
Foto: Shutterstock
U.S. News & World Report, sebuah majalah minggu dari Amerika Serikat, merilis U.S News Best Diet 2020 pada awal tahun 2020 lalu. Tak hanya memberi peringkat, tapi juga mengelompokkan beberapa diet yang cocok untuk kondisi kesehatan tertentu salah satunya diet terbaik untuk obesitas (Best Weight-Loss Diets).
Untuk memastikan apakah beberapa jenis-jenis diet tersebut layak atau cocok untuk orang Indonesia serta baik untuk obesitas, femina meminta pendapat dr. Juwalita Surapsari, Sp. GK, M.Gizi, Dokter Spesilis Gizi Klinik dari RSPI Pondok Indah, Jakarta Selatan.
1/ WW (Weight Watchers) Diet
Metode diet ini menekankan untuk meminimalkan jumlah kalori yang masuk ke tubuh, sementara jumlah kalori yang terbakar harus lebih besar. Pada akhir 2019, WW (Weight Watchers) Diet telah meluncurkan program baru yaitu myWW, pogram yang jauh lebih fleksibel. Program ini dibangun di atas sistem SmartPoints WW, yang memberikan nilai poin pada setiap makanan dan minuman, berdasarkan nutrisi, dan memanfaatkan detail tentang preferensi dan gaya hidup.
Sistem SmartPoints memandu pola makan secara keseluruhan dan menganjurkan makanan yang rendah kalori, lemak jenuh dan gula. Serta dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang mengandung protein tinggi.
Program diet yang juga dijalankan oleh Oprah Winfrey ini dapat dilakukan dengan mengikuti pedoman pada program yang telah disusun yang bisa didapatkan lewat aplikasi myWW atau secara online di website www.weightwatchers.com.
dr. Juwalita : Diet ini merupakan program diet komersial seperti halnya Light House di Indonesia. Dalam programnya, selain mengatur pola makan, juga menganjurkan untuk berolahraga, serta menyediakan layanan konseling. Sehingga perkembangan program diet ini untuk masing-masing orang dapat dipantau dengan baik. Program diet ini cukup ideal untuk menurunkan berat berat badan karena tidak mengagungkan atau menghilangkan satu kelompok bahan makanan tertentu. Bertujuan untuk mengubah pola hidup dari yang tidak sehat menjadi sehat.
Baca Selanjutnya: Vegan Diet
Foto: Pixabay
2/ Vegan Diet
Program diet ini menekankan untuk benar-benar membatasi diri mengonsumsi semua makanan yang bersumber dari sumber hewani, termasuk produk dan turunannya. Melarang untuk mengonsumsi susu, keju, telur, bahkan gelatin yang mengandung komponen, yang berasal dari sumber hewani.
dr. Juwalita : Diet ini memang melarang untuk mengonsumsi produk hewani bahkan telur dan susu. Padahal, produk hewani merupakan sumber protein yang baik, mudah diserap dan mudah digunakan oleh tubuh. Produk hewani juga mengandung mineral-mineral penting seperti zinc, Vitamin B12, dan zat besi yang kadarnya lebih banyak dibandingkan dengan produk nabati. Walaupun sebenarnya, protein dan zat besi non-heme bisa didapatkan pada produk nabati, tapi penyerapannya tidak sebagus zat besi heme dari hewani.
Diet ini tidak ideal untuk menurunkan berat badan, dan tidak juga dianjurkan untuk dilakukan, karena tubuh membutuhkan asupan yang seimbang, baik dari nabati maupun hewani.
Baca Selanjutnya: Volumetrics Diet
Foto: Pixabay
3/ Volumetrics Diet
Program diet ini dikembangkan oleh profesor nutrisi Penn State University, Barbara Rolls. Diet ini membagi makanan menjadi empat kategori berdasarkan kepadatan kalori. Kategori satu termasuk buah-buahan dan sayuran tanpa tepung, sup, dan susu tanpa lemak. Kategori dua yakni buah dan sayuran bertepung, sereal, daging rendah lemak, dan kacang-kacangan. Kategori tiga termasuk daging lainnya, keju, roti, saus salad, es krim, dan kue. Terakhir, kategori empat yakni kerupuk, keripik, permen cokelat, kue, kacang, mentega, dan minyak. Tidak ada makanan yang dilarang, namun disarankan untuk makan makanan kategori satu dan dua, membatasi ukuran porsi makanan dalam kategori tiga, dan meminimalkan pilihan dari kategori empat.
dr. Juwalita : Diet ini mengklasifikasikan makanan berdasarkan densitas (jumlah kandungan) energi (kalori) di dalamnya. Contohnya, 100 gram nasi mengandung kalori 175 kal, dibandingkan dengan sayur bayam dengan berat yang sama hanya mengandung 25 kal. Program diet ini menganjurkan untuk lebih baik mengonsumsi makanan yang densitas energinya lebih rendah. Bahkan program diet ini tidak membatasi jumlah sebanyak apapun mengonsumsi sayur dan buah.
Selain itu, program ini juga tidak melarang untuk mengonsumi makanan dengan densitas tinggi, namun jangan sampai menjadi prioritas apalagi dengan jumlah yang banyak. Pembatasan jumlah kalori yang masuk dalam tubuh tentu akan memengaruhi berat badan. (f)
Baca Juga:
Tingkatkan Daya Tahan Tubuh Dari Serangan Virus Dengan Mandi Sinar Matahari
5 Latihan Kardio Yang Bisa Dilakukan di Rumah
Jurus Anti Pegal Saat Kerja di Rumah