ilustrasi: tania.
  
Saya gembira sekali saat akhirnya (setelah lima kali gagal tes) berhasil mendapatkan surat izin mengemudi (SIM) di Australia Barat. Menyetir di Australia tidak serumit menyetir di Indonesia, sebenarnya. Tidak ada ibu-ibu yang kasih tanda ke kanan, tapi belok ke kiri.
 
Tidak ada angkutan umum yang berhentinya, hanya Tuhan yang tahu. Tidak ada penyeberang jalan, yang kalau menyeberang malas menoleh kanan kiri. Di Australia, semuanya tertib dan disiplin. Jalanan juga lengang dan jarang macet, menyenangkan sekali.
 
Batasan kecepatan juga dipatuhi. Meskipun jalanan sepi, ya, tidak lantas di gas pol rem blong! maksimal kecepatan di Australia, 110 kilometer per jam. Namun, meskipun terlihat  menyenangkan dan bebas stres saat berkendara, sebenarnya ada satu hal yang membuat saya sering jantungan saat menyetir di sini.
 
Jumping monkey?” tanya saya kepada salah satu kawan asli Prancis yang berkunjung ke Australia.
 
“Iya, jumping monkey! Itu, lho, binatang yang jadi maskotnya Australia. Binatang dungu!” tegasnya. Maksud si teman adalah kanguru. Menurutnya, kanguru itu binatang paling menyebalkan dan berbahaya! Tentu saja saya menolak pernyataannya. Lah wong binatang lucu, kok, dibilang berbahaya.
 
Sampai suatu saat, saya harus mengiyakan pendapatnya. Sore itu, hujan gerimis. Langit mulai gelap. Karena suami kebanyakan minum wine, saya yang ambil alih kemudi. Perjalanan dari Bunbury menuju rumah kami di Busselton, tidak jauh. Sekitar 90 kilometer, yang bisa ditempuh setengah jam saja. Sambil manggut-manggut mengikuti irama musik, saya menyetir dengan hati riang.
 
Suami dan anak tertidur. Tulisan CAPEL, kota kecil setelah Bunbury, sudah terlihat. Tanda kecepatan berubah, dari 90 kilometer per jam, naik menjadi 110 kilometer per jam. Saya mengikuti petunjuk perubahan kecepatan, dengan melajukan sedan Volvo saya lebih cepat, mendekati 110 kilometer per jam.
 
Di sebelah kiri jalan, tanda gambar binatang kanguru terlihat. Saya mulai memasuki kawasan rawan kanguru. Baru beberapa detik saya melewati tanda itu, saya melihat tiga ekor kanguru berdiri di kiri jalan. Detik pertama, tiga kanguru terlihat. Detik kedua, ketiga, salah satu kanguru melompat tepat di depan mobil saya.
 
BLETAK!!! Kanguru itu tertabrak oleh mobil saya. Saya bingung campur panik. Mobil saya mulai mengeluarkan bunyi-bunyian aneh.
 
 

 
Suasana sudah gelap. Kanguru tergeletak di tengah jalan, mati. Suami menggerutu karena mobil saya rusak parah. Saya menggerutu, memaki si kanguru yang sudah tak bernyawa.
 
Tiba-tiba, ada mobil yang ikut minggir, tak jauh dari mobil saya. Saya melihat, dua wanita turun dari mobil, berjalan ke tengah jalan dan menyeret kanguru itu ke pinggir jalan, agar tidak membahayakan pengendara lainnya. Saya malu. Saking sibuknya memikirkan mobil rusak, saya sampai lupa meminggirkan kanguru ke tepi jalan.
 
“Kamu tidak apa-apa? Ada yang bisa kami bantu?” tanya salah satu wanita itu.
 
“Bisa minta tolong bawa istri saya ke Busselton? Eh, kalian ke Busselton, ‘kan?
 
Istri saya harus mengambil mobil lain karena yang ini rusak,” sahut suami saya cepat. Saya pun menumpang untuk kembali ke rumah. Kanguru ternyata menjadi musuh paling menakutkan bagi pengendara di Australia.

Datang dan kapan melompatnya, benar-benar hanya Tuhan yang tahu. Sudah banyak cerita, pengendara mobil meninggal gara-gara berusaha menghindari kanguru.
 
Bukannya menghindar, si pengendara malah celaka. Ada yang menabrak pohon, ada yang menabrak mobil lain. Tragis....
 
Saking banyaknya kecelakaan gara-gara kanguru, berbagai alat diciptakan untuk menghalau binatang yang konon disebut sangat bodoh itu.
 
Mayoritas pengendara di Australia memasang ‘bull-bar’ di depan mobil mereka. Semacam bemper tambahan untuk menghindari kerusakan berat saat terjadi tumbukan. Tapi, kalau kangurunya melompat dan mengenai samping mobil seperti yang terjadi pada mobil saya? Nah, itu, apes namanya.
 
Bukan hanya kanguru yang sering membuat saya waswas saat sedang berkendara di sini. Sapi, kambing, burung elang, wombat, bebek, juga bisa membuat jantung lepas!
 
Pernah, saat sedang melintasi Hutan Ludlow di Busselton, saya pasang mata, mencari sosok kanguru yang tak terlihat. Eh, bukannya kanguru, malah sapi besar warna cokelat yang muncul! Jantung rasanya jatuh ke kaki! Besar sekali sapi itu! Untung si sapi tidak segesit kanguru. Dan, untung juga, sapi tidak bisa melompat. Bisa remuk jadi rempeyek mobil sedan saya!  (f)
 
***
 
Nila Nurul Hidayati - Busselton, Australia Barat
 
Kirimkan Gado-Gado Anda maksimal tulisan sepanjang tiga halaman folio, ketik 2 spasi.
Nama tokoh dan tempat kejadian boleh fiktif.