
ilustrasi: tania.
Ada berbagai jenis fobia atau ketakutan di dunia ini. Sebut saja beberapa di antaranya yang populer, seperti claustrophobia (takut berada di tempat atau ruangan tertutup), acrophobia (takut ketinggian), dan arachnophobia (takut laba-laba). Tapi saya yakin, 90% dari Anda belum pernah mendengar istilah yang terpampang di judul cerita saya.
Alektorophobia itu apa, sih? Alektorophobia adalah sebuah fobia yang cukup langka. Siapa pun yang mengidap fobia ini akan merasakan ketakutan yang berlebihan terhadap ayam dan jenis unggas lainnya. Ya, saya ngaku, saya takut pada ayam. Jangan ditertawakan, ya?
Saya, sih, sudah biasa mendengar tawa teman-teman dan keluarga saya. Bahkan, berulang kali saya diledek oleh mereka. Mereka bilang begini nih, “Wajarlah kalau takut pada binatang yang memang punya risiko membahayakan kita. Misalnya anjing, kan bisa saja kita takut digigit, atau ular, normal saja takut ular karena punya bisa.”
Biasanya, kalau sudah disinggung-singgung soal ini, saya mempertahankan diri dengan alibi, “Tuh, buktinya kecoak innocent gitu, jumlah orang yang takut pada kecoak banyak banget.” Hmmm….
Banyak orang yang bingung kenapa saya bisa takut ayam, makhluk yang sama sekali tidak berbahaya itu. Ketakutan saya juga tidak dipicu oleh rasa trauma apa pun.
Saya tidak pernah dipatuk atau dikejar-kejar ayam. Jangankan dikejar, saya dan ayam itu bagaikan kutub magnet yang senama. Hukum alam berkata, kutub magnet senama akan senantiasa tolak-menolak. Begitu pulalah saya dan ayam. Ketika kami dipertemukan, saya berlari ke satu arah, si ayam pun berlari ke arah lain yang berlawanan. Beneran!
Ngomong-ngomong tentang makan daging ayam, banyak orang beranggapan bahwa saya akan pantang makan daging unggas karena fobia saya ini. Hal itu sama sekali tidak benar! Ayam adalah salah satu makanan favorit saya. Malah saya suka iseng memberi tahu teman-teman saya, “Yuk, kita makan ayam! Supaya jumlah ayam di muka bumi ini makin lama makin sedikit, terus punah, deh!”
Saya takut setengah mati pada ayam yang masih hidup. Tapi, kalau sudah terhidang di meja makan… wah, itu favorit saya!
Saya memiliki seorang paman yang serius menekuni hobi memelihara ayam. Jadi, tiap kali saya ke rumahnya, saya seperti diteror karena kebun belakangnya sudah mirip peternakan ayam mini. Mungkin ada sekitar 20 atau 30 ayam berkeliaran di situ. Mungkin, saking gemasnya beliau melihat saya yang fobia ayam, pada suatu hari beliau mengajak saya untuk memerangi rasa takut yang tidak beralasan itu.
Karena rasanya mustahil saya bisa menangkap seekor ayam, maka saya diminta Paman untuk hanya memegang unggas itu. Paman saya memegang seekor ayam betina hitam besar di pangkuannya, dan saya disuruh mendekat untuk mengelus-elus makhluk itu…. Bisa terbayang bagaimana rasanya itu.
Saya masih ingat dengan jelas perasaan takut yang saya rasakan saat itu. Dengan gemetar, jari-jari saya perlahan menyentuh bagian atas badan si ayam. Saya merasakan betapa licinnya bulu-bulu hitam legam itu, panas badan si ayam menyesap ke pori-pori luar jemari saya, mata si ayam yang seperti tidak berkedip perlahan menatap mata saya. Saya bergidik dan meringis….
“PETOK!” pekik si ayam. Saya kabur!
Terapi tidak berhasil sama sekali. Sejak saat itu saya belum pernah memegang seekor ayam lagi. Kapok! Keadaan saya ini sangat mengganggu, terutama ketika berbelanja di pasar tradisional. Rasanya ngeri saat melewati gang yang dipenuhi penjual ayam, lengkap dengan kandangkandang bambu kecil tempat ayam-ayam mengantre untuk dipotong. Hiii….
Pernah suatu kali saya terlibat dalam adegan kejar-kejaran kecil di tengah pasar. Aktornya 2 orang: saya dan seorang pedagang ayam yang dengan terburu-buru membawa beberapa ekor ayam hidup di tangannya. Pekikan ayam-ayam tersebut terdengar sangat nyaring, bak sirene mobil polisi di telinga saya.
PETOK! PETOK! PETOK!
Membuat saya lari sekencang-kencangnya. Ini lebay, tapi saya sekarang mengerti betapa tegangnya menjadi seorang penjahat yang sedang diburu oleh polisi.
