudah menyebar ke Jawa Barat dan Lampung.
“Kalau saya terbatas di Sukabumi saja mungkin perkembangannya akan lebih lambat, karena pasokan bahan baku kan terbatas. Susu itu sifatnya mudah rusak, untuk memindahkan dari satu tempat ke tempat lain butuh biaya besar. Kalau saya bekerja sama dengan peternak di daerah lain, mereka yang akan memproduksi, saya tinggal menampung produknya. Saya sekaligus bisa meningkatkan pendapatan mereka di daerah,” ungkap Anne, bangga.
Salah satu peternak sapi yang menjadi binaan Anne adalah peternak sapi perah di kawasan Pondok Rangon, Jakarta Timur, tempat kami bertemu sore itu. Di tempat ini ada sekitar 60 ekor sapi perah yang mereka piara. Selain menghasilkan susu, Anne juga mendorong mereka untuk memproduksi susu pasteurisasi dan yoghurt. Selain itu, kawasan ini juga menjadi tempat wisata pendidikan sapi perah. Anak-anak sekolah di Jakarta dan sekitarnya bisa datang ke lokasi ini untuk belajar dan melihat bagaimana kehidupan peternak sapi perah.
“Dengan membuat olahan susu sendiri dan membuka peternakan untuk wisata pendidikan, peternak tak hanya menggantungkan hidupnya pada hasil perahnya tiap hari. Ini jelas lebih menguntungkan,” katanya.
Tahun 2014 lalu, wanita yang sudah memiliki jiwa entrepreneur sejak masa sekolah ini juga berhasil keluar sebagai salah satu dari Class of Winners EY Entrepreneurial Winning Women. “Semua itu membuka banyak link untuk saya bertemu dengan lebih banyak orang yang pada akhirnya menghasilkan kerja sama untuk bisnis saya ke depannya,” ungkap Anne, yang mengaku omzetnya naik hingga 1.000%.
Dua tahun lalu, dalam wawancara femina setelah kemenangannya di Lomba Wanita Wirausaha Femina, wanita yang gemar memasak ini mengaku mimpi terbesarnya adalah gerakan minum susu yang ia lakukan di Sukabumi bisa dilakukan di seluruh Indonesia. Apa yang menjadi cita-citanya ini, sekarang mulai terwujud. Bekerja sama dengan salah satu perusahaan farmasi dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Anne akan memulai program Gerakan Minum Susu untuk anak-anak sekolah di Jakarta.
“Program ini rencananya berjalan pada tahun depan, sekarang kami sedang menggodok proses pembuatan dan packaging-nya. Harapan saya, ketika gerakan minum susu ini berlangsung diterapkan di ibu kota, akan banyak daerah lainnya di Indonesia yang tertarik untuk melakukan hal serupa,” ungkap Anne.
Cita-cita ini didasari oleh penelitian yang ia lakukan secara sederhana selama empat tahun lebih ia menjalani program gerakan minum susu ini, ada banyak manfaat kesehatan bagi anak-anak di sekolah dasar. Misalnya saja, anak yang sering tidak masuk karena sakit, absensinya jadi lebih bagus. Anak-anak yang mengantuk di kelas saat jam belajar dan pingsan saat upacara bendera pun berkurang.
“Gerakan minum susu yang saya lakukan itu memang di sekolah-sekolah pinggiran yang banyak anaknya tidak mengonsumsi susu atau olahan susu karena masih termasuk barang mahal. Saya ingin melihat dampaknya bagi anak-anak, maka saya melakukan perbandingan antara sekolah yang ikut program dan yang tidak,” jelasnya. Tahun lalu gerakan minum susu ini juga menarik perhatian universitas di Addelaide, Australia, yang bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk melakukan penelitian tentang dampak gerakan ini bagi anak-anak.
Saat ini bisa dikatakan Anne mendedikasikan hidupnya untuk meningkatkan kehidupan peternak sapi perah. Tapi, belakangan ia juga ikut membantu para petani untuk memasarkan produk pertaniannya. Ketika banyak petani tomat mengeluhkan harga tomat yang anjlok di pasaran hingga tak sedikit yang membiarkan tomatnya terbuang dan membusuk, Anne membantu mereka membuka pasar. Kesuksesannya mendistribusikan ribuan tomat ini menggerakkan hatinya untuk membantu petani-petani lainnya.
Lewat jaringan yang dimiliki, ia akhirnya bisa bertemu dengan Rachmat Gobel, mantan Menteri Perdagangan, dan duduk bersama mencari solusi untuk memasarkan hasil pertanian. Ia juga menceritakan tentang bagaimana kehidupan petani dan tekanan yang mereka dapatkan untuk memasarkan produknya. Dari hasil jalan-jalannya ke berbagai daerah, Anne menemukan sebenarnya ada banyak potensi buah dan sayuran lokal berkualitas. Sayangnya, semua itu tidak dikelola dengan baik.
“Ya, harus diakui, pasar kita lebih melirik buah dan sayuran impor daripada produksi lokal. Alhasil, serapan pasar akan produk mereka kecil. Selain itu, produk kualitas terbaik ini juga lebih banyak yang diekspor,” ungkap Anne, yang mengaku tak mencari untung di pertanian.
Sebagai pebisnis, wanita yang juga menjadi Wakil Ketua Umum Yayasan Kedaulatan Pangan Nusantara ini mengibaratkan bisnisnya seperti menanam pohon buah. “Kita bisa menanam dan merawatnya, tapi manis buahnya tak harus dicicipi semua. Kita bisa saja dapat buah manis dari pohon yang lain,” katanya. Karena itu, ia tak pernah ingin menutup kesempatan orang lain untuk berkembang dari imu-ilmu yang dimiikinya, karena ia percaya bahwa rezeki akan datang dari ‘pohon’ yang lain. (f)
Baca Juga: