
Sang Ibu tidak habis mengerti kenapa Yustina, anak perempuan satu-
satunya, yang dilimpahi harta, memaksa untuk bekerja.
“Mengapa Anda ingin bekerja?”
Yustina mengira telah menjawab pertanyaan-pertanyaan terdahulu dengan baik. Kedua pejabat Kedutaan RI di hadapannya tampak jelas berpengalaman. Usia mereka pasti jauh di atas umur Yustina sendiri. Yang seorang wanita, lainnya pria, keduanya tenang dan tidak memburu atau mendesak. Tetapi kalimat paling akhir itu agak mengejutkan Yustina.
“Saya ingin mandiri dalam hal keuangan,” sahutnya. Lalu terpikir mungkin orang tidak akan mempercayainya bila ketahuan siapa ayah-ibunya. Cepat dia menambahkan,” lagi pula anak saya sudah besar. Waktu pendaftaran sekolah nanti dia cukup umur untuk masuk TK.”
“TK hanya setengah hari,” kata pejabat wanita itu. Mungkin dia juga seorang ibu,” Bagaimana Anda akan mengatur waktu?”
“Di surat lamaran saya sebutkan bahwa untuk sementara, saya memohon pekerjaan paruh waktu. Misalnya dari pagi sampai pukul satu siang. Kebetulan tetangga saya juga mempunyai anak yang akan masuk TK. Dia sanggup menjaga anak saya sampai saya pulang.”
“Oh, bagus kalau begitu.”
Kemudian Yustina dipersilakan menunggu di luar. Tidak mencapai sepuluh menit, dia dipanggil kembali. Dia sudah menduga akan dites menggunakan komputer.Untunglah kadangkala dia berkesempatan ‘bermain-main’ dengan komputer suaminya untuk mengirim E-mail atau membantu menuliskan terjemahan surat dalam bahasa Inggris buat kantor suaminya. Dia sarjana di bidang bahasa asing itu.
Beberapa saat berlalu, lembaran contoh kemampuannya diperiksa. Selesai. Dia dipersilakan pulang, kedutaan akan memberi kabar mengenai keputusan mereka.
Ayah Yustina sudah pensiun sejak lama, dengan tabungan di bank-bank Tokyo, Jerman, Swis, dan beberapa lainnya di Asia Tenggara. Sehubungan dengan penyakitnya kolesterol dan darah tinggi, dokter menyarankan agar lelaki itu tidak bepergian terlalu jauh sehingga kelelahan.
“Kalau tidak periksa kesehatan di Jakarta, ya, ke Singapura atau Australia. Itu paling aman. Dekat. Banyaklah jalan kaki. Ciputat bagus. Periksalah kebun-kebun buah Anda sesering mungkin sekalian olahraga,” begitu nasihat dokter keluarga.
Bapak itu adalah orang yang di dunia Barat bisa disebut gold finger. Apa pun yang dia sentuh bisa menghasilkan uang. Seluruh umur kariernya sebagai pejabat di luar negeri, tidak satu kali pun dia menyeleweng dari garis kejujuran. Ketika kembali paling akhir ke tanah air sebagai pejabar RI, seseorang menawarkan tanah. Karena kasihan, dia membelinya. Disusul saudara pembantunya yang terdesak memerlukan uang, menjual tanah. Bapak Yustina juga membelinya. Begitu seterusnya, sampai-sampai saudara atau ayahpembantu tetangga sekali pun mendatangi rumah Yustina karena mendengar bahwa si Bapak bisa ‘menolong’ membeli tanah, kebun, sawah mereka yang tinggal di tempat-tempat pinggiran Jakarta, Bogor serta berbagai kota kecil dengan pendahuluan nama Ci.
Tidak pernah diperhitungkan kepentingan lokasi, Ayah Yustina membeli dan terus saja membeli jika ditawari dan dia menyukainya. Tanpa menunggu lima tahun, menyusul sepuluh tahun, harga tanah yang telah pindah ke tangannya itu belripat ganda hingga ratusan, bahkan ribuan persen. Kota mendesak daerah pinggiran, terus masuk ke pedalaman sehingga tidak ada lagi yang menjadi tepiannya.
Si bapak menyisakan cukup banyak untuk dirinya dan empat anaknya.
Hanya Yustina yang perempuan. Hanya Yustina yang bertahun-tahun bertenger di suatu universitas tanpa ketahuan kapan akan selesai. Sampai pada suatu saat ibunya memutuskan akan menuliskan skripsi anak itu. Tetapi dia sudah terlalu lama meninggalkan kuliahnya sendiri. Dia tidak pernah menginjak tahun ketiga karena memang kuliah dia anggap sebagai batu loncatan untuk mencari suami.
Barulah si ibu itu menyadari bahwa berbicara dan membaca bahasa Inggris dengan lancar bukan berarti gampang menulis skripsi. Padahal buku bacaan menumpuk di kamar-kamar empat atau lima rumahnya di Menteng, Kebayoran, atau Parung.
“Yustina tentu lulus. Tulis skripsi orek-orekan saja! Itu hanya sebagai syarat. Asal ada kertas kerjanya, bagaimanapun bentuknya, pasti lulus!” begitulah kata kawan-kawan dosen yang dekat dengan keluarga miliarder itu.
Keputusan lain pun menyusul, harus ditemukan orang lain yang mau menuliskan skripsi. Tidak mudah, tetapi ada. Di Indonesia masih banyak orang pandai namun kekurangan biaya hidup. Dan akhirnya Yustina mendapatkan gelar DRA-nya. Bukan hanya hadiah berupa barang yang dia terima.
Dia juga dibawa berjalan-jalan ke setengah lingkaran bumi oleh ibunya. Nomor satu adalah Jepang, karena Yustina lahir di sana. Perjalanan diteruskan ke Eropa. Di setiap tempat yang dituju, kedutaan menyediakan tenaga khusus sebagai pengantar dan mengurusi segalanya.
Mereka ke negeri Prancis, tentu ke Lourdes untuk berziarah. Sebagai umat Katolik, Si Ibu khusuk berterima kasih kepada Tuhan karena keempat anaknya telah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Kini yang dia inginkan ialah satu-satunya anaknya perempuan segera mendapatkan jodoh. Dia bersembahyang sambil membayangkan betapa akan hebat dan ramainya perhelatan luar biasa yang bakal diselenggarakannya di ibu kota RI untuk mengawinkan si Bungsu tersebut.
Sebelum ke Roma, mereka beberapa hari bersantai di beberapa kota wisata Prancis. Yustina jatuh cinta pada Paris. Hanya dengan susah payahlah ibunya bisa membujuknya untuk meneruskan perjalanan mereka.
Sepulang dari keliling setengah dunia itu, Yustina langsung mendaftarkan diri kursus bahasa Prancis. Orang rumah dan lingkungannya belum pernah melihatnya serajin itu. Gadis yang dulu selalu berbaringan di kamar sambil menonton televisi, acara film apa pun, kini giat belajar. Memang televisi masih dibiarkan menyala, tetapi siaran yang terdengar adalah CNN atau berbahasa Prancis.
Tidak hanya itu perubahan di rumah tersebut. Yang menelepon pun juga bertambah. Di antaranya bahkan pernah ‘tersesat’ ke rumah bagaikan kastil di Ciputat yang berkamar dua puluh. Di waktu itu, ayah Yustina sedang ‘dinas’ mengawasi panen rambutan. Turun dari mobil, barulah dia tahu bahwa topinya ketinggalan di rumah Menteng. Dia memasuki ‘kastil’nya untuk mencari topi lain. Dia terima telepon di dekatnya.
“Yustina tidak ada di sini. Ini bapaknya,” kata si ayah dengan kesal karena merasa terganggu, maka langsung mengutarakan siapa dirinya.
“Maaf, Pak. Perkenalkan, saya Erik. Apakah Tina tidak kursus bahasa Prancis hari ini?”
“Masuk! Dia kursus setiap hari,” kata Si Bapak lagi. Kini ada nada kebanggaan karena anaknya rajin.
“Kami menunggunya. Pelajaran akan dimulai, tapi dia belum datang,” suara di ujung lain menjelaskan, lalu segera disusul ucapan terima kasih dan kata-kata sopan lain sebagai permintaan maaf.
Tina, keluarga memanggil satu-satunya anak peremuan itu Yustina, Yus atau Yustin. Tiba-tiba sekarang ada nama baru. Begitu tiba kembali di rumah di kota, si ayah masih mempersoalkan siapa yang namanya Erik itu.
“Ooo, Erik!” Yustina berseru kecil menjawab pertanyaan ayahnya. “Dia pengajar di tempat kursus. Sebetulnya bukan dosen atau guru, melainkan cooperant, tenaga sukarela yang mau ditempatkan di luar Prancis. Calon insinyur, tapi bisa mengajar bahasa Prancis.”
Dan itu merupakan awal dari masuknya nama Erik ke dalam cerita-cerita Yustina yang dibawa ke tengah keluarganya. Dari hari ke hari, makin banyak cerita itu. Sampai pada suatu hari, Yustina membawa pemuda itu pulang. Karena Bapak senang berbincang-bincang dengan dia dan Ibu memahami pancaran mata anak perempuannya, Erik ditahan untuk makan malam.
Pada suatu hari sedan mahal yang biasa dikendarai Yustina tidak kelihatan di garasi. Ayahnya bertanya di mana kendaraan itu. Santai dan yakin, anak satu-satunya perempuan itu menjawab Erik yang membawanya. Dan itu tidak dipersoalkan. Neng Yustina bisa diantar sopir dengan mobil lain kalau perlu. Dan bukankah setiap sore Pak Erik menjemput untuk pergi bersama ke kursus? Bila penanggalan memuat warna merah, sudah pasti Yustin menginap di salah satu rumah di luar kota. Dan Erik tentu bersamanya.
Tiba-tiba ayah dan ibu itu ikut-ikutan memanggil anak perempuan mereka Tina. Itu nama yang bagus. Berdua mulai membayangkan mempunyai menantu lelaki Barat. Sama-sama Katolik, tidak apa-apa. Diam-diam mereka malahan bangga. Sudah beberapa lingkungan orang kaya sahabat mereka yang mempunyai menantu bangsa asing. Dengan perkawinan Tina dan Erik, keluarga itu tidak ketinggalan zaman!
Belum setahun Erik dan Tina berkenalan, masa kontrak pemuda itu habis.
Dia akan memperbaruinya, tapi harus pulang dulu ke negerinya. Maka disepakati, sekembalinya ke Jakarta, Erik akan menempati rumah keluarga di Menteng atau Kebayoran yang belum dikontrak orang. Kendaraan juga akan disediakan. Erik akan banyak menulis, karena dia akan menyelesaikan studinya.
Benarlah, perkawinan Yustina menjadi berita besar di ibu kota RI. Semua anggota keluarga datang dari Prancis. Ayah Yustina menyewa satu lantai suatu hotel bergengsi. Kontrak perkawinan adalah gono-gini. Semuanya adalah milik bersama walaupun apartemen lima ruang di Paris, ayah Yustina-lah yang membayari. Meskipun perjalanan pengantin ke Bali dan Lombok atas tanggungan ayah Yustina.
