
Foto: Muhammad Zaki
Berbisnis sebenarnya bukan keinginan Anne Patricia Sutanto (45) sejak kecil. Namun, karena suatu hal, ia terdesak melanjutkan bisnis keluarga. Banyak tantangan yang dihadapi, hingga ia pernah ‘dibuang’ hanya karena pertimbangan gender. Berkat prinsip kerja yang dipegang teguh, Vice Chief Executive Officer PT Pan Brothers Tbk ini akhirnya masuk dalam daftar The Most Powerful Women in Asia 2015 versi majalah Forbes. Apa rahasianya?
Sedia Payung Sebelum Hujan
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hanya mencapai 5,02% pada tahun 2016 lalu ternyata bukan masalah bagi Anne. Pasalnya, sejak tahun 2015 ia sudah memprediksi situasi yang akan memengaruhi bisnis garmen ini. Anne pun langsung melakukan penyesuaian, efisiensi, dan pengencangan produktivitas kerja.
Berkat kesigapannya, PAN Brothers yang melayani kebutuhan label internasional, seperti Uniqlo, Nike, Adidas, The North Face, dan H&M bertahan bahkan bertumbuh sekitar 15%. Begitu pula buyers lain, yakni Salt n Pepper serta Zoe, turut naik penjualannya hingga 20%. Menurut Anne, untuk bisa surplus diperlukan kejelian membaca situasi dan berani melakukan penyesuaian. Seperti kasus lain yang terjadi pada tahun 2012 saat inflasi mendadak naik.
Pengaruhnya terhadap upah minimum kabupaten/kota (UMK) di Banten naik sekitar 40% dan di Jawa Tengah sekitar 10%-15%. Padahal, buyers belum tentu bisa menaikkan harga penjualan sebesar 15%-40%. Menghadapi perubahan yang terjadi Anne mengambil langkah melakukan negosiasi terhadap seluruh pekerja, tak terkecuali karyawan lama.
“Saat itu kami berjanji tidak melakukan penundaan UMK, tetapi minta sumbangsih mereka dari sisi efisiensi kerja selama kurun waktu setahun. Jika tidak bisa memberikan output yang diminta, maka mereka harus setuju untuk mundur,” ucap wanita yang telah 20 tahun berkiprah di Pan Brothers ini.
Kebijakan perusahaan tersebut juga diikuti dengan peningkatkan kolaborasi membeli barang atau kain lokal dari pabrik-pabrik tekstil di Indonesia sebanyak 20%. Dengan strategi yang diterapkan, impor bahan kain yang awalnya 90% dari Thailand, Taiwan, Tiongkok, Vietnam, dan Eropa, dikurangi 10%. Dampaknya pun langsung terasa pada percepatan dan penghematan ongkos kirim. Wanita asal Solo ini yakin, dengan makin mengandalkan produk lokal, industri garmen Indonesia juga akan makin diuntungkan.
Apalagi jika Indonesia mau bergabung dalam keanggotaan Trans Pacific Partnership (TPP) yang bisa meningkatkan industri tekstil lebih luas lagi hingga ke pasar ekspor. “Sayangnya, Indonesia belum siap bergabung dalam TPP. Padahal, dilihat dari sisi keahlian, tenaga kerja kita lebih banyak dan para perajin lebih memiliki jiwa seni untuk menciptakan produk tangan berkualitas ketimbang buatan Tiongkok, Vietnam, dan Bangladesh,” ucapnya.
Menghadapi banyaknya tantangan yang diberikan pemerintah dan dunia, Anne selalu berpegang pada komitmen untuk menjalankan 5 prinsip kerjanya. Dimulai dari kerja keras dan kerja pintar untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.
"Kami juga harus punya compassion di bidang garmen yang merupakan industri padat karya. Dengan banyaknya tantangan, kita tidak menjadi mudah menyerah dalam memperjuangkan daya saing yang kita punya,” jelas ibu dari Emilio Setiadarma dan Elena Setiadarma ini.
Selanjutnya dibutuhkan pula integritas agar perusahaan bisa terus bermain panjang dan mempertahankan reputasi yang sudah dimiliki. Sembari dijalankan bersamaan, bisnis ini butuh satu lagi yakni daya tahan dalam menghadapi ekonomi Indonesia yang makin terbuka. “Jika tidak punya endurance, maka napas bisnis ini akan tersengal-sengal. Akibatnya, kita tidak bisa melihat prospek ke depan,” imbuhnya lagi.
