Foto: Dok. Rajasa Pramesywara
1. 16 Seniman Bersatu di ROH Project
Rasa kosong dan jarak itu kian terasa di tengah situasi pandemi. Dorongan sosial untuk saling melengkapi menjadi penggerak 16 seniman untuk menggelar pameran bersamaan. Mereka adalah Aditya Novali, Arin Dwihartanto Sunaryo, Kei Imazu, Syaiful Aulia Garibaldi, Tromarama, Bagus Pandega, Davy Linggar, Faisal Habibi, Luqi Lukman, Maruto, Syagini Ratna Wulan, Uji Handoko, Mei Homma, Mella Jaarsma, Nadira Julia, dan Nadya Jiwa.
Berlokasi di ROH Project Jalan Surabaya no 66 Jakarta, pameran ini digelar di dua bagian rumah baru ROH yang menggabungkan nuansa white cube modern pada bagian depan dan sisa konstruksi awal rumah tahun 50an dengan aksen ubin bergaya jengki dan langit-langit tinggi.
Karya Tromarama dengan deretan suling yang berbunyi otomatis setiap ada netizen yang menggunakan tagar ‘Nation’ menyita perhatian di muka lokasi pameran. Deretan 60 karya Aditya Novali yang memenuhi tembok berwarna hijau pun patut diapresiasi, pendekatan latar belakang profesinya sebagai arsitek dengan menampilkan keramik yang dikemas berlapis akrilik bercat.
Seniman asal Jepang Kei Imazu memamerkan rangkaian lukisan dan instalasi berukuran masif pada bagian belakang pameran. Sementara Davy Linggar menampilkan karya dalam bentuk potongan-potongan kertas tipis berbentuk tangan yang dihiasi garis tepi pulpen membentuk penegas yang kontras.
Dari semuanya, karya Bagus Pandega yang menggunakan pendekatan sains dengan instalasi penghasil oksigen menjadi salah satu karya yang mencengangkan. Menggunakan tanaman hidup, instalasi penghasil oksigen ini juga disambung dengan penghasil listrik yang mampu menghidupkan lampu-lampu membuat karyanya seakan hidup dan bernapas.
Secara garis besar, pameran yang mengangkat tema kebersamaan, keterhubungan antar manusia tampak nyata pada presentasi para seniman yang bergabung menjadi satu, saling menyempurnakan, saling mengisi dan menceritakan sudut pandang masing-masing akan kehidupan. Sebuah pameran kolektif yang manusiawi dan penuh cerita di baliknya.
Lihat laman selanjutnya untuk membaca lebih lanjut
Foto: Dok. Rajasa Pramesywara
2. Art Jakarta di Tengah Hutan Kota
Pergelaran karya seni terbesar di Jakarta, Art Jakarta kembali digelar dengan sedikit penyesuaian. Bila biasanya ajang Art Jakarta digelar dalam exhibition hall ataupun ball room hotel, pandemi tentu berpengaruh besar terhadap keputusan panitia yang akhirnya menyelenggarakan Art Jakarta di tengah hutan kota. Bertajuk Art Jakarta Gardens 2022, tahun ini penyelenggaraan acara digelar di area restoran Hutan Kota Plataran kawasan Gelora Bung Karno.Beberapa karya seni patung ataupun instalasi dipajang pada area taman restoran, sebut saja patung ‘An Ardent Yearning’ karya Roby Dwi Antono, seniman kontemporer Yogyakarta yang kian dilirik pecinta seni kontemporer internasional. Patung karakter rekaan Roby Dwi yang memegang mainan Godzilla ini dihadirkan oleh Museum of Toys dan dipajang tampak sentral diantara kedua tenda para galeri seni. Ada sesuatu yang unik dan menarik dari tiap karya Roby, penuh gelitik sisi melankolis para pecinta seni yang melihatnya.
Karya Jompet Kuswidananto yang dinaungi ISA Art pun dihadirkan sarat makna. Instalasi gothic sarat makna dan romantisme akan kerja keras yang menghasilkan keindahan, dihadirkan dramatis dalam bentuk chandelier antik yang jatuh menimpa piano.
Disamping patung dan seni rupa yang dihadirkan pada area taman, ada dua tenda yang menaungi 20 galeri seni baik dari dalam dan luar negeri. Nama-nama galeri seni kontemporer yang kerap diserbu pecinta seni milenial pun hadir dengan seniman-seniman kebanggaan mereka. Tak hanya seni fisik, karya-karya NFT yang dikurasi Evan Tan dan dinaungi aplikasi blockchain Solana juga dihadirkan sebagai opsi terkini dari kegiatan pegiat seni.
Museum of Toys membawa lukisan serta seni rupa karya Eko Nugroho dan Arkiv Vilmansa yang wajib dilirik saat berkunjung. Kohesi Initiative menghadirkan karya Agugn, Abenk Alter, Addy Debil serta beberapa seniman muda dengan karya yang kian dicari kolektor muda.
Artsociates turut menampilkan karya Mujahidin Nurrahman yang sarat kritik sosial, bentuk senapan disusun membentuk pola berulang menciptakan bentuk geometris berulang menjadi bentuk kepala kelinci imut. Uniknya motif itu dibuat dengan membuat potongan satu demi satu di atas kertas tipis
Masih dari Artsociates, kerja keras dan konsep kuat dari Eddy Susanto patut diapresiasi. Karya seni memang bisa bercerita, kira-kira itulah deskripsi paling tepat untuk lukisan Eddy Susanto yang dibuat dari tulisan tangan satu demi satu membentuk gambar dan penceritaannya tentang sejarah dan politik budaya pada masa lampau.
Sementara Rachel Gallery menghadirkan patung karakter porselen ‘Aruna’ ciptaan Putu Arya. Aruna mengenakan busana gaun yang dibuat khusus Denny Wirawan. Terinspirasi dari sosok perempuan Gen-Z yang mulai mendulang prestasi pada berbagai bidang yang dipilih, Denny Wirawan merancang 10 tampilan busana sesuai dengan profesi tiap boneka Aruna.
Ada pula presentasi seniman ternama Internasional. Hedonist Gallery dengan berani memajang piringan perak karya Pablo Picasso, ‘Visage en Forme d’Horloge’. Karya seni cetak ciptaan Picasso tahun 1955-56 ini menjadi salah satu karya seni eksklusif di Art Jakarta 2022.
Lihat laman selanjutnya untuk membaca lebih lanjut

Foto: Dok. Galeri Nasional
3. Karya 10 Perupa Perempuan di Galeri Nasional
Di bulan April, Galeri Nasional Indonesia kembali menggelar pameran seniman perempuan. Sebanyak 32 karya seni dari 10 seniman yang ditampilkan dikuratori oleh tiga perempuan kurator yang dikenal di kalangan pecinta seni: Carla Bianpoen, Inda Citraninda Noerhadi, dan Citra Smara Dewi.Pameran bertajuk ‘Indonesian Women Artist #3: Infusions Into Contemporary Art’ ini menampilkan karya seni lukis, patung, instalasi, new media, dan performance art dengan deretan seniman senior. Sebagian dari mereka sudah berusia di atas 50 tahun: Arahmaiani, Bibiana Lee, Dolorosa Sinaga, Dyan Anggraini, Indah Arsyad, Melati Suryodarmo, Mella Jaarsma, Nunung W. S., Sri Astari Rasjid, dan Titarubi. Hebatnya, karya para seniman senior ini terus menembus batas kreativitas mereka.
Kesepuluh seniman yang ditampilkan bukan hanya sekadar unjuk kebolehan seniman perempuan, namun juga unjuk kualitas seniman tanah air yang berjaya di kancah internasional. Pameran gratis untuk umum ini digelar sejak 30 Maret hingga 24 April 2022 di Gedung A dan B Galeri Nasional Indonesia. Untuk melihatnya, Anda cukup melakukan registrasi pada laman situs resmi galnas-id.
Lihat laman selanjutnya untuk membaca lebih lanjut

Foto: Dok. Museum MACAN
4. Ajak Buah Hati Mengenal Seni di Museum MACAN
Mengenalkan seni sejak dini memang menjadi salah satu tujuan Museum MACAN. Setelah sebelumnya kembali membuka instalasi seni Infinity Room karya seniman termashyur Yayoi Kusama, kini MACAN bersama UOB menghadirkan Ruang Seni Anak bertajuk Theresia Agustina Sitompul: Kembara Biru.Dikenal dengan kemampuan eksplorasi seni grafis, gambar, dan instalasi, Theresia Agustina Sitompul menyerap hal-hal yang terjadi di rumahnya selama pembatasan sosial diterapkan. Rumah menjadi pusat kehidupan yang mencakup tempat sosialisasi, kantor, dan bersekolah. Kemampuan seorang ibu, pendidik, dan perupa melebur menjadi satu, membaurkan cetak biru tiga sisi Theresia menjadi satu di saat dan tempat yang sama.
Ide dari Ruang Seni Anak ini sederhana, Theresia mengajak Anda dan buah hati untuk memanfaatkan kertas karbon sebagai bahan artistik utama. Memanfaatkan benda kecil seperti kancing dan perban untuk membuat benda yang dicetak menggunakan kertas karbon pada kertas putih yang tersedia.
Ruang seni yang dihiasi ragam kertas berbentuk awan ini melambangkan imajinasi anak yang seakan tak terbatas, diharapkan imajinasi dan kreativitas seni anak dapat tertuang dengan baik pada ruang seni ini.
Tak menutup kesempatan hanya untuk anak yang beruntung untuk hadir langsung, MACAN juga melibatkan 12 sekolah dari 10 provinsi di Indonesia yang akan menerima materi dan sejumlah alat untuk mengikuti pelatihan bersama untuk nantinya dapat dipamerkan karya anak di museum MACAN ataupun sekolah mereka masing-masing. Diharapkan, karya seni manual seperti ini dapat sejenak mengistirahatkan para anak dari layar gadget yang nampak kian akrab selama pandemi berlangsung.
Pameran Theresia Agustina Sitompul: Kembara Biru dibuka untuk umum dari 9 April 2022 hingga 30 Oktober 2022. Anda juga dapat membawa buah hati untuk melihat pameran Tromarama: The Lost Jungle yang merupakan pameran digital imersif untuk keluarga yang berlangsung hingga 15 Mei 2022.
Lihat laman selanjutnya untuk membaca lebih lanjut

Foto: Dok. Ziqo Albaiquni
5. Seni Timbul Tenggelam Zico Albaiquni
Ashta dikenal sebagai tempat gaul terbaru milenial dan Gen-Z di kawasan Jakarta Selatan. Mall yang kerap menyuguhkan ragam pergelaran seni kontemporer ini kini kian melengkapi pesonanya dengan Spac8, sebuah area multifungsi yang cocok untuk pameran dan kegiatan seni.Sebagai pembuka, Yavuz Gallery menghadirkan sosok seniman asal Bandung, Zico Albaiquni untuk menggelar pameran tunggalnya bertajuk Tilem: Disruptive Liminalities yang digelar secara gratis hingga 8 Mei 2022 nanti.
Pameran ini banyak menunjukkan permainan Zico terhadap warna-warna mencolok penuh kontras yang dinamis. Karyanya pun menggabungkan potongan lukisan atau foto karya yang sudah ada dengan dokumentasi aksi seni pertunjukan jeprut dari Bandung.
Jeprut sendiri merupakan Bahasa Sunda untuk aksi pertunjukan seni yang dilakukan diluar konteks norma akan seni pertunjukan itu sendiri, seperti pertunjukan gerilya yang tak mengenal batasan awal-akhir ataupun aturan bagaimana seyogyanya sebuah karya seni dilakukan.
Tak heran bila akhirnya Zico menggabungkan potongan adegan foto aksi Jeprut rekan-rekan senimannya dengan lukisan yang sudah ada. Meleburkan batasan akan 1 karya seni dan lainnya, membuat dua karya saling tindih, masing-masing timbul dan tenggelam pada tiap telaah mata yang mencernanya.
Aksi Jeprut yang pada esensinya merupakan seni pemberontakan dan kritik sosial baik terhadap pemerintahan ataupun terhadap dunia seni itu sendiri, membawa Zico mengangkat lukisan-lukisan era kolonial dan glorifikasi penjajah eropa, baik secara politis da dalam dunia seni. Sarat akan kritik yang disampaikan dengan cara yang dinamis dan unik. (f)
Baca Juga
Mengeksplorasi Kekayaan Kearifan Lokal Lewat Indonesia Contemporary Art & Design
Indonesia International Book Fair (IIBF) 2020, Resmi Digelar Secara Online
ArtJakarta 2019: Pesta Kritik Sosial dan Humaniora Seniman Asia