Alektorophobia itu apa, sih? Alektorophobia adalah sebuah fobia yang cukup langka. Siapa pun yang mengidap fobia ini akan merasakan ketakutan yang berlebihan terhadap ayam dan jenis unggas lainnya. Ya, saya ngaku, saya takut pada ayam. Jangan ditertawakan, ya?
Saya, sih, sudah biasa mendengar tawa teman-teman dan keluarga saya. Bahkan, berulang kali saya diledek oleh mereka. Mereka bilang begini nih, “Wajarlah kalau takut pada binatang yang memang punya risiko membahayakan kita. Misalnya anjing, kan bisa saja kita takut digigit, atau ular, normal saja takut ular karena punya bisa.”
Biasanya, kalau sudah disinggung-singgung soal ini, saya mempertahankan diri dengan alibi, “Tuh, buktinya kecoak innocent gitu, jumlah orang yang takut pada kecoak banyak banget.” Hmmm….
Banyak orang yang bingung kenapa saya bisa takut ayam, makhluk yang sama sekali tidak berbahaya itu. Ketakutan saya juga tidak dipicu oleh rasa trauma apa pun.
Saya tidak pernah dipatuk atau dikejar-kejar ayam. Jangankan dikejar, saya dan ayam itu bagaikan kutub magnet yang senama. Hukum alam berkata, kutub magnet senama akan senantiasa tolak-menolak. Begitu pulalah saya dan ayam. Ketika kami dipertemukan, saya berlari ke satu arah, si ayam pun berlari ke arah lain yang berlawanan. Beneran!
Ngomong-ngomong tentang makan daging ayam, banyak orang beranggapan bahwa saya akan pantang makan daging unggas karena fobia saya ini. Hal itu sama sekali tidak benar! Ayam adalah salah satu makanan favorit saya. Malah saya suka iseng memberi tahu teman-teman saya, “Yuk, kita makan ayam! Supaya jumlah ayam di muka bumi ini makin lama makin sedikit, terus punah, deh!”
Saya takut setengah mati pada ayam yang masih hidup. Tapi, kalau sudah terhidang di meja makan… wah, itu favorit saya!
Saya memiliki seorang paman yang serius menekuni hobi memelihara ayam. Jadi, tiap kali saya ke rumahnya, saya seperti diteror karena kebun belakangnya sudah mirip peternakan ayam mini. Mungkin ada sekitar 20 atau 30 ayam berkeliaran di situ. Mungkin, saking gemasnya beliau melihat saya yang fobia ayam, pada suatu hari beliau mengajak saya untuk memerangi rasa takut yang tidak beralasan itu.
Karena rasanya mustahil saya bisa menangkap seekor ayam, maka saya diminta Paman untuk hanya memegang unggas itu. Paman saya memegang seekor ayam betina hitam besar di pangkuannya, dan saya disuruh mendekat untuk mengelus-elus makhluk itu…. Bisa terbayang bagaimana rasanya itu.
Saya masih ingat dengan jelas perasaan takut yang saya rasakan saat itu. Dengan gemetar, jari-jari saya perlahan menyentuh bagian atas badan si ayam. Saya merasakan betapa licinnya bulu-bulu hitam legam itu, panas badan si ayam menyesap ke pori-pori luar jemari saya, mata si ayam yang seperti tidak berkedip perlahan menatap mata saya. Saya bergidik dan meringis….
“PETOK!” pekik si ayam. Saya kabur!
Terapi tidak berhasil sama sekali. Sejak saat itu saya belum pernah memegang seekor ayam lagi. Kapok! Keadaan saya ini sangat mengganggu, terutama ketika berbelanja di pasar tradisional. Rasanya ngeri saat melewati gang yang dipenuhi penjual ayam, lengkap dengan kandangkandang bambu kecil tempat ayam-ayam mengantre untuk dipotong. Hiii….
Pernah suatu kali saya terlibat dalam adegan kejar-kejaran kecil di tengah pasar. Aktornya 2 orang: saya dan seorang pedagang ayam yang dengan terburu-buru membawa beberapa ekor ayam hidup di tangannya. Pekikan ayam-ayam tersebut terdengar sangat nyaring, bak sirene mobil polisi di telinga saya.
PETOK! PETOK! PETOK!
Membuat saya lari sekencang-kencangnya. Ini lebay, tapi saya sekarang mengerti betapa tegangnya menjadi seorang penjahat yang sedang diburu oleh polisi.
***
Imelda Lesmana - Bandung
Kirimkan Gado-Gado Anda maksimal tulisan sepanjang tiga halaman folio, ketik 2 spasi.
Nama tokoh dan tempat kejadian boleh fiktif.
Kirim melalui e-mail: kontak@femina.co.id atau pos, tuliskan di kiri atas amplop: Gado-Gado
Imelda Lesmana - Bandung
Kirimkan Gado-Gado Anda maksimal tulisan sepanjang tiga halaman folio, ketik 2 spasi.
Nama tokoh dan tempat kejadian boleh fiktif.
Kirim melalui e-mail: kontak@femina.co.id atau pos, tuliskan di kiri atas amplop: Gado-Gado