
Foto: Pexels
Istilah generasi sandwich pertama kali diperkenalkan pada tahun 1981 oleh Dorothy A. Miller, Profesor sekaligus direktur praktikum Universitas Kentucky, Lexington, Amerika Serikat (AS). Ia memperkenalkan istilah tersebut dalam jurnal berjudul "The 'Sandwich' Generation: Adult Children of the Aging”. Dorothy mendeskripsikan generasi sandwich sebagai generasi orang dewasa yang harus menanggung hidup orang tua sekaligus anak-anaknya. Generasi ini “terhimpit” di antara biaya kehidupan orang tua dan kebutuhan anak-anaknya. Karena itulah disebut generasi sandwich.
Tak dipungkiri, tantangan terbesar dari generasi sandwich adalah dalam hal keuangan. Sehingga penting untuk diperhatikan bagaimana cara mengelola keuangan agar tak besar pasak daripada tiang. Mengingat kita menanggung biaya hidup anak sekaligus orang tua, perlu strategi agar tak terhimpit beban finansial yang berujung masalah keluarga.
Eka Setyawibawa, ChFC, financial planner dan founder uang360.com memaparkan sejumlah langkah demi arus keuangan generasi sandwich yang lancar.
Pertama, datalah aset-aset yang dimiliki. Cermati apakah aset tersebut bisa dibuat lebih produktif. Sebaliknya, cari tahu apakah ada aset yang kurang produktif. “Misalnya kita punya satu mobil dan dua sepeda motor. Pertimbangkan apakah kendaraan tersebut masih produktif. Kalau motor bisa dijual, mungkin hasilnya bisa didepositokan. Atau kalau tak mau dijual, apakah bisa dibuat lebih produktif lagi,” terang Eka.
Kedua, evaluasi gaya hidup. Sadarilah bagaimana lifestyle kita selama ini. Apakah masih layak untuk dipertahankan. “Sebenarnya kita mampu memenuhi biaya hidup normal. Yang membuat kita tak sanggup adalah gaya hidup. Lifestyle memang mahal, tapi living cost tidak,” kata Eka.
Ketiga, jika kita memiliki kakak atau adik, berbagi beban atau tanggung jawablah dengan mereka. “Asumsinya adalah saudara kita juga sudah bekerja. Bicarakan secara terbuka dengan saudara. Pembagian beban keuangan dengan saudara bukan dinilai dari seberapa besar penghasilan, tapi lihatlah kembali tanggungan hidup yang dilakoni oleh masing-masing,” ungkap Eka.
Keempat, pertimbangkan aset yang dimiliki orang tua. Menurut Eka, dalam sudut pandang pragmatis, rumah orang tua bisa dijual. Hasilnya dibelikan rumah yang lebih kecil untuk dihuni orang tua atau orang tua bisa tinggal di rumah salah satu anak. “Namun banyak orang tua yang tak mau menjual aset rumah yang dimiliki karena faktor emosional,” ujarnya.
Solusinya, salah seorang anak bisa membeli rumah orang tua dengan mencicil tiap bulan dengan harga atau besaran yang sama jika ia membeli rumah di luar. Cicilan rumah ini diberikan kepada orang tua sebagai biaya hidup. “Dengan catatan saudara yang lain sepakat dan sadar bahwa ketika orang tuanya meninggal, rumah tersebut menjadi hak pihak yang mencicil rumah,” ungkapnya.
Keadaan akan lebih sederhana jika generasi sandwich ini merupakan anak tunggal. “Akan relatif lebih ringan kalau anak tunggal. Tidak perlu memikirkan biaya rumah lagi sebenarnya. Tinggallah di rumah orang tua. Kemungkinan hanya keluar biaya makan sehari-hari. Tapi memang harus me-manage konflik yang mungkin timbul antara mertua dan menantu,” ujarnya.
Baca Selanjutnya:

Foto: Shutterstock
Eka memandang keberadaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS) sebagai faktor dominan yang sangat membantu kehidupan masyarakat Indonesia. Namun untuk menopang kebutuhan orang tua, coba ikut sertakan orang tua pada program asuransi.
“Jika tak sanggup untuk asuransi rawat inap, ikutkanlah orang tua ke program asuransi jiwa,” katanya. Ini dilakukan dengan skenario akan banyak pengeluaran yang harus kita lakukan seandainya orang tua sakit. Sehingga ketika terjadi hal tak diinginkan seperti orang tua wafat, maka santunan asuransi akan keluar untuk mengganti pengeluaran biaya orang tua,” terang Eka.
Memutus mata rantai generasi sandwich menurut Eka harus dimulai dari kesadaran kita sendiri. “Generasi hari ini harus bertekad untuk tidak bergantung pada anak di masa tua. Sebab jika gagal, Anda akan menjadi beban anak. Kemudian anak pun kelak menjadi beban bagi generasi berikutnya,” ungkap Eka.
Bagaimana caranya? Cerdaslah dalam mengelola finansial dengan mulai menghitung biaya yang dibutuhkan untuk hari tua dan lakukan investasi. sumber income pensiun harus dipikirkan dan diperjuangkan sejak hari ini. “Sekarang sudah banyak financial planner yang bisa membantu menghitung kebutuhan hidup hari tua,” ujarnya.
Bisa saja seseorang memikirkan untuk tetap memiliki penghasilan di hari tua dari bekerja sebagai pekerja lepasan atau bisnis. Namun kita tak boleh berharap 100 % ada pemasukan di hari tua, karena ada banyak faktor yang mempengaruhi seperti faktor fisik dan persaingan usaha. Jadi tetap harus dikombinasikan, 50% pemasukan dari investasi, 50% lagi dari pekerjaan atau bisnis. “Kenyamanan pekerjaan di saat ini tak menjamin kemandirian hidup hari tua. Jadi perjuangkanlah dari sekarang,” pesan Eka. (f)
BACA JUGA:
4 Alasan Yang Membolehkan Anda Menggunakan Dana Darurat!
7 Cara Memangkas Pengeluaran, Terutama Jika Kehilangan Pekerjaan Akibat Pandemi COVID-19
Ini Barang Yang Laris Setelah Lama Di Rumah Saja Karena Pandemi