Foto: pixabay

Hingga hari ini (28/04/2020) sudah lebih dari tiga juta orang di dunia dikonfirmasi positif COVID-19. Di Indonesia menurut lama resmi pemerintah covid19.go.id ada 9.511 orang terkonfirmasi. Seiring dengan waktu, temuan tentang virus ini semakin luas, termasuk tentang gejala dan hal yang perlu diwaspadai oleh tenaga medis dan masyarakat. 

Selain gejala umum seperti demam, batuk, sesak napas, pegal, kehilangan kepekaan mencium dan mengecap rasa, berikut beberapa hal yang belakangan ditemukan.

1/ Mata merah

American Academy of Ophthamology memperingatkan dokter mata untuk mewaspadai gejala COVID-19 pada mata pasien. Pasalnya, pada sebagian kasus ditemukan pasien COVID-19 mengalami konjungtivitis atau mata merah. Karena itu dalam pemeriksaan mata pun dokter harus mengenakan dan melakukan prosedur keamanan untuk mencegah penularan virus corona. Pasien dengan konjungtivitis pun perlu ditanyakan riwayat perjalanan dan risiko COVID-19.

2/ Ruam kulit

Dokter spesialis kulit di Itali melaporkan bahwa 20 persen pasien COVID-19 kemungkinan memiliki manifestasi pada kulit termasuk ruam merah. Temuan ini dilaporkan dalam Journal of the European Academy of Dermatology Venereology.

Para peneliti mencermati kulit pada 148 pasien COVID-19 di Lecco Hospita, Lombardy, Italia. Manifestasi pada kulit pada sebagian pasien berupa ruam, kulit kemerahan, dan lepuh pada sekitar perut dan punggung. Gejala ini muncul bersamaan dengan gejala lain seperti batuk.

Mereka memberi catatan, manifestasi pada kulit tidak berhubungan dengan tingkat keparahan penyakit. Mereka berspelukalasi bahwa ini mirip dengan reaksi tubuh saat teinfeksi virus lain, namun untuk memahami bagaimana hubungan kulit dengan COVID-19, masih diperlukan lebih banyak riset lanjutan. 
 
 

Foto: pixabay

3/ Penggumpalan darah 

Dokter-dokter di berbagai rumah sakit di New York kini mulai mewaspadai stroke sebagai salah satu gejala COVID-19. Ini berdasarkan pengamatan di lapangan bahwa tenaga medis sering menemukan penggumpalan darah yang menyumbat infus pada pasien COVID-19. Juga dibuktikan lewat autopsi yang dilakukan oleh ahli patologi di Lousiana State University Health di New Orleans.

Dikutip dari WebMD, ditemukan gumpalan darah yang menyumbat pembuluh darah terkecil di tubuh, sehingga paru-paru tak mendapat asupan oksiden yang cukup.   Salah satu teori menduga ini disebabkan reaksi imunitas tubuh untuk melawan virus yang menyerang sel tubuh sendiri yang disebut badai sitokin. Kemungkinan lain adalah virus langsung menyerang sel pada pembuluh darah yang disebut endothelium, seperti dipublikasikan di The Lancet. 

Jika memang terbukti, ini menjawab, mengapa ventilator tidak banyak membantu pada pasien yang parah. Temuan ini bisa jadi panduan bagi dokter yang merawat pasien COVID-19 pada kemungkinan pemberian pengencer darah, ACE inhibitor, statin, bersama obat antiperadangan untuk membantu endothelium dan menangani badai sitokin.

Sementara medis dan peneliti terus berusaha memahami cara yang tepat untuk menyelamatkan pasien COVID-19, Anda bisa berpartisipasi aktif dengan tetap menjaga jarak di tempat umum, sering mencuci tangan, mengenakan masker, dan meningkatkan imunitas tubuh. (f)

Baca Juga:

Masih Banyak Pertanyaan, Apa Yang Terjadi Setelah Dinyatakan Sembuh COVID-19
Telemedis, Alternatif Berobat Untuk Cegah Penularan Virus Corona
Mau Coba Buat Hand Sanitizer Spray Sendiri Yang Aman Dan Mudah? Ini Tipnya!