Untuk meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat, tiap pemerintah daerah punya strategi tersendiri yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Seperti yang dilakukan oleh pemerintah provinsi Gorontalo berikut ini:
1/ Pos Gizi Desa

Foto : Pixabay
Gizi buruk bukan hanya terjadi karena masalah ekonomi, tapi juga pengetahuan gizi yang kurang. Masyarakat di desa Haya-haya, Limboto, berusaha mengubah mindset masyarakat melakukan intervensi. Tiap awal tahun diadakan pendataan, lalu hasilnya akan dimusyawarahkan bersama. Mereka yang memiliki masalah gizi akan diikutsertakan dalam pos gizi.
Namun bila ditemukan penyakit penyerta pada mereka, maka terlebih dahulu dilakukan perawatan sampai pulih, baru diikutsertakan dalam pos gizi. Selanjutnya, selama 12 hari berturut-turut, peserta pos gizi bayi (6-11 bulan) dan Balita (12-59 bulan) beserta ibunya, akan dikumpulkan di Pos Gizi untuk dipantau penambahan berat badannya dan diajarkan perawatan kebersihan diri. Salah satu syarat yang harus ditaati peserta pos gizi adalah datang tepat waktu, tidak boleh membawa camilan, susu, dan uang jajan.
Para orang tua diajarkan memasak makanan berat menggunakan bahan pangan lokal. Menu yang digunakan (diajarkan) dalam pos gizi tersebut disusun oleh petugas gizi Puskesmas. Mereka diajarkan bagaimana membuat menu untuk mencapai komposisi ideal, yaitu jumlah kalori antara 300-500 kkal dengan protein 5-12 gram.
"Inovasi positif ini bagus sekali, kita perlu sosialisasikan contoh-contoh yang baik seperti ini", ujar Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek saat mengunjungi pos gizi desa ini. Kegiatan seperti ini sudah dilakukan di 205 pos gizi di Kabupaten Gorontalo.
Foto: NF2/ Wisuda Baduta
Jika di DKI Jakarta, sertifikat imunisasi lengkap sempat menjadi salah satu syarat untuk masuk Sekolah Dasar, di Gorontalo, ini menjadi salah satu syarat untuk masuk PAUD. Tentu saja ini tidak berlaku kaku, bagi yang belum lengkap maka petugas puskesmas akan secara aktif melakukan pendekatan pada orang tua, sehingga anak bisa mendapat imunisasi lengkap sebelum masuk SD.
Untuk menggugah semangat orang tua untuk memberikan imunisasi pada anak, di Gorontalo diadakan Wisuda Baduta (bawah dua tahun), yaitu semacam seremonial untuk anak setelah mereka mendapatkan imunisasi dasar lengkap. yaitu HB-0, BCG, Polio 1-2-3-4, DPT-HB- Hib I-II-III, Campak.
Saat wisuda, anak didandani menggunakan toga dan jubah berwarna biru. Acarapun dibuat meriah dengan seremonial dan foto menggunakan latar foto yang seru. Wisuda Baduta ini rupanya dibuat agar para orang tua lebih kompetitif dan tak mau kalah untuk memberikan imunisasi pada anak mereka. Juga memberi dorongan untuk menyekolahkan anaknya hingga tingkat tertinggi.
Hasilnya, efektif meningkatkan cakupan Imunisasi. Sebelum diadakannya wisuda Baduta, cakupan imunisasi dasar lengkap hanya 70%. Kemudian setelah diadakan wisuda yang mulai digiatkan tahun 2015, cakupan imunisasi meningkat jadi 93%.
Rencananya pemerintah Gorontalo akan menggelar wisuda imunisasi Baduta akbar untuk dijadikan rekor muri. Rencana itu akan direalisasikan pada November tahun ini bertepatan dengan Hari Kesehatan Nasional di Gorontalo.
3/ Syiar Gerakan Masyarakat Sehat di Masjid
Masjid begitu banyak tersebar di Gorontalo, bahkan lebih banyak daripada jumlah Puskesmas. Karenanya pemerintah Gorontalo memanfaatkan masjid tak hanya untuk menyebarkan kebaikan dalam hidup dunia dan akhirat, tapi juga untuk menyebarkan gerakan hidup sehat. Dilakuakn tiap Jumat, kegiatannya disebut Syiar Germas.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo Roni Sampir mengatakan, Syiar Germas ini dilakukan dengan mengutamakan aktivitas fisik, makan buah, sayur, dan ikan, serta cek kesehatan berkala.
“Memang program Germas sudah dicanangkan oleh Kemenkes, tapi kami sengaja melakukan Syiar Germas karena pelayanan kesehatan bukan saja di sarana kesehatan, mesjid itu perlu juga,” kata Roni usai ekspose pembangunan kesehatan Kabupaten Gorontalo, Selasa (17/7).
Dalam pelaksanaan Syiar Germas, dinas kesehatan melakukan penandatanganan MoU dengan Majelis Dakwah Islamiyah.
Foto : Pixabay4/ Penyuluhan bagi Calon Pengantin
Program yang diberi nama Tancap Nikah (Tanda aman calon pengantin) ini berupa pemeriksaan kesehatan di puskesmas yang dibuktikan dengan sertifikat, sebagai syarat untuk menikah di kantor urusan agama. Pemeriksaan bagi calon pengantin pria dan wanita ini termasuk memeriksa kemungkinan tuberkulosis dan kondisi gizi.
Jika ditemukan infeksi atau kurang gizi, maka calon pengantin dirujuk untuk berobat dulu dan menunda kehamilan. Dengan demikian ini diharapkan akan menekan risiko kematian ibu - anak, serta stunting (kerdil).

Foto : Pixabay
5. Pemanfaatan Teknologi Digital Untuk Bank Darah dan Konsultasi Medis
Untuk memenuhi kebutuhan darah di Gorontalo, diprakarsai kepolisian, saat ini sedang dirancang aplikasi dan database untuk mempertemukan antara yang membutuhkan dan donor darah. Ada juga aplikasi Pakdok yang bisa digunakan untuk melakukan konsultasi kesehatan umum sebelum dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Saat ini puskesmas di Gorontalo juga tengah bersiap agar pasien bisa mendaftarkan diri secara daring termasuk mendapatkan resep secara digital.
Terkait donor darah, ada juga program arisan donor darah (sidora) bagi ibu hamil yang digagas puskesmas setempat. Artinya, tiap satu ibu hamil memiliki dua orang yang siap untuk menjadi donor. Perdarahan adalah salah satu penyebab kematian pada ibu melahirkan. Program sidora ini diharapkan dapat menekan risiko tersebut. (f)
Baca Juga:
Menu Sehat Ala Gorontalo
Pentingnya Bebaskan Remaja Putri Dari Anemia