
Foto: Freepik
Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia triwulan III-2020 terhadap triwulan III-2019 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 3,49 persen (y-on-y). Setelah pada kuartal II 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 5,32 persen.
Walaupun pertumbuhan ekonomi disebut negatif, namun secara kuartal (qtq) ekonomi Indonesia mengalami kenaikan sebesar 5,05% pada triwulan III-2020. Ini memperlihatkan adanya tanda-tanda pemulihan yang signifikan.
Kepala BPS, Suhariyanto seperti dikutip dari Tempo.com (Kamis, 5 November 2020) mengatakan terjadinya perbaikan ekonomi yang cukup signifikan ini bisa menjadi modal bagus untuk melangkah ke triwulan IV 2020.
Meski begitu, kondisi ekonomi Indonesia yang minus dalam dua kuartal berturut-turut resmi menempatkan Indonesia dalam jajaran negara-negara yang mengalami resesi akibat pandemi COVID-19. Sebelumnya beberapa negara Eropa seperti Perancis dan talia, Amerika Serikat, dan negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan, Hongkong, Singapura dan Filipina lebih dahulu mengalami resesi ekonomi.
Dilansir Forbes, resesi merupakan kondisi terjadi penurunan signifikan dalam kegiatan ekonomi yang berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara, kepada Kompas.com mengatakan resesi akan berdampak secara langsung terhadap daya beli masyarakat yang menurun. Hal ini mengartikan kebutuhan masyarakat dan pendapatan tidak sebanding.
Resesi juga bisa menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di berbagai sektor. Meski begitu, menurut Bhima, harga pangan akan berbeda dari krisis 1998, di mana pada saat itu terjadi inflasi hingga 70 persen. "Sementara di 2020 ini yang terjadi adalah deflasi, di mana harga pangan justru menurun," ujar Bhima.
Baca Selanjutnya: 7 Tip Atur Keuangan Saat Resesi

Foto: Freepik
7 Tip Atur Keuangan Saat Resesi
Bhima juga mengingatkan agar masyarakat untuk memiliki pengaturan keuangan yang lebih baik. Walaupun pemerintah memiliki berbagai stimulus untuk kembali meningkatkan perekonomian Indonesia, namun selama Indonesia masih berada di masa resesi, agar sedikit lebih lega kita perlu memiliki persiapan matang dalam mengatur keuangan. Berikut tip mengelola keuangan agar tetap sehat di tengah resesi:
1/ Prioritas pada Kebutuhan Pokok
Pengelolaan keuangan di masa resesi wajib memprioritaskan dana ke kebutuhan pokok seperti bahan pangan, obat-obatan, tagihan listrik, air, hingga kuota internet. Baru setelah itu kebutuhan yang sifatnya sekunder, seperti beli baju atau kendaraan baru.
Ketatkan dulu ikat pinggang untuk membeli barang-barang konsumtif yang tidak perlu agar dana yang dimiliki tidak cepat habis. Godaan belanja online selama masih di rumah saja cukup besar, pastikan barang-barang yang dibeli adalah kebutuhan yang utama. Jangan mudah tergoda diskon.
2/ Lebih Rajin Menabung untuk Dana Darurat
Prita Ghozie, pakar dan konsultan keuangan ZAP Finance menyebut jumlah dana darurat yang harus dipersiapkan oleh setiap keluarga ialah 3 hingga 6 bulan jumlah total pengeluaran.
Pada kondisi ekonomi yang normal porsi untuk utang maksimal 30 persen dari pendapatan bulanan. Kemudian 10 persen untuk tabungan atau investasi, 10 persen untuk asuransi, dan selebihnya untuk konsumsi. Namun, dengan kondisi ekonomi yang melemah, porsi utang dan konsumsi perlu ditekan dan dialihkan ke tabungan.
Atur kembali pengeluaran, alokasi uang untuk dana darurat. Minimum dalam kondisi pandemi dan risiko kehilangan pekerjaan seperti saat ini, dana darurat setidaknya sebesar 20-40 persen dari pendapatan.
Dana darurat ini bisa dipakai jika mendadak sakit atau diputus kontrak dari perusahaan, sehingga masih ada cadangan cash untuk bertahan hidup dan tidak berhutang.
3/ Hindari Memulai utang Baru
Kurangi porsi utang yang ada saat ini dan jangan membuat utang baru. Jika saat ini keungan masih stabil dan baik-baik saja, coba lihat kembali utang yang ada saat ini. Jika memungkinkan untuk dilunasi, sebaiknya segera diselesaikan, agar tidak terlalu dibayangi kewajiban membayar utang saat ekonomi sedang terpuruk. Seperti utang Kredit Tanpa Agunan (KTA) dan tagihan kartu kredit. Setelah melunasi kewajiban-kewajiban tersebut, kedepannya batasi penggunaan kartu kredit, KTA, dan pinjaman online.
4/ Investasi pada Aset yang Aman
Jika kondisi keuangan masih aman-aman saja, investasi masih bisa dilakukan. Sisishkan dana unutk berinvestasi ke aset yang aman seperti emas atau logam mulia, serta surat utang pemerintah dan deposito bank tenor dengan jangka pendek, kurang dari 2 tahun.
5/ Bekerja Lebih Rajin untuk Menambah Penghasilan
Ketika resesi terjadi, kondisi yang mungkin timbul adalah tingginya jumlah pengangguran. Mulai mencoba peluang-peluang baru untuk pekerjaan sampingan yang bisa menambah penghasilan atau menjadi pegangan ketika harus mengalami PHK.
Saat ini pertumbuhan bisnis online sangat pesat, cobalah melihat dan mencari tahu produk-produk apa yang diminati. Dari sini Anda bisa mulai merencanakan bisnis lewat online shop. Atau kalau Anda memiliki keterampilan lain seperti memasak, kerajinan, dan bercocok tanam, ada banyak peluang bisnis yang terbuka di bidang-bidang tersebut selama pandemi ini.
Mendapatkan pendapatan tambahan dari pekerjaan sampingan, akan sangat membantu Anda membangun benteng keuangan yang lebih kokoh di masa resesi.
6/ Proteksi Diri dengan Asuransi
Asuransi adalah hal yang penting dan wajib dimiliki oleh setiap keluarga. Tujuan asuransi tak lain untuk melindungi keluarga tercinta dalam kondisi darurat. Mulailah dari asuransi kesehatan sebagai cara alternatif apabila ada anggota keluarga yang sakit mendadak. Selain itu, asuransi jiwa juga bisa menjadi bekal jika ada sesuatu yang tak diinginkan pada anggota keluarga. Dana pensiun juga harus tetap dipersiapkan.
Dengan memiliki asuransi, setidaknya Anda bisa merasa aman secara finansial dan lebih stabil saat menghadapi resesi serta melanjutkan rencana-rencana dalam hidup.
7/ Utamakan Membeli Produk Lokal
Yang tak kalah penting agar resesi cepat berlalu adalah dukung perekonomian dalam negeri dengan membeli produk lokal agar usaha UMKM tetap bisa berjalan. Karena UMKM dipercaya menjadi roda penggerak ekonomi negara agar dapat keluar dari resesi.
Data BPS saat ini menyebutkan UMKM memberikan mencapai 62,5 persen pada PDB Indonesia, penyerapan tenaga kerja hingga 95 persen, dan sumbangan terhadap ekspor non migas hingga 16,45 persen.
Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendukung UMKM, seperti berbelanja di warung dekat rumah atau pasar. Jika ada teman atau tetangga yang memiliki usaha kuliner, support dengan membeli produk mereka. (f)
Baca Juga:
63,5% Konsumen Mengaku Digital Payment Jadi Cara Baru Bertransaksi
Konsumen Indonesia Optimis Krisis Pandemi Akan Berakhir Tahun Ini
5 Perubahan Perilaku Belanja Masyarakat Saat Pandemi COVID-19