
Dok: Unsplash.com
Sejak diperkenalkan tahun lalu, promo cashback yang diberikan aplikasi e-wallet langsung fenomenal. Bahkan pengguna rela antre panjang hanya untuk mendapat potongan harga Rp10.000 di sebuah gerai kopi susu atau buble tea. Belakangan promo cashback juga berlaku untuk pembayaran tagihan bulanan hingga membeli kebutuhan sehari-hari. Fenomena ini membuat generasi usia produktif Indonesia menjadi konsumtif?
Hello Cashback
Begitu membuka sebuah aplikasi super apps, yang biasa ia gunakan untuk transportasi dan pembayaran digital, Selfi, langsung menyentuh cepat layar ponselnya untuk melihat-lihat promo yang ditawarkan. “Nih…ada promo cashback token listrik. Lumayan, beli token Rp25.000, cashback-nya Rp8.500, jadi saya cukup bayar Rp11.500,” terang wanita yang bekerja sebagai desainer grafis di Jakarta itu dengan mata berbinar, akhir Mei lalu.
Bagi Selfi, cashback pembelian token listrik ialah promo yang paling ia buru. Sebab setiap bulan ia harus menyisihkan Rp500.000 untuk biaya listrik. Sejak ada promo cashback pembelian token listrik - walaupun tidak setiap bulan - Selfi mengaku bisa berhemat banyak.
“Saya senang pakainya untuk beli token listrik karena promo cashback-nya menarik. Beli token listrik Rp100.000 cashback-nya sekitar Rp15.000. Jadi kalau dihitung saya cuma bayar sekitar Rp86 ribu, plus Rp1.000 biaya admin. Walau aturannya cukup banyak, tapi bisa ngakalin. Misalnya, pakai akun teman yang nggak beli listrik”.
Dari coba-coba, kini Selfi selalu menunggu program promo cashback token listrik, baik dari Go-Pay atau OVO. Apalagi, belakangan setelah Tokopedia terkoneksi dengan OVO, ia juga bisa membeli token listrik dengan promo cashback di Tokopedia lewat OVO.
“Kembalinya memang bukan uang, tapi point yang masuk bisa saya gunakan untuk kebutuhan lainnya”.
Ketertarikan Selfi pada tawaran cashback tak hanya lewat belanja online. Saat jalan-jalan ke mal, ia kerap memilih makan di restoran atau jajan di tempat yang menawarkan cashback terbesar.
“Dah jadi kebiasaan, sebelum makan lihat-lihat dulu mana merchant yang ada promo cashback-nya. Terus hitung dulu, kira-kira menguntungkan nggak promonya,” jelas Selfi, tertawa.
Meski termasuk ketat soal menghitung pengeluaran bulanan, Selfi mengaku tak jarang juga ia tergiur membeli sesuatu karena promo yang ditawarkan.
“Kalau buat listrik memang lebih hemat, tapi buat jajan jadi bisa nggak kehitung. Apalagi saya tidak pernah menetapkan satu bujet khusus untuk jajan,” katanya.
Selfi sempat memiliki pemikiran mumpung ada cashback, lebih baik dimanfaatkan. Apalagi untuk pembelian token listrik, yang menurutnya bisa dipakai kapanpun. Bahkan dia rela menghabiskan dana hingga Rp2 juta sebulan untuk beli token.
Tapi, belakangan setelah semakin banyak program cashback yang hadir, terutama untuk kebutuhan konsumsi seperti makanan dan minuman, Selfi justru merasa semakin hemat. Karena ia akan benar-benar menghitung berapa promo dan keuntungan yang didapat.
“Saya tiap hari pasti minum kopi, biasanya seduh sendiri. Tapi kalau ada promo cashback, saya hitung harganya jadi berapa. Kalau lebih murah, daripada saya harus beli kopi dan repot nyeduh sendiri, kan lebih baik manfatin promo cashback-nya,” katanya.
Lain lagi dengan Olla, sejak ada GO-PAY pada 2016, Olla mengaku langsung tertarik menggunakan aplikasi pembayaran digital tersebut, walaupun ada effort untuk isi saldo dulu.
“Awalnya pakai, karena saya ada kebutuhan transportasi setiap hari. Lebih mudah bayar ongkos, nggak perlu mikir kembalian,” kata Olla, yang bekerja di bidang media ini.
Ia juga tidak terlalu khawatir soal keamanan uangnya, meski saat itu e-payment berbasis ponsel masih terbilang baru.
Lama-lama, Olla terbiasa menaruh uang di e-wallet yang kini ada dua di ponselnya. Selain untuk kebutuhan transportasi, setahun terakhir Olla juga aktif menggunakan e-wallet untuk jajan dan belanja online.
“Kebutuhan saya untuk saldo GO-PAY dan OVO dalam sebulan minimal Rp800 ribu. Belakangan bisa lebih karena biasanya dipakai untuk beli makanan dan belanja di Tokopedia,” katanya.
Ia pun rutin memanfaatkan promo cashback untuk belanja online di Tokopedia. “Bisa lebih hemat justru, untuk membeli kebutuhan anak terutama. Biasanya saya beli baju, perlengkapan ulang tahun, hingga beli Lego,” cerita wanita yang berdomisili di Bogor ini.
Seperti halnya Selfi, promo cashback pula yang terkadang mendorong Olla untuk jajan makanan atau minuman saat sedang hangout di mal bareng keluarga dan teman. Logo cashback yang besar selalu berhasil menarik matanya untuk membeli suatu produk.
“Sukalah sama promo, bisa lebih murah. Apalagi kalau soal jajan, saya tidak pernah menetapkan limit tertentu. Kalau ada tawaran diskon pasti lebih menarik,” ungkap Olla.
Tak hanya memanfaatkan promo cashback secara offline, saat di kantor, Olla juga suka memanfaatkan promo cashback untuk membeli camilan lewat online food delivery.
Apalagi di seputaran kantornya yang terletak di bilangan Jakarta Selatan tersebar banyak restoran dan kedai kopi yang menawarkan promo cashback.
Namun, ia sempat mengeluhkan aturan cashback yang manis di awal. “Tulisannya besar di depan toko, cashback 50 persen. Tapi pas baca ketentuannya, ternyata potongan maksimal hanya Rp20.000. Kalau kita belanjanya lebih dari Rp40.000 harusnya potongannya lebih besar dari Rp20.000 dong,” kata Olla, agak jengkel.
Tidak hanya Selfi dan Olla, penggunaan e-wallet karena tertarik pada diskon bisa kita temui banyak di generasi usia produktif. Diskon atau cashback masih menjadi pemanis.
Menurut riset Snapcart, sekitar 84 persen responden menggunakan e-wallet demi mendapatkan promosi, potongan harga/cashback. Angka ini terbilang tertinggi jika dibanding metode pembayaran lain, seperti kartu kredit, debit, atau lainnya.
Polling yang dilakukan femina lewat kanal Polling di www.femina.co.id pada awal Juni 2019 soal tren penggunaan e-wallet menemukan hasil yang cukup menarik. Selain untuk membayar transportasi online (33%), e-wallet banyak digunakan untuk transaksi membeli makanan dan minuman (25%), belanja online (17%), dan membeli voucher listrik, HP, PAM, dll (14%).
Sedangkan tiga alasan seseorang menggunakan pembayaran digital adalah kemudahan (35%), banyaknya tawaran promo cashback (29%), dan cepat (22%).
Baca Selanjutnya: Gencar Promo

Dok: Femina
Gencar Promo
Indonesia perlahan tapi pasti mulai mengarah ke era cashless society. Di mana kelompok usia produktif menjadi motor berkembangnya pembayaran digital di Indonesia. Pangsa pasar yang besar ini dilirik oleh para penyedia uang elektronik, terutama yang berbasis server atau lewat ponsel dengan berlomba-lomba memberikan gimmick unik untuk memasarkan uang elektroniknya.
Sebagai bagian dari ekosistem di aplikasi GO-JEK, GO-PAY mendukung dan memfasilitasi semua pembayaran elektronik bagi seluruh layanan GO-JEK. Salah satu strategi GO-PAY untuk menarik pengguna dan mempercepat adopsi pengenalan cashless adalah promosi dalam waktu spesifik melalui program GO-PAY PAY DAY yang dilakukan tiap akhir bulan di ratusan rekan usaha.
Sejak muncul pertama kali pada September 2018, promosi yang dilakukan di hari-hari gajian dengan memberikan cashback 20 persen hingga 50 persen ini dinilai cukup efektif dalam menarik pengguna baru GO-PAY.
“Selain juga menyumbang kenaikan transaksi yang signifikan di rekan usaha. Bahkan, ada salah satu rekan usaha yang transaksinya naik hingga 12x lipat ketika GO-PAY PAY DAY berlangsung,” ungkap Ardelia Apti, VP Product Marketing GO-PAY, lewat jawaban pertanyaan yang dikirimkan via email kepada Femina.
