
Begitu suasana hatinya memburuk, Astrid mengurung diri dalam kamar, tak tanggung-tanggung, kalau remaja putri lain mungkin sehari dua hari paling lama seminggu sudah baikan, Astrid bisa sampai enam bulan tak keluar rumah laiknya hikikomori.
Di Jepang, satu di antara 20 anggota keluarga lahir dari orang tua berpendidikan perguruan tinggi pernah mengalami hikikomori.
Serupa penderita bipolar, emosi Astrid naik turun. Ia jadi tak bertenaga, malas terhadap semua hal, tak mandi, dan hilang nafsu makan. Tempat yang paling ia sukai adalah bak mandi. Ia bisa berendam dari pagi hingga malam sambil melamun, melantunkan lagu sedih, sedikit-sedikit menangis, dan merasa hampa dan putus asa.
Dua belas jam berendam membuat kulitnya keriput mirip kulit jeruk.
Tapi pada saatnya, tanpa sepenuhnya ia sadari bagaimana, perasaan murungnya perlahan berhenti, menjadi biasa dan normal, lalu berganti dipenuhi perasaan senang. Ia jadi suka menyanyi, lagu apa saja, dari pop hingga dangdut. Ia menyetel radionya keras-keras dan seketika bergoyang jika lagu dangdut yang ia sukai diputar macam Oplosan, Buka Sithik Joss, Belah Duren, dan Sambalado. Walau lagu lawas, favoritnya adalah Sekuntum Mawar Merah, ia akan naik di atas meja beranda, berjoget ria, dan menyanyi keras-keras. Begitu sukanya dengan lagu ini, ia pun menanam bunga mawar merah di halaman rumah.
Saat senang ia juga suka kebersihan. Lantai rumah berkali-kali ia pel. Keramiknya begitu mengilap. Jika ada kotoran sedikit saja ia jadi jijik, dan merasa di situ pasti ada kuman, ada bakteri yang bisa terhirup napasnya dan membuatnya jatuh sakit. Astrid selalu memakai masker di dalam rumah. Ia berulang-ulang mencuci tangannya, cemas jika kuman menempel di kulitnya. Jika ia bisa mengendalikan cemasnya maka fase senangnya terus berjalan, sembari bersih-bersih ia menyanyi-nyanyi dengan suara keras.
“Bersih-bersih ya Neng?” sapa seorang tetangga.
“Iya kali!” jawab Astrid setengah hati.
Ia tahu tetangganya itu datang sebenarnya mau minta bunga buat anaknya. Astrid kembali mengepel lantai. Bila diperhatikan, sesungguhnya lantai itu sudah bersih namun di mata Astrid terlihat selalu kotor. Apalagi sesudah angin berembus, rasanya angin dari luar selalu membawa udara kotor di dalamnya. Debu-debu berterbangan, dan dalam debu ada jutaan kuman yang siap menyerang. Astrid merasa mereka seperti monster yang siap menerkamnya kapan saja.
“Terima kasih ya...”
Astrid hanya diam saja. Kedua tangannya terus mengepel lantai. Si tetangga berlalu dengan senyum kecut.
“Sinting, kalau tak demi anakku yang merengek dan menangis tak sudi aku memintanya. Mukanya jutek, besok aku akan menanam bunga mawar sendiri!” gerutu tetangga itu.
Astrid sebenarnya tak pelit-pelit amat, namun ia selalu tak suka bila mawarnya yang baru mekar, yang tampak segar dan indah, dipetik begitu saja. Memang tetangga itu meminta bunga, harusnya ia ijin mana bunga yang boleh dipetik dan mana yang tidak!
“Ia selalu memetik bunga yang kusukai!” keluh Astrid.
Apalagi saat memetik, tetangga itu kurang hati-hati sehingga kerap membuat daun-daun rontok terpaksa Astrid harus menyapu lagi. Batinnya yang sudah kecut bertambah kesal.
“Hanya bikin kotor saja!” gerutunya sambil mencak-mencak. Kehilangan bunga mawar dan ditambah harus menyapu lagi membuat amarahnya bergolak, perabot rumah ditendangnya hingga berantakan. Sebagian dilemparnya hingga ke jalanan sambil berteriak-teriak tak karuan. Pernah pula menimpa rumah tetangga. Ya rumah tetangga itu. Setelah melihat rumah itu rusak entah gentingnya atau kacanya pecah, baru ia cengengesan, rasanya puas.
