
Foto: Shutterstock
Seiring perkembangan teknologi digital, industri game pun makin berkembang. Apa yang ditawarkan dari permainan berbasis teknologi ini pun makin menarik hati. Sebut saja game-game seperti Point Blank, Mobile Legend, atau PUBG menjadi beberapa game terlaris saat ini. Berbeda dari tipikal game lawas, game sekarang dibuat dengan visual, tantangan, dan reward yang lebih atraktif. Pengembang makin cerdas untuk memainkan psikologis pemain.
“Pengembang berusaha membuat game yang bisa mengaktifkan hormon endorfin pemain. Game yang sukses itu bisa dibilang yang bisa membuat pemainnya kecanduan,” ungkap Diori Cergy Castalli, pengembang game Mini Racing Adventure yang diunggah lebih dari 10 juta kali di Play Store/Apple Store.
Dalam International Classification of Diseases Edisi ke-11, Juni lalu, World Health Organization (WHO) memasukkan game disorder sebagai penyakit gangguan kesehatan jiwa. Kepada femina, Kepala Departemen Kesehatan Mental RSCM, dr. Kristiana Siste Kurniasanti, SpKJ, menjabarkan pernyataan WHO tersebut didasari kekhawatiran beberapa gangguan kesehatan terkait game, sebagai berikut:
1/ Gangguan Kesehatan Mental
Tahun 2017 lalu, sebuah survei yang dilakukan terhadap 19 ribu pemain gim di Amerika, Inggris, Kanada dan Jerman, menunjukkan hanya 2,4% responden yang dikategorikan mengalami game disorder. Jadi, bukan hanya karena seseorang suka game lantas disebut punya masalah kejiwaan.
WHO menjabarkan, seorang pemain game, baru bisa dikatakan telah terganggu kejiwaannya ketika menunjukkan perilaku: selama 12 bulan terus-menerus menunjukkan ketidakmampuannya mengontrol diri dalam bermain game, prioritas bermain game menjadi nomor satu dan mengenyampingkan prioritas lainnya yang lebih penting dalam hidup (misalnya, makan, tidur, belajar, bekerja).
Meskipun telah memberikan konsekuensi yang negatif dalam hidup, ia justru meningkatkan frekuensi bermain game dan perilaku bermain game-nya telah mengganggu kehidupan sosialnya, di sekolah ataupun pekerjaan.
“Adiksi terhadap game hampir sama dengan adiksi terhadap judi. Di dunia, prevalansinya 16% pada remaja, sedangkan di negara Asia lebih banyak lagi. Salah satu penyebabnya, remaja di Asia lebih sulit mengekspresikan perasaannya sehingga pelariannya ke game,” jelas dr. Kristiana.
Yang juga perlu dicermati game yang menjadi wadah penyaluran agresivitas remaja. “Biasanya, jenis game semacam ini yang menimbulkan adiksi,” tambahnya.
Selain membawa pasien ke psikiater adiksi (atau didampingi dengan psikiater remaja/anak, jika pasien masih di bawah umur), terapi perilaku juga dibutuhkan. “Mereka yang kecanduan game umumnya disertai depresi karena kehidupannya juga sudah hancur: sekolah/ pekerjaan berantakan, tidak punya teman, sehingga perlu penanganan yang multidisiplin,” saran dr. Kristiana.
WHO menjabarkan, seorang pemain game, baru bisa dikatakan telah terganggu kejiwaannya ketika menunjukkan perilaku: selama 12 bulan terus-menerus menunjukkan ketidakmampuannya mengontrol diri dalam bermain game, prioritas bermain game menjadi nomor satu dan mengenyampingkan prioritas lainnya yang lebih penting dalam hidup (misalnya, makan, tidur, belajar, bekerja).
Meskipun telah memberikan konsekuensi yang negatif dalam hidup, ia justru meningkatkan frekuensi bermain game dan perilaku bermain game-nya telah mengganggu kehidupan sosialnya, di sekolah ataupun pekerjaan.
“Adiksi terhadap game hampir sama dengan adiksi terhadap judi. Di dunia, prevalansinya 16% pada remaja, sedangkan di negara Asia lebih banyak lagi. Salah satu penyebabnya, remaja di Asia lebih sulit mengekspresikan perasaannya sehingga pelariannya ke game,” jelas dr. Kristiana.
Yang juga perlu dicermati game yang menjadi wadah penyaluran agresivitas remaja. “Biasanya, jenis game semacam ini yang menimbulkan adiksi,” tambahnya.
Selain membawa pasien ke psikiater adiksi (atau didampingi dengan psikiater remaja/anak, jika pasien masih di bawah umur), terapi perilaku juga dibutuhkan. “Mereka yang kecanduan game umumnya disertai depresi karena kehidupannya juga sudah hancur: sekolah/ pekerjaan berantakan, tidak punya teman, sehingga perlu penanganan yang multidisiplin,” saran dr. Kristiana.
2/ Gangguan Penglihatan
Berjam-jam menatap layar monitor yang terus bergerak ketika bermain game tentunya akan memberi pengaruh pada kesehatan mata. “Yang pasti, mata akan menjadi sangat lelah. Apakah mata nantinya menjadi minus atau silindris, itu baru bisa ditentukan lewat pemeriksaan mata,” kata dr. Kristiana.
Kornea, pupil, dan retina tidak diciptakan untuk bekerja keras melihat terpaan sinar dengan intensitas yang tinggi. American Optometric Association (AOA) menyebutnya sebagai computer vision syndrome yang menyebabkan mata kering dan perih, lelah, sakit kepala, serta otot leher dan bahu terasa kaku.
Untuk mengurangi mata menjadi lelah, AOA memberi tip, yaitu memberi jeda dan waktu istirahat secara berkala dari kegiatan di depan layar komputer atau gadget. Tiap satu jam sekali, lepaskan pandangan dari monitor selama 10-15 menit. Berkediplah lebih sering dan gunakan penerangan yang baik agar mata tidak bekerja terlalu keras.
3/ Gangguan Memori Otak
Mereka yang kecanduan game bisa mengalami gangguan pada fungsi otaknya, seperti mudah lupa dan tidak bisa merencanakan perilaku (fungsi eksekutif). “Hal ini dikarenakan rusaknya bagian otak yang disebut prefrontal cortex. Risiko ini menjadi lebih tinggi pada remaja karena saraf-saraf penghubung yang ada di otak belum matang secara sempurna,” kata dr. Kristiana.
4/Gangguan Tidur
Akibat tidak bisa mengendalikan diri untuk berhenti bermain, banyak pecandu yang rela begadang selama berhari-hari. “Akibatnya, tekanan darah mereka menjadi rendah atau hipotensi. Fungsi tubuh jadi terganggu, misalnya tubuh menjadi lemas, kelelahan seluruh tubuh, dan menjadi mudah sakit karena imunitas tubuh menurun,” ungkap dr. Kristiana.
5/ Osteoporosis
Pecandu game biasanya akan lebih suka mengurung dirinya untuk bermain daripada beraktivitas fisik di luar ruang. “Hal inilah yang menyebabkan tubuhnya kurang gerak dan kurang mendapat sinar matahari. Dalam waktu panjang bisa menyebabkan risiko tinggi terkena osteoporosis,” kata dr. Kristiana, mengingatkan.
6/ Penyakit Jantung
Penyakit jantung erat kaitannya dengan gaya hidup. “Jika tubuh tidak banyak bergerak, akan terjadi penumpukan lemak pada jantung dan pembuluh darah atau kolesterol tinggi. Hal ini dalam jangka panjang bisa mengakibatkan tekanan darah tinggi, diabetes, hingga gangguan jantung,” jelas dr. Kristiana.
7/ Gangguan Saraf
Duduk terlalu lama bisa mengakibatkan pegal-pegal pada tulang punggung belakang bagian bawah hingga saraf terjepit. Sebuah studi mengungkapkan bahwa anak-anak yang bermain video game lebih dari 2 jam sehari lebih tinggi berisiko menderita lower back pain. Kerusakan tendon juga rentan terjadi pada jari tangan, jika bermain dengan intensitas tinggi tanpa istirahat.
8/ Obesitas Versus Malnutrisi
Sudah banyak penelitian yang mengaitkan video game dengan meningkatnya body mass index (BMI). “Karena efek adiksi itu, akhirnya mereka lebih banyak menghabiskan waktu duduk di depan komputer/konsol video game. Aktivitas fisiknya hampir tidak ada,” jelas dr. Kristiana.
Sebuah penelitian di Amerika mengindikasikan bahwa anak laki-laki yang tiap harinya menghabiskan kurang dari 1,5 jam menonton televisi atau bermain game, 75,4% lebih sedikit memiliki risiko terkena obesitas daripada mereka yang bermain lebih dari 1,5 jam per harinya.
“Selain risiko obesitas, ada juga potensi malnutrisi, asupan makanan kurang atau lebih memilih junk food agar tidak perlu berlama-lama meninggalkan permainannya,” ujar dr. Kristiana. (f)
Baca Juga:
Ketahananan Mental Mampu Mengurangi Angka Bunuh Diri Pada Remaja
3 Jenis Terapi Khusus untuk Menyembuhkan Kecanduan Game Online
Diet Medsos, Supaya Jiwa Tetap Sehat