Yustina menikmati menata rumahnya.Sesungguhnya Erik juga mempunyai sebuah studio, atau apartemen beruang satu. Itu dia beli dengan uang warisan neneknya ditambah tabungan perumahan yang sejak kecil disimpankan ayahnya. Tetapi Yustina membutuhkan ruang tamu besar, kamar tidur besar, gudang yang besar pula.
Keenakan berumah tangga sendiri hanya beberapa waktu dia rasakan. Karena di Paris, semua harus dikerjakan sendiri. Untunglah punya uang. Ketika dia mulai merasa mual-mual mengidam, segera didatangkan wanita Spanyol sebagai pembersih rumah. Pada awalnya, Yustina bangun pagi menemani suami minum kopi. Tapi itu hanya sebentar berlangsung. Dia biarkan Erik bangun dan membuat kopinya sendiri. Suami itu menciumnya sekilas sebelum turun menuju ke tempat kerjanya. Sambil lalu, dia juga membawa sampah ke ruang bawah tanah.
Di dalam barang pindahan, Yustina tidak membawa bumbu-bumbu masakan Jawa. Dia tidak pernah berpikir akan membutuhkan gula merah untuk membuat sambal rujak atau terasi serta petis untuk dicampurkan pada tahu goreng. Ibunya tidak pernah memberinya pengarahan, kecuali harus memilik kain batik Iwan Tirta buat tirai, memesan sutera batik untuk dijadikan hadiah-hadiah.
Maka jalan satu-satunya yang ditempuh adalah menelepon meminta kiriman. Sementara menunggu, bukankah di kedutaan ada seorang karyawati yang dulu membantu mereka,? Ibu Puji menawarkan jasanya jika Yustina memerlukan sesuatu. Dan segera itu dilakukan. Setelah berbasa-basi ini dan itu, sampailah pada keluhan ingin makan segala masakan yang mentradisi: rujak, tahu petis, klepon, bubur candil dan seterusnya lagi. Seperti yang diharapkan Yustina, Ibu Puji yang baik mempersilakan datang ke kedutaan. Kebetulan dia mempunyai cobek yang tidak dipakai. Kebetulan banyak gula merah, kebetulan ini dan semuanya serba kebetulan.
Belum pernah Tina, Neng Yustin, merasa kaya hanya karena mempunyai cobek dan muntu sebagai pasangannya. Sepulang dari kedutaan dia suruh taksinya singgah ke toko makanan Vietnam di Mauberg Mutualite. Bu Puji bahkan memberinya sebuah buku masakan lama. Sopir taksi menerima tip besar, maka dengan serta merta menawarkan jasa mengantarkan belanjaan sampai ke tingkat enam hingga di depan pintu rumah.
“Akan berpesta, Madame? Wah, pasti enak masakan Timur, ya!” katanya berkelakar, lalu mengucapkan Bonne Fete (selamat berpesta) dan kembali turun.
Yustina pernah memberitahu Erik bahwa dia tidak bisa memasak.
“Tidak perlu memikirkan masakan. Bikin steik dan kentang goreng saja. Kalau ingin makan lainnya, kita ke restoran,” demikian tanggapan suaminya.
Kebalikannya, ibu mertuanya berkata, “Belajarlah memasak! Lelaki harus ‘dipegang’ lewat perutnya. Kalau dia tidak puas makan di rumah, pasti cari lainnya di luar. Erik gemar Le Mouton Grille Aux Petits Oignons. Resepnya ada di buku ini,” lalu ibu mertua itu memberikan sebuah buku masakan.
Sungguh membingungkan. Mana yang harus diikuti. Tapi sekarang Yustina akan menjadi tukang masak karena mual-mual di perut hanya dapat hilang jika dia makan masakan Jawa. Kalau tidak, dengan mata terpejam pun, bayangan makanan yang dia inginkan menari-nari di pelupuk matanya.
Di hari pertama Neng Tina memasak, sudah terjadi perubahan.
“Di mana kamu, Cherie,” seru suaminya sambil menutup pintu kembali.
Yustina belum sempat keluar menyongsong, dia hanya menjawab dari dapur.
“Sebentar, Cheri. Aku cuci tangan dulu.”
Keduanya saling memanggil dengan kata Sayang dalam bahasa Prancis, sehingga nama mereka tidak pernah lagi diucapkan.
Yustina mendekati suaminya, meminta direngkuh kedalam pelukan.
“Uhhh, baumu bumbu-bumbu!” seru Erik sambil menolakkan kepala istrinya, memandang dari jarak tiga puluh senti dan meneruskan: “Aku seharian tidak melihatmu! Kalau bertemu, inginku menciumimu seluruh tubuh. Tapi jangan berbau seperti ini!”
Hari kedua, Yustina tanggap. Sebelum pukul lima, dia sudah mandi dan bersolek ringan. Lebih-lebih yang paling penting, Erik tidak suka mencium bibir istrinya bila dipolesi gincu. Dia juga tidak boleh mengenakan celana panjang, karena gaun lebih terbuka untuk belaian dan jangkauan.
Masa mengandung tidak mengurangi waktu percumbuan. Hanya caranya saja yang berbeda. Erik tahu menata dan mengarahkan istrinya hingga mencapai ujung perjalanan yang melelahkan namun memberi kepuasan.
Tapi benarkah Yustina puas hingga ke kedalaman lubuk hatinya?
