
Foto: Pixabay
Pernahkah Anda mendengar istilah rahim turun atau peranakan turun? Apakah ini benar-benar kondisi medis atau hanya sekadar istilah saja? Menurut dr. Astrid Yunita, Sp.OG (K), Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Konsultan Uroginekologi dari RS Pondok Indah – Pondok Indah dan RS Pondok Indah – Puri Indah, posisi rahim turun secara medis mungkin terjadi.
“Posisi rahim yang normal seharusnya berada tepat di atas vagina, namun posisi tersebut dapat berubah, menurun ke vagina. Kondisi rahim yang turun, biasa dikenal dengan turun peranakan. Hal ini dapat disertai penurunan organ panggul lainnya atau prolaps organ panggul,” ungkap dr. Astrid.
Prolaps organ panggul (POP) adalah turun atau menonjolnya dinding vagina ke dalam liang vagina atau luar vagina yang kemudian diikuti dengan organ-organ pelvik (rahim, kandung kemih, usus, atau rektum) akibat kelemahan struktur penyokong dasar panggul.
Dokter Astrid menjelaskan, prolaps dapat meliputi tiga area berdasarkan segmen dinding vagina yang mengalami penurunan, yaitu Prolaps anterior yang terjadi pada dinding vagina anterior (urethrokel, sistokel); Prolaps posterior yang terjadi pada dinding vagina posterior (rektokel, enterokel); dan Prolaps apikal/superior yang terjadi pada dinding vagina apikal (leher rahim/serviks, rahim/uterus, puncak vagina).
Untuk prolaps pada rahim dapat di klasifikasikan berdasarkan tingkatan atau stadiumnya yaitu Stadium 1 dimana penurunan yang terjadi sampai dengan setengah panjang vagina; Stadium 2 dimana penurunan lebih jauh dari stadium 1 hingga batas himen (selaput dara) atau tepi vagina sehingga dapat terlihat pada, atau setinggi celah vagina; Stadium 3 ketika sebagian besar penurunan sudah melewati selaput dara dan berada di luar vagina; Stadium 4 yaitu penurunan maksimum dari setiap kompartemen organ pelvik.
Prolaps uteri bisa terjadi pada wanita di usia berapapun, meski kondisi ini lebih banyak dialami oleh wanita pada usia setelah menopause, atau wanita yang pernah melahirkan normal. Penyebab terjadinya prolaps meliputi beberapa faktor risiko yang terjadi secara bersamaan atau multifaktor, seperti:
1/ Genetik dan ras, berkaitan dengan kolagen dan elastin yang mempengaruhi kualitas jaringan penyokong pelviks.
2/ Riwayat kehamilan dan persalinan misalnya kehamilan berulang, riwayat kehamilan dan persalinan dengan bayi besar, riwayat persalinan berbantu dengan alat vakum/forceps.
3/ Riwayat pembedahan seperti angkat rahim, operasi prolaps sebelumnya.
4/ Terapi yang mengganggu persarafan pelviks, misal terapi radiasi, trauma akibat kecelakaan.
5/ Obesitas atau berat badan berlebih.
6/ Konstipasi atau sembelit yaitu kondisi sulit buang air besar.
7/ Pekerjaan atau aktivitas fisik serta kebiasaan angkat berat.
8/ Penyakit paru kronik atau batuk kronik.
9/ Tumor abdomen, tumor rongga pelviks dan penumpukan cairan di rongga perut.
10/ Proses penuaan, menopause, dan status estrogen yang menurun.
11/ Kebiasaan buruk yang merugikan kesehatan seperti merokok.
Baca Selanjutnya: Gejala dan Pengobatannya

Foto: Pixabay
Gejala dan Pengobatannya
Lantas seperti apa gejala atau tanda-tanda seseorang mengalami prolaps ini? Menurut dr. Astrid ada beberapa gejala yang muncul saat seseorang mengalami kondisi penyakit ini. “Apabila Anda merasakan salah satu gejala ini, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan konsultan uroginekologi,” saran dr. Astrid.
