
ilustrasi: tania.
Apakah Anda termasuk orang yang sudah ubanan sejak usia muda? Usia muda yang saya maksud adalah kurang dari dua puluh tahun. Jika ya, apakah Anda berusaha segala cara untuk menutupinya atau membiarkannya saja?
Sebagian besar orang ubanan karena usia, sebagian kecil karena faktor genetis, stres, gizi buruk, ataupun riwayat penyakit berat. Saya termasuk satu dari sedikit orang yang sudah ubanan sejak usia masih belasan tahun. Itu terjadi sepertinya karena faktor genetis. Jadi, bayangkan saya sudah direpotkan uban sejak masih SMP!
Awal muncul, uban kepagian itu hanya satu-dua helai. Tambah umur, uban makin subur. Yang membuat sebal, uban saya tumbuh hanya beberapa millimeter dari pangkal rambut. Saya jarang sekali menemukan satu helai rambut putih semua. Kalau bisa memilih, saya pilih sedikit helai tapi panjang daripada banyak helai tapi pendek-pendek, kan jadi seperti di-highlight, ha… ha... ha….
Saya tak punya salon langganan. Jadi, tiap kali ada keperluan ke salon, selalu pindah-pindah tempat, antara salon di mal, ruko, dan salon rumahan. Komentar menyebalkan selalu keluar tiap kali gunting rambut.
“Eh, ada uban, cabut, ya. Paling enggak tahan, nih, kalo liat uban.”
“Iya,” jawab saya sambil tersenyum tipis, padahal dalam hati senyum sewot.
“Masih muda, kok, udah ubanan?”
“Rambutnya enggak kuat kena bahan kimia kali? Pernah di-smoothing atau dikeriting, ya?”
“Mungkin salah pake sampo?”
Saya sudah bosan diberondong pertanyaan-pertanyaan seperti itu dan uban ini rupanya jadi bahan obrolan yang disukai di tiap salon. Percakapan tentang uban selalu dengan intonasi seakan-akan uban adalah penyakit segolongan panu, kadas, atau kurap. Huh… menyebalkan.
Dulu, di umur belasan dan awal dua puluhan, solusi uban adalah dengan mencabutinya satu per satu. Sekarang di umur tiga puluhan, hal itu tidak mungkin lagi. Sebagian besar uban tumbuh di bagian atas kepala. Kalau dicabuti, wah… bisa-bisa botak setempat.
Pada salah satu artikel yang saya baca, uban cepat muncul mungkin karena kurang zat besi. Memang, sih, dari dulu saya punya kecenderungan darah rendah. Saya pun mengonsumsi penambah darah juga dengan harapan agak menahan pertumbuhan uban.
Hasilnya? Tak ada pengaruhnya sama sekali, tuh….
Kemudian saya mencoba solusi: mencari resep penghitam rambut alami. Kemiri disangrai hingga hitam, digiling sehalus mungkin, kemudian diolesi ke rambut, didiamkan 20-30 menit, lalu keramas seperti biasa untuk menghilangkan minyak kemirinya.
Hasilnya? Rasanya tak ada pengaruhnya juga.
Tadinya saya berharap dapat menemukan cara apa saja selain mengecat rambut, karena memakai bahan kimia khawatir hanya menambah masalah. Tapi, karena tidak menemukan solusi jitu, dan saya enggak pede keluar rumah dengan uban yang tampak jelas, akhirnya saya menyerah.
Seperti dugaan, uban tertutupi cat, tapi timbul masalah baru, rambut menjadi sangat kering.
Mencoba berbagai merek conditioner tidak mendapat hasil yang memuaskan. Memakai vitamin pun, rambut tidak menjadi lembap sesuai harapan. Pada suatu saat saya bahkan pernah memakai maskara untuk menutupi uban yang baru nongol dikit dari pangkal rambut. Semuanya demi menghindari keseringan mengecat rambut.
Kalau dipikir-pikir, saya mau enggak, ya, menukar rambut tebal dan subur milik saya, dengan rambut tidak ubanan tapi tipis? Rasanya enggak mau juga.
Dasar manusia, maunya yang serba enak saja, ‘kan. Satu pertanyaan pernah melintas di kepala, sampai kapan, ya, saya akan terus ngecat rambut? Mungkin sampai saya bisa menerima diri sendiri bahwa saya memang sudah ubanan, ha… ha... ha….
Sebagian besar orang ubanan karena usia, sebagian kecil karena faktor genetis, stres, gizi buruk, ataupun riwayat penyakit berat. Saya termasuk satu dari sedikit orang yang sudah ubanan sejak usia masih belasan tahun. Itu terjadi sepertinya karena faktor genetis. Jadi, bayangkan saya sudah direpotkan uban sejak masih SMP!
Awal muncul, uban kepagian itu hanya satu-dua helai. Tambah umur, uban makin subur. Yang membuat sebal, uban saya tumbuh hanya beberapa millimeter dari pangkal rambut. Saya jarang sekali menemukan satu helai rambut putih semua. Kalau bisa memilih, saya pilih sedikit helai tapi panjang daripada banyak helai tapi pendek-pendek, kan jadi seperti di-highlight, ha… ha... ha….
Saya tak punya salon langganan. Jadi, tiap kali ada keperluan ke salon, selalu pindah-pindah tempat, antara salon di mal, ruko, dan salon rumahan. Komentar menyebalkan selalu keluar tiap kali gunting rambut.
“Eh, ada uban, cabut, ya. Paling enggak tahan, nih, kalo liat uban.”
“Iya,” jawab saya sambil tersenyum tipis, padahal dalam hati senyum sewot.
“Masih muda, kok, udah ubanan?”
“Rambutnya enggak kuat kena bahan kimia kali? Pernah di-smoothing atau dikeriting, ya?”
“Mungkin salah pake sampo?”
Saya sudah bosan diberondong pertanyaan-pertanyaan seperti itu dan uban ini rupanya jadi bahan obrolan yang disukai di tiap salon. Percakapan tentang uban selalu dengan intonasi seakan-akan uban adalah penyakit segolongan panu, kadas, atau kurap. Huh… menyebalkan.
Dulu, di umur belasan dan awal dua puluhan, solusi uban adalah dengan mencabutinya satu per satu. Sekarang di umur tiga puluhan, hal itu tidak mungkin lagi. Sebagian besar uban tumbuh di bagian atas kepala. Kalau dicabuti, wah… bisa-bisa botak setempat.
Pada salah satu artikel yang saya baca, uban cepat muncul mungkin karena kurang zat besi. Memang, sih, dari dulu saya punya kecenderungan darah rendah. Saya pun mengonsumsi penambah darah juga dengan harapan agak menahan pertumbuhan uban.
Hasilnya? Tak ada pengaruhnya sama sekali, tuh….
Kemudian saya mencoba solusi: mencari resep penghitam rambut alami. Kemiri disangrai hingga hitam, digiling sehalus mungkin, kemudian diolesi ke rambut, didiamkan 20-30 menit, lalu keramas seperti biasa untuk menghilangkan minyak kemirinya.
Hasilnya? Rasanya tak ada pengaruhnya juga.
Tadinya saya berharap dapat menemukan cara apa saja selain mengecat rambut, karena memakai bahan kimia khawatir hanya menambah masalah. Tapi, karena tidak menemukan solusi jitu, dan saya enggak pede keluar rumah dengan uban yang tampak jelas, akhirnya saya menyerah.
Seperti dugaan, uban tertutupi cat, tapi timbul masalah baru, rambut menjadi sangat kering.
Mencoba berbagai merek conditioner tidak mendapat hasil yang memuaskan. Memakai vitamin pun, rambut tidak menjadi lembap sesuai harapan. Pada suatu saat saya bahkan pernah memakai maskara untuk menutupi uban yang baru nongol dikit dari pangkal rambut. Semuanya demi menghindari keseringan mengecat rambut.
Kalau dipikir-pikir, saya mau enggak, ya, menukar rambut tebal dan subur milik saya, dengan rambut tidak ubanan tapi tipis? Rasanya enggak mau juga.
Dasar manusia, maunya yang serba enak saja, ‘kan. Satu pertanyaan pernah melintas di kepala, sampai kapan, ya, saya akan terus ngecat rambut? Mungkin sampai saya bisa menerima diri sendiri bahwa saya memang sudah ubanan, ha… ha... ha….
***
Yokebed Syela – Bekasi
Kirimkan Gado-Gado Anda maksimal tulisan sepanjang tiga halaman folio, ketik 2 spasi.
Nama tokoh dan tempat kejadian boleh fiktif.
Kirim melalui e-mail: kontak@femina.co.id atau pos, tuliskan di kiri atas amplop: Gado-Gado
Yokebed Syela – Bekasi
Kirimkan Gado-Gado Anda maksimal tulisan sepanjang tiga halaman folio, ketik 2 spasi.
Nama tokoh dan tempat kejadian boleh fiktif.
Kirim melalui e-mail: kontak@femina.co.id atau pos, tuliskan di kiri atas amplop: Gado-Gado