
Foto-foto : 123RF
Peran media sosial sangat besar untuk membuat tenar banyak hal, termasuk bahan-bahan pangan. Persoalannya, ketika bicara dalam konteks makanan, ketika satu tagar menjadi trending, maka hal itu seolah menjadi jaminan bahwa bahan pangan yang dimaksud memang sehebat yang digembar-gemborkan. Check and recheck tetap diperlukan, mengingat tubuh tiap orang unik. Satu hal lagi, yang cocok bagi seseorang belum tentu cocok bagi yang lain. Jadi, mau tahu kandungan nutrisi bahan pangan yang sedang tren?

Moringa (kelor)
Sebetulnya, masyarakat kita sudah terbiasa dengan kelor (Moringa oleifera) untuk konsumsi sehari-hari. Di pedesaan Jawa, daun dan bunga kelor biasa dimasak sayur bening. Di beberapa daerah di Jawa, kelor juga dianggap sebagai tanaman mistis, yaitu untuk menghilangkan jimat atau ‘ilmu kebal’ pada orang meninggal, dengan cara memasukkan daun kelor berikut tangkainya ke dalam air untuk memandikan jenazah.
Belakangan, popularitas kelor naik daun. Sebagai super food, daun kelor paling mudah diolah menjadi menu harian, dijadikan suplemen, hingga menjadi aroma parfum dengan nama moringa. Kita juga bisa membeli ekstrak daun kelor di berbagai lapak virtual.
Popularitas kelor ini juga karena WHO menjadikannya sebagai sumber pemasok gizi untuk daerah yang mengalami bencana gizi buruk karena mudah ditanam. Tanaman berdaun mungil ini kaya vitamin, mineral, dan asam amino (protein). Kandungan vitamin C-nya bahkan 7 kali lebih banyak daripada jeruk, dan vitamin A-nya 4 kali lipat dari wortel. Kandungan zat besinya juga 3 kali lipat dari bayam dan kalsiumnya 4 kali lipat dari susu.
Kandungan asam askorbat, flavonoid, phenolic, dan karatenoid-nya yang melimpah membuat kelor layak dikategorikan sebagai tanaman yang tinggi antioksidan. Mungkin itu sebabnya, meski zaman dulu belum ada riset ilmiah, kelor digunakan sebagai tanaman obat.

Secara tradisional, kefir adalah minuman fermentasi dari susu (sapi, kambing atau domba) yang ditemukan masyarakat Pegunungan Kaukasus. Belakangan, muncul nama baru, yaitu water kefir yang merupakan hasil fermentasi air gula. Rasanya manis, ringan, dan menyegarkan seperti minuman ringan bersoda.
Minuman ini menjadi populer karena dianggap sebagai alternatif minuman sehat berkat kandungan bakteri dari spesies Lactobacillus, Streptococcus, Pediococcus, Leuconostoc, dan Bacillus. Juga ragi dari jamur Saccharomyces, Hansenula, dan Candida yang baik untuk pencernaan. Kumpulan bakteri dan ragi itu berasal dari biang (kefir grains) yang berbentuk seperti bunga kol.
Buah-buahan kering atau kismis sering juga ditambahkan dalam pembuatan, kemudian difermentasikan selama 1-3 hari dalam suhu ruang. Proses fermentasi akan menghilangkan rasa manis dan berganti rasa sedikit asam dan bersoda (mengeluarkan karbon). Cairan untuk membuat water kefir juga makin bervariasi, dari jus buah, air kelapa, hingga jus sayuran.
Konon, water kefir ditemukan orang Meksiko yang memfermentasi sari tanaman kaktus jenis ountia. Karena mengandung kadar glikemik rendah, minuman ini baik dikonsumsi oleh penderita diabetes. Minuman ini tidak mengandung kafein, non-dairy, dan bebas gluten, sehingga siapa pun bisa mengonsumsinya, termasuk anak-anak.
Meski begitu, bukan berarti kita tidak perlu berhati-hati. Bagi penderita penyakit yang disebabkan oleh jamur kandida atau diabetes, perlu memperhatikan betul kualitas water kefir, karena bisa jadi minuman tersebut masih mengandung gula. Kefir yang terfermentasi baik adalah yang dominan rasa asam dengan rasa manis yang sangat ringan, sehingga saat meminumnya perlu adaptasi sejenak.

Seiring dengan meningkatnya minat orang untuk melakukan diet rendah karbohidrat dan gula (diet keto), maka nama shirataki pun kian akrab di telinga. Shirataki ini bisa berbentuk mi, bihun, atau butiran nasi, dan digunakan oleh pelaku diet karbo sebagai makanan pengganti bila rindu pada mi dan nasi. Alasannya, shirataki cukup mengenyangkan dan nol kalori.
Shirataki terbuat dari umbi porang (iles-iles), tanaman umbi yang hidup di daerah tropis. Porang mengandung glukomanat (termasuk jenis serat larut air), yang menurut penelitian Litbang Departemen Pertanian merupakan polisakarida yang bersifat mengental.
Seperti umumnya sifat serat yang tidak dapat dicerna, glukomanat juga tidak dapat dicerna dan tidak berubah ketika melewati usus besar. Kondisi tersebut yang mendukung penurunan berat badan, karena dapat memberi rasa kenyang, menunda pengosongan lambung, dan memperlambat pergerakan makanan saat melewati usus besar. Glukomanat dapat menjadi probiotik karena membantu meningkatkan jumlah bakteri baik di dalam pencernaan. Bakteri baik dalam pencernaan bertugas melunakkan feses agar proses buang air besar menjadi lebih lancar.
Belakangan, karena permintaan makin banyak, tanaman yang dulu tumbuh liar di kebun-kebun ini kemudian dibudidayakan oleh petani di berbagai daerah di Jawa, bekerja sama dengan Perhutani. Pasar ekspor terbesar porang adalah Jepang. Di sana, tepung porang kemudian diolah menjadi makanan kesukaan masyarakat Jepang, yaitu konyaku (semacam jelly) dan shirataki, yang beredar juga di sini. Jadi sebetulnya, shirataki, meski bernama Jepang, bahan bakunya dari daerah tropis, termasuk Indonesia. (f)
Baca Juga:
Hati-Hati, Minum Soda Saat Perut Kosong Dapat Memicu Asam Lambung
Lauk Awetan Gurih & Kering untuk Menu Selama Puasa, Sehatkah?
Benarkah Daging Ayam Mengandung Hormon?