Gejala tersebut antara lain:
1/ Gejala pada vagina
Keluhan gejala benjolan di vagina dipengaruhi oleh gravitasi, sehingga semakin berat terasa pada posisi berdiri. Semakin lama, benjolan akan terasa semakin menonjol terutama setelah adanya aktivitas fisik berat jangka panjang seperti mengangkat benda berat atau berdiri. Gejala pada vagina lainnya seperti rasa menggantung/tertarik pada vagina, tekanan pada panggul hingga rasa pegal pada punggung, rasa tidak nyaman/penuh di vagina, keputihan, keluar darah dari erosi benjolan vagina.
2/ Gejala gangguan berkemih
Gejala gangguan berkemih dapat disadari dengan sulit memulai berkemih, berkemih tidak lampias atau tidak tuntas, harus mengedan, keluar urin saat batuk atau tertawa, sulit menahan dorongan berkemih, serta infeksi saluran kemih berulang.
3/ Gejala buang air besar (BAB)
Benjolan di dalam vagina saat mengedan, BAB tidak lampias atau tidak tuntas, sulit BAB dan harus mengedan, perlunya penekanan pada perineum atau vagina posterior untuk membantu BAB.
4/ Gejala seksual
Gejala seksual antara lain rasa tidak nyaman saat berhubungan, nyeri saat berhubungan, menghindari hubungan seksual akibat adanya kepercayaan diri yang menurun.
Dokter biasanya akan merujuk orang dengan gejala prolaps untuk melakukan pemeriksaan fisik, terutama pemeriksaan kondisi pelvis. Selain itu, dokter juga akan meminta Anda mengejan seperti saat akan buang air besar untuk menilai sejauh mana penurunan terjadi, dan melakukan gerakan seperti saat menahan buang air kecil untuk mengetahui kekuatan otot pelvis.
Jika diperlukan informasi yang lebih detail, dokter dapat melakukan beberapa pemeriksaan penunjang untuk melihat organ dalam pelvis, diantaranya USG panggul dan saluran kemih, untuk memastikan kondisi organ kandungan dan penyebab penurunan yang terjadi. Foto rontgen saluran kemih dengan kontras (pielografi intravena/IVP), untuk memeriksa gangguan saluran kemih akibat turun peranakan. Dan tes urodinamik, untuk memeriksa fungsi kandung kemih dan uretra saat menyimpan urin dan membuangnya, terutama dilakukan pada pasien yang menderita inkontinensia parah.
Menurut dr. Astrid, prolaps dapat ditangani dengan prosedur bedah maupun non-bedah, tergantung tingkat keparahan prolaps. “Pilihan non-bedah meliputi penggunaan pesarium, rehabilitasi otot dasar panggul, dan symptom-directed therapy. Symptom-directed therapy dengan observasi prolaps dapat direkomendasikan pada pasien dengan prolaps derajat rendah,” jelas dr. Astrid.
“Sedangkan pilihan penanganan dengan bedah dapat berupa pengangkatan rahim maupun penggantungan rahim untuk kasus prolaps apikal atau prolaps yang terjadi pada area leher rahim, rahim, dan puncak vagina. Pilihan operatif dapat dilakukan melalui pendekatan pervaginam maupun laparoskopi (bedah invasif minimal). Pada tindakan pengangkatan rahim dapat dilanjutkan dengan penggantungan puncak vagina jika masih ingin mempertahankan fungsi seksual,” tambah dr. Astrid.
Meski wanita hamil dinilai memiliki risiko lebih besar mengalami Prolaps organ panggul (POP), menurut dr. Astrid risiko tersebut bisa diminimalisir dengan cara rutin melakukan gerakan senam Kegel saat hamil dan setelah melahirkan. (f)
Baca juga:
Jangan Katakan Hal Ini Pada Mereka yang Mengalami Keguguran
Jutaan Kehamilan Tidak Direncanakan Diperkirakan Terjadi Pada Masa Pandemi
Keluhan Pada Masa Kehamilan dan Cara Mengatasinya