Sejak diperkenalkan pertama kali tahun 2016 lalu, pertumbuhan pengguna GO-PAY cukup signifikan. Hingga kini, aplikasi GO-JEK telah di-download lebih dari 108 juta kali, di mana 50 persen transaksi di aplikasi GO-JEK telah menggunakan GO-PAY.
Sepanjang 2018 (Januari-Desember), kenaikan jumlah pengguna aktif GO-PAY mencapai 90 persen. Penyumbang terbesar salah satunya adalah transaksi di luar layanan GOJEK atau transportasi online. Hingga April 2018, pertumbuhan transaksi GO-PAY di luar layanan GO-JEK mencapai 25 kali lipat.
Berkat pertumbuhan yang signifikan tersebut, GO-PAY disebut-sebut sebagai layanan uang elektronik terbanyak digunakan di Indonesia. Setidaknya hal ini dibuktikan oleh hasil riset dari tiga lembaga berbeda, salah satunya laporan Fintech 2018 Dailysocial dan OJK yang menyebut GO-PAY sebagai uang elektronik terbanyak digunakan di Indonesia, di mana lebih dari 70% responden Indonesia menggunakan GO-PAY sebagai alat pembayaran digital.

Dok: Femina
Di luar GO-PAY, ada OVO Cash yang berada dibawah naungan PT Visionet Internasional selaku anak usaha dari Lippo Group. Mulai diperkenalkan tahun 2017, OVO Cash memiliki gimmick unik di awal penetrasi memasarkan uang elektroniknya kepada masyarakat. Gimmick tersebut adalah memberikan harga promo 1 rupiah untuk 1 kali perjalanan pada aplikasi Grab untuk penggunaan OVO pertama kali. OVO juga memakai strategi yang sama di tempat lain, yakni 1 rupiah untuk parkir seharian, dan 1 rupiah untuk pembelian minyak goreng.
Belakangan, OVO juga gencar memberikan promo cashback di mitra usahanya, mulai dari cashback 30 persen hingga 50 persen. Walaupun cashback tersebut dikembalikan dalam bentuk OVO point, bukan uang rupiah, namun tidak mengurangi minat pengguna OVO untuk memanfaatkan promo tersebut. Pasalnya, OVO Point dapat digunakan kembali untuk membayar transportasi online dengan Grab atau berbelanja di mitra usaha tertentu.
Kehadiran DANA tahun lalu dan Link-Aja yang resmi diluncurkan awal tahun ini semakin menambah sengit persaingan bisnis dompet digital. DANA misalnya, tidak tanggung-tanggung memberikan cashback 50 persen dengan maksimal nominal potongan yang cukup besar, bahkan di atas pemain e-payment lainnya.
Sedangkan Link-Aja mencari celah dengan memberikan cashback 25% untuk pembelian bahan bakar di pom bensin milik Pertamina. Meski harus diakui, sebagai pemain baru, salah satu kekurangan DANA dan Link-Aja ada pada jumlah mitra usaha mereka yang masih terbatas.
Strategi ‘bakar uang’ yang dilakukan masing-masing perusahaan pembayaran digital lewat gencarnya promo-promo yang ditawarkan, terbukti mampu menggoda banyak orang untuk mulai menggunakan pembayaran digital.
Walaupun tak dipungkiri uang elektronik telah menjadi solusi bagi penggunanya untuk mempermudah transaksi sehari-hari. Hal itu terlihat dari data Bank Indonesia (BI). Pada Januari-Agustus 2018, pembayaran digital tercatat 1,78 miliar transaksi atau naik 3 kali lipat dari periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 480 juta transaksi.
Volume transaksi yang meningkat juga diikuti dari sisi nominal. Nilai nominal pembayaran digital Januari-Agustus 2018 mencapai Rp28 triliun, naik lebih dari tiga kali lipat dari periode yang sama tahun lalu senilai Rp6,68 triliun.
Pengguna pembayaran elektronik pun berasal dari berbagai kalangan. Mengutip hasil riset Indonesian Digital Mums 2018 oleh Tickled Media tentang tren perilaku online, ibu digital masa kini turut menikmati pertumbuhan dompet digital. Sekitar 44 persen dari ibu digital Indonesia saat ini memiliki setidaknya satu akun e-money/digital wallet. Mereka terutama menggunakan layanan ini untuk transportasi 38 persen dan belanja 32 persen.
Hal ini sejalan dengan hasil survei yang dilakukan Femina pada awal Juni 2019 lewat kanal polling di www.femina.co.id, 43 persen responden mengaku memiliki dua aplikasi e-wallet di ponselnya dan menggunakannya untuk transportasi (33%) dan membeli makanan atau minuman (25%).
Kendati pembayaran digital menawarkan kepraktisan, ada efek negatif yang bisa muncul, di antaranya adalah pemborosan. Pembayaran nontunai, termasuk pembayaran digital dianggap berbahaya lantaran berpotensi membuat konsumen tidak lagi merasakan rasa ‘kehilangan’ atau ‘sakit’ saat membayar.
Dampaknya, orang menjadi kurang peka dalam pengeluaran. Apalagi dengan semakin maraknya promo cashback. Tapi apakah benar demikian, dan apakah promo cashback bisa menjaga loyalitas pengguna e-wallet?
Baca Selanjutnya: Benarkah Boros?

Dok: Pixabay.com
Benarkah Boros?
Awal tahun ini, IDN Times, sebuah perusahaan media dan hiburan multi platform, meluncurkan Indonesia Millennial Report 2019 untuk memotret pola perilaku, sikap, dan minat masyarakat usia produktif di Indonesia. Salah satunya, tentang perilaku mereka dalam hal keuangan yang terkenal antiribet.
Generasi usia produktif ini suka membawa uang seperlunya, hanya cukup buat makan, nonton, dan parkir. Tapi bukan berarti pengeluaran mereka tidak besar. Dari hasil survei, diketahui bahwa sebenarnya mereka cukup konsumtif dalam menggunakan uangnya.
Dalam hal pengeluaran, mereka juga mengaku lebih boros jika membawa uang cash dalam jumlah besar. Gaya hidup cashless society pun dianggap sebagai solusi dalam hal keuangan. Sehingga pilihannya jatuh pada sistem pembayaran nontunai, mulai dari pembayaran dengan kartu kredit atau kartu debit, hingga transaksi menggunakan sistem teknologi perbankan seperti e-money atau e-wallet.
Banyak manfaat yang dirasakan pengguna e-wallet melalui kemudahan transaksi non-tunai. Salah satunya kita tidak perlu lagi memegang uang tunai dalam jumlah besar karena semuanya bisa dilakukan melalui smartphone. Selain itu, pemantauan arus keluar masuk kas juga lebih mudah karena semua pengeluaran tercatat di histori transaksi.
Achmad Gozali, Perencana Keuangan Independen dari Safir Senduk dan Rekan, cukup positif melihat perubahan perilaku yang mengarah pada cashless society ini. Ia melihat kondisi saat ini sebagai masa transisi, di mana orang tengah menyesuaikan dirinya dengan perubahan dalam menggunakan uang, terutama dalam hal kontrol.
“Dari faktor manusia, perubahan dari cash menjadi cashless ini memang akan terasa ada perbedaan dari sisi kontrol. Selama ini, salah satu faktor kontrol kita kepada uang adalah kebiasaan kita ketika secara fisik memegang atau melihat uang. Secara intuitif merasakan ada uangnya sehingga terasa pula saat uangnya masuk dan keluar. Ketika transaksi menjadi cashless, perasaan itu menjadi tidak ada karena tidak melihat atau memegang saat saldonya berkurang,” ungkap Achmad.
Di masa awal ini, bisa saja seseorang kehilangan kontrol atau tidak sadar berapa berapa banyak uang yang sudah keluar secara cashless. Jadi, kecenderungan untuk boros akan lebih besar. Apalagi ditambah dengan ramainya promo cashback besar-besaran yang bisa menjadi salah satu faktor yang membuat seseorang menjadi lebih terdorong untuk membeli, walaupun mungkin sebelumnya tidak terlalu merasa perlu untuk beli.
Meski begitu, Achmad cukup yakin kondisi ini hanya akan berlangsung sementara. Sebab lama-kelamaan perasaan ‘pegang uang’ itu akan tergantikan dengan angka saldo yang ada di layar. Begitu pula dengan minat seseorang pada tawaran promo cashback, jika terlalu banyak diskon/cashback, kita justru akan menganggap hal itu sesuatu yang biasa, bukan hal yang luar biasa.
“Lama-lama, kita akan menjadikan cashback atau promo hanya sebagai penentu ‘mau belanja di mana’, bukan lagi ‘mau beli atau nggak’. Misalnya, ketika sudah memutuskan untuk membeli kopi susu, kita tinggal cari saja di mana yang sedang ada promo,” katanya.
Menurut Achmad, ibarat membuat rekening, penawaran untuk e-wallet akan datang dari mana saja. Lantas pertanyaannya, berapa ‘rekening’ yang perlu kita miliki? Faktor penentu kita akan menggunakan sebuah e-wallet atau tidak adalah kemudahan, aksesabilitas, jumlah merchant yang menerima, dan fitur-fitur yang ditawarkan.
Saat pertama membuka satu-dua akun e-wallet, mungkin kita akan rela dengan tawaran promonya. Tapi kalau keduanya sudah aktif dipakai, maka penawaran dari yang ketiga dan seterusnya harus luar biasa menarik. Karena yang aktif pada akhirnya paling 1-2 saja yang dipakai.
Achmad menyarankan agar memanfaatkan e-wallet sebagai post-post keuangan pribadi. “Idealnya e-wallet diibaratkan seperti amplop digital, manfaatkan satu akun e-wallet untuk satu kelompok pengeluaran. Misalnya untuk trasportasi, jajan, dan lainnya,” jelasnya.
Tapi memang bisa saja dalam pelaksanaannya akan sulit, karena ada akun-akun yang spesialisasi di transportasi dan juga konsumsi jajan, seperti GO-PAY dan OVO.
Survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menggambarkan pola perilaku keluarga milenial dalam membelanjakan uang mereka. Faktanya, keluarga milenial di kota-kota besar lebih banyak menghabiskan pendapatan mereka untuk sektor konsumsi. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS 2017 tentang proporsi pengeluaran bulanan rumah tangga milenial seolah mengamini pelabelan tersebut.
Hasil survei Susenas menunjukkan pengeluaran terbesar para keluarga milenial ada pada sektor konsumsi. Porsi pengeluaran untuk konsumsi ada di angka 60 persen dan terendahnya ada di angka 39,4 persen.
Teknologi memungkinkan seseorang menjadi lebih boros, tapi di lain sisi, teknologi juga memberikan kesempatan lebih bagi para pekerja produktif untuk saving dan investasi lewat financial technology. Bijaklah dalam mengelola keuangan.
“Ada banyak ragam fintech, dari peer to peer landing, hingga nvestasi reksadana dan saham yang sudah bisa dilakukan lewat ponsel. Intinya, lebih banyak pilihan bagi kita untuk berinvestasi, tanpa harus keluar kantor,” katanya.
Yang terpenting menurut Achmad, jangan pernah lupa untuk menerapkan prinsip keuangan pribadi 10-20-30-40, di mana biaya hidup diletakkan terakhir, setelah post investasi, tabungan, dan cicilan hutang.
“Karena sesuatu yang konsumtif kalau ditaruh di awal akan cenderung berlebihan,” tutup Achmad, mengingatkan.
Baca Selanjutnya: Tip Mengatur Keuangan Anda!

Dok: Pixabay
Tip Mengatur Keuangan Anda!
Head of Wealth Management & Client Growth Bank Commonwealth, Ivan Jaya, memberikan tip mudah mengelola gaji agar keuangan tak kebablasan.
1/ Buat alokasi pengeluaran gaji bulanan. Prioritaskan 20%-30% dari pendapatan bulanan untuk ditabung atau berinvestasi. Ivan menyarankan agar terbiasa menyisihkan dana investasi untuk memiliki masa depan yang aman.
2/ Sisihkan 30% untuk membayar cicilan utang sekaligus untuk biaya entertainment / lifestyle. Gunakan sisanya untuk kebutuhan hidup seperti membayar listrik dan membeli persediaan bahan makanan sebulan.
3/ Catat anggaran pengeluaran saat mendapatkan gaji bulanan, serta disiplin terhadap apa yang dianggarkan tersebut.
4/ Sebisa mungkin pendapatan tahunan digunakan untuk pengeluaran tahunan dan pendapatan bulanan untuk pengeluaran bulanan. Prinsipnya, sisihkan dulu untuk tabungan dan investasi, baru sisanya dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, bukan sebaliknya.
5/ Ketahui instrumen investasi yang cocok dengan profil risiko kita serta memberikan nilai tambah bagi kita, karena dana yang diinvestasikan akan berkembang lebih pesat daripada hanya menggunakan instrumen keuangan lain seperti tabungan. Instrumen investasi ini seperti obligasi negara (ORI), sukuk, atau reksadana yang kini sangat terjangkau. (f)
Baca Juga:
Mana Yang Lebih Baik, Buka Rekening Tabungan Bareng Pasangan Atau Terpisah?
Tip Menghitung Gaji Pemilik Untuk Bisnis UKM
5 Langkah Hemat Belanja Fashion, Namun Tetap Gaya