Astrid juga tak suka tetangga sebelah kanan rumahnya. Pohon mangganya menjulang tinggi sehingga kerap daun-daun kering yang terembus angin jatuh di halamannya, jika demikian Astrid jadi uring-uringan.
“Semprul, angin edan, tetangga gendheng!” teriaknya keras.
Para tetangga bukannya tak tahu perilaku Astrid, karena demi kesantunan, mereka tak pernah menegur atau mengejek, kecuali anak-anak. Anak-anak tetangga tahu kebiasaannya, tahu sifatnya. Suatu kali mereka berniat menggodanya, melempari rumah itu dengan kerikil.
“Serbuuu!” teriak seorang anak yang berlagak jadi komandan. Kerikil-kerikil terbang di udara, meluncur deras, dan berjatuhan di halaman.
“Anak gendheng, asu!!!” teriak Astrid begitu tahu halamannya jadi kotor.
“Gadis miring, gadis sableng,” balas anak-anak sambil mundur teratur dengan jari telunjuk dimiringkan depan dahi, mengejek!
“Kalian yang sableng masih anak-anak sudah kurang ajar!”
“Wekwekwek...” Anak-anak tertawa sembari membalikkan badan, menggoyang-goyang pinggulnya, mengejek dengan jenaka.
Dengan cepat Astrid mengambil kerikil-kerikil yang bertebaran itu untuk membalas melempari mereka, namun terlambat, mereka telah berlarian menjauh.
Pada dasarnya Astrid suka anak-anak. Hanya bila sering diusili, ia jadi benci. Ia hapal anak yang kerap mengerjainya, maka digambarlah raut muka para berandal cilik itu, dan menempelkannya di gabus yang dipasang di dinding kamar.
Setiap marah ia lampiaskan dengan menusuk-nusuk gambar itu dengan jarum pentul. Ada empat wajah, si pemimpin gerombolan yang berambut keriting, si ingus yang hidungnya selalu meler, si jangkung yang paling tinggi, dan si boy yang terlihat paling cakep diantara mereka yang sepertinya hanya ikut-ikutan saja.
Di samping gambar keempat wajah yang ia benci itu, masih ada gambar lain. Ada kereta api yang gerbongnya mengular berwarna hitam. Tiga tahun lalu, ibu Astrid, satu-satunya keluarga yang tersisa karena bapaknya pergi meninggalkan mereka dan ia anak semata wayang, mati tertabrak kereta api. Tepat di belakang rumahnya yang berjarak sekitar 10 meter adalah jalur kereta api jurusan Surabaya - Jakarta.
Kejadiannya pas malam, karena lampu mati ibu mau membeli lilin buat penerangan. Warungnya di seberang rel, naas, saat dikira aman melintas, tiba-tiba kereta ekpsress malam datang menghantamnya tanpa ampun!
Sejak kematian ibunya itu perilaku Astrid berubah. Ia dirundung rasa sepi yang makin lama makin membuatnya terasing. Ia jadi mudah tertawa, dan mudah menangis. Bila sedang sedih akan sangat lama hingga tampak depresi, dan bila sedang gembira akan melakukan apa saja tanpa rasa lelah. Ia juga kerap tertawa tanpa sebab, menangis tanpa alasan. Senang hadir begitu saja, sedih datang begitu saja, seolah tanpa alasan. Kadang dalam satu waktu ia menangis dan tertawa, nyaris berbarengan.
Kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya itu membuat Astrid benci kereta api. Setiap ingat peristiwa itu pasti gambar kereta api ia marahi dengan umpatan keji sambil menusuk-nusuknya dengan jarum pentul.
Kerap bila tak cukup dengan itu, ia lempari kereta api yang lewat belakang rumahnya dengan batu.
“Kereta api asu! Masinis edan!!!” Teriaknya tertelan deru kereta yang menggetarkan rel dan dinding-dinding rumah.
Di samping gambar kereta, ada gambar wajah tetangganya, pemilik pohon mangga, dibawahnya ia tulis: tetangga jahanam! Wajahnya telah penuh dengan jarum pentul karena setiap daun mangganya jatuh di halaman ia tusuk mukanya dengan jarum!
Bila gambar-gambar itu telah penuh jarum maka gambar itu dibakarnya! Api yang melahap membuatnya puas! Amarah dan dendamnya seperti terbalaskan. Bila sakit hatinya tak berkurang, ia gambar mereka lagi dan memasangnya di gabus, lalu kembali memperlakukannya seperti semula, menusuknya setiap marah!
Gabus sebelah kiri penuh dengan gambar kebencian, sedangkan yang sebelah kanan adalah yang ia sukai, ia cintai. Gambar pertama adalah anjing kesayangannya, Bleki, yang hilang suatu malam. Anjing hitam jenis pudel yang sangat lucu.
Ia yakin anjingnya ditangkap komplotan pencuri anjing untuk dijual ke pedagang sengsu, tongseng daging asu. Kabarnya perkilo harganya tiga puluh ribu rupiah. Anjingnya gemuk, bobotnya 10 kilo, paling tidak maling jahanam itu akan mengantongi uang tiga ratus ribu rupiah. Biadab!
Begitu ia ingat anjingnya, Astrid akan menangis mengguguk seharian, tak keluar rumah, tak makan, tak minum, tak bersih-bersih, semua pintu dan jendela tertutup rapat, tirai jendela tak dibuka, lampu dimatikan, dalam siang yang remang, dan dalam malam yang gelap, ia mengurung diri berhari-hari, berminggu minggu hingga berbulan bulan.
Bila sudah mendingan, barulah ia bersenandung, menyanyikan lagu yang membuatnya riang. Pada akhirnya ia akan ‘tersembuhkan’ oleh kegiatan menyanyi, menari, berjoget, mengepel, dan menyapu. Kegiatan berulang-ulang itu menenangkan hatinya.
Di samping gambar Bleki ada gambar sapu dan kain pel. Kedua benda itu disayanginya karena bisa membuat perasaannya lega dan tenang, setelah apa pun yang kotor jadi bersih. Sesekali ia bercakap-cakap dengan keduanya, menanyakan apa kabar, dan berterima kasih telah menjadi sahabatnya bertahun-tahun tanpa pernah berselisih.
Saat hendak tidur bahkan ia mengucapkan selamat malam pada mereka. Dan pada Bleki dengan mata berbinar ia pun berkata, ”Selamat malam, dan mimpi indah ya,” senyum Astrid mengembang. Matanya sesekali berkaca-kaca.
Ia pun tidur dengan perasaan damai dan bahagia.
Sebelah gambar kain pel adalah gambar ibunya. Ia adalah matahari dan sekaligus bulan buat hatinya, yang membuat segalanya jadi tenang dan hidup. Tanpa ia rasanya, dunia ini tak ada malam tak ada siang. (f)
Di Jepang, satu di antara 20 anggota keluarga lahir dari orang tua berpendidikan perguruan tinggi pernah mengalami hikikomori.
Serupa penderita bipolar, emosi Astrid naik turun. Ia jadi tak bertenaga, malas terhadap semua hal, tak mandi, dan hilang nafsu makan. Tempat yang paling ia sukai adalah bak mandi. Ia bisa berendam dari pagi hingga malam sambil melamun, melantunkan lagu sedih, sedikit-sedikit menangis, dan merasa hampa dan putus asa.
Dua belas jam berendam membuat kulitnya keriput mirip kulit jeruk.
Tapi pada saatnya, tanpa sepenuhnya ia sadari bagaimana, perasaan murungnya perlahan berhenti, menjadi biasa dan normal, lalu berganti dipenuhi perasaan senang. Ia jadi suka menyanyi, lagu apa saja, dari pop hingga dangdut. Ia menyetel radionya keras-keras dan seketika bergoyang jika lagu dangdut yang ia sukai diputar macam Oplosan, Buka Sithik Joss, Belah Duren, dan Sambalado. Walau lagu lawas, favoritnya adalah Sekuntum Mawar Merah, ia akan naik di atas meja beranda, berjoget ria, dan menyanyi keras-keras. Begitu sukanya dengan lagu ini, ia pun menanam bunga mawar merah di halaman rumah.
Saat senang ia juga suka kebersihan. Lantai rumah berkali-kali ia pel. Keramiknya begitu mengilap. Jika ada kotoran sedikit saja ia jadi jijik, dan merasa di situ pasti ada kuman, ada bakteri yang bisa terhirup napasnya dan membuatnya jatuh sakit. Astrid selalu memakai masker di dalam rumah. Ia berulang-ulang mencuci tangannya, cemas jika kuman menempel di kulitnya. Jika ia bisa mengendalikan cemasnya maka fase senangnya terus berjalan, sembari bersih-bersih ia menyanyi-nyanyi dengan suara keras.
“Bersih-bersih ya Neng?” sapa seorang tetangga.
