Foto: Shutterstock
Sumbangan besar bagi perubahan sosial ekonomi masyarakat dan kebebasan dalam mengatur waktu yang lebih dibanding menjadi pegawai kantoran membuat pekerjaan sebagai entrepreneur sekarang dianggap keren bagi orang zaman now. Namun, di balik keindahan yang tampak di media, karena keberhasilan sebagian para entrepreneur, sesungguhnya ada sisi lain, sebuah sisi gelap yang membayangi kehidupan mereka.
 
Bisnis memang tidak seglamor bayangan orang. Di balik itu, ada banyak detail yang harus dihadapi pebisnis, dan tak jarang mengalami sandungan. Awam biasanya cukup ngeh bahwa stres bisa berdampak pada kesehatan tubuh. Tapi, bagaimana dengan kesehatan jiwa? 
 
Meski kelihatannya tak sibuk di meja kerja, beban pekerjaan dan tanggung jawab seorang entrepreneur beda dengan yang bekerja sebagai karyawan. Seorang entrepreneur, terutama yang bisnisnya masih kecil dan menengah, sedikit banyak harus turun tangan langsung dan menangani bisnisnya. Sehingga, tak jarang seorang entrepreneur kelelahan secara fisik dan mental. “Istilahnya burnout,” ujar dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ, psikiater dari RS Jiwa dr. Soeharto Heerdjan, Jakarta.
 
Burnout bisa diartikan sebagai kelelahan emosi terkait kerja, depersonalisasi, dan sebuah perasaan tentang penurunan prestasi. Yang perlu digarisbawahi, orang sering mengecap depresi dengan sembarangan. Padahal, menurut dr. Nova, depresi dan burnout epidemiologinya berbeda.
 
“Gejala-gejala burnout lebih lazim di kalangan dokter daripada entitas diagnosis seperti depresi. Harus diwaspadai terdapat tumpang tindih di antara keduanya dengan risiko depresi meningkat seiring dengan tingkat keparahan burnout,” jelas dokter yang menjadi Ketua Umum Persatuan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa DKI Jakarta ini.
 
Gejala burnout bisa terlihat pada fisik maupun psikologis. Misalnya, kelelahan, insomnia, sulit konsentrasi dan mudah lupa, kehilangan selera makan, mudah marah/sedih, kehilangan minat pada apa yang biasanya disukai, pesimistis terhadap apa pun, tidak ingin bersosialisasi, dan menurunnya produktivitas. Meski sering terjadi, seseorang sering tidak mengetahui apakah dirinya mulai atau sudah dalam keadaan burnout.

Lalu, apa yang harus dilakukan seorang entrepreneur agar tetap sehat? Baca halaman berikut.
 
 

 
Bukannya egoistis, seorang entrepreneur memang harus memperhatikan dirinya. Sebagai pemimpin, kalau Anda mengalami masalah, maka seluruh bisnis Anda akan kena imbasnya. Ujung-ujungnya, perusahaan dan pegawai akan terimbas juga.
 
“Dalam menjalankan pilihan karier dalam kehidupan ini, mau tidak mau, apa pun profesinya, harus berusaha mindful terhadap kondisi kesehatan jiwanya. Akan lebih merepotkan dan sulit jika sudah jatuh dalam, misalnya, keadaan depresi (gangguan jiwa) atau cemas (juga gangguan jiwa) karena stres kerja yang tidak dikelola dengan baik,” saran dr. Nova.
 
Lebih lanjut dr. Nova menambahkan, seorang entrepreneur harus resilient. Resiliency adalah kemampuan yang sesungguhnya dimiliki oleh tiap manusia. Namun, ada yang terlatih dan ada yang tidak terlatih. Orang yang resilient cenderung bisa menghadapi naik turun dalam kehidupan. Artinya, jika dalam kondisi terpuruk, ia cukup kuat untuk bangkit kembali dan kreatif mencari solusi, dan tetap kuat saat diterpa kegagalan demi kegagalan.
 
Resiliency bisa diperkuat dengan sedini mungkin menjaga kesehatan jiwa, seperti dengan manajemen stres, mindful, dan lain-lain akan menjadi upaya yang menjaga ketajaman berpikir dan kesehatan jiwa seseorang sehingga saat sedang dihadapkan pada potensi masalah ia akan lebih berhati-hati dan tanggap, tidak gegabah dalam membuat keputusan,” ujar dr. Nova.
 
Hal yang juga diperlukan oleh seorang entrepreneur adalah memiliki kemampuan untuk ‘menghilang’. “Menghilang di sini sesungguhnya bukan hilang fisik sehingga kemudian berkesan kabur atau bolos atau malas atau ‘tidak bertanggung jawab’, tetapi lebih ke kualitas me time. Artinya, saat sedang ada kesempatan keluar dari lingkup pekerjaan, maksimalkan betul untuk relaksasi (tidak cheating masih mengintip pekerjaan, tidak bisa delegasi pekerjaan, dan lain-lain) dan mengistirahatkan mental (tidak membuka internet atau medsos yang bisa memancing emosi negatif),” jelas dr. Nova.
 
Tidak hanya akan mencegah dan mengatasi burnout, ‘menghilang’ juga bisa untuk mencegah diri dari kemungkinan peningkatan masalah yang dapat berakhir pada gangguan kesehatan, jiwa seperti depresi dan cemas.
 
Banyak keputusan yang salah diambil pada saat seseorang emosional. Kondisi emosional sering kali menjadi buruk jika tidak membiasakan menjaga kesehatan jiwa diri. Jika bingung bagaimana cara manajemen kesehatan jiwa diri, apalagi jika Anda sudah menemukan gejala-gejala burnout, silakan mencari pihak-pihak profesional, seperti psikiater (dokter jiwa) atau psikolog, untuk berkonsultasi dan secara terbuka mendiskusikan bagaimana cara stress management yang cocok untuk setiap individu. (individually-tailored mental management).
 
Nova menyarankan, seperti halnya pemeriksaan kesehatan fisik yang biasanya dilakukan secara berkala, pemeriksaan kesehatan jiwa juga perlu dijadikan rutinitas yang wajar dan sehat, dan tidak terbelenggu pada stigma. Individually-tailored mental management bisa beragam bentuknya, mulai dari anjuran-anjuran untuk melakukan aktivitas fisik, relaksasi (yoga, relaksasi pernapasan sederhana), menonton film, mendengarkan musik, melakukan hobi, dan lain-lain yang disesuaikan dengan ketersediaan waktu dan kenyamanan individu. (f)

Baca Juga:

Diet Medsos, Supaya Jiwa Tetap Sehat
Orang Sekarang Lebih Gampang Stres?
Demi Lovato: Saya Hidup dengan Gangguan Kesehatan Jiwa