Foto: NORAMenurut Badan Pusat Statistik, 60 persen pendiri UMKM adalah wanita. Tapi sayangnya, para UMKM wanita ini lebih sulit untuk mengembangkan bisnis mereka karena berbagai alasan. Mulai dari tidak cukup berani untuk meminjam pinjaman dalam jumlah besar, minim informasi dan pengetahuan soal kewirausahaan, hingga tak tahu apa yang harus dilakukan ke tahap berikutnya.
Proses bisnis hingga naik kelas ke level yang lebih tinggi dan besar memang bukan perkara mudah, semua harus dilalui dengan usaha dan tekad kuat. Jangankan naik kelas, mau mulai berbisnis apa saja banyak orang masih meraba-raba.
Karena itu berjejaring dan belajar dengan sesama pebisnis menjadi penting. Karena itu, Indonesian Women's Forum 2019 menghadirkan sesi master class Wanwir Series : How to Scale Up My Business dengan menghadirkan dua wanita wirausaha; Ayu Zulia Shafira, Founder & CEO What’s Up Café dan Lintang Wuriantari, Co-Founder and Tea Executive Officer, Matchamu. Dimoderasi Elfitra Augustin, Events & Community Development, Endeavor Indonesia, mereka berbagi perspektif, ilmu, dan pengalaman seputar bisnis.
Ayu bercerita mulai berjualan secara online sejak SMA. Berhasil mengumpulkan keuntungan hingga Rp 40 juta, di usia belia, ia sudah merasakan bahwa bisnis ternyata sangatlah menghasilkan. Melanjutkan kuliah di jurusan teknik informatika dan diharapkan orang tua untuk menjadi ASN, tidak menyurutkan tekad Ayu untuk membuat bisnis sebelum lulus kulih.
Ayu melihat peluang dari kebiasaannya dan teman-teman kuliahnya yang sering menghabiskan waktu di warung penjual mi instan. Ia melihat warung seperti ini perlu ditata lebih baik. Inilah awal ia mendirikan What’s Up Café, warung dengan konsep kafe mi kekinian, yang kini sudah memiliki 11 cabang.
Sementara Lintang bercerita, Matchamu diawali oleh rasa ingin menetap dan bersama orang-orang terdekat di Indonesia. Berawal dari keresahan dirinya dan suami yang bekerja di Singapura sebagai arsitek. Kesibukan kerja di sana mereka membuat mereka tidak punya banyak waktu dengan keluarga, sehingga kemudian memutuska pulang ke Indonesia. Tak ingin lagi meninggalkan Indonesia, ia terpikir untuk membuat bisnis yang bergerak di bidang F&B.
Matchamu lahir dari serangkaian proses pemikiran. Beliau bercerita bahwa sempat memikirkan beberapa konsep di tempat yang sama dan selalu memesan matcha. Saat itulah terlintas ide untuk membawa hal yang dekat dan berputar di kesehariannya ke hal yang lebih besar.
Satu hal sama dari dua cerita founder bisnis ini bahwa mereka menemukan ide bisnis dari hal-hal terdekat dengan keseharian, yang justru sederhana dan biasa.

Ujian Untuk Naik Kelas
Mereka bercerita, beragam tantangan harus mereka lalui sebelum bisnisnya bisa dikenal dan naik kelas seperti saat ini. Mulai dari tim dan kultur perusahaan, investasi modal, hingga kepada siapa mereka meminta bantuan dan dukunga saat menghadapi tantangan tersebut.
Menemukan tim yang berbagi visi serta semangat kerja yang sama dengan sang founder sama sekali tidak mudah. Tapi hal itulah yang juga mengajarkan dan memberikan mereka pengalaman tak ternilai. "Tiap orang lebih baik memiliki perannya masing-masing. Saya pernah dikecewakan rekan tim yang sudah saya percaya dan saya berikan banyak peran dan kewenangan. Sejak itu saya sadar harus mulai mengefektifkan tim sesuai peran masing-masing. Bahwa ternyata ada divisi yang tidak boleh digabung-gabung," ujarnya.
Sementara menurut Ibu Lintang bahwa "Matchamu punya semboyan 'mboh piye carane' yang dalam Bahasa Jawa berarti apapun caranya pasti bisa. Semboyan ini menunjukkan bahwa tim Matchamu sangat mempunyai winning spirit untuk terus tumbuh dan naik kelas," ungkap Lintang.
Semboyan ini akhirnya menciptakan budaya kerja di kantor, yang sangat membantu untuk menyeleksi orang-orang,
Tantangan lain ketika bisnis sudah semakin besar dan ingin naik kelas adalah kebutuhan modal yang juga besar, di saat itulah bisnis membutuhkan partner investor.
'"Banyak yang masih mengkhawatirkan kehadiran investor dalam bisnis karena takut visi atau idealisme founder tak sejalan dengan investor. Oleh karena sebaiknya cari investor yang setuju untuk silent dan percaya dengan cara kita," saran Ayu.
Tentu perlu ada transparansi keuangan antara founder dan investor. Meski investor tidak banyak ikut andil namun soal finansial adalah ranah dimana investor perlu dilibatkan agar mereka juga percaya dengan kinerja founder soal modal yang mereka tanamkan ke bisnis.
Bagaimana menyeleksi investor yang tertarik dengan bisnis kita?
Lintang yang memenangkan dari BEKRAF mengalami ini. Banyak yang tertarik untuk segera investasi ke Matchamu, namun ia memilih untuk melakukan proses penjajakan secara pelan-pelan sampai menemukan yang tepat. "Saya memilih investor yang sehat, yang lebih peduli pada visi bisnis dibandingkan sekadar laba, dan yang bisa percaya dengan tindakan founder untuk mengeksekusi perluasan bisnis."
Agar memiliki kekuatan lebih saat menghadapi tantangan bisnis, Ayu juga menekannya pentingnya bergabung dengan komunitas wirausaha. Dalam komunitas para pelaku wirausaha bisa saling konsultasi, berbagi permasalahan masing-masing, serta bertukar perspektif. Komunitas seperti Endeavor bahkan memberikan fasilitas seperti coach internasional.
"Endeavor pun membantu dalam soal kolaborasi antar brand, yang sangat bagus dalam menaik-kelaskan suatu bisnis."
Hal ini disetujui Lintang yang juga tergabung dalam Endeavor. Lewat komunitas ini ia mengaku mendapat banyak value dan bertemu mentor bisnis luar biasa. (f)
Jessica Thennia (Kontributor)
Editor : Nuri Fajriati
Baca Juga:
Memaknai Bisnis, Tak Sekadar Mencari Keuntungan
Meningkatkan Nilai Bisnis bagi Wanita Wirausaha
Wanita Sebagai Penggerak Lingkungan