“Iya kali!” jawab Astrid setengah hati.
Ia tahu tetangganya itu datang sebenarnya mau minta bunga buat anaknya. Astrid kembali mengepel lantai. Bila diperhatikan, sesungguhnya lantai itu sudah bersih namun di mata Astrid terlihat selalu kotor. Apalagi sesudah angin berembus, rasanya angin dari luar selalu membawa udara kotor di dalamnya. Debu-debu berterbangan, dan dalam debu ada jutaan kuman yang siap menyerang. Astrid merasa mereka seperti monster yang siap menerkamnya kapan saja.
“Terima kasih ya...”
Astrid hanya diam saja. Kedua tangannya terus mengepel lantai. Si tetangga berlalu dengan senyum kecut.
“Sinting, kalau tak demi anakku yang merengek dan menangis tak sudi aku memintanya. Mukanya jutek, besok aku akan menanam bunga mawar sendiri!” gerutu tetangga itu.
Astrid sebenarnya tak pelit-pelit amat, namun ia selalu tak suka bila mawarnya yang baru mekar, yang tampak segar dan indah, dipetik begitu saja. Memang tetangga itu meminta bunga, harusnya ia ijin mana bunga yang boleh dipetik dan mana yang tidak!
“Ia selalu memetik bunga yang kusukai!” keluh Astrid.
Apalagi saat memetik, tetangga itu kurang hati-hati sehingga kerap membuat daun-daun rontok terpaksa Astrid harus menyapu lagi. Batinnya yang sudah kecut bertambah kesal.
“Hanya bikin kotor saja!” gerutunya sambil mencak-mencak. Kehilangan bunga mawar dan ditambah harus menyapu lagi membuat amarahnya bergolak, perabot rumah ditendangnya hingga berantakan. Sebagian dilemparnya hingga ke jalanan sambil berteriak-teriak tak karuan. Pernah pula menimpa rumah tetangga. Ya rumah tetangga itu. Setelah melihat rumah itu rusak entah gentingnya atau kacanya pecah, baru ia cengengesan, rasanya puas.
Astrid juga tak suka tetangga sebelah kanan rumahnya. Pohon mangganya menjulang tinggi sehingga kerap daun-daun kering yang terembus angin jatuh di halamannya, jika demikian Astrid jadi uring-uringan.
“Semprul, angin edan, tetangga gendheng!” teriaknya keras.
Para tetangga bukannya tak tahu perilaku Astrid, karena demi kesantunan, mereka tak pernah menegur atau mengejek, kecuali anak-anak. Anak-anak tetangga tahu kebiasaannya, tahu sifatnya. Suatu kali mereka berniat menggodanya, melempari rumah itu dengan kerikil.
“Serbuuu!” teriak seorang anak yang berlagak jadi komandan. Kerikil-kerikil terbang di udara, meluncur deras, dan berjatuhan di halaman.
“Anak gendheng, asu!!!” teriak Astrid begitu tahu halamannya jadi kotor.
“Gadis miring, gadis sableng,” balas anak-anak sambil mundur teratur dengan jari telunjuk dimiringkan depan dahi, mengejek!
“Kalian yang sableng masih anak-anak sudah kurang ajar!”
“Wekwekwek...” Anak-anak tertawa sembari membalikkan badan, menggoyang-goyang pinggulnya, mengejek dengan jenaka.
Dengan cepat Astrid mengambil kerikil-kerikil yang bertebaran itu untuk membalas melempari mereka, namun terlambat, mereka telah berlarian menjauh.
Pada dasarnya Astrid suka anak-anak. Hanya bila sering diusili, ia jadi benci. Ia hapal anak yang kerap mengerjainya, maka digambarlah raut muka para berandal cilik itu, dan menempelkannya di gabus yang dipasang di dinding kamar.
Setiap marah ia lampiaskan dengan menusuk-nusuk gambar itu dengan jarum pentul. Ada empat wajah, si pemimpin gerombolan yang berambut keriting, si ingus yang hidungnya selalu meler, si jangkung yang paling tinggi, dan si boy yang terlihat paling cakep diantara mereka yang sepertinya hanya ikut-ikutan saja.
Di samping gambar keempat wajah yang ia benci itu, masih ada gambar lain. Ada kereta api yang gerbongnya mengular berwarna hitam. Tiga tahun lalu, ibu Astrid, satu-satunya keluarga yang tersisa karena bapaknya pergi meninggalkan mereka dan ia anak semata wayang, mati tertabrak kereta api. Tepat di belakang rumahnya yang berjarak sekitar 10 meter adalah jalur kereta api jurusan Surabaya - Jakarta.