Di tahun ketiga perkawinan, walaupun dibantu oleh seorang pengasuh anak khusus berijazah negara, Yustina benar-benar bosan tinggal di rumah. Dasarnya dia memang tidak pernah suka anak-anak. Tetapi anaknya lucu, perempuan. Pas untuk dijadikan boneka. Kunjungan saudara dan teman dari Indonesia tidak berkeputusan menyebabkan Yustina semakin jarang tinggal di rumah seharian. Maka sekali-sekali menggendong dan mencium anaknya membikin dia lupa pahit getirnya orang berumah tangga.
Kini dia sudah merasakan ketidaknyamanan hidup bersama Erik.
Baru tahun lalu suaminya itu mencapai usia yang berkepala tiga, tetapi kini perutnya buncit. Dahi yang dulu terlindung oleh rambut pirang, sekarang kelihatan menonjol telanjang sehingga nampak terlalu lebar. Itu semua membikin rusak garis-garis harmonis yang dulu menyebabkan Yustina tertarik kepadanya.
Perut gendut menandakan kemapanan.
“Biar saja!” kata ibu Erik. “Itu tandanya kamu memberinya makanan enak-enak, dapurmu terus berasap. Laki-laki boleh gemuk. Tapi kita perempuan harus menjaga daya tarik kita supaya suami tidak melirik ke arah lain.”
Yustina beruntung mempunyai waktu menjadi anggota klub kebugaran di gedung, tidak jauh dari apartemennya. Maka dia langsing dan berotot. Sedangkan Erik hanya mempunyai waktu hari Sabtu untuk ke sauna di tempat yang sama. Jika dia kehilangan satu kilo karena berpeluh dan energinya terisap kolam renang, keluar dari sana, dia minum-minum dan makan semaunya di restoran mewah.
Yustina tidak mendapatkan kegairahan bercinta lagi dari suaminya.
Tidak ada lagi belaian memanaskan yang begitu disukai Yustina. Tahap awal sekarang dihilangkan, langsung saja Yustina dipaksa suaminya ke tengah perjalanan. Dulu mereka berdua berjalan ibarat bergandengan, perlahan, selalu seirama. Selangkah demi selangkah hingga sampai pada taraf kecepatan yang dipadu untuk berdua. Inilah yang disukai Yustina. Tapi kini itu sudah menguap entah kemana. Tidak dibisikkan lagi kata-kata lembut,atau panggilan-panggilan kesayangan.
Tidak hanya itu yang membuat Yustina kecewa berumah tangga.
Dilihat selintas, keluarga besan sayang kepadanya. Tetapi yang sesungguhnya, Yustina merasakan iri hati di bidang segalanya. Kakak Erik tidak kawin, hidup serumah dengan seorang aktivis politik golongan oposisi. Seolah-olah peduli lingkungan, selalu ikut serta dimana pun terjadi unjuk rasa mengenai soal ekologi. Tetapi bila dicari namanya, tak satu pun organisasi Lingkungan Hidup yang mencatatnya sebagai anggota. Dia hanya ikut-ikutan. Yang pasti, dia memang mempunyai kartu tanda anggota Partai Sosialis negeri itu.
Pekerjaan yang menopang hidupnya adalah tata kota di suatu provinsi terdekat dengan Paris. Maka tidak jarang dia tiba-tiba muncul, sendirian atau didampingi kakak perempuan Erik. Mereka sengaja datang untuk turut bersama makan siang di hari libur, atau makan malam di hari biasa. Tetapi bukan itu yang mengganjal bagi Yustina.
Kalimat-kalimat yang diucapkan orang tua dan saudara-saudara Erik selalu siap menghunjam dada anak perempuan satu-satunya si Bapak bertangan emas itu. Yustina dan kakak-kakaknya memang terpelajar karena mempunyai gelar sarjana. Tetapi pengetahuan mereka terbatas. Mereka tidak tertarik pada hal-hal di luar bidang masing-masing. Apa lagi Yustina. Bahasa Prancisnya maju karena dia menggunakannya untuk berbicara sehari-hari. Tetapi jika harus menulis atau membaca, matilah dia. Dia juga berbicara bahasa Inggris. Tetapi ilmunya memudar terdesak oleh tahun-tahun yang hilang.
Maka dalam perbincangan bersama saudara, orang tua, atau lingkungan besan itu, Yustina hanya diam. Nyata lingkungan barunya tidak mempedulikannya. Mereka tidak menganggapnya sejajar karena setiap kali dimintai pendapat, jawabannya kekanak-kanakan atau meleset jauh dari pokok persoalan. Bahkan dua atau tiga kali terluncur kata-kata kakak Erik yang jelas ditujukan kepadanya.
“Orang-orang kaya di dunia inilah yang memelihara kemiskinan. Karena, kalau mereka memang rela menghapus kemelaratan, sebenarnya bisa. Kaulihat misalnya ayah Tina, dia menjadi tuan tanah ukuran raksasa. Apakah dia menjamin pendidikan para pekerjanya supaya lebih pandai. Tidak, bukan. Karena bila pekerja diberi tambahan pengetahuan, mereka akan meninggalkan kebun, bekerja pada orang lain!”
Lalu di kesempatan yang berbeda, sedang asyiknya mereka minum kopi sesudah makan, ayah Erik melirik ke arah menantunya wanita Indonesia itu.
“Aaaah, kopi dari Jawa! Inilah nikmatnya mempunyai menantu orang berasal dari Jawa. Anak orang kaya pula! Jadi simpanan kopi tidak bakal habis karena selalu menerima kiriman.”
“Ya, benar,” adik Erik yang juga bekerja sebagai insinyur menunjang . “Tahukah Ayah, Tina sering menerima kiriman langsung dari Jakarta dibawa pesawat sehari semalam tiba di sini. Begitu itu kalau menjadi anaknya orang kaya! Seperti Duta Besar saja!”