Dengan komitmen untuk berpegang pada kelima prinsip tadi, Anne ternyata berhasil membuat banyak kemajuan, terutama di bidang penjualan. Jika pendapatan perusahaan tahun 1997 di angka 12 juta dolar AS/tahun dengan kurs dolar ketika itu Rp2.000, maka akhir tahun 2013 berkembang menjadi 40 juta dolar AS/tahun.
Mengejutkannya lagi, nilai pendapatan terus naik secara signifikan, hingga tahun 2016 lalu perusahaan berhasil membukukan sekitar 470 juta dolar AS/tahun. Nilai yang fantastis dan membanggakan tentunya.
Selanjutnya: Menyasar Semua Gender

Foto: Muhamman Zaki
Menyasar Semua Gender
"Waktu kecil saya ingin menjadi pengacara karena terinspirasi oleh Kartini Muljadi,” ucap wanita yang gaya bicaranya straight forward ini.
Namun, karena sang ayah, Andi Sutanto, mengatakan bahwa ia tergolong anak yang ‘sulit’, maka Anne disuruh kuliah di Amerika Serikat untuk menyusul pacarnya yang sedang belajar di sana, Edmond Setiadarma, yang kini menjadi suaminya. Saat sedang asyik kuliah di jurusan teknik kimia di University of Southern California, tahun 1991 ia dihadapkan pada kenyataan pahit yang mengubah arah hidupnya.
“Ayah saya kena stroke berat. Melihat kondisi kesehatan beliau, saya memutuskan untuk meneruskan bisnis keluarga, yakni PT Kayu Lapis Indonesia, yang telah dirintis ayah bersama kedua paman saya,” ucap Anne, sembari memberi satu syarat, yaitu boleh menyelesaikan kuliahnya lebih dulu.
Dengan belajar ekstra ngebut, Desember 1992 Anne dinyatakan lulus S-1. Ia lalu terbang ke tanah air untuk magang di bagian business development di perusahaan sang ayah. Sayangnya, tahun 1993 ia berhenti bekerja dengan alasan kurang pengetahuan di bidang tersebut.
Anak kedua dari 3 bersaudara ini akhirnya memutuskan kembali lagi ke Amerika untuk belajar S-2 di Layola Marymount University. Lagi-lagi semangat belajar yang tinggi sukses memberinya gelar master di bidang bisnis administrasi dan keuangan pada tahun 1994 akhir. Setelah lempar toga, ia pun balik lagi ke Indonesia untuk bekerja di perusahaan yang sama.
Ternyata, bertambahnya ilmu tidak memuluskan kariernya di perusahaan itu. Saat itu tahun 1995. Selama setahun Anne berkontribusi, menjalankan tugas yang diberikan kepadanya untuk keluar masuk hutan yang menjadi area pengolahan kayu. Tetapi ia merasa tidak pernah dianggap.
“Memang, sejak tahun 1993, saat pertama kali bekerja di perusahaan keluarga, paman selalu bilang bahwa ini bukan bisnis (yang cocok dikelola) wanita. Tetapi, karena saya setuju dengan pendapat itu, saya berusaha bertahan. Sayangnya usaha saya tidak berhasil dan ‘terpaksa’ saya angkat kaki dari perusahaan tersebut.
Sifat Anne yang gigih kemudian membawanya menuju pintu yang lebih menjanjikan. Setelah berusaha mengincar beberapa perusahaan yang menjadi 10 besar di Indonesia tahun 1996, ia dihadapkan pada tawaran bisnis keluarga berbeda, yakni bergabung di PT Batik Keris.
Setelah 6 bulan di sana, tepatnya 1 April 1997, Anne diterjunkan ke PT Pan Brothers yang telah diambil alih Batik Keris. Sejak itu ia efektif mengisi ruang direksi di Pan Brothers hingga sekarang. Di bawah kepemimpinannya, Anne berhasil membuat tonggak sejarah dalam perusahaan, seperti mengakuisisi PT Panca Prima Ekabrothers tahun 2005, mengekspansi pabrik di Boyolali dan Sragen tahun 2007, dan menambah pabrik di kedua kota ini tahun 2011.
Selanjutnya, tahun 2012 ia mendirikan PT Ocean Asia Industry (OAI) dan mendirikan PT Ecosmart Garment Indonesia tahun 2013. Tidak puas dengan menjalankan bisnis kayu lapis dan garmen, Anne mengembangkan sayapnya dengan membuka beberapa perusahaan milik sendiri, seperti perkebunan kelapa sawit, kakao, furnitur, dan aksesori rumah.
Sebuah gelombang kesuksesan yang terus menghampiri. Namun diakui Anne tidak akan digapai tanpa dukungan penuh dari suami dan anak-anak. “Edmond selalu sigap menggantikan peran saya sebagai ibu jika saya berhalangan, entah mengambil rapor sekolah, mendampingi anak ke dokter, ataupun memberi nasihat ke mereka,” ucapnya, bersyukur.
Anne juga sering mendapat kritikan yang membangun dari sang suami atau masukan yang terkadang menegur, melarang serta menyemangatinya. “Beruntung ia bukan tipe suami yang ingin selalu dilayani. Kepercayaannya yang penuh terhadap saya dan apa yang saya jalani merupakan berkat buat saya,” tambah Anne, tersenyum.
Anne pun tidak pula melupakan dukungan yang didapat dari kedua belah hatinya. Rasa cinta yang diberikan Emilio dan Elena bukan sekadar kata-kata. Melalui sikap dan perbuatan, mereka memahami kesibukan dirinya. Karena menjadi pemimpin bukan hanya mempunyai kekuasaan yang besar, namun lebih kepada mengayomi semua anak buah dalam perusahaan. Maka pasti ada waktu-waktu kebersamaan dengan keluarga yang harus dikorbankan namun dimengerti oleh semua.
“Saya bersyukur cinta mereka kepada saya yang nyata dengan sikap dan perbuatan telah menghantar saya berkarya hingga ke posisi sekarang. My immediate family is my beacon and my source of inner strength,” kata penyuka kisah roman ini.
Namun demikian, selain dukungan penuh keluarga, Anne juga ingin menunjukkan kepada semua orang, pria dan wanita, bahwa kemampuan wanita jangan dipandang sebelah mata. Untuk itu, ia mengimbau agar kaum hawa berani dan tidak menggunakan feminitas jika ingin diperlakukan setara oleh pria.
“Agar tidak diremehkan, jangan terlalu banyak menonjolkan sisi kewanitaan. Tunjukkan bahwa kita juga bisa melakukan apa yang mereka kerjakan. Begitu pula pria, harus menerapkan apa yang wanita bisa. Seperti yin-yang, maka kita bisa jadi tim yang baik dengan tetap menghormati gender masing-masing,” ujar Anne, yang pernah menjadi juri dalam ajang kompetisi bisnis EY Entrepreneurial Winning Women 2015.
Anne percaya, orang Indonesia dan negara ini bisa menjadi nomor satu di dunia. Hanya, dibutuhkan kerja sama yang baik antara pria dan wanita untuk mau maju membangun negeri ini. “Serta berkomitmen dengan menjalankan apa pun yang menjadi tanggung jawab kita,” tutupnya. (f)
Baca juga:
Sedia Payung Sebelum Hujan
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hanya mencapai 5,02% pada tahun 2016 lalu ternyata bukan masalah bagi Anne. Pasalnya, sejak tahun 2015 ia sudah memprediksi situasi yang akan memengaruhi bisnis garmen ini. Anne pun langsung melakukan penyesuaian, efisiensi, dan pengencangan produktivitas kerja.
Berkat kesigapannya, PAN Brothers yang melayani kebutuhan label internasional, seperti Uniqlo, Nike, Adidas, The North Face, dan H&M bertahan bahkan bertumbuh sekitar 15%. Begitu pula buyers lain, yakni Salt n Pepper serta Zoe, turut naik penjualannya hingga 20%. Menurut Anne, untuk bisa surplus diperlukan kejelian membaca situasi dan berani melakukan penyesuaian. Seperti kasus lain yang terjadi pada tahun 2012 saat inflasi mendadak naik.
Pengaruhnya terhadap upah minimum kabupaten/kota (UMK) di Banten naik sekitar 40% dan di Jawa Tengah sekitar 10%-15%. Padahal, buyers belum tentu bisa menaikkan harga penjualan sebesar 15%-40%. Menghadapi perubahan yang terjadi Anne mengambil langkah melakukan negosiasi terhadap seluruh pekerja, tak terkecuali karyawan lama.
“Saat itu kami berjanji tidak melakukan penundaan UMK, tetapi minta sumbangsih mereka dari sisi efisiensi kerja selama kurun waktu setahun. Jika tidak bisa memberikan output yang diminta, maka mereka harus setuju untuk mundur,” ucap wanita yang telah 20 tahun berkiprah di Pan Brothers ini.
Kebijakan perusahaan tersebut juga diikuti dengan peningkatkan kolaborasi membeli barang atau kain lokal dari pabrik-pabrik tekstil di Indonesia sebanyak 20%. Dengan strategi yang diterapkan, impor bahan kain yang awalnya 90% dari Thailand, Taiwan, Tiongkok, Vietnam, dan Eropa, dikurangi 10%. Dampaknya pun langsung terasa pada percepatan dan penghematan ongkos kirim. Wanita asal Solo ini yakin, dengan makin mengandalkan produk lokal, industri garmen Indonesia juga akan makin diuntungkan.
Apalagi jika Indonesia mau bergabung dalam keanggotaan Trans Pacific Partnership (TPP) yang bisa meningkatkan industri tekstil lebih luas lagi hingga ke pasar ekspor. “Sayangnya, Indonesia belum siap bergabung dalam TPP. Padahal, dilihat dari sisi keahlian, tenaga kerja kita lebih banyak dan para perajin lebih memiliki jiwa seni untuk menciptakan produk tangan berkualitas ketimbang buatan Tiongkok, Vietnam, dan Bangladesh,” ucapnya.
Menghadapi banyaknya tantangan yang diberikan pemerintah dan dunia, Anne selalu berpegang pada komitmen untuk menjalankan 5 prinsip kerjanya. Dimulai dari kerja keras dan kerja pintar untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.
"Kami juga harus punya compassion di bidang garmen yang merupakan industri padat karya. Dengan banyaknya tantangan, kita tidak menjadi mudah menyerah dalam memperjuangkan daya saing yang kita punya,” jelas ibu dari Emilio Setiadarma dan Elena Setiadarma ini.
Selanjutnya dibutuhkan pula integritas agar perusahaan bisa terus bermain panjang dan mempertahankan reputasi yang sudah dimiliki. Sembari dijalankan bersamaan, bisnis ini butuh satu lagi yakni daya tahan dalam menghadapi ekonomi Indonesia yang makin terbuka. “Jika tidak punya endurance, maka napas bisnis ini akan tersengal-sengal. Akibatnya, kita tidak bisa melihat prospek ke depan,” imbuhnya lagi.
Dengan komitmen untuk berpegang pada kelima prinsip tadi, Anne ternyata berhasil membuat banyak kemajuan, terutama di bidang penjualan. Jika pendapatan perusahaan tahun 1997 di angka 12 juta dolar AS/tahun dengan kurs dolar ketika itu Rp2.000, maka akhir tahun 2013 berkembang menjadi 40 juta dolar AS/tahun.
Mengejutkannya lagi, nilai pendapatan terus naik secara signifikan, hingga tahun 2016 lalu perusahaan berhasil membukukan sekitar 470 juta dolar AS/tahun. Nilai yang fantastis dan membanggakan tentunya.
Selanjutnya: Menyasar Semua Gender

Foto: Muhamman Zaki
Menyasar Semua Gender
"Waktu kecil saya ingin menjadi pengacara karena terinspirasi oleh Kartini Muljadi,” ucap wanita yang gaya bicaranya straight forward ini.
Namun, karena sang ayah, Andi Sutanto, mengatakan bahwa ia tergolong anak yang ‘sulit’, maka Anne disuruh kuliah di Amerika Serikat untuk menyusul pacarnya yang sedang belajar di sana, Edmond Setiadarma, yang kini menjadi suaminya. Saat sedang asyik kuliah di jurusan teknik kimia di University of Southern California, tahun 1991 ia dihadapkan pada kenyataan pahit yang mengubah arah hidupnya.
“Ayah saya kena stroke berat. Melihat kondisi kesehatan beliau, saya memutuskan untuk meneruskan bisnis keluarga, yakni PT Kayu Lapis Indonesia, yang telah dirintis ayah bersama kedua paman saya,” ucap Anne, sembari memberi satu syarat, yaitu boleh menyelesaikan kuliahnya lebih dulu.
Dengan belajar ekstra ngebut, Desember 1992 Anne dinyatakan lulus S-1. Ia lalu terbang ke tanah air untuk magang di bagian business development di perusahaan sang ayah. Sayangnya, tahun 1993 ia berhenti bekerja dengan alasan kurang pengetahuan di bidang tersebut.
Anak kedua dari 3 bersaudara ini akhirnya memutuskan kembali lagi ke Amerika untuk belajar S-2 di Layola Marymount University. Lagi-lagi semangat belajar yang tinggi sukses memberinya gelar master di bidang bisnis administrasi dan keuangan pada tahun 1994 akhir. Setelah lempar toga, ia pun balik lagi ke Indonesia untuk bekerja di perusahaan yang sama.
Ternyata, bertambahnya ilmu tidak memuluskan kariernya di perusahaan itu. Saat itu tahun 1995. Selama setahun Anne berkontribusi, menjalankan tugas yang diberikan kepadanya untuk keluar masuk hutan yang menjadi area pengolahan kayu. Tetapi ia merasa tidak pernah dianggap.