Kejadiannya pas malam, karena lampu mati ibu mau membeli lilin buat penerangan. Warungnya di seberang rel, naas, saat dikira aman melintas, tiba-tiba kereta ekpsress malam datang menghantamnya tanpa ampun!
Sejak kematian ibunya itu perilaku Astrid berubah. Ia dirundung rasa sepi yang makin lama makin membuatnya terasing. Ia jadi mudah tertawa, dan mudah menangis. Bila sedang sedih akan sangat lama hingga tampak depresi, dan bila sedang gembira akan melakukan apa saja tanpa rasa lelah. Ia juga kerap tertawa tanpa sebab, menangis tanpa alasan. Senang hadir begitu saja, sedih datang begitu saja, seolah tanpa alasan. Kadang dalam satu waktu ia menangis dan tertawa, nyaris berbarengan.
Kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya itu membuat Astrid benci kereta api. Setiap ingat peristiwa itu pasti gambar kereta api ia marahi dengan umpatan keji sambil menusuk-nusuknya dengan jarum pentul.
Kerap bila tak cukup dengan itu, ia lempari kereta api yang lewat belakang rumahnya dengan batu.
“Kereta api asu! Masinis edan!!!” Teriaknya tertelan deru kereta yang menggetarkan rel dan dinding-dinding rumah.
Di samping gambar kereta, ada gambar wajah tetangganya, pemilik pohon mangga, dibawahnya ia tulis: tetangga jahanam! Wajahnya telah penuh dengan jarum pentul karena setiap daun mangganya jatuh di halaman ia tusuk mukanya dengan jarum!
Bila gambar-gambar itu telah penuh jarum maka gambar itu dibakarnya! Api yang melahap membuatnya puas! Amarah dan dendamnya seperti terbalaskan. Bila sakit hatinya tak berkurang, ia gambar mereka lagi dan memasangnya di gabus, lalu kembali memperlakukannya seperti semula, menusuknya setiap marah!
Gabus sebelah kiri penuh dengan gambar kebencian, sedangkan yang sebelah kanan adalah yang ia sukai, ia cintai. Gambar pertama adalah anjing kesayangannya, Bleki, yang hilang suatu malam. Anjing hitam jenis pudel yang sangat lucu.
Ia yakin anjingnya ditangkap komplotan pencuri anjing untuk dijual ke pedagang sengsu, tongseng daging asu. Kabarnya perkilo harganya tiga puluh ribu rupiah. Anjingnya gemuk, bobotnya 10 kilo, paling tidak maling jahanam itu akan mengantongi uang tiga ratus ribu rupiah. Biadab!
Begitu ia ingat anjingnya, Astrid akan menangis mengguguk seharian, tak keluar rumah, tak makan, tak minum, tak bersih-bersih, semua pintu dan jendela tertutup rapat, tirai jendela tak dibuka, lampu dimatikan, dalam siang yang remang, dan dalam malam yang gelap, ia mengurung diri berhari-hari, berminggu minggu hingga berbulan bulan.
Bila sudah mendingan, barulah ia bersenandung, menyanyikan lagu yang membuatnya riang. Pada akhirnya ia akan ‘tersembuhkan’ oleh kegiatan menyanyi, menari, berjoget, mengepel, dan menyapu. Kegiatan berulang-ulang itu menenangkan hatinya.
Di samping gambar Bleki ada gambar sapu dan kain pel. Kedua benda itu disayanginya karena bisa membuat perasaannya lega dan tenang, setelah apa pun yang kotor jadi bersih. Sesekali ia bercakap-cakap dengan keduanya, menanyakan apa kabar, dan berterima kasih telah menjadi sahabatnya bertahun-tahun tanpa pernah berselisih.
Saat hendak tidur bahkan ia mengucapkan selamat malam pada mereka. Dan pada Bleki dengan mata berbinar ia pun berkata, ”Selamat malam, dan mimpi indah ya,” senyum Astrid mengembang. Matanya sesekali berkaca-kaca.
Ia pun tidur dengan perasaan damai dan bahagia.
Sebelah gambar kain pel adalah gambar ibunya. Ia adalah matahari dan sekaligus bulan buat hatinya, yang membuat segalanya jadi tenang dan hidup. Tanpa ia rasanya, dunia ini tak ada malam tak ada siang. (f)