Nada-nada suara mereka bukannya bercanda, melainkan diselubungi iri hati. Walaupun semula Yustina menanggapinya serius, kemudian ganti dengan sikap ringan seolah-olah tidak memperhatikan, lama kelamaan dia merasa kesal juga. Hingga pada suatu ketika, keluarlah kalimat lain, “Kita ini ‘kan harus bekerja untuk menutupi kebutuhan kita. Bukan begitu, Ayah?”
Dan, ipar Erik melayangkan pandang ke arah suami Yustina sekaligus mencari di mana si nyonya rumah duduk, kemudian meneruskan. “Tidak seperti Erik. Sesungguhnya dia tidak perlu ke kantor setiap hari. Hidupnya sudah dijamin mertua!”
Ibu Erik menyahut,“Kalau Erik tidak bekerja, bayangkan, badannya akan menggelembung seperti disengat lebah karena semakin tidak bergerak hanya makan melulu kegiatannya.”
“Ya, Ibu benar,” ipar itu setuju. Dia sudah melihat dimana Yustina duduk, maka katanya kepada istri Erik itu,” Dan kamu, Tina, kapan kamu akan mulai bosan sehari-hari berbelanja, bersolek, dan bersenam saja? Kapan kamu akan mulai bekerja seperti orang-orang lainnya”.
Kali ini Tina, Neng Yustin atau Yus tidak bisa lagi menahan dirinya. Santai dia menjawab, “Kalau aku bekerja, namanya bukan lagi anaknya orang kaya. Anda mestinya juga tahu, bahwa orang tuakulah yang membayari belanja kebutuhan pokok kami yang selalu Anda makan baik siang atau malam di sini. Padahal Anda semua bukan orang-orang miskin peliharaan ayahku!”
Malam itu Yustina tidak keluar lagi mengucapkan selamat jalan kepada keluarga Erik. Langsung terjadi pertengkaran hebat pertama di antara suami istri. Di lain waktu telah pernah ada perselisihan. Namun masih bisa dianggap kecil. Sepele. Lumrah, karena ‘hanya’ mengenai anak sakit, anak menangis, anak tidak mau makan.
Hingga saat itu, pertengkaran agak gawat adalah tentang cara Erik bercinta. Yustina nyaris ‘mogok’ tidak mau disentuh lagi oleh suaminya. Alasannya Erik tidak romantis lagi. Yustina menginginkan kelembutan seperti dulu. Erik menjawab bahwa dia lelah karena seharian bekerja di kantor. Tetapi nyatanya, pada hari-hari libur pun kelembutan yang diharapkan istrinya tidak pernah hadir lagi. Yustina menuduh adanya perempuan lain. Erik menuduh Yustina terlalu manja, selalu ingin dituruti kehendaknya.
Dua hari kemudian, ibuYustina datang menghibur. Itu juga bukan kali pertama ibunya datang berusaha mentralkan suasana rumah tangga anaknya..
“Ayo, ikut pulang ke Jakarta bersamaku!” ibu Yustina mengajak “Tinggalkan suamimu selama satu atau dua bulan. Bawa anakmu bersama pengasuhnya sekalian. Biar Erik kelabakan.”
Yustina tidak menjawab. Bukankah Erik malahan akan terlalu senang mempunyai seluruh apartemen buat dirinya sendiri? Siapa tahu, keluarganya justru akan berpesta dan mondok di sana.
“Aku sungguh tidak tahan lagi mendengarkan sindiran-sindiran mereka,” Yustina melampiaskan kekesalan hatinya kepada ibunya, “Seolah-olah mereka tidak turut menikmati uang Ayah.”
“Jangan didengarkan!”
“Bagaimana bisa! Meskipun Ibu tidak pernah mengajarku bertengkar, akhirnya kesopananku runtuh. Aku membalas tingkah mereka yang menjengkelkan. Apa lagi si Sosialist! Sementara mengkritik terus, perutnya sendiri selalu kenyang dan makan enak!”
“Sekarang mereka masih kemari? Makan di sini?”
“Sudah seminggu ini tidak. Aku sudah menyiapkan kalimat jawaban bila ada yang telepon mengatakan akan makan di sini.”
“Apa yang akan kaukatakan?”
“Akan kuberitahu mereka, bahwa aku sekarang bekerja mencari nafkah. Bahwa uang dari Bapak tidak kugunakan buat membeli kebutuhan bahan pokok. Oleh karenanya, jika mereka akan kemari, sebaiknya membawa urunan makanan sendiri-sendiri.”
“Ah, kau ada-ada saja! Mana mereka percaya kamu akan bekerja!”
“Mereka harus percaya, karena aku memang akan bekerja!”
Ibu itu mengerutkan kening mendengar suara anaknya. Dia amati baik-baik mata satu-satunya anak perempuan yang dia miliki itu.
“Benar, Ma! Aku akan bekerja. Hari Selasa depan aku dipanggil ke kedutaan sambil membawa surat lamaran.”
Ibu Yustina memandang heran ke arah anaknya. Benarkah anak perempuannya perlu bekerja? Bukankah ayahnya bisa mencukupi kebutuhan hidupnya. Apa yang dicari oleh Yustina ?
Yustina mengira telah menjawab pertanyaan-pertanyaan terdahulu dengan baik. Kedua pejabat Kedutaan RI di hadapannya tampak jelas berpengalaman. Usia mereka pasti jauh di atas umur Yustina sendiri. Yang seorang wanita, lainnya pria, keduanya tenang dan tidak memburu atau mendesak. Tetapi kalimat paling akhir itu agak mengejutkan Yustina.
“Saya ingin mandiri dalam hal keuangan,” sahutnya. Lalu terpikir mungkin orang tidak akan mempercayainya bila ketahuan siapa ayah-ibunya. Cepat dia menambahkan,” lagi pula anak saya sudah besar. Waktu pendaftaran sekolah nanti dia cukup umur untuk masuk TK.”
“TK hanya setengah hari,” kata pejabat wanita itu. Mungkin dia juga seorang ibu,” Bagaimana Anda akan mengatur waktu?”
“Di surat lamaran saya sebutkan bahwa untuk sementara, saya memohon pekerjaan paruh waktu. Misalnya dari pagi sampai pukul satu siang. Kebetulan tetangga saya juga mempunyai anak yang akan masuk TK. Dia sanggup menjaga anak saya sampai saya pulang.”
“Oh, bagus kalau begitu.”
Kemudian Yustina dipersilakan menunggu di luar. Tidak mencapai sepuluh menit, dia dipanggil kembali. Dia sudah menduga akan dites menggunakan komputer.Untunglah kadangkala dia berkesempatan ‘bermain-main’ dengan komputer suaminya untuk mengirim E-mail atau membantu menuliskan terjemahan surat dalam bahasa Inggris buat kantor suaminya. Dia sarjana di bidang bahasa asing itu.
Beberapa saat berlalu, lembaran contoh kemampuannya diperiksa. Selesai. Dia dipersilakan pulang, kedutaan akan memberi kabar mengenai keputusan mereka.
Ayah Yustina sudah pensiun sejak lama, dengan tabungan di bank-bank Tokyo, Jerman, Swis, dan beberapa lainnya di Asia Tenggara. Sehubungan dengan penyakitnya kolesterol dan darah tinggi, dokter menyarankan agar lelaki itu tidak bepergian terlalu jauh sehingga kelelahan.
“Kalau tidak periksa kesehatan di Jakarta, ya, ke Singapura atau Australia. Itu paling aman. Dekat. Banyaklah jalan kaki. Ciputat bagus. Periksalah kebun-kebun buah Anda sesering mungkin sekalian olahraga,” begitu nasihat dokter keluarga.
Bapak itu adalah orang yang di dunia Barat bisa disebut gold finger. Apa pun yang dia sentuh bisa menghasilkan uang. Seluruh umur kariernya sebagai pejabat di luar negeri, tidak satu kali pun dia menyeleweng dari garis kejujuran. Ketika kembali paling akhir ke tanah air sebagai pejabar RI, seseorang menawarkan tanah. Karena kasihan, dia membelinya. Disusul saudara pembantunya yang terdesak memerlukan uang, menjual tanah. Bapak Yustina juga membelinya. Begitu seterusnya, sampai-sampai saudara atau ayahpembantu tetangga sekali pun mendatangi rumah Yustina karena mendengar bahwa si Bapak bisa ‘menolong’ membeli tanah, kebun, sawah mereka yang tinggal di tempat-tempat pinggiran Jakarta, Bogor serta berbagai kota kecil dengan pendahuluan nama Ci.
Tidak pernah diperhitungkan kepentingan lokasi, Ayah Yustina membeli dan terus saja membeli jika ditawari dan dia menyukainya. Tanpa menunggu lima tahun, menyusul sepuluh tahun, harga tanah yang telah pindah ke tangannya itu belripat ganda hingga ratusan, bahkan ribuan persen. Kota mendesak daerah pinggiran, terus masuk ke pedalaman sehingga tidak ada lagi yang menjadi tepiannya.
Si bapak menyisakan cukup banyak untuk dirinya dan empat anaknya.
Hanya Yustina yang perempuan. Hanya Yustina yang bertahun-tahun bertenger di suatu universitas tanpa ketahuan kapan akan selesai. Sampai pada suatu saat ibunya memutuskan akan menuliskan skripsi anak itu. Tetapi dia sudah terlalu lama meninggalkan kuliahnya sendiri. Dia tidak pernah menginjak tahun ketiga karena memang kuliah dia anggap sebagai batu loncatan untuk mencari suami.
Barulah si ibu itu menyadari bahwa berbicara dan membaca bahasa Inggris dengan lancar bukan berarti gampang menulis skripsi. Padahal buku bacaan menumpuk di kamar-kamar empat atau lima rumahnya di Menteng, Kebayoran, atau Parung.
“Yustina tentu lulus. Tulis skripsi orek-orekan saja! Itu hanya sebagai syarat. Asal ada kertas kerjanya, bagaimanapun bentuknya, pasti lulus!” begitulah kata kawan-kawan dosen yang dekat dengan keluarga miliarder itu.
Keputusan lain pun menyusul, harus ditemukan orang lain yang mau menuliskan skripsi. Tidak mudah, tetapi ada. Di Indonesia masih banyak orang pandai namun kekurangan biaya hidup. Dan akhirnya Yustina mendapatkan gelar DRA-nya. Bukan hanya hadiah berupa barang yang dia terima.
Dia juga dibawa berjalan-jalan ke setengah lingkaran bumi oleh ibunya. Nomor satu adalah Jepang, karena Yustina lahir di sana. Perjalanan diteruskan ke Eropa. Di setiap tempat yang dituju, kedutaan menyediakan tenaga khusus sebagai pengantar dan mengurusi segalanya.
Mereka ke negeri Prancis, tentu ke Lourdes untuk berziarah. Sebagai umat Katolik, Si Ibu khusuk berterima kasih kepada Tuhan karena keempat anaknya telah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Kini yang dia inginkan ialah satu-satunya anaknya perempuan segera mendapatkan jodoh. Dia bersembahyang sambil membayangkan betapa akan hebat dan ramainya perhelatan luar biasa yang bakal diselenggarakannya di ibu kota RI untuk mengawinkan si Bungsu tersebut.
