Foto: Freepik
 
Kuliah kembali di usia yang tidak lagi muda memberi pengalaman yang lucu-lucu. Rata-rata umur mahasiswa S-2 teman seangkatanku cukup bervariasi. Ada yang sangat muda, fresh graduate dengan usia sekitar 20 tahunan, ada juga yang sudah berusia matang sekitar 40 sampai 50 tahun.
 
Rentang usia panjang itu membuat attitude saat kuliah pun sangat berbeda. Yang berusia 35 tahunan ke atas rata-rata sibuk mencatat materi kuliah, sedangkan yang berusia 20 tahunan sibuk memfotofoto bahan kuliah di white board dengan ponselnya.
 
Hi… hi… hi… memang sahabat-sahabat abegeh (sebutanku kepada mereka) aku ini menggambarkan perilaku anak-anak muda zaman sekarang yang memanfaatkan teknologi dalam hal apa pun. Bahkan, mereka tidak pernah sungkan bertanya kepada dosen apakah boleh meng-copy bahan kuliah ke dalam flash disk miliknya.
 
Kalau kutanya, “Kenapa, sih, tidak dicatat saja bahan kuliahnya?” dengan enteng mereka menjawab, “Ada teknologi harus dimanfaatkan, dong, Kak. Lagian, nanti kalau catatannya tidak lengkap tinggal foto atau pinjam catatannya Kak Grace saja.” Ha… ha… ha… sial.
 
Para dosen terlihat terbiasa cenderung pasrah melihat keadaan ini. Malah terkadang para dosenlah yang menawarkan untuk meng-copy flash disk, atau berkata, “Ya, sudah… biar cepet kalau mau dipotret, ya, potret saja….”
 
“Wah, kalau zaman Kak Grace dulu kuliah S-1, mana boleh seperti itu. Semua mahasiswa harus mencatat dan terkadang ada dosen yang mengharuskan kita tidak berpindah-pindah tempat duduk,” ceritaku suatu hari kepada mereka.
 
“Kak Grace masuk kuliah S-1 tahun berapa?” tanya salah seorang dari mereka. “Tahun 1991… lulus tahun 1996,” jawabku dengan yakinnya.
 
Salah seorang sahabat abegeh-ku langsung menampilkan wajah bingung bercampur kaget, “Wah, tahun 1991 aku belum lahir, Kak. Aku lahir tahun 1993. Berarti Kak Grace masih ngerasain ditelepon pacar pakai telepon koin, dong.” Kami pun tertawa terbahak-bahak.
 
Berasa tua banget ini. Bersahabat dengan abegeh-ku ini mengharuskan aku juga mengenal kebiasaan nongkrong anak-anak muda zaman sekarang. Kalau zamanku tempat nongkrong alias jalan-jalan sore di Lintas Melawai, anak-anak sekarang lebih memilih kafe atau warung kopi yang memiliki fasilitas wi-fi gratis dan banyak colokan listrik. Di dalam kafe, mereka juga tidak banyak ngobrol, tapi sibuk sendiri dengan gadget atau asyik nonton musik dari YouTube.
 
Nah… kalau masalah nongkrong ini masih bisalah aku ikuti. Tapi, kalau selera musik, maka gap generasi terjadi.
 
 
 
Lagu-lagu zaman sekarang rata-rata adalah musik digital atau elektronik yang sejujurnya kurang pas di telingaku. Menurutku, lagu-lagu pada zamanku dulu lebih melodius dan everlasting. Selain itu, ada perasaan bahwa aku juga sudah terlalu tua untuk menikmati lagu-lagu baru ini. Jadi, seberapa seringnya pun mereka memperkenalkan lagu-lagu zaman sekarang kepadaku, aku tetap saja enggak ngeh bagaimana lagunya atau siapa penyanyinya. Sampai suatu ketika….
 
“Teman-teman, boleh tanya, dong… kemarin buku Sosiologi Hukum yang wajib dibeli, pengarangnya siapa, ya? Sori, Kak Grace lupa nyatet...,” tanyaku di WhatsApp Group.
 
“Pengarangnya Andrew Taggart, Kak Grace!” sahut Richard. Dengan ‘semangat 45’ kutelusuri rak-rak buku di toko buku yang koleksinya termasuk terlengkap di kotaku. Tapi, pencarianku sia-sia. Kucoba mencari memakai penelusuran di komputer, tapi tidak satu pun kutemukan buku Sosiologi Hukum karangan Andrew Taggart. Sampai anakku, Ari, yang dari tadi sibuk sendiri mencari buku cerita kesayangannya, menghampiriku.
 
“Mama cari buku apa, sih? Kok, dari tadi enggak ketemu-ketemu?” tanya anakku, ingin tahu.
 
“Ini… Mama cari buku Sosiologi Hukum karangan Andrew Taggart, Ri. Dari tadi Mama cari bukunya, kok, enggak ada, ya. Di komputer juga enggak ada. Googling di internet juga enggak ada,”ujarku lesu kepada anakku.
 
“Andrew Taggart? Mama yakin itu pengarang bukunya? Jangan-jangan Mama diisengin teman-teman Mama lagi. Setahuku, sih, Andrew Taggart itu vokalisnya The Chainsmokers. Itu, lho, Ma, grup band yang lagi naik daun, yang lagu hits-nya judulnya Closer. Mama memangnya enggak tahu?” tanya anakku lagi.
 
Kami pun tergelak berdua. Dan memang, aku dikerjain teman-teman abegeh itu. Aku juga jadi trending topic pembicaraan di kampus. Ha… ha…ha… malunya itu... .(f)
 
***
 
Grace Bintang Hidayanti Sihotang - Depok
 
Kirimkan Gado-Gado Anda maksimal tulisan sepanjang tiga halaman folio, ketik 2 spasi.
Nama tokoh dan tempat kejadian boleh fiktif.
Kirim melalui e-mail: kontak@femina.co.id atau pos, tuliskan di kiri atas amplop: Gado-Gado