Foto: Dachri Megantara 

Sebutlah nama Ghea, maka imajinasi akan berkembang pada keindahan kain- kain Indonesia lurik, motif jumputan dari berbagai daerah, ulos, juga songket. Lahir dan besar di Eropa, Ghea --yang di nadinya mengalir separuh darah Belanda dari sang ibu-- jatuh cinta pada keindahan budaya negeri sang ayahanda. Menjadi desainer pula yang membuatnya menjelajah dunia, termasuk makan siang bersama (alm) Lady Diana, juga diundang makan malam khusus bersama Ratu Elizabeth II di Istana Buckingham.
 
Pada suatu siang, di butiknya yang terletak di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, mengenakan dress sutra putih bermotif daun argan warna biru, karyanya untuk malam apresiasi #kitasupreme untuk 8 perempuan supreme pilihan femina dan Head&Shoulders, Ghea bercerita tentang perjalanan kariernya yang sudah menyentuh 40 tahun tak lama lagi.
 
Fashion Is My Destiny
Bisnis fashion-nya mampu bertahan hingga hampir 4 dekade dengan terus menghasilkan karya yang mengubah permainan di pasar mode tanah air yang kompetitif jelas bukan hal mudah. “Kita harus dinamis. Sebagai orang yang bekerja di dunia kreatif, inspirasi harus berubah terus, enggak mungkin konstan. Saya bersyukur tiap hari bisa menemukan spirit baru,” ujarnya.
 
Anda menghabiskan masa kecil di luar negeri?
Saya lahir di Belanda. Papa saya ketika bertugas di sana, bertemu lalu menikah dengan ibu saya, wanita Belanda. Namun, ketika masih bayi, kami sekeluarga kembali ke Indonesia hingga saya berusia 6 tahun. Pada saat tinggal di Indonesia itulah saya sering diajak orang tua berkeliling Indonesia, yang membangun kecintaan saya terhadap negeri ini. Kemudian keluarga kami kembali menetap di Eropa, yaitu Jerman dan Belanda, hingga usia saya 14 tahun. Saya menyelesaikan SMA di Indonesia, dan sempat kuliah di Trisakti, mengambil jurusan seni rupa. Tapi, kemudian saya tinggalkan karena saya lebih menyukai fashion. Saya pun memilih sekolah fashion design & pattern making di London.
 
Mengapa memilih dunia fashion?
Sejak kecil saya hobi menggambar orang dengan baju-baju yang berbeda, seperti Barbie dengan koleksi baju-bajunya. Saya juga hobi mendandani teman-teman. Waktu sekolah, saya yang mendandani dan memikirkan kostum teman ketika ada acara. Saat SMP, saya menyadari bahwa kesukaan saya pada dua hal itu tidak berubah. Fashion adalah hal yang bisa mengombinasikan kesukaan saya pada baju dan gambar.
 
Orang tua langsung menyetujui pilihan Anda?
Waktu itu papa bingung. “Apa, sih, yang kamu mau?”. Waktu itu saya sudah diterima di Sastra Prancis, Universitas Indonesia, tapi tidak diambil. Lalu saya berusaha menyenangkan orang tua dengan kuliah sekretaris di Singapura. Ini untuk membuktikan bahwa saya bisa bekerja dan mandiri secara finansial. Setelah bekerja setahun sebagai sekretaris, saya memutuskan mengambil sekolah fashion. Niat saya sudah bulat.
 
Mengapa memilih berkarier di Indonesia?
Ketika kembali ke Indonesia dari Belanda tahun 1969, saya melihat Indonesia sangat kaya budaya dan sejarah. Kekangenan saya terhadap budaya Indonesia membuat saya makin ingin tahu dan mendalaminya. Begitu lulus dari London, saya memutuskan menjadi desainer di Indonesia, dengan mengambil inspirasi Indonesia untuk karya-karya desain saya.
 
Apa langkah Anda untuk mewujudkan keinginan itu?
Sebagai desainer, saya harus memiliki identitas. Saya pun mulai mencari, apa, ya, bahan khas Indonesia? Saya traveling ke berbagai daerah untuk mencari inspirasi. Ketika di Yogyakarta, saya bertemu lurik. Saya tertarik, salah satunya karena harga lurik murah. Maklum, saya masih muda saat itu, belum punya modal banyak, apalagi waktu itu saya baru berkeluarga dan memiliki bayi kembar.
 
Sesungguhnya, pilihan saya untuk mengangkat budaya Indonesia di fashion cukup melawan arus pada saat itu, karena sebagian besar desainer kita berkiblat ke Barat. Ketika menemukan lurik, saya pun bermain lurik untuk pasar anak muda. Saya memesan bermacam warna lurik dari Yogyakarta.
 
Salah satu pelanggan pertama saya waktu itu adalah Svida Alisjahbana (CEO Femina Group). Menurut orang-orang saat itu, sebagai desainer baru dan muda, pilihan saya pada lurik dianggap terobosan.
 
Apakah saat itu pasar sudah siap dengan idealisme Anda?
Harus diakui, saat itu sebagian besar desainer dan penggemar fashion Indonesia memang berkiblat ke Barat. Baru merasa fashionable bila mengenakan busana yang terinspirasi dari Barat. Saya lumayan berhasil, karena ketika mengeluarkan lurik dengan warna-warna dan desain yang playful, konsumen mau membeli. Mungkin juga karena waktu itu saya masih muda, masih baru, sehingga karya saya dinilai
sesuatu yang unik, ya.

Baca Selanjutnya: I Love Jumputan
 
 
 
 Foto: Dachri Megantara 

I Love Jumputan
Ghea identik dengan jumputan, kain tradisional yang banyak ditemukan di berbagai daerah di Indonesia yang motifnya tercipta karena tie dye. Wanita yang menyukai gaya hippy culture dengan memakai kalung-kalung dan selendang India ini menemukan betapa motif jumputan sangat sesuai dengan selera fashion-nya.
 
Kapan Anda jatuh cinta pada jumputan?
Pertama kali bertemu jumputan tak lama setelah saya pulang ke Indonesia, awal-awal tahun ‘80-an. Saat itu saya ke Jawa Tengah dan melihat kain cinde Jawa. Saya langsung jatuh cinta karena sangat bohemian, sangat India.
 
Bagaimana cara Anda mengeksplorasi jumputan?
Harus diakui, sebetulnya yang membuat gebrakan adalah saat pertama kali saya membuat baju dari jumputan ini. Awalnya saya membaca tulisan tentang kain jumputan Palembang, yang memantik ide untuk membuat busana dari jumputan Palembang. Saya kemudian mengajak perajin jumputan bernama Ronimah untuk bekerja sama. Setelah itu, saya mengeksplorasi aneka jumputan, dari cinde Jawa, jumputan Palembang, jumputan Sumba, hingga jumputan Toraja.
 
Sebagian besar kain Indonesia adalah kain seremonial, bagaimana solusinya?
Kain-kain adat di Indonesia itu umumnya memang berat, dan sayang untuk dipotongpotong dan dijadikan busana. Untuk kain yang demikian, saya koleksi dan dijadikan inspirasi. Mengapa saya begitu? Supaya bisa membuat busana ready to wear.
 
Mengapa Anda tertarik membuat ready to wear?
Tahun 1982, pemilik Pasaraya, Abdul Latief, menawari saya membuat gerai di Pasaraya sehingga desainer tidak seperti penjahit, orang datang ke rumahnya untuk membuat baju. Dari sini, saya belajar bagaimana menjalankan bisnis retail. Mulai dari menghitung harga, sizing, dan lain-lain. Dalam satu koleksi misalnya, minimal harus membuat 12 sampai 24 baju per style.
 
Untuk menjalani bisnis ini, kami harus membuat baju-baju secara cepat (tapi bukan massal), sehingga salah satu solusinya adalah dengan kain printing. Ketika saya merilisnya pada tahun 1986, jumputan aneka warna ini jadi sangat hits, hingga hampir semua istri menteri membeli baju saya, bahkan mau membeli bahannya.
 
Karena jumputan, pada tahun 1987 saya mendapatkan Apparel Award sebagai Indonesia’s Best Ready to Wear Designer. Di tahun yang sama saya juga mendapat Best of ASEAN Designers Award di Singapura dan masuk dalam 10 Desainer Terbaik di ASEAN. Karena itu, saya berterima kasih sekali pada jumputan.

Baca Selanjutnya: I am Perfectionist 
 
 
 
 Foto: Dachri Megantara  

I am Perfectionist
Ghea bercerita, untuk menyambut 40 tahun berkarya di tahun 2019, ia sedang menyiapkan buku retrospeksi perjalanan kariernya sebagai desainer. “Saya sedang mengumpulkan foto-foto sekarang,” ujarnya, sambil menunjukkan dummy buku yang ia maksudkan untuk memberikan inspirasi generasi muda agar mencintai budaya Indonesia.
 
Selamat, karena mampu terus eksis hingga 40 tahun.
Saya bersyukur kepada Tuhan, sampai sekarang saya bisa terus berkarya. Banyak orang yang hidupnya tergantung pada kreativitas saya. Doa saya adalah, saya tidak boleh sakit, harus survive, agar saya bisa terus menggaji mereka, dan mereka bisa menyekolahkan anak-anak mereka. Papa saya terkadang merasa takjub, saya survive di dunia fashion hingga membuat saya bisa bertemu Lady Diana, Ratu Elizabeth II, dan kalangan bangsawan dari berbagai negara. Waktu Papa mengatakan demikian, saya sampai menangis terharu….
 
