
Dok. Femina Media/ Shinta Meliza
Berdiri sejak tahun 2012, Sana Studio merupakan pelopor fitness studio yang menawarkan kelas zumba. “Saat tempat ini didirikan, zumba belum populer di Indonesia,” tutur Abimantra Pradhana, pendiri Sana Studio, yang menjalankan bisnis ini bersama istri, adik, dan adik iparnya.
“Adik ipar saya, Laila Munaf, adalah orang Indonesia pertama yang punya lisensi sebagai instruktur zumba,” tambah pria yang akrab disapa Abi ini.
Saat pertama dibentuk, Abi menyewa bangunan satu lantai di bilangan Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tempat Sana Studio berdiri hingga kini.
Setidaknya butuh modal sebesar Rp300 juta untuk mendirikan fitness studio ini, untuk sewa tempat dan renovasi. “Kami sewa untuk 2 tahun. Tapi harus bayar di muka selama satu tahun sebesar Rp200 juta. Selain itu, kami juga melakukan renovasi,” jelas Abi.
Sejak awal didirikan, Sana Studio tak ingin memosisikan dirinya sebagai tempat yang ‘jualan’ olahraga. Studio fitness ini punya misi mengampanyekan pentingnya olahraga dan menawarkan tempat yang nyaman untuk melakukan aktivitas tersebut.
“Biasanya, orang Indonesia itu susah memulai, kalau tidak ada temannya. Jadi, harus punya lingkungan yang membuat dia nyaman pergi dan beraktivitas bersama teman-teman,” tambah Abi.
Kompetitor yang banyak bermunculan jadi tantangan terbesar bagi Sana Studio dalam menjaga kesinambungan bisnis. “Sebagai pelopor, saat kita berhasil menjalankan sesuatu, biasanya muncul yang mengikuti atau kompetitor. Bisa jadi anggota yang tadinya udah rutin ikut latihan kemudian membuka studio sendiri,” ucapnya.
Inovasi merupakan kunci Abi dalam menghadapi tantangan tersebut. “Inovasi berarti kita tak pernah stagnan dan selalu keluarkan program baru. Jadi, kita sudah punya program yang direncanakan untuk satu tahun ke depan,” tegas Abi.
Program Sana Studio cukup beragam. Ada program tahunan, enam bulanan, sampai tiga bulanan. Tiap program yang berjalan selalu dievaluasi bagaimana kekurangan dan kelebihannya.
(lanjut ke halaman berikutnya)

Dok. Femina Media/ Shinta Meliza
Salah satu contohnya adalah program Sana 8 Weeks Challenge. Program yang berlangsung tiap 6 bulan sekali ini menantang para anggota untuk membiasakan diri menjalani pola hidup sehat dalam 8 minggu.
Tak hanya dengan memberikan jadwal olahraga rutin, para peserta juga difasilitasi dengan motivator, coach, dan kelas-kelas yang menjelaskan teori tentang cara mengatur pola makan, pola tidur, dan pola berolahraga yang benar.
Selain itu, Sana Studio juga memiliki program yang bertujuan memberi dampak bagi lingkungan sekitar. “Kami punya kesimpulan, berkembang itu tak selalu secara ukuran, tapi bisa juga dengan cara memberi pengaruh yang besar bagi lingkungan,” jelas Abi, semangat.
Program semacam ini dilakukan dengan cara berkolaborasi dengan komunitas atau perusahaan. Dalam program Sana Peduli misalnya, studio fitness ini bekerja sama dengan berbagai yayasan, contohnya yayasan kanker atau yayasan rumah baca.
Dalam kesempatan tersebut, Sana Studio mendonasikan pendapatannya demi kepentingan amal. “Untuk memberikan pengaruh tak harus dalam bentuk kegiatan olahraga bersama. Bisa juga dengan kegiatan sosial,” tambah Abi.
Hubungan yang baik dengan banyak komunitas dan dampak yang berarti bagi lingkungan berhasil membuat Sana Studio makin berkembang dan dikenal luas sebagai brand dan eksis sebagai boutique fitness studio.
Jika dulu Sana Studio berawal dari satu ruangan kelas olahraga dengan kapasitas belasan orang, kini studio fitness yang mengambil namanya dari bahasa Latin yang berarti ‘sehat’ ini didatangi 100 hingga 200 anggota tiap harinya.
Pada awal pembukaan, studio fitness ini hanya menawarkan kelas zumba dan muay thai. Kini, kelas yoga, cardio boxing, dance fit, sampai s-train tersedia di sini. Sana Studio bahkan merupakan studio fitness yang pertama kali memperkenalkan jenis olahraga strong by zumba dan pound fit.
Menariknya, sejak pertama dibuka tujuh tahun lalu hingga kini, Sana Studio menetapkan biaya yang stagnan untuk peserta fitness, yaitu Rp100.000 per kehadiran.
“Kalau kami naikkan harga, pasti punya impact ke mana-mana. Kelas kami kan makin ramai peminat, jadi masih aman. Seperti yang saya bilang, kami ingin kampanye hidup sehat. Kalau murni bisnis, mungkin sudah Rp200.000 sekali datang,” kata Abi, tertawa.
Sana Studio terus melebarkan sayapnya. Pada tahun 2016, Sana Kid and Kin dibuka di Kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Tempat ini menawarkan kelas fitness bagi ibu-ibu yang tengah mempersiapkan kelahiran, setelah melahirkan, dan kelas olahraga bagi anak.
Tahun ini, Sana Studio baru saja membuka cabang di Kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Studio yang dibangun di lingkungan yang lebih tenang tersebut fokus pada kegiatan yoga dan meditasi.(f)
BACA JUGA:
Prinsip Sukses Membangun Start-up Ala Nadiem Makarim
Pengeluaran Terbesar Milenial : Makan di Restoran, Kopi hingga Taksi
Tip Terima Jastip Tanpa Ganggu Liburan