Dok: Shutterstock


“Beauty is in the eye of the beholder.” Begitu kata ungkapan. Akan tetapi, tiap orang memiliki persepsi yang berbeda tentang kecantikan. Ada yang dalam upayanya untuk cantik, terjebak pada ‘tangan’ ataupun produk yang salah, sehingga bukannya cantik yang didapat, malah berbuah petaka. Simak cerita Juliana Yu, MD.H NH dan dokter bedah plastik dr. Tompi tentang apa saja beauty disaster yang pernah mereka temui di ruang praktik.  
 

Juliana Yu, MD.H NH, DermatologistCosmetologist, Pemilik House of Herbal Skinovation

Tragedi  Wajah Akibat Ingin Hasil Instan

Orang awam sering kali berpikir bagaimana cara termudah, tercepat, dan termurah dalam mendapatkan perawatan wajah. Hal seperti itu memicu banyak kejadian. ‘Kecelakaan’ pertama yang paling sering saya temui adalah pada alis, setelah tindakan tato atau sulam alis. 

Sekarang, ada banyak tempat yang menawarkan tato dan sulam alis. Tidak semua aman dan tidak semua hasilnya sebagus yang diinginkan.  Ada banyak kasus, tato alis yang dilakukan ternyata hasilnya tinggi sebelah, terlalu tebal, atau gambar yang tidak sesuai dengan wajah.  

Alis ibarat dapur kita. Alis berfungsi melindungi wajah kita, yang memberikan figur dan karakter. Alis itu penting. Orang mendapatkan kesan pertama karakter kita dari alis. Ketika seseorang datang ke tato alis, lantas dia hanya memilih dari foto yang tersedia, itu jelas berisiko.  

Untuk menghindari kesalahan akibat gambar permanen yang tidak sesuai kemauan kita, cobalah minta contoh digambar langsung di wajah. Kira-kira akan seperti apa hasilnya. Tato sifatnya permanen. Tidak akan hilang, tapi  bisa berubah warna, menjadi abu-abu atau biru. Kalau sulam alis bisa hilang dalam waktu 1-2 tahun. 

Sebelum melakukan tato, pastikan dulu apa yang diinginkan. Jangan sekadar termakan iklan atau tergiur karena harganya yang murah. Tujuan dari membuat alis adalah estetika, membuat diri kita jadi lebih bagus, bukan aneh.

Tidak sekadar dibuat tebal atau malah jadi seperti penari wayang. Bentuk alis harus sesuai dengan karakter yang ingin kita tunjukkan, dan disesuaikan dengan profesi. 

Jika gagal, satu-satunya cara adalah menghilangkannya dengan laser. Setelah itu dilakukan tindakan lagi, jika ingin disulam kembali untuk perbaikannya. Laser ada banyak macamnya. Laser untuk tato removal tidak ada efeknya dan bisa menghilangkan bekas. Untuk melakukan penghilangan, butuh waktu yang berbeda-beda. Ada yang 3-4 kali, ada pula yang harus 5-6 kali. Jeda antara perawatan sekitar 2 minggu, untuk memberi waktu regenerasi kulit. 


Dok: Pribadi

Ada juga disaster karena chemical peeling. Dalam hal ini karena penggunaan yang berlebihan. Pernah ada seorang pasien datang ke saya dalam keadaan wajah gosong. Pasien tersebut telah melakukan chemical peeling selama 8 tahun. Dan, selama 2 tahun belakangan ia mangalami kondisi wajah gosong. Sudah ‘berobat’ ke mana-mana untuk memulihkan, tapi tak berhasil, termasuk juga ke klinik di Amerika Serikat. 

Kalau sudah telanjur gosong seperti itu, penanganannya sudah susah. Dengan mikrodermabrasi juga tidak akan mempan. Malah bisa tambah parah. Intinya, jika wajah sudah kena chemical peeling, status wajah sudah berubah, jadi lebih sensitif terhadap sinar matahari, juga terhadap pemakaian produk perawatan biasa. Wajah hanya boleh menggunakan produk yang mengandung unsur air atau produk yang mengandung emolien tinggi. 

Emolien berfungsi membentuk lapisan berminyak pada bagian kulit terluar untuk menahan air agar tetap berada di kulit. Kita perlu barrier. Di dunia kecantikan, barrier kulit disebut juga lapisan kulit terluar. Barrier itu berfungsi sebagai bantalan kulit kita. Kalau tidak terjaga dan terlindungi dengan sempurna, kulit akan rusak.

Mengapa banyak orang tertarik untuk melakukan chemical peeling? Karena banyak orang memimpikan sesuatu yang instan.  Dalam waktu dua minggu kulit sudah tampak lebih muda. Cara termudah adalah dengan memaksa kulit kita untuk melakukan regenerasi lebih cepat dari normalnya kulit beregenerasi. 

Selain itu, banyak wanita mendambakan memiliki kulit wajah seperti kulit bayi. Padahal, hal itu jelas tidak mungkin, karena produksi sebum kita tidak sama dengan bayi. Pada kasus pasien yang kulit wajahnya gosong itu, ia menjalani perawatan di klinik saya selama 8 bulan. 

Disaster lain yang sering saya temukan adalah kulit wajah melepuh akibat salah penggunaan produk kecantikan. Bukan berarti pasien tersebut menggunakan produk murahan. Ada yang menggunakan produk mahal ataupun resep dari dokter. Tapi, karena produk tersebut tidak cocok dengan kulitnya, misalnya kulit wajah sensitif, yang tidak tahan jika diberi obat keras, hasilnya wajah jadi beruntusan, merah, dan melepuh. Pada kasus semacam ini, biasanya saya berikan perawatan untuk kulit hipersensitif. Prinsipnya, berikan barrier pada jaringan kulit. 

Ada juga kasus pasien tanam benang yang mengeluhkan wajahnya tidak simetris. Sebelah terangkat, yang sebelah lagi turun. Tanam benang adalah teknik memasukkan benang di bagian wajah yang terlihat turun. Wajah jadi tampak bulat seperti bulan sabit. Benang sepanjang 5-10 cm dimasukkan ke kulit wajah, dengan iming-iming nanti akan jadi kolagen. Faktanya, tidak ada benang yang bisa jadi kolagen.  

Bahayanya, tanam benang ini juga memberi efek adiksi. Sekali dilakukan, nanti begitu wajah tampak turun sedikit, dia ingin tambah benang lagi, tambah benang lagi. Cara ini bukannya tidak menimbulkan rasa sakit. Pertama kali dilakukan, pasti bengkak. Tapi, karena pasien percaya, beauty is pain, dia mau menjalaninya.

Saran saya, jika ingin wajah tirus, gunakan cara alami. Salah satunya dengan teknik reshaping therapy. Caranya sederhana, yakni dengan merangsang kolagen untuk keluar, sehingga akan membuat wajah kita naik lagi. Hasilnya, wajah akan terlihat lebih glowing.

Baca Juga: dr. Tompi, Dokter Bedah Plastik, Klinik Beyoutiful

 

 
Foto: Dok. Pribadi


dr. Tompi, Dokter Bedah Plastik, Klinik Beyoutiful

Kenali Batas Aman

Kasus-kasus beauty disaster yang berkaitan dengan bedah plastik yang membutuhkan koreksi, yang paling marak adalah thread lift atau tanam benang dan filler. Sekarang praktik ini mulai menjamur, tidak hanya dikerjakan tenaga medis yang memang menguasai teknik ini, tapi juga salon-salon, dengan dalih sulam alis. Mereka ‘jualan’ sulam alis, tapi yang dikerjain prinsipnya seperti tanam benang, membuat sayatan kecil. Walaupun kecil, namanya sayatan, begitu sudah invasif, seharusnya sudah bukan ranah mereka lagi. 

Sebenarnya, tanam benang yang dilakukan oleh kalangan nonmedis, sudah menyalahi prosedur. Sama halnya dengan tindakan menyuntik, seperti suntik vitamin C dan pemutih, tidak boleh dilakukan oleh orang awam. 

Apakah risiko itu ada? Jelas ada. Misalnya, suntik obat pemutih dengan campuran seperti tationil. Jika kita kurang minum, menjadi salah satu pendorong munculnya penyakit batu ginjal. Kita perlu hati-hati memilih tindakan. 

Tanam benang dan filler bukanlah prosedur ilegal, jika dilakukan dengan mengedepankan efek keamanan pasien. Problemnya, ketika tindakan ini dilakukan secara berlebihan dan tidak sesuai indikasinya, akan menjadi masalah. Tindakan filler ada batasannya. Benang juga ada penempatannya, kapan bisa dikerjakan. Tidak bisa pada semua kasus, pada semua keadaan. 

Contoh keliru penggunaan filler adalah pada pasien yang ingin memancungkan hidung. Kalau pasien datang dengan keluhan hidung tidak rata, ingin diratain, filler adalah tindakan tepat. Jika diumpamakan, di depan rumah Anda ada lubang, lalu ingin ditambal. Nah, itulah fungsinya filler, untuk meratakan. 

Permasalahannya, jarang ada yang datang dengan indikasi seperti itu di Indonesia. Lain halnya di Barat, tulang hidung mereka tinggi-tinggi, tapi enggak rata. Itu masuk akal. 

Di Indonesia, bukannya ingin ‘menambal lubang’, tetapi malah ingin membangun ‘polisi tidur’. Jalannya rata, lalu ingin dibuat tonjolan lebih tinggi. Yang pesek ingin hidungnya ditinggiin supaya terlihat mancung. Ingat, filler tidak bisa ditumpuk. Hidung pesek ingin ditambah sedikit, hasilnya tidak akan meninggi ke atas, tapi melebar ke samping. Makin ditambah,  makin  melebar ke samping. Itulah kesalahan yang paling sering ditemui. 

Ada yang bilang, nanti filler akan hilang dengan sendirinya. Filler punya sifat resorbable. Bisa diserap oleh tubuh kita. Betul demikian, tapi dengan catatan, jika diberikan dalam batas tertentu. Pengalaman saya, pernah membongkar hidung orang yang sudah menjalani filler selama 2-3 tahun, cairan filler-nya masih ada di dalam. 

Dalam jumlah sedikit, tubuh masih bisa menyerap filler. Begitu kita memasukkan lebih banyak, kemampuan tubuh menyerap akan kalah dengan kemampuan tubuh membentuk bio filler-nya. Jika sudah terbungkus, filler sudah terproteksi di dalam. Satu-satunya cara untuk menghilangkan filler adalah dengan cara dibuka, dibedah, dan dipotong bersih. 

‘Untungnya’, filler berbeda dari silikon cair. Bisa ditemukan ada pihak yang menyuntikkan silikon cair ke wajah. Penggunaan silikon cair jelas-jelas kriminal. Silikon cair tidak pernah digunakan untuk keperluan estetis maupun nonestetis. Penggunaan silikon cair adalah penyimpangan. Silikon cair memberikan efek menumbuhkan jaringan baru sehinga hasilnya wajah malah jadi bentol tidak keruan. Misal, silikon yang disuntikkan sebanyak 1 cc. Efeknya, wajah jadi besar seperti habis disuntik cairan sebanyak 1 liter. Pada filler, tidak ada efek seperti itu. 

Hyaluronicacid --cairan yang terkandung di dalam filler-- yang dibuat untuk medis memang aman digunakan. Hanya, disalahgunakan jumlah pemakaiannya. Efeknya, bentuknya jadi tidak bagus. Wajah jadi kegedean atau melebar. Filler tidak akan berefek pada terbentuknya jaringan baru di dalam tubuh. 

Untuk tanam benang, yang paling sering bermasalah adalah benang kepanjangan. Akibatnya, benang akan menekan kulit, sehingga muncul jerawat atau bisul berulang. Ada cerita pasien, sudah bolak-balik perawatan, hanya diberi antibiotik. Sembuh sebentar, lalu muncul lagi. 

Wajah yang di-filler atau menjalani tanam benang bisa dilihat secara kasatmata: di ujung hidungnya terlihat satu titik dekok atau ada bekas jerawat yang tidak kunjung hilang. Untuk menambah panjang hidung, lalu dipasang benang yang lebih panjang sedikit. Betul bahwa nanti hidungnya akan terangkat, tapi kulitnya tidak bisa menahan. Adanya pointing tension itu akan membuat jebol. Akibatnya, muncul nanah berulang. Lama-kelamaan, tulang rawan di dalam bisa rusak semua. Kalau sudah muncul abses, infeksi, itu artinya harus dibongkar. 

Apakah tanam benang bisa dicabut kembali? Bisa, tapi tidak gampang. Seperti mencari jarum dalam jerami. Benang yang ditanam hanya sehelai dan kita tidak tahu di mana letaknya. Jika sudah terjadi infeksi, itu artinya luka terbuka. Penyembuhannya, harus disayat. Untuk pembetulannya, pasti akan memberi sisa bekas sayatan yang cukup panjang, lebih panjang dibandingkan dengan bekas tindakan itu sendiri. 

Jika terjadi keluhan setelah tindakan filler dan tanam benang, sebaiknya jangan tunggu sampai hancur. Sebab, tingkat kesulitan untuk pembetulannya sangat tinggi. Tapi, selama masih di awal-awal tindakan, masih sangat mungkin untuk mencapai hasil yang lebih estetis daripada normal. 

Demikian juga untuk kasus komplikasi karena bedah plastik. Tindakan apa pun yang dikerjakan, baik operasi maupun tanpa operasi, pasti ada risiko gagal. Kegagalan tersebut masih bisa dikoreksi apabila datang ke tangan yang tepat, waktu yang tepat, dengan eksekusi yang baik. Dokter bedah plastik dituntut tidak hanya bisa  ‘mengerjakan’, tetapi juga memperbaiki. 

Ada beberapa hal yang bisa memicu hasil operasi yang tidak menyenangkan. Pertama, kesalahan secara prosedural, terdapat ketidaksempurnaan dalam pengerjaan. Kedua, keinginan pasien yang berlebihan. Sayangnya, keinginan yang berlebihan ini sering kali disanggupi oleh tenaga operatornya. Jika ada pasien seperti ini datang ke saya, “Dok, saya maunya begini,” kalau menurut saya itu tidak mungkin dilakukan, saya akan bilang, “Maaf, tidak bisa.” Kalau tidak bisa, yang tidak bisa. Bukan perkara bisa bayar atau tidak. (f)


Baca Juga: 
Pahami Cara Kerja 4 Sulam Kecantikan Paling Diminati Wanita
Botox, Filler, dan Thread Lifting. Mana yang Paling Sesuai Untuk Anda?
Operasi Plastik, Dulu Tabu Sekarang “Diserbu”