Foto: pexelsPernah dengar saran, kalau kulit anak terus menerus merah, bruntusan, gatal, dan bersisik, anak harus mandi pakai air panas, pantang makan ini itu, bahkan minum darah ular. Entah siapa yang memulai mitos itu. Anak Anda bisa jadi mengalami dermatitis atopik atau DA.
“DA merupakan penyakit kulit yang diturunkan secara herediter sehingga sebaiknya tidak memakai terminologi ‘sembuh’, melainkan ‘terkontrol’. Ia dapat dicetuskan oleh banyak faktor, antara lain cuaca panas, perubahan cuaca, keringat yang banyak, debu, daya tahan menurun, stres, dan gigitan seranggga," ujar dr. Anthony Handoko, SpKK, FINDV, dari Klinik Pramudia.
Secara umum penderita DA cenderung memiliki kulit yang cenderung kering dan gejala utama pada penderita DA adalah merah dan gatal, sehingga sering disebut dengan istilah eczema atau eksim.
Menurut data World Allergy Organization 2018, prevalensi penderita DA pada anak sebesar 5-30% dan pada dewasa sebesar 1-10% dari populasi dunia. “Prevalensi DA pada anak secara global 15-20% dari penderita DA, tetapi Insiden DA pada anak adalah yang tertinggi 85-95%. Di Indonesia, angka prevalensi kasus DA anak sekitar 23,67%,”tambah dr Anthony.
“Pengobatan DA pada anak dan remaja tergantung dari keparahan penyakit dan fase penyakit apakah pada saat aktif atau fase maintenance. Obat yang dapat diberikan mulai dari Pengobatan Topikal, Oral, Penyinaran dan suntikan. Terdapat beberapa zat aktif yang sering digunakan dalam pengobatan DA,yaitu, Kortikosteroid, Tacrolimus, Pimecrolimus,” jelasnya.
Karena termasuk penyakit bawaan, DA dapat terjadi pada segala usia, dari bayi sampai dengan lansia, dan mengenai semua jenis kelamin. Pada bayi DA ciri utamanya adalah bruntus kemerahan di pipi dan kulit kepala. Terkadang bercak bisa juga basah karena ada pengeluaran cairan kulit. Pada anak, bisa berlangsung lama atau menahun. Bruntus kemerahan disertai sisik halus. Pada orang dewasa bisa menyerang sampai ke jari. Dapat terjadi penebalan kulit dan bercak kehitaman.
“DA merupakan penyakit kulit yang diturunkan secara herediter sehingga sebaiknya tidak memakai terminologi ‘sembuh’, melainkan ‘terkontrol’. Ia dapat dicetuskan oleh banyak faktor, antara lain cuaca panas, perubahan cuaca, keringat yang banyak, debu, daya tahan menurun, stres, dan gigitan seranggga," ujar dr. Anthony Handoko, SpKK, FINDV, dari Klinik Pramudia.
Secara umum penderita DA cenderung memiliki kulit yang cenderung kering dan gejala utama pada penderita DA adalah merah dan gatal, sehingga sering disebut dengan istilah eczema atau eksim.
Menurut data World Allergy Organization 2018, prevalensi penderita DA pada anak sebesar 5-30% dan pada dewasa sebesar 1-10% dari populasi dunia. “Prevalensi DA pada anak secara global 15-20% dari penderita DA, tetapi Insiden DA pada anak adalah yang tertinggi 85-95%. Di Indonesia, angka prevalensi kasus DA anak sekitar 23,67%,”tambah dr Anthony.
“Pengobatan DA pada anak dan remaja tergantung dari keparahan penyakit dan fase penyakit apakah pada saat aktif atau fase maintenance. Obat yang dapat diberikan mulai dari Pengobatan Topikal, Oral, Penyinaran dan suntikan. Terdapat beberapa zat aktif yang sering digunakan dalam pengobatan DA,yaitu, Kortikosteroid, Tacrolimus, Pimecrolimus,” jelasnya.
Karena termasuk penyakit bawaan, DA dapat terjadi pada segala usia, dari bayi sampai dengan lansia, dan mengenai semua jenis kelamin. Pada bayi DA ciri utamanya adalah bruntus kemerahan di pipi dan kulit kepala. Terkadang bercak bisa juga basah karena ada pengeluaran cairan kulit. Pada anak, bisa berlangsung lama atau menahun. Bruntus kemerahan disertai sisik halus. Pada orang dewasa bisa menyerang sampai ke jari. Dapat terjadi penebalan kulit dan bercak kehitaman.
Foto: shutterstockLokasi kelainan kulit pada DA juga berbeda pada setiap fase usia anak, dewasa, manula/geriatri. Lokasi klasik pada usia anak adalah lipat siku, lipat lutut, seputar bibir atau mata dan pipi. Sementara faktor risiko yang menyebabkan DA pada orang dewasa dan geriatri menurut dr. Ronny Handoko, SpKK, umumnya adalah udara panas, sinar matahari, keringat tubuh, debu yang berlebih, bahan pakaian polyester dan wool, jenis kelembapan sabun, stres, pre-menstrual, makanan tertentu, bahan detergent yang digunakan, dan kontak dengan bahan tertentu seperti logam mulia imitasi, karet dan plastik.
“Pasien geriatri dan dewasa akan merasakan gejala dan lokasi luka yang sama. Gejala utamanya berupa gatal kronis dengan variasi ringan sampai berat yang menimbulkan ruam dan dapat ditemukan pada muka, leher, punggung, tungkai, dan lipatan lengan."
Pasien geriatri lebih rentan terkena DA dibandingkan pasien dewasa, karena kulit yang lebih tipis dan menurunnya daya tahan kulit sehingga regenerasi kulit lebih rendah, ditambah dengan sistem imun yang rendah akan memperburuk DA.
DA dapat membuat kulit meradang, gatal, kering, dan pecah-pecah dan jika tidak segera ditangani akan menurunkan kualitas hidup. “Segera konsultasikan ke dokter spesialis kulit sedini mungkin bila anak Anda atau orang di sekeliling Anda memiliki keluhan gatal dan merah yang berulang (kronis) dan memiliki gejala penyerta lainnya seperti bersin-pada pagi hari, mata bengkak, dan keluhan asma, agar mendapatkan pengobatan DA dan perawatan DA yang tepat,” saran dr Anthony.
Sebagai perawatan sehari-hari, disarankan penderita Da untuk mandi maksimal 10 - 15 menit, menggunakan air yang tidak terlalu dingin/panas, sebanyak 1-2 kali dalam sehari, hindari scrubbing, dan oleskan pelembap segera hingga tiga menit setelah mandi. Pilih sabun yang lembut dan non detergent, memiliki PH 4 - 6, serta tidak mengandung pewangi. Selain itu, sebelum ke luar rumah kenakan tabir surya SPF 30, baju yang menyerap keringat, topi lebar, serta kacamata hitam. (f)
Baca Juga: