
Foto: Dok. Pixabay
Satu dasawarsa setelah sang ibu memasuki masa pensiun, Dinda makin merasa bahwa ibunya kini adalah sosok yang sama sekali berbeda. Jika dulu gemar bersosialisasi, kini ibunya menarik diri dari pergaulan. Beliau juga makin sering lupa di mana meletakkan barang dan makin sensitif perasaannya. Terakhir, sang ibu yang sedang berjalan santai di sekitar rumah, mendadak lupa arah jalan pulang. Setelah berkonsultasi dengan dokter, Dinda baru menyadari bahwa sang ibu ternyata mengidap penyakit Alzheimer.
Bicara tentang Alzheimer tak bisa lepas dari demensia. Menurut Dr. dr. Martina W.S. Nasrun SpKJ (K), Psikiater Konsultan Usia Lanjut RSUPN Cipto Mangunkusumo, demensia terutama disebabkan oleh sel-sel otak yang mati atau mengecil, sehingga otak tidak dapat berfungsi normal. Penyebab matinya sel tersebut bisa bermacam-macam. Jenis demensia vascular (kematian sel karena otak kekurangan oksigen) misalnya, bisa disebabkan oleh stroke. Namun, untuk demensia jenis Alzheimer penyebabnya masih belum ditemukan. Sejauh ini, hanya diketahui adanya ketidakseimbangan protein yang menyebabkan sel otak berhenti bekerja.
Demensia menimbulkan beban kesehatan yang cukup tinggi bagi penderita dan keluarganya. Pasalnya hingga saat ini penderita harus bergantung pada obat sepanjang hidupnya, karena penyakit ini belum bisa disembuhkan.
Selain itu, pengetahuan masayarakat yang masih minim pada penyakit demensia ini menyebabkan tak terdeteksinya penyakit sejak dini. Mitos seputar demensia pun beredar luas di masyarakat. Untuk sahabat femina, Dr. Martina mengidentifikasi 12 hal berkaitan dengan demensia yang perlu dicermati kebenarannya.
Bicara tentang Alzheimer tak bisa lepas dari demensia. Menurut Dr. dr. Martina W.S. Nasrun SpKJ (K), Psikiater Konsultan Usia Lanjut RSUPN Cipto Mangunkusumo, demensia terutama disebabkan oleh sel-sel otak yang mati atau mengecil, sehingga otak tidak dapat berfungsi normal. Penyebab matinya sel tersebut bisa bermacam-macam. Jenis demensia vascular (kematian sel karena otak kekurangan oksigen) misalnya, bisa disebabkan oleh stroke. Namun, untuk demensia jenis Alzheimer penyebabnya masih belum ditemukan. Sejauh ini, hanya diketahui adanya ketidakseimbangan protein yang menyebabkan sel otak berhenti bekerja.
Demensia menimbulkan beban kesehatan yang cukup tinggi bagi penderita dan keluarganya. Pasalnya hingga saat ini penderita harus bergantung pada obat sepanjang hidupnya, karena penyakit ini belum bisa disembuhkan.
Selain itu, pengetahuan masayarakat yang masih minim pada penyakit demensia ini menyebabkan tak terdeteksinya penyakit sejak dini. Mitos seputar demensia pun beredar luas di masyarakat. Untuk sahabat femina, Dr. Martina mengidentifikasi 12 hal berkaitan dengan demensia yang perlu dicermati kebenarannya.
Temukan ke 12 mitos tersebut di halaman berikut.

Dok: Pexels
1/ Mitos : Demensia hanya dialami oleh orang lanjut usia.
Fakta: Meski jarang, kasus demensia dapat juga terjadi di usia muda. Sementara, di atas usia 65 tahun, ada 1 orang dengan demensia (ODD) di antara 20 orang. Dan ada 1 di antara 6 orang di atas 80 tahun adalah ODD. Penyakit ini bisa menyerang ketika orang berumur 30-an sampai 50-an. Ketika seseorang didiagmosis menderita Alzheimer sebelum ia berusia 65 tahun, ini disebut Young Onset Dementia (YOD). Biasanya orang yang mengalami YOD ini memiliki risiko faktor genetik yang kuat. Namun persentase kasus ini pada orang muda sangat kecil, hanya di bawah 1% dari jumlah otrang yang mengalaminya.
2/ Mitos : Gangguan daya ingat adalah satu-satunya gejala demensia.
Fakta : Kehilangan memori hanya salah satu gejala awal yang umum terjadi. Namun, tiap orang adalah unik. Tidak pernah ada 2 ODD yang mengalami gejala yang persis sama.
3/ Mitos : Demensia adalah bagian normal dari proses penuaan.
Fakta: Tiap orang cenderung menjadi pelupa saat menua, namun itu tidak berarti mereka mengalami demensia. Demensia disebabkan oleh penyakit di otak, bukan bagian normal penuaan.
4/ Mitos : Demensia tidak dapat disembuhkan.
Fakta : Saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan penyakit Alzheimer maupun penyebab demensia lainnya. Sejauh ini, para peneliti mengembangkan lebih banyak lagi obat yang dapat memperlambat efek keparahan akibat demensia.
5/ Mitos : Ada berbagai macam jenis demensia.
Fakta : Ada berbagai macam jenis demensia, namun yang terbanyak adalah demensia Alzheimer dan demensia vascular.
6/ Mitos : Demensia lebih banyak dijumpai di negara kaya dan maju.
Fakta : Kasus demensia ditemukan di seluruh dunia. Lima puluh delapan persen ODD berada di negara berkembang. Ini berhubungan dengan kecepatan laju populasi usia lanjut di negara tersebut. Indonesia adalah negara dengan populasi usia lanjut tercepat (414 %) dalam kurun waktu 1990-2020.
2/ Mitos : Gangguan daya ingat adalah satu-satunya gejala demensia.
Fakta : Kehilangan memori hanya salah satu gejala awal yang umum terjadi. Namun, tiap orang adalah unik. Tidak pernah ada 2 ODD yang mengalami gejala yang persis sama.
3/ Mitos : Demensia adalah bagian normal dari proses penuaan.
Fakta: Tiap orang cenderung menjadi pelupa saat menua, namun itu tidak berarti mereka mengalami demensia. Demensia disebabkan oleh penyakit di otak, bukan bagian normal penuaan.
4/ Mitos : Demensia tidak dapat disembuhkan.
Fakta : Saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan penyakit Alzheimer maupun penyebab demensia lainnya. Sejauh ini, para peneliti mengembangkan lebih banyak lagi obat yang dapat memperlambat efek keparahan akibat demensia.
5/ Mitos : Ada berbagai macam jenis demensia.
Fakta : Ada berbagai macam jenis demensia, namun yang terbanyak adalah demensia Alzheimer dan demensia vascular.
6/ Mitos : Demensia lebih banyak dijumpai di negara kaya dan maju.
Fakta : Kasus demensia ditemukan di seluruh dunia. Lima puluh delapan persen ODD berada di negara berkembang. Ini berhubungan dengan kecepatan laju populasi usia lanjut di negara tersebut. Indonesia adalah negara dengan populasi usia lanjut tercepat (414 %) dalam kurun waktu 1990-2020.
Baca mitos lainnya di halaman berikut.

Dok: Pexels
7/ Mitos : Setelah didiagnosis demensia, tidak ada lagi aktivitas yang dapat dilakukan.
Fakta : Meski demensia tidak dapat disembuhkan, ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk membantu ODD menjalani kehidupannya. Obat antidemensia kelompok penghambat kolinesterase dapat membantu meringankan gejala pelupa. Sementara depresi, kecemasan, dan agitasi (gelisah hebat tanpa sebab yang jelas), dapat dikelola sehingga masih ada aktivitas yang bisa dilakukan.
8/ Mitos : Orang dengan demensia sering tidak diperiksakan ke dokter karena keluarga merasa malu.
Fakta: Stigma negatif ini disebabkan kurangnya pemahaman dan pengetahuan mengenai demensia. Penting untuk dipahami bahwa ODD tetaplah manusia yang bernilai dan bermartabat. Asosiasi Alzheimer di seluruh dunia sedang bekerja keras untuk melenyapkan stigma terhadap demensia melalui program peningkatan kesadaran.
9/ Mitos : Tidak ada tempat bertanya maupun meminta bantuan untuk masalah demensia
Fakta: Jangan ragu bertanya. Banyak organisasi, baik profesional maupun relawan yang bersedia membantu Anda. Asosiasi Alzheimer Indonesia (AlzI) menawarkan bantuan dan dukungan kepada ODD maupun keluarganya. Anda dapat mengakses bantuan telepon, social media, dan berbagai program, seperti pertemuan rutin keluarga ODD, rekreasi, stimulasi kognitif, dan daycare. Ada juga Forum Komunikasi Keluarga dengan penderita demensia tempat Anda berbagi.
10/ Mitos : Jika salah satu dari orang tua saya menderita demensia, maka saya juga akan mengalami demensia.
Fakta: Jika orang tua Anda mengalami demensia di usia lanjut (lebih dari 60 tahun), maka kemungkinan Anda akan mengidap demensia hanya sedikit lebih besar dari orang yang tidak mempunyai keluarga dengan demensia. Sementara, pada demensia yang terjadi pada usia di bawah 60 tahun, memang terdapat sedikit kasus adanya hubungan langsung antara onset penyakit dengan gen bermutasi yang diwariskan. Dalam hal ini, kemungkinan anggota keluarga (kakak, adik dan anak) akan mendapat demensia adalah 1 di antara 2 (50%).
11/ Mitos : Penyakit Alzheimer berbeda dengan demensia.
Fakta : Tidak ada bedanya. Penyakit Alzheimer merupakan jenis demensia yang paling sering terjadi.
12/ Mitos : Diagnosis demensia hanya dapat ditegakkan dengan tes khusus.
Fakta: Tidak ada tes khusus untuk demensia. Diagnosis demensia hanya dibuat oleh dokter melalui anamnesis (riwayat penyakit / cerita), baik dari orang yang bersangkutan maupun dari kerabat atau teman dekatnya. Riwayat penyakit ini dilengkapi dengan pemeriksaan fisik dan mental, tes daya ingat, pemeriksaan darah, dan brain scan, jika diperlukan. Umumnya, semua pemeriksaan ini dapat menjadi dasar untuk membuat diagnosis demensia. (f)
8/ Mitos : Orang dengan demensia sering tidak diperiksakan ke dokter karena keluarga merasa malu.
Fakta: Stigma negatif ini disebabkan kurangnya pemahaman dan pengetahuan mengenai demensia. Penting untuk dipahami bahwa ODD tetaplah manusia yang bernilai dan bermartabat. Asosiasi Alzheimer di seluruh dunia sedang bekerja keras untuk melenyapkan stigma terhadap demensia melalui program peningkatan kesadaran.
9/ Mitos : Tidak ada tempat bertanya maupun meminta bantuan untuk masalah demensia
Fakta: Jangan ragu bertanya. Banyak organisasi, baik profesional maupun relawan yang bersedia membantu Anda. Asosiasi Alzheimer Indonesia (AlzI) menawarkan bantuan dan dukungan kepada ODD maupun keluarganya. Anda dapat mengakses bantuan telepon, social media, dan berbagai program, seperti pertemuan rutin keluarga ODD, rekreasi, stimulasi kognitif, dan daycare. Ada juga Forum Komunikasi Keluarga dengan penderita demensia tempat Anda berbagi.
10/ Mitos : Jika salah satu dari orang tua saya menderita demensia, maka saya juga akan mengalami demensia.
Fakta: Jika orang tua Anda mengalami demensia di usia lanjut (lebih dari 60 tahun), maka kemungkinan Anda akan mengidap demensia hanya sedikit lebih besar dari orang yang tidak mempunyai keluarga dengan demensia. Sementara, pada demensia yang terjadi pada usia di bawah 60 tahun, memang terdapat sedikit kasus adanya hubungan langsung antara onset penyakit dengan gen bermutasi yang diwariskan. Dalam hal ini, kemungkinan anggota keluarga (kakak, adik dan anak) akan mendapat demensia adalah 1 di antara 2 (50%).
11/ Mitos : Penyakit Alzheimer berbeda dengan demensia.
Fakta : Tidak ada bedanya. Penyakit Alzheimer merupakan jenis demensia yang paling sering terjadi.
12/ Mitos : Diagnosis demensia hanya dapat ditegakkan dengan tes khusus.
Fakta: Tidak ada tes khusus untuk demensia. Diagnosis demensia hanya dibuat oleh dokter melalui anamnesis (riwayat penyakit / cerita), baik dari orang yang bersangkutan maupun dari kerabat atau teman dekatnya. Riwayat penyakit ini dilengkapi dengan pemeriksaan fisik dan mental, tes daya ingat, pemeriksaan darah, dan brain scan, jika diperlukan. Umumnya, semua pemeriksaan ini dapat menjadi dasar untuk membuat diagnosis demensia. (f)
Baca Juga:
Setiap 3 Detik, 1 Orang di Dunia Mengalami Demensia
Cara CERDIK Cegah Alzheimer
Klinik yang Memahami Kebutuhan Lansia Makin Dibutuhkan