“Memang, sejak tahun 1993, saat pertama kali bekerja di perusahaan keluarga, paman selalu bilang bahwa ini bukan bisnis (yang cocok dikelola) wanita. Tetapi, karena saya setuju dengan pendapat itu, saya berusaha bertahan. Sayangnya usaha saya tidak berhasil dan ‘terpaksa’ saya angkat kaki dari perusahaan tersebut.
Sifat Anne yang gigih kemudian membawanya menuju pintu yang lebih menjanjikan. Setelah berusaha mengincar beberapa perusahaan yang menjadi 10 besar di Indonesia tahun 1996, ia dihadapkan pada tawaran bisnis keluarga berbeda, yakni bergabung di PT Batik Keris.
Setelah 6 bulan di sana, tepatnya 1 April 1997, Anne diterjunkan ke PT Pan Brothers yang telah diambil alih Batik Keris. Sejak itu ia efektif mengisi ruang direksi di Pan Brothers hingga sekarang. Di bawah kepemimpinannya, Anne berhasil membuat tonggak sejarah dalam perusahaan, seperti mengakuisisi PT Panca Prima Ekabrothers tahun 2005, mengekspansi pabrik di Boyolali dan Sragen tahun 2007, dan menambah pabrik di kedua kota ini tahun 2011.
Selanjutnya, tahun 2012 ia mendirikan PT Ocean Asia Industry (OAI) dan mendirikan PT Ecosmart Garment Indonesia tahun 2013. Tidak puas dengan menjalankan bisnis kayu lapis dan garmen, Anne mengembangkan sayapnya dengan membuka beberapa perusahaan milik sendiri, seperti perkebunan kelapa sawit, kakao, furnitur, dan aksesori rumah.
Sebuah gelombang kesuksesan yang terus menghampiri. Namun diakui Anne tidak akan digapai tanpa dukungan penuh dari suami dan anak-anak. “Edmond selalu sigap menggantikan peran saya sebagai ibu jika saya berhalangan, entah mengambil rapor sekolah, mendampingi anak ke dokter, ataupun memberi nasihat ke mereka,” ucapnya, bersyukur.
Anne juga sering mendapat kritikan yang membangun dari sang suami atau masukan yang terkadang menegur, melarang serta menyemangatinya. “Beruntung ia bukan tipe suami yang ingin selalu dilayani. Kepercayaannya yang penuh terhadap saya dan apa yang saya jalani merupakan berkat buat saya,” tambah Anne, tersenyum.
Anne pun tidak pula melupakan dukungan yang didapat dari kedua belah hatinya. Rasa cinta yang diberikan Emilio dan Elena bukan sekadar kata-kata. Melalui sikap dan perbuatan, mereka memahami kesibukan dirinya. Karena menjadi pemimpin bukan hanya mempunyai kekuasaan yang besar, namun lebih kepada mengayomi semua anak buah dalam perusahaan. Maka pasti ada waktu-waktu kebersamaan dengan keluarga yang harus dikorbankan namun dimengerti oleh semua.
“Saya bersyukur cinta mereka kepada saya yang nyata dengan sikap dan perbuatan telah menghantar saya berkarya hingga ke posisi sekarang. My immediate family is my beacon and my source of inner strength,” kata penyuka kisah roman ini.
Namun demikian, selain dukungan penuh keluarga, Anne juga ingin menunjukkan kepada semua orang, pria dan wanita, bahwa kemampuan wanita jangan dipandang sebelah mata. Untuk itu, ia mengimbau agar kaum hawa berani dan tidak menggunakan feminitas jika ingin diperlakukan setara oleh pria.
“Agar tidak diremehkan, jangan terlalu banyak menonjolkan sisi kewanitaan. Tunjukkan bahwa kita juga bisa melakukan apa yang mereka kerjakan. Begitu pula pria, harus menerapkan apa yang wanita bisa. Seperti yin-yang, maka kita bisa jadi tim yang baik dengan tetap menghormati gender masing-masing,” ujar Anne, yang pernah menjadi juri dalam ajang kompetisi bisnis EY Entrepreneurial Winning Women 2015.
Anne percaya, orang Indonesia dan negara ini bisa menjadi nomor satu di dunia. Hanya, dibutuhkan kerja sama yang baik antara pria dan wanita untuk mau maju membangun negeri ini. “Serta berkomitmen dengan menjalankan apa pun yang menjadi tanggung jawab kita,” tutupnya. (f)
Baca juga: