
Foto: Fotosearch
Kata hipertensi paru-paru mungkin masih terdengar asing bagi kebanyakan orang. Penelitian Prof. Dr. Marius M. Hoper dan tim, yang dimuat di The Lancet Respiratory Medicine, 2016, menyebutkan, ada lebih dari 25 juta kasus hipertensi paru-paru di dunia, 50 persen dari yang terdiagnosis dan tidak melakukan pengobatan, meninggal dalam kurun waktu kurang dari dua tahun. Gawatnya, perbandingan antara wanita dan pria yang mengidap penyakit ini adalah 2:1. Seperti apa ‘wajah’ penyakit ini sebenarnya?
Berkaitan dengan Kehamilan
“Saya sudah lupa bagaimana rasanya bernapas secara lega. Saya harus rutin minum obat, karena jika telat, bisa langsung masuk unit gawat darurat,” kata Dhian Deliani (41), ibu dua anak. Dhian tidak sedang bercanda, ia menderita hipertensi paru-paru atau pulmonary hypertension.
“Hipertensi paru-paru adalah kondisi saat tekanan pada pembuluh darah paru-paru naik akibat arteri dan kapiler paru-paru, yang berfungsi mengalirkan darah, menyempit, tersumbat, atau rusak,” kata Prof. Dr. dr. Bambang Budi Siswanto, Sp.JP(K), FIHA, FasCC, FAPSC, FACC., ahli hipertensi paru-paru dan konsultan spesialis jantung dan pembuluh darah dari Rumah Sakit Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta.
Ada dua kelompok besar hipertensi paru-paru: primer, yang belum diketahui penyebabnya, dan sekunder yang sudah diketahui penyebabnya atau disebabkan penyakit lain. Hipertensi paru-paru sekunder biasanya karena penyakit jantung bawaan, autoimun, bekuan darah (emboli), penyakit paru-paru kronis, penyakit jantung rematik, dan sebagainya.
Seseorang dapat dikatakan mengalami hipertensi paru-paru saat tekanan darah pada paru-paru meningkat di atas 25 mmHg. Padahal, normalnya tekanan darah di paruparu berada di kisaran 14 hingga 20 mmHg.
Dari hasil penelitian Prof. Marius Hoper yang berjudul A Global View of Pulmonary Hypertension tersebut, sekitar 80 persen kejadian hipertensi paru-paru berada di negara berkembang, dan menyerang usia produktif, yaitu usia remaja hingga usia 50-an.
“Di Indonesia, diperkirakan ada satu hingga dua kasus hipertensi paru-paru per satu juta penduduk,” kata Prof. Bambang. “Saya bersyukur penyakit ini cepat ditemukan dan segera ditangani. Salah seorang teman, yang juga menderita hipertensi paru-paru, wafat empat hari setelah melahirkan,” ujar Dhian.
Temannya sesungguhnya sudah diketahui menderita hipertensi paru-paru sejak sebelum hamil, sementara Dhian baru mengetahui kondisinya tak lama setelah melahirkan anak kedua. Saat itu, dokter yang memeriksa Dhian, yang sedang melakukan pemeriksaan kesehatan untuk menjadi pegawai negeri sipil, menemukan ada yang tidak beres dengan irama jantungnya. “Ketika dirontgen, diketahui jantung saya bengkak,” ujarnya.
Pengalaman Dhian bisa jadi pelajaran berharga bagi wanita untuk lebih berhati-hati saat merasakan kondisi yang bisa mengarah pada hipertensi paru-paru. Apa kaitan antara kehamilan dan hipertensi paru-paru?
Menurut Prof. Bambang, kehamilan akan membuat tekanan darah di paru-paru meningkat, yang memperbesar risiko henti napas, yang bisa berakhir dengan kematian. Karena itu, jika kondisi ini ditemukan sebelum terjadi kehamilan, biasanya dokter akan menyarankan si penderita agar menghindari kehamilan.
Cari Bantuan Medis!
- Jika keluar darah dari mulut baik berupa bercak, batuk darah, maupun muntah darah. Ini menunjukkan bahwa ada pembuluh darah paru-paru yang pecah akibat tingginya tekanan di paru-paru.
- Sesak napas, nyeri dada, detak jantung cepat dan tidak beraturan, bengkak air pada kaki dan perut yang tidak seperti biasanya, pingsan, diare berkepanjangan, hilang nafsu makan berkepanjangan, dan
tidak bisa buang air kecil.
- Batuk berkepanjangan, meskipun bukan darurat, perlu segera ditangani karena dapat menyebabkan tekanan pada paru-paru naik sehingga kondisi pasien akan menurun drastis.(f)
Baca juga: