Dok: Shutterstock
Di usia 40 tahun saya belum juga menikah. Pertanyaan, “Apakah memang tak ada jodoh saya di dunia?” sering saya gumankan sendiri. Rasa sedih bila melihat kenyataan teman saya yang sudah punya dua - tiga anak dan sudah besar-besar. Memang, sih, tiap kita menjalani hidup dan mempunyai takdir sendiri-sendiri. Di antara teman yang saya anggap beruntung itu, ada juga yang telah menjadi janda, yang belum punya anak, dan sebagainya.
Memang, kita tidak hidup untuk menyenangkan orang lain, tapi tetap saja membuat saya nelangsa. Budaya di masyarakat kita yang memberi label perawan tua pada wanita usia di atas 35 tahun yang belum menikah rasanya begitu melekat. Dan, bukannya saya tak pernah mencoba, saya juga pernah berpacaran yang serius beberapa kali, tapi tetap saja belum berhasil. Tidak ada kecocokan, tidak sreg dengan yang dikenalkan, selalu ada. Mungkin itulah yang disebut belum jodoh. Blue print dari yang Mahakuasa tampaknya memang belum dicetak untuk saya.
Suatu hari, setelah ngobrol dengan teman, tercetus ide mencoba online dating. Awalnya saya merasa aneh dan takut, karena tahu banyak scammer. Tapi kan, kita perlu lihat dari sisi positif juga. Toh, di antara banyaknya para scammer, pasti ada orang-orang baik, yang serius niatnya mencari pasangan hidup lewat online dating. Buktinya, banyak berita yang mengabarkan mendapat jodoh dari online dating, baik itu ketemu pasangan senegara maupun asing. So, Why not?
Dimulailah dengan membuka online dating internasional. Sekalian English practice, pikir saya. Isi data, posting foto, bla… bla… bla… dan tara… saya sudah mulai ber-online dating, bermodal bahasa Inggris ‘little-little I can. Saya mulai Like, DM atau sekadar membaca banyak profile summary. Begitu sebaliknya, saya juga mendapat Like dan DM. Kalau sreg, saya akan menjawabnya dan itu berlaku pada mereka juga terhadap saya. Terkadang DM dari saya pun tidak semuanya menjawab, ha… ha… ha…. Ternyata, tidak semenakutkan yang saya kira.
Saya juga membuka online dating yang rata-rata diisi oleh pria lokal, bule, Timur Tengah yang tinggal di Indonesia. Saya bertubuh mungil, dengan tinggi sekitar 153 cm. Gak kebayang, deh, kalau dapat jodoh bule. Ha… ha… ha… belum-belum sudah minder. Saya juga memilih batas usia yang dimulai dari usia 38 tahun, biar sebaya.
Tak terasa, online dating sudah saya jalani beberapa bulan, dan saya sudah punya teman dari Turki, Italia, dan Belanda. Beberapa dari mereka sudah pernah ke Indonesia. Mereka sangat tahu, Indonesia adalah negara dengan pemeluk agama Islam terbanyak di dunia, keramahan masyarakatnya, keindahan alamnya, dan… ’teroris’ yang tentu saja saya akan berusaha sekuat tenaga menjelaskan stigma terakhir itu tidak benar adanya.
Tak jarang saya menemukan pria-pria yang hanya bicara seks. Pernah juga ketemu scammer, minta dibelikan suatu barang dengan alasan barangnya hanya ada di Indonesia. Bila sudah sampai batas itu, tentu saja saya langsung blok. Untuk pria lokal, banyak dari mereka yang iseng ngajak kopi darat, tapi nyatanya sudah punya istri!
Biasanya chat-nya seperti ini:
Sudah berapa wanita yang diajak kopi darat? Ada kelanjutan?
Dan jawaban mereka, “Saya sudah punya istri.”
“Loh, sudah punya istri, kok, masih ngajak wanita lain ketemuan?
“Ini kan cuma iseng.”
“Iseng aja? Terus kalo kepergok istri gimana?
“Ya…. Jangan sampai kepergok, dong.”
Suatu malam saya melihat profil seorang pria berwajah Arab. Rupanya, dia pun melihat profil saya, kemudian men-DM saya.
“Hi…,” sapanya.
Awalnya saya malas menjawab DM dari pria Arab. Entah kenapa. Setelah beberapa lama, akhirnya saya menjawab juga. “Hi… kenapa dari semua fotomu, saya tidak melihat senyummu?” kata saya, sekenanya.
“Arabic right?” tanya saya.
“No, Pakistan. Surabaya,“ jawabnya.
“Apa yang kamu lakukan di sana? Bisnis, kerja, atau turis saja?”.
“Bisnis,“ jawabnya lagi.
Demikianlah, percakapan kami makin jauh mengalir. Dari ceritanya, dia seorang pedagang batu akik, yang dibelinya dari Bangkok, Cina, Pakistan, juga Indonesia. Dia bilang, bisnis itu cukup menjanjikan untuknya. Dia juga bilang, dia pria bercerai tanpa anak. Maksudnya? Ha… ha… ha… cepat sekali percakapan ini menjurus pada hal pribadi. Obrolan pun berlanjut ke WhatsApp.
Besoknya dia meminta saya menemuinya, kebetulan dia ada jadwal ke Jakarta. Wah, tentu saja saya menolaknya. Malu dan merasa terlalu cepat. Saya tidak mau dianggap gampangan. Dia tidak kecewa. Tapi, dua hari kemudian dia mengabarkan sedang dalam perjalanan ke Bangkok. Sekitar lebih dari seminggu kemudian dia mengabarkan lagi, sedang berada di Pakistan. Laporan terus…. Makin hari chatting kami pun jadi makin intens. Tidak terasa tiga bulan berlalu. Dia mengatakan, begitu saya serius, dia pun akan serius, karena dia yakin saya wanita baik . Berbunga-bunga, deh…
Suatu hari, di minggu awal bulan Ramadan, dia mengabarkan akan datang ke Indonesia, untuk berbelanja batu yang sudah dipesannya, sekalian ingin spend time dengan saya. Sebagai bukti keseriusannya, dia men-tag foto dari visa di passport & booking ticket. Saya masih belum benar-benar menganggapnya serius.
Hingga tiba hari H kedatangannya, saya menjemputnya di Bandara Soeta atas permintaannya. Untuk mencegah hal buruk, dan atas saran mbah google, saya mengajak kakak saya untuk menemani. Jantung saya berdegup kencang, nervous, sekalipun sudah sangat sering kami video call. Sebelum benar-benar saling berhadapan, kami ber-video call. Dia memakai kaus dan bercelana jeans biru, wajahnya dihiasi berewok tipis.. Jantung berdegup kencang!
Di luar dugaan, rasa canggung itu ternyata tak ada, ketika kami benar-benar saling berhadapan. Kami bersalaman, dan semuanya mengalir begitu saja. Kami langsung saling bercerita seperti teman lama. Dia banyak membawa oleh-oleh untuk saya.
Setelah berbuka puasa bersama, saya mengantarkannya ke rumah kos yang saya sewakan untuknya. Esoknya, saya kenalkan dia kepada keluarga besar dan dia langsung menyatakan niatnya ingin serius memperistri saya. Selama 12 hari bersama, kami beberapa kali berkumpul dengan keluarga besar. Terkadang kencan berdua yang kami isi dengan acara nonton film, tarawih (karena saat itu Ramadan), atau sekadar ngopi sambil nonton TV bersama. Saya juga mengantarnya beberapa kali berbelanja batu di Rawa Bening, Jatinegara. Dia ternyata sangat pandai menawar. Batu akik cantik yang dihargai Rp8 juta, ditawar hanya menjadi kurang dari Rp4 juta saja. Batu akik kecil yang harganya Rp50.000, ditawar jadi Rp15.000 saja. Hebat!
Sekarang kami sudah menikah. Kami mengadakan pesta kecil dilanjutkan bulan madu singkat ke Bali. Online dating not bad at all. Anda mau coba?
*****
Kirimkan Gado-Gado Anda maksimal tulisan sepanjang tiga halaman folio, ketik 2 spasi.
Nama tokoh dan tempat kejadian boleh fiktif.
Kirim melalui e-mail: kontak@femina.co.id atau
pos, tuliskan di kiri atas amplop: Gado-Gado