Kebanyakan dari kita belum
kepikiran untuk berinvestasi. Alasannya, sih klise: masih jauh, deh,
mikirin begituan, belum ada dana lebih, atau nggak tahu caranya.
Memang,
untuk memulai investasi, kita harus lebih dulu mampu menabung secara
rutin. Kita harus punya tabungan darurat terlebih dahulu. Idealnya,
besar tabungan darurat adalah 6-12 kali pengeluaran bulanan.
Selain
itu, kita sudah memiliki asuransi untuk proteksi, misalnya asuransi
kesehatan dan asuransi jiwa. Setelah itu, barulah kita bisa merencanakan
investasi. Diantaranya:
Properti
Rumah
dan apartemen adalah contoh bentuk investasi ini. Kelemahannya,
investasi ini paling sulit diuangkan. Untuk menjual sebuah rumah saja
minimal butuh waktu tiga bulan. Jumlah pembelinya pun nggak banyak.
Jadi, kalau kita berinvestasi terlalu banyak di bidang ini, cadangan uang untuk keadaan darurat harus lebih besar.
Emas
Bisa
berbentuk batangan, koin atau setifikat. Emas harganya cenderung
stabil, harganya dipatok dolar AS dan jarang banget turun. Tapi harga
penyimpanannya yang repot, karena jika hanya rusak secuil, akan
mempengaruhi penjualan secara keseluruhan.
Selain
itu, saat menjual emas, yang dihitung adalah nilai emas per gram, tanpa
harga ongkos pembuatan emas (jika bentuknya perhiasan). Padahal saat
kita membeli harga ongkos diperhitungkan. Tapi jual emas memang paling
cepat dan gampang.
Asuransi
Jenis
investasi yang lagi tren ini biasa dilakukan melalui produk asuransi.
Kewajiban membayar premi per bulan, per triwulan dan per tahun membuat
kita jadi berkomitmen dan nggak tergoda untuk menggunakan dana yang
sudah terkumpul. Tapi dalam proses asuransi ini biasanya ada biaya
tambahan yang harus ditanggung, tuh! CC