Foto: Shutterstock


Pandemi COVID-19 belum berakhir, terlihat dari angka kasus ini yang terus bertambah naik di dunia maupun di Indonesia. Dari data Satgas Penanganan COVID-19 per Sabtu (6/1/2021), virus ini telah menginfeksi 1.147.010 orang di Indonesia dan 31.393 di antaranya meninggal dunia.  

Meskipun program vaksinasi telah dimulai di berbagai negara, termasuk di Indonesia, Organisasi Kesehaan Dunia (WHO) tetap mengimbau untuk melakukan pencegahan dengan mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak dan hindari kerumunan. 

Selain itu, salah satu cara mencegah penularan yang masif adalah dengan mengetahui gejalanya sedini mungkin. Tiga gejala awal COVID-19 yang banyak ditemukan biasanya berupa demam, batuk kering, dan sesak napas. Namun, seiring waktu, adanya mutasi virus juga membuat berbagai gejala COVID-19 lainnya muncul dengan tingkat keparahan yang beragam. Tidak hanya demam, batuk kering dan sesak napas, belakangan penelitian di dunia juga menemukan gejala lainnya yang unik dan terdengar tidak awam di telinga kita. 

Gejala yang berbeda pada setiap orang ini lantara infeksi yang dialami satu orang berbeda dengan orang lainnya. Sehingga kita perlu mengetahui dan aware dengan gejala lain yang tidak umum agar pengobatan COVID-19 bisa berlangsung tuntas. Berikut beberapa gejala baru COVID-19 yang belakangan muncul dan unik. 


Baca Selanjutnya: 1/ Delirium 

 


Foto: Shutterstock


1/ Delirium 

Istilah delirium menjadi populer semenjak masuk ke dalam daftar gejala infeksi virus COVID-19. Bukan sesuatu yang berdampak pada fisik seperti nyeri atau sesak, delirium sebagai gejala COVID-19 berkaitan dengan kondisi kesadaran, kognitif, dan psikis pasien.

Delirium adalah gangguan kesadaran, kognitif (kemampuan berpikir), perhatian, dan persepsi pada seorang pasien akibat penyakit tertentu. Menurut dr Dyah Novita Anggraini seperti dikutip dari klikdokter.com, gangguan delirium ditandai dengan empat ciri, yaitu gangguan kesadaran sampai koma, gangguan kognitif disorientasi sampai tidak bisa membedakan mana realita dan khayalan, gangguan emosi dan kecemasan, serta gangguan tidur.

Dokter Dyah menambahkan karena gejala yang satu ini tidak sepenuhnya berkaitan dengan gangguan fisik, pasien juga memerlukan bantuan dari seorang psikiater. Obat-obatan dari psikiater dapat membantu meredakan gejala delirium. Ditambah dengan terapi pengenalan ruang, waktu dan orang di sekeliling pasien, gangguan kesadaran, emosi, dan kognitif.

Cleveland Clinic menyebutkan 20-30 persen pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit berpotensi mengalami hal tersebut. Namun, kondisi delirium ini sifatnya dinamis alias berubah-ubah.

Menurut dokter spesialis perawatan neurokritis, Pravin George, DO, ada dua jenis delirium yang kerap dijumpai. Pertama, Delirium hiperaktif dimana pasien menjadi gelisah, agresif, dan berhalusinasi. Kedua, Delirium hipoaktif dimana pasien lebih sering mengantuk, lambat merespons, dan menarik diri. Namun ada kemungkinan juga dimana seorang pasien mengalami gabungan keduanya.

Dokter George mengatakan bahwa delirium pada pasien bisa disebabkan oleh virus corona yang terlanjur menyerang otak. Penelitian telah menyebutkan bahwa setelah virus menyerang paru, virus ini juga bisa menyerang bagian lain, seperti otak, ginjal, bahkan seluruh tubuh.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Network Open menunjukkan, 28 persen dari pasien COVID-19 lansia mengalami delirium. Sedangkan peneliti yang dipimpin oleh ilmuwan Massachusetts General Hospital juga menemukan, 817 pasien COVID-19 yang berusia 65 tahun ke atas mengalami delirium. Hingga saat ini, CDC (Centers for Disease Control and Prevention), Amerika Serikat, sebetulnya belum menganggap delirium sebagai gejala baru COVID-19 secara resmi.


Baca Selanjutnya: 2/ Parosmia 

 


Foto: Shutterstock


2/ Parosmia 

Parosmia menjadi salah satu gejala long Covid yang ditemukan pada pasien COVID-19. Dilansir dari laman ugm.ac.id, Dokter Spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan dan kepala Leher (THT-KL) Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, dr Anton Sony Wibowo Sp.T.H.T.K.L.,M.Sc., FICS., menyebutkan parosmia adalah gejala gangguan penghidu atau penciuman yang membuat seseorang merasa membau secara berbeda dari yang seharusnya.

"Pasien dengan parosmia mempersepsikan bau yang tidak sesuai dengan kenyataannya," jelas dr Anton. 

Misalnya, membau bunga mawar seharusnya harum, tetapi pasien mempersepsikan dengan bau yang lain seperti bau tidak enak atau bau lainnya. Persepi bau yang muncul akibat parosmia ini bisa beragam.

Dosen FKKMK UGM ini menjelaskan bahwa gejala parosmia cukup banyak dijumpai pada pasien COVID-19 di luar negeri. Dalam beberapa penelitian di luar negeri diketahui kemunculan parosmia cukup banyak berkisar antara 50,3-70 persen. Sementara di Indonesia penelitian terkait parosmia belum banyak dilakukan.

Parosmia dapat terjadi pada pasien COVID-19 karena virus SARS Cov 2 memengaruhi jalur proses penciuman seseorang. Selain akibat virus, kemunculan parosmia juga bisa disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan atas, cidera kepala, atau kelainan otak seperti tumor otak.

Lebih lajut dr Anton menjelaskan bahwa gangguan penciuman akibat infeksi virus COVID-19 tidak hanya berupa hilangnya kemampuan membau atau anosmia yang telah muncul di awal pandemi dan kini parosmia. Namun, terdapat beberapa gangguan penciuman lain salah satunya hyposmia berupa menurunnya kemampuan mendeteksi bau. Lalu, cacosmia yang menjadikan seseorang secara terus menerus mencium bau yang tidak menyenangkan.

"Pada infeksi Covid-19 terdapat gangguan penciuman atau yang dikenal dengan dysosmia yang bisa berupa anosmia, parosmia, hyposmia maupun cacosmia," terangnya.

Lantas bagaimana pengobatan untuk parosmia? Menurut dr Sepriani Timurti Limbong, seperti dikutip dari klikdokter.com, bila pasien yang terkena parosmia tidak memiliki penyakit lain seperti kanker, parosmia dapat diatasi dengan beberapa terapi atau obat. 

Namun, penanganannya memerlukan pengawasan dokter. Karena, gejala parosmia bisa berbeda-beda pada setiap orang dan terapi yang diberikan juga berbeda-beda sesuai anjuran dokter. Pasalnya, parosmia bukan karena gangguan di hidung saja, tetapi karena penyakit sistemik.

“Terapinya personalized alias tergantung pasiennya. Jadi, harus berdasarkan pemeriksaan dokter dan keluhan pasien tersebut. Parosmia tidak bisa ditangani sendiri, harus secara keseluruhan,” terang dr. Sepriani.


Baca Selanjutnya: 3/ Phantosmia

 
 


Foto: Shutterstock
 

3/ Phantosmia

Tampaknya COVID-19 banyak mempengaruhi indera penciuman, setelah parosmia, penelitian terakhir mengungkapkan jika salah satu gejala dari gangguan yang disebabkan oleh virus COVID-19 ini adalah phantosmia. 

Melansir dari halodoc.com, phantosmia adalah kondisi yang menyebabkan seseorang mencium sesuatu yang pada kenyataannya tidak ada atau disebut juga halusinasi penciuman. Pengidap gangguan ini umumnya mencium berupa bau asap atau bau terbakar. Baunya mungkin terus tercium atau datang dan pergi. Masalah ini juga dapat terjadi hanya sebentar atau bertahan dalam waktu yang lama.

Baik parosmia maupun phantosmia, keduanya saling terkait dan dikenal dengan gangguan penciuman kualitatif karena kualitas bau yang dirasakan telah berubah. Beberapa masalah terkait penciuman kualitatif lainnya adalah anosmia (hilangnya indra penciuman) dan hiperosmia (peningkatan indra penciuman ke tingkat abnormal). 

Gejala ini sebaiknya tidak disepelekan. Karena pada beberapa kasus yang parah, gangguan ini dapat menyebabkan pikiran untuk bunuh diri. Untuk mempermudah proses diagnosis, jika merasa mengalami gangguan pada penciuman, cobalah untuk membuat catatan terkait masalah penciuman ini sebelum berkonsultasi dengan dokter.


Baca Selanjutnya: 4/ Covid Tongue

 
 


Foto: Shutterstock


4/ Covid Tongue

Belakangan masalah pada mulut disebut menjadi salah satu gejala baru COVID-19. Hal tersebut disampaikan oleh peneliti Inggris yang melaporkan adanya lebih banyak kasus orang-orang yang terinfeksi mengeluhkan adanya perubahan warna pada lidah, pembesaran, dan masalah mulut lainnya.

Tim Spector, seorang profesor epidemiologi genetik di King's College London dikutip dari NBCNews menemukan 1 dari 500 pasien memiliki kondisi yang disebut dengan Covid Tongue atau Lidah Covid. Di mana gejala utamanya adalah lidah seperti diselimuti warna putih atau kuning yang tidak bisa disingkirkan. Selain itu lidah seperti bergigi dan bisa sangat menyakitkan.

Meski begitu, ia menekankan bahwa data yang ada masih sangat sedikit, sehingga masih terlalu dini untuk menambahkan kondisi Covid Tongue ke daftar gejala COVID-19 secara resmi. Namun ia mengingatkan agar dokter gigi, ahli bedah mulut maupun dokter lain yang melihat ke dalam mulut orang harus menyadari bahwa mungkin ini adalah salah satu tanda awal adanya infeksi.

Sementara itu, peneliti lain juga melaporkan gejala lidah dan mulut yang terkait dengan kondisi COVID-19. Sebuah Jurnal yang terbit di British Journal of Dermatology, seperti dikutip dari Kompas.com mengatakan, para dokter yang mempelajari 666 pasien dengan COVID-19 di Spanyol menemukan, lebih dari sepersepuluh (78 orang) dari mereka menunjukkan adanya temuan masalah pada rongga mulutnya. 

Pembengkakan jaringan mulut dari kelompok tersebut 11 persen mengalami peradangan pada benjolan kecil di permukaan lidah. Adapun 6 persen memiliki lidah bengkak dan meradang dengan lekukan di samping. Sedangkan 6 persennya menderita sariawan, dan 4 persennya memiliki lidah yang tidak rata. Adapun 4 persen yang lain mengalami pembengkakan jaringan mulut. "Rongga mulut membutuhkan pemeriksaan khusus dalam keadaan yang tepat untuk menghindari risiko penularan," kata penulis. 

Penelitian ini melibatkan pasien dengan kasus infeksi sedang. Mengutip dari Business Insider, para peneliti belum yakin apakah kondisi Covid Tongue tersebut juga mempengaruhi mereka yang parah maupun yang kondisinya ringan.

Dalam cuitannya di akun Twitter pribadinya, Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof. Dr Zubairi Djoerban menjelaskan gejala baru Covid-19 Covid Tongue memang sedikit menyerupai sariawan. 

Namun, ia juga menyebutkan apabila seseorang hanya mengeluhkan gejala sariawan, kemungkinannya sangat beragam. "Pasien lupus pun sering sariawan. Demikian pula orang yang terlalu lama minum antibiotik, orang dengan HIV/AIDS, tergigit saat makan, kekurangan vitamin C dan penyebab sariawan lainnya," ujar Prof Zubairi melalui akun resmi Twitternya pada 31 Januari 2021. 

Kendati begitu, Zubairi menegaskan bahwa gejala serius yang paling sering ditemui antara lain sesak napas, rasa nyeri dada, rasa tertekan di dada, tidak bisa berbicara, susah bangun dari tidur, bahkan sukar duduk. (f) 


Baca Juga: 
Hati-Hati, Dibandingkan Batuk Mengobrol Lebih Menularkan Virus COVID-19
Yang Harus Dilakukan Saat Muncul Reaksi Alergi Setelah Divaksin COVID-19
Sudah Divaksin Tapi Masih Kena Covid-19. Kok Bisa?