Kebanyakan dari kita belum kepikiran untuk berinvestasi.
Alasannya, sih klise: masih jauh, deh, mikirin begituan, belum ada dana
lebih, atau nggak tahu caranya.
Memang, untuk memulai investasi,
kita harus lebih dulu mampu menabung secara rutin. Kita harus punya
tabungan darurat terlebih dahulu. Idealnya, besar tabungan darurat
adalah 6-12 kali pengeluaran bulanan.
Selain itu, kita sudah
memiliki asuransi untuk proteksi, misalnya asuransi kesehatan dan
asuransi jiwa. Setelah itu, barulah kita bisa merencanakan investasi.
Diantaranya:
Deposito
Deposito
adalah salah satu investasi yang paling simpel. Bentuknya simpanan di
bank yang penyetoran atau penarikannya dilakukan pada waktu tertentu
saja.Karena uang kita 'dikunci' maka bank memberikan bunga lebih tinggi
dibandingkan tabungan yang uangnya bisa ditarik kapan saja.
Sebagai
'bentengnya' kita dikenakan denda jika mencairkan deposito sebelum
jatuh tempo alias waktu yang ditentukan kapan boleh mengambil uang
tersebut. Bunga deposito pun bisa diakumulasi menjadi jumlah pokok
deposito, dan seterusnya. Tanpa sadar, uang kita akan terus berbunga dan
berbunga terus.
Obligasi
Ini
adalah surat utang jangka panjang yang dikeluarkan lembaga swasta atau
pemerintah dengan nilai nominal dan waktu jatuh tempo tertentu. Obligasi
bisa jadi alternatif investasi jangka panjang dengan tingkat keuntungan
lebih tinggi dari deposito. Hanya saja kita harus memiliki dana yang
besar. Umumnya obligasi satu perusahaan mencapai Rp 1 miliar.
Reksa dana
Nggak
perlu dana besar dan proses investasinya mudah. Biasanya, sih, kita
dibantu manajer investasi untuk mengalokasikan uang kita. Tetapi,
hati-hati pilih lembaga keuangan yang terpercaya dengan manajer
investasi bereputasi baik. Jangan sampai kita kena tipu.
Saham
Surat
kepemilikan suatu perusahaan yang sudah go public, itulah yang dimaksud
dengan saham. Jenis investasi ini termasuk yang paling menguntungkan,
tapi risikonya juga besar. Jika mau mencoba investasi jenis ini, kita
harus berani rugi. Rugi, dong, kalau sering nggak bisa tidur karena
stres memikirkan nilai saham kita. CC