Bagaimana ceritanya bertemu Ratu Elizabeth II?
Setiap ada kunjungan kenegaraan ke kerajaan Inggris, Istana Buckingham akan mengundang satu orang artist dari negara tersebut. Pada kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tahun 2012, saya dapat telepon langsung dari Buckingham untuk hadir di kunjungan tersebut. Sempat tidak percaya, tapi ternyata itu benar. Saat mendapat kesempatan bicara dengan Ratu, saya memuji koleksi keramiknya. Saya ingat, Ratu tampak berbinar dan mengatakan bahwa table set malam itu adalah peninggalan dari neneknya, Ratu Victoria. Sayangnya, protokoler tidak membolehkan saya berfoto.
 
Apa sebetulnya tantangan terbesar menggeluti fashion?
Seorang desainer harus bisa create something yang bisa diterima konsumen. Ketika karya kita diterima pasar, berarti apa yang kita lakukan sudah benar, entah itu desainnya atau pada pricing-nya. untuk membuat versi printing-nya. Mungkin memang ada yang pro dan kontra, tapi saya ingin mencetak sesuatu yang tidak lagi dibuat, yang kesannya antik. Saya tidak mau mencetak sesuatu yang baru dan masih bisa dibikin lagi.
 
Kuncinya adalah kita harus punya sense, apa yang sedang terjadi, apa yang orang butuhkan, berapa uang yang mereka habiskan, dan siapa target pasar kita. Waktu yang akan mengajari kita untuk bisa merasakannya. Memang, kita harus bisa menciptakan sesuatu yang baru. Tapi, saat mendesain, bertanyalah kepada diri sendiri: apakah saya akan mengenakan baju seperti ini? Karena, ada yang bajunya bagus di fashion show tapi tidak bisa digunakan sehari-hari. Prinsipnya, don’t over, don’t under. Just be balance and proportional.
 
Pelajaran berharga sebagai pekerja fashion?
Saya jadi mengenal banyak karakter orang. Dari sisi konsumen, ada yang ingin eksklusif. Ada juga yang lebih longgar untuk urusan eksklusivitas, tidak apa sama dengan orang lain, asal warnanya beda. Tapi, tantangan paling besar di Indonesia adalah sulitnya menjaga dan mempertahankan kualitas karena mentalitas orangnya. Kalau ke perajin untuk membuat motif atau ke penjahit, sudah dijelaskan berkali-kali, ada saja kesalahan karena human error. Belum lagi soal telat deadline. Hal-hal seperti ini yang membuat stres.
 
Apa yang Anda lakukan untuk mengatasinya?
Karena bisnis fashion juga soal servis, maka saya tidak lelah mengingatkan dan mengecek semua pekerjaan. Hal ini terus saya tanamkan kepada dua anak kembar saya, Manda dan Janna Soekasah, bahwa mereka harus bisa cerewet kayak mamanya, ha ha…ha. Sampai sekarang, saya masih turun tangan sendiri, masih ngecek satu per satu, human error can happen anywhere. Ya, saya perfectionist.
 
Seberapa jauh delegasi pekerjaan kepada anak-anak?
Kadang-kadang brainstorming untuk desain, terutama Janna, karena dia yang memegang Ghea Kids. Sedangkan Manda, lebih mengurusi bisnis, membenahi alur kerja, juga melakukan pekerjaan public relations dan partnership. Suatu hari kelak ketika saya sudah enggak kuat lagi, anak-anak sudah mengerti problem-problem perusahaan dan bagaimana cara mengatasinya. Sebagian besar persoalan adalah di sisi sumber daya manusianya.
 
Nasihat bisnis untuk mereka?
Tidak ada sukses tanpa kerja keras, passion, dan sedikit keberuntungan. Selain itu, kita tidak bisa tergantung pada orang lain dan hanya menyuruh orang bekerja untuk kita. You have to be involve and control. Karena kalau tidak, nanti kita akan kecolongan.
 
Tidak capek?
Ya, kadang-kadang saya kerja sampai malam. Tapi, karena saya enjoy, ya, enggak terasa capek, meski terkadang capek juga. Tapi, ya, sudah, reward-nya kan juga menyenangkan. Kalau lelah, saya pulang. Kan bisnis punya sendiri, enggak apaapa, dong, pulang kapan saja, ha… ha… ha….
 
Anda terlihat sangat chic & awet muda. Bagaimana merawat diri?
Istirahat harus. Tapi, saya termasuk malas olahraga, padahal saya stress eater… gawat, deh. Pernah yoga bersama teman-teman, tapi berhenti karena teman-teman pergi ke luar kota. Untuk urusan rambut, saya sangat peduli, karena menurut saya rambut adalah mahkota kita. Untuk itu. Sebulan sekali saya treatment dan trimming. Untuk cuci rambut, saya lakukan sendiri di rumah. (f)

Baca Juga: 
8 Perempuan Supreme: Alberthiene Endah
8 Perempuan Supreme: Susi Pudjiastuti
8 Perempuan Supreme: Yura Yunita