Sebelum ke Roma, mereka beberapa hari bersantai di beberapa kota wisata Prancis. Yustina jatuh cinta pada Paris. Hanya dengan susah payahlah ibunya bisa membujuknya untuk meneruskan perjalanan mereka.
Sepulang dari keliling setengah dunia itu, Yustina langsung mendaftarkan diri kursus bahasa Prancis. Orang rumah dan lingkungannya belum pernah melihatnya serajin itu. Gadis yang dulu selalu berbaringan di kamar sambil menonton televisi, acara film apa pun, kini giat belajar. Memang televisi masih dibiarkan menyala, tetapi siaran yang terdengar adalah CNN atau berbahasa Prancis.
Tidak hanya itu perubahan di rumah tersebut. Yang menelepon pun juga bertambah. Di antaranya bahkan pernah ‘tersesat’ ke rumah bagaikan kastil di Ciputat yang berkamar dua puluh. Di waktu itu, ayah Yustina sedang ‘dinas’ mengawasi panen rambutan. Turun dari mobil, barulah dia tahu bahwa topinya ketinggalan di rumah Menteng. Dia memasuki ‘kastil’nya untuk mencari topi lain. Dia terima telepon di dekatnya.
“Yustina tidak ada di sini. Ini bapaknya,” kata si ayah dengan kesal karena merasa terganggu, maka langsung mengutarakan siapa dirinya.
“Maaf, Pak. Perkenalkan, saya Erik. Apakah Tina tidak kursus bahasa Prancis hari ini?”
“Masuk! Dia kursus setiap hari,” kata Si Bapak lagi. Kini ada nada kebanggaan karena anaknya rajin.
“Kami menunggunya. Pelajaran akan dimulai, tapi dia belum datang,” suara di ujung lain menjelaskan, lalu segera disusul ucapan terima kasih dan kata-kata sopan lain sebagai permintaan maaf.
Tina, keluarga memanggil satu-satunya anak peremuan itu Yustina, Yus atau Yustin. Tiba-tiba sekarang ada nama baru. Begitu tiba kembali di rumah di kota, si ayah masih mempersoalkan siapa yang namanya Erik itu.
“Ooo, Erik!” Yustina berseru kecil menjawab pertanyaan ayahnya. “Dia pengajar di tempat kursus. Sebetulnya bukan dosen atau guru, melainkan cooperant, tenaga sukarela yang mau ditempatkan di luar Prancis. Calon insinyur, tapi bisa mengajar bahasa Prancis.”
Dan itu merupakan awal dari masuknya nama Erik ke dalam cerita-cerita Yustina yang dibawa ke tengah keluarganya. Dari hari ke hari, makin banyak cerita itu. Sampai pada suatu hari, Yustina membawa pemuda itu pulang. Karena Bapak senang berbincang-bincang dengan dia dan Ibu memahami pancaran mata anak perempuannya, Erik ditahan untuk makan malam.
Pada suatu hari sedan mahal yang biasa dikendarai Yustina tidak kelihatan di garasi. Ayahnya bertanya di mana kendaraan itu. Santai dan yakin, anak satu-satunya perempuan itu menjawab Erik yang membawanya. Dan itu tidak dipersoalkan. Neng Yustina bisa diantar sopir dengan mobil lain kalau perlu. Dan bukankah setiap sore Pak Erik menjemput untuk pergi bersama ke kursus? Bila penanggalan memuat warna merah, sudah pasti Yustin menginap di salah satu rumah di luar kota. Dan Erik tentu bersamanya.
Tiba-tiba ayah dan ibu itu ikut-ikutan memanggil anak perempuan mereka Tina. Itu nama yang bagus. Berdua mulai membayangkan mempunyai menantu lelaki Barat. Sama-sama Katolik, tidak apa-apa. Diam-diam mereka malahan bangga. Sudah beberapa lingkungan orang kaya sahabat mereka yang mempunyai menantu bangsa asing. Dengan perkawinan Tina dan Erik, keluarga itu tidak ketinggalan zaman!
Belum setahun Erik dan Tina berkenalan, masa kontrak pemuda itu habis.
Dia akan memperbaruinya, tapi harus pulang dulu ke negerinya. Maka disepakati, sekembalinya ke Jakarta, Erik akan menempati rumah keluarga di Menteng atau Kebayoran yang belum dikontrak orang. Kendaraan juga akan disediakan. Erik akan banyak menulis, karena dia akan menyelesaikan studinya.
Benarlah, perkawinan Yustina menjadi berita besar di ibu kota RI. Semua anggota keluarga datang dari Prancis. Ayah Yustina menyewa satu lantai suatu hotel bergengsi. Kontrak perkawinan adalah gono-gini. Semuanya adalah milik bersama walaupun apartemen lima ruang di Paris, ayah Yustina-lah yang membayari. Meskipun perjalanan pengantin ke Bali dan Lombok atas tanggungan ayah Yustina.
Yustina menikmati menata rumahnya.Sesungguhnya Erik juga mempunyai sebuah studio, atau apartemen beruang satu. Itu dia beli dengan uang warisan neneknya ditambah tabungan perumahan yang sejak kecil disimpankan ayahnya. Tetapi Yustina membutuhkan ruang tamu besar, kamar tidur besar, gudang yang besar pula.
Keenakan berumah tangga sendiri hanya beberapa waktu dia rasakan. Karena di Paris, semua harus dikerjakan sendiri. Untunglah punya uang. Ketika dia mulai merasa mual-mual mengidam, segera didatangkan wanita Spanyol sebagai pembersih rumah. Pada awalnya, Yustina bangun pagi menemani suami minum kopi. Tapi itu hanya sebentar berlangsung. Dia biarkan Erik bangun dan membuat kopinya sendiri. Suami itu menciumnya sekilas sebelum turun menuju ke tempat kerjanya. Sambil lalu, dia juga membawa sampah ke ruang bawah tanah.
Di dalam barang pindahan, Yustina tidak membawa bumbu-bumbu masakan Jawa. Dia tidak pernah berpikir akan membutuhkan gula merah untuk membuat sambal rujak atau terasi serta petis untuk dicampurkan pada tahu goreng. Ibunya tidak pernah memberinya pengarahan, kecuali harus memilik kain batik Iwan Tirta buat tirai, memesan sutera batik untuk dijadikan hadiah-hadiah.
Maka jalan satu-satunya yang ditempuh adalah menelepon meminta kiriman. Sementara menunggu, bukankah di kedutaan ada seorang karyawati yang dulu membantu mereka,? Ibu Puji menawarkan jasanya jika Yustina memerlukan sesuatu. Dan segera itu dilakukan. Setelah berbasa-basi ini dan itu, sampailah pada keluhan ingin makan segala masakan yang mentradisi: rujak, tahu petis, klepon, bubur candil dan seterusnya lagi. Seperti yang diharapkan Yustina, Ibu Puji yang baik mempersilakan datang ke kedutaan. Kebetulan dia mempunyai cobek yang tidak dipakai. Kebetulan banyak gula merah, kebetulan ini dan semuanya serba kebetulan.
Belum pernah Tina, Neng Yustin, merasa kaya hanya karena mempunyai cobek dan muntu sebagai pasangannya. Sepulang dari kedutaan dia suruh taksinya singgah ke toko makanan Vietnam di Mauberg Mutualite. Bu Puji bahkan memberinya sebuah buku masakan lama. Sopir taksi menerima tip besar, maka dengan serta merta menawarkan jasa mengantarkan belanjaan sampai ke tingkat enam hingga di depan pintu rumah.
“Akan berpesta, Madame? Wah, pasti enak masakan Timur, ya!” katanya berkelakar, lalu mengucapkan Bonne Fete (selamat berpesta) dan kembali turun.
Yustina pernah memberitahu Erik bahwa dia tidak bisa memasak.
“Tidak perlu memikirkan masakan. Bikin steik dan kentang goreng saja. Kalau ingin makan lainnya, kita ke restoran,” demikian tanggapan suaminya.
Kebalikannya, ibu mertuanya berkata, “Belajarlah memasak! Lelaki harus ‘dipegang’ lewat perutnya. Kalau dia tidak puas makan di rumah, pasti cari lainnya di luar. Erik gemar Le Mouton Grille Aux Petits Oignons. Resepnya ada di buku ini,” lalu ibu mertua itu memberikan sebuah buku masakan.
Sungguh membingungkan. Mana yang harus diikuti. Tapi sekarang Yustina akan menjadi tukang masak karena mual-mual di perut hanya dapat hilang jika dia makan masakan Jawa. Kalau tidak, dengan mata terpejam pun, bayangan makanan yang dia inginkan menari-nari di pelupuk matanya.
Di hari pertama Neng Tina memasak, sudah terjadi perubahan.
“Di mana kamu, Cherie,” seru suaminya sambil menutup pintu kembali.
Yustina belum sempat keluar menyongsong, dia hanya menjawab dari dapur.
“Sebentar, Cheri. Aku cuci tangan dulu.”
Keduanya saling memanggil dengan kata Sayang dalam bahasa Prancis, sehingga nama mereka tidak pernah lagi diucapkan.
Yustina mendekati suaminya, meminta direngkuh kedalam pelukan.
“Uhhh, baumu bumbu-bumbu!” seru Erik sambil menolakkan kepala istrinya, memandang dari jarak tiga puluh senti dan meneruskan: “Aku seharian tidak melihatmu! Kalau bertemu, inginku menciumimu seluruh tubuh. Tapi jangan berbau seperti ini!”
Hari kedua, Yustina tanggap. Sebelum pukul lima, dia sudah mandi dan bersolek ringan. Lebih-lebih yang paling penting, Erik tidak suka mencium bibir istrinya bila dipolesi gincu. Dia juga tidak boleh mengenakan celana panjang, karena gaun lebih terbuka untuk belaian dan jangkauan.
Masa mengandung tidak mengurangi waktu percumbuan. Hanya caranya saja yang berbeda. Erik tahu menata dan mengarahkan istrinya hingga mencapai ujung perjalanan yang melelahkan namun memberi kepuasan.
Tapi benarkah Yustina puas hingga ke kedalaman lubuk hatinya?
Di tahun ketiga perkawinan, walaupun dibantu oleh seorang pengasuh anak khusus berijazah negara, Yustina benar-benar bosan tinggal di rumah. Dasarnya dia memang tidak pernah suka anak-anak. Tetapi anaknya lucu, perempuan. Pas untuk dijadikan boneka. Kunjungan saudara dan teman dari Indonesia tidak berkeputusan menyebabkan Yustina semakin jarang tinggal di rumah seharian. Maka sekali-sekali menggendong dan mencium anaknya membikin dia lupa pahit getirnya orang berumah tangga.
Kini dia sudah merasakan ketidaknyamanan hidup bersama Erik.
Baru tahun lalu suaminya itu mencapai usia yang berkepala tiga, tetapi kini perutnya buncit. Dahi