
1/ Money Monster (2016)
Lee Gates yang diperankan oleh George Clooney adalah pembawa acara program bernama Money Monster, acara televisi yang membahas investasi dan rekomendasi saham. Saham pilihan Lee didasarkan pada analisis portofolio performa perusahaan. Ia memilih saham terbaik, lantas merekomendasikannya
kepada penonton. Suatu kali, saat sedang siaran, bersama produsernya, Patty (yang diperankan Julia Roberts), mereka dikejutkan kehadiran pria ke
studio sembari mengacungkan pistol. Pria bernama Kyle ini juga memasangkan rompi bermuatan bom pada Lee dan mengancam akan meledakannya. Kyle
ia mengaku kesal karena saham yang rekomendasi Lee membuatnya rugi 60.000 dolar AS, tabungan dan harta yang dimilikinya. Kyle datang menuntut jawaban, kenapa saham yang direkomendasikan Lee, bisa tiba-tiba merugi dalam waktu sekejap. Di bawah ancaman, bersama Patty, Lee mencoba
menuruti permintaan Kyle. Film yang disutradarai Jodie Foster ini mencoba menangkap fenomena kecurangan yang dilakukan konglomerat dan pemilik perusahaan besar, yang memanfaatkan celah hukum dan ketidaktahuan masyarakat awam.

Diane Lester dari Ibis Capital dalam film ini mengatakan bahwa turunnya nilai saham Ibis secara drastis disebut fenomena black swan. Yaitu kondisi anomali yang bisa terjadi tanpa bisa diprediksi. Saham yang diprediksi naik, bisa saja tiba-tiba turun, lalu mengakibatkan efek domino dan kekacauan ekonomi. Dot com bubble atau gelembung teknologi informasi pada tahun 2001, yang ditandai dengan gagalnya banyak start-up di bidang teknologi informasi, adalah salah satu contoh black swan. Contoh lainnya adalah kehancuran investasi properti pada krisis finansial tahun 2008 di Amerika Serikat.
Di luar faktor fraud atau penipuan yang dilakukan lembaga investasi, banyak para trader mumpuni yang menyarankan untuk tidak gampang percaya dan menggantungkan pilihan sehat atas rekomendasi orang lain. Peter Lynch, seorang investor saham terkemuka, berpendapat, belilah saham dari perusahaan yang Anda kenali produknya, Anda pakai dan biasa Anda beli produknya. Itu adalah salah satu cara paling gampang. Cara lain, lakukan riset sendiri, membaca laporan keuangan, mempelajari strategi, dan berdiskusi dengan sesama investor, sebelum menentukan saham pilihan yang akan dibeli atau dijual.
Klik halaman berikutnya untuk melanjutkan

2/ The Big Short (2015)
Diadaptasi dari buku Michael Lewis, berjudul The Big Short: Inside the Doomsday Machine, film pemenang Oscar 2016 untuk kategori skenario adaptasi ini bercerita tentang kejadian yang menyebabkan krisis ekonomi tahun 2008 di AS. Mengikuti perjalanan beberapa karakter para profesional Wall Street yang pertama kali menangkap adanya ketidakberesan pada kredit properti. Seperti Anda ketahui, krisis ekonomi 2008 memang bermula dari meledaknya persediaan rumah di AS dan tingginya angka suku bunga kredit yang dikenal orang sebagai ‘subprime’ (peminjam yang berpendapatan rendah), populer juga disebut subprime mortgage crisis. Sutradara Adam McKay mengangkat persoalan yang bahkan tidak dimengerti oleh para ekonom dan bankir Amerika, dan tak
seorang pun memprediksi terjadinya krisis ini. Film ini menjelaskan referensi tentang istilah seperti credit default swaps dan collateral debt obligation. Jargon finansial yang rumit dijelaskan dengan metafora yang mudah dipahami, yang dijelaskan oleh selebritas seperti Selena Gomez, Margot Robbie,
ataupun celebrity chef Anthony Bourdain yang bermain sebagai cameo.
Film ini menceritakan beberapa karakter praktisi investasi yang menemukan celah
keuntungan dari pasar properti yang rapuh, dengan beragam motif dan sudut pandang yang berbeda-beda. Christian Bale memerankan Michael Burry, manajer
investasi yang tinggal di California. Michael sejak tahun 2005 sudah mengamati ada yang salah dengan investasi di bidang properti di AS. Ia pun melakukan short position. Keputusannya untuk melakukan short position itu memberinya keuntungan senilai 100 juta dolar AS (dari uangnya pribadi) dan 700 juta dolar AS, keuntungan dari dana milik investornya. Selain Michael, ada Mark Baum, yang diperankan oleh Steve Carell, manajer investasi yang berpandangan pesimistis dan moralistis, yang melihat, dengan keuntungan yang diperoleh dari keruntuhan pasar properti, sama artinya dengan membalaskan dendam
pada institusi bank atas perlakuan mereka yang semena-mena. Di sisi lain, ada karakter seperti Jared Vennett (Ryan Gosling), tipe pekerja Wall Street yang
oportunis dan hanya melihat segala sesuatu berdasarkan keuntungan semata. Lalu ada Ben Rickert (Brad Pitt), mantan bankir yang memilih untuk nomaden dan menikmati hidup.
Belajar soal Obligasi
Short position atau short selling yang dilakukan Michael Burry adalah cara memperoleh profit dari penurunan harga dari sekuritas seperti saham dan obligasi. Prinsipnya, seorang investor meminjam sejumlah saham dari perusahaan sekuritas untuk dijual di harga tinggi. Krisis tahun 2008 itu juga terjadi akibat
maraknya pasar CDO (collateralized debt obligation). Pasar KPR yang begitu aktif dan berkembang membuat institusi keuangan pun kewalahan untuk mengumpulkan dana yang bisa dipakai untuk membiayai kredit pemilikan rumah (KPR). Di film ini, sutradara menjelaskannya dengan ‘meminjam’ mulut Anthony Bourdain. Dijelaskan oleh Anthony seperti ini: “CDO itu ibaratnya chef yang membeli ikan di hari Jumat. Dua hari kemudian, ikan itu tidak bisa lagi dimasak utuh karena sudah terlalu lama dan menguarkan amis. Jadi, apa yang dilakukan? Dibuang dan rugi begitu saja? Sayang. Lalu, saya
mengolahnya menjadi menu seafood. Jadilah ia produk baru.” Begitulah perumpamaan yang diterangkan oleh Anthony.
Dalam keuangan, CDO adalah obligasi. Dasar dari penerbitan obligasi CDO ini adalah KPR yang telah dikucurkan oleh bank ataupun institusi keuangan. Bunga yang dipakai untuk membayar bunga obligasi CDO adalah bunga yang didapat dari kredit KPR yang telah dikucurkan. Dana yang didapat oleh institusi keuangan dari hasil penjualan obligasi CDO ini lalu mereka kucurkan lagi untuk memberikan KPR, yang lalu mereka pakai untuk menerbitkan obligasi CDO lagi, begitu seterusnya.

3/ Equity (2016)
Naomi Bishop (Anna Gunn) adalah manajer investasi yang bekerja di bank. Ia sedang menangani initial public offering (IPO) sebuah perusahaan. Problem muncul ketika seorang karyawan perusahaan tersebut mempertanyakan keamanan digital perusahaan tersebut, yang ternyata rentan dari serangan hacking. Performa perusahaan pun dipertaruhkan. Naomi harus melakukan investigasi agar rencana peluncuran IPO tetap bisa berjalan lancar. Naomi juga menghadapi rongrongan dari para perusahaan sekuritas yang saling berkompetisi menggali informasi dari dalam, demi menekan harga saham.
Disutradarai dan ditulis oleh wanita, Meera Menon dan Amy Fox, jarang ada film yang menggambarkan tentang dunia keuangan yang mengambil sudut pandang karakter utamanya wanita. Naomi adalah sosok yang ambisius, punya determinasi tinggi mencapai puncak karier, dan dengan sangat terbuka
mengatakan motivasinya bekerja adalah uang. “I like money—like knowing I have it.”
Belajar soal IPO
IPO artinya penawaran umum perdana saham sebuah perusahaan untuk masyarakat umum. Publik bisa membelinya di pasar saham. IPO banyak diincar oleh para trader, karena biasanya dibuka dengan harga yang rendah. Dan, jika potensi saham naik terus, investor bisa mendapatkan keuntungan berlipat. Tetapi, bukan tidak mungkin saham turun setelah IPO, apalagi jika image perusahaan tercoreng. Awam juga harus lebih waspada saat ingin membeli saham IPO, sebab belum ada grafik history sahamnya. Sepak terjang saham di bursa juga belum terlihat. Bagi investor, harus cermat membaca prospektus dan laporan keuangan perusahaan yang akan melakukan IPO tersebut.

Sebuah film dokumenter yang mengungkap seluk-beluk Wall Street dan sebuah investigasi tentang sistem yang membawa kehancuran pada pasar saham Amerika. Menjelaskan istilah-istilah dalam dunia investasi saham, seperti high frequency trading, algoritma angka-angka saham, dan sebagainya. Film ini menampilkan wawancara para trader, pemegang kebijakan, dan akademisi tentang kejadian-kejadian pasar saham, seperti crash pasar saham yang terjadi pada tahun 2010 dan trading error yang pernah dialami oleh perusahaan Knight Capital. Film ini wajib ditonton oleh mereka yang ingin belajar investasi saham.
Belajar soal Istilah Saham
Computer glitches atau kesalahan komputer bisa terjadi juga di bursa saham. Hal ini pernah dialami oleh Knight Capital Group. Akibat rusaknya software, hanya dalam hitungan 30 menit, mereka mengalami kerugian mencapai 440 juta dolar AS. Saham mereka turun hingga 62%. Di tengah vitalnya penggunaan komputer, insiden ini masih terus membayangi dunia sekuritas hingga sekarang.

Bobby Axelrod (Damian Lewis), pendiri perusahaan sekuritas Axe Capital, dikenal sebagai konglomerat dermawan dan punya koneksi luas. Kliennya terdiri atas para orang penting di New York, dari pejabat polisi sampai kalangan elite. Di sisi lain, jaksa penuntut umum Chuck Rhoades (Paul Giamatti) yakin bahwa
Bobby menggunakan segala cara untuk membesarkan bisnisnya. Ia pun menyiapkan investigasi untuk mengungkap dan menjerat Axe Capital. Serial ini mengulik cara kerja sebuah perusahaan investasi raksasa. Benarkah mereka bersih? Trik kotor apa saja yang dimainkan, dan apakah itu melanggar hukum?
Belajar soal Insider Trading
Menurut Chuck Rhoades, salah satu kejahatan Bobby adalah membiarkan insider trading yang dilakukan para manajernya. Insider trading adalah aktivitas perdagangan saham ataupun sekuritas tertentu oleh individu yang mempunyai akses tentang informasi nonpublik dari perusahaan tersebut. Dengan kata lain, investor mendapat informasi dari orang dalam. Investor membeli saham lebih awal dari pihak lain karena memperoleh privilege informasi terbaru mengenai prospek saham, termasuk juga investor melakukan penjualan atas saham disebabkan adanya informasi, sehingga membuat harga saham tersebut mengalami penurunan. Berbekal informasi ini, investor bisa mendapatkan keuntungan besar, sementara jika saham turun, investor bisa terhindar dari kerugian yang besar.
Insider trading disebut juga kejahatan kerah putih (white collar crime) yang umum ditemui di banyak negara. Praktik ini dianggap membahayakan mekanisme pasar, karena mengakibatkan harga menjadi tidak wajar karena kurangnya informasi tentang keadaan yang sebenarnya. (f)
Baca juga:
Istilah Investasi di Bursa Saham
Mengenal Risiko Berinvestasi Reksa Dana
Lawan Kebiasaan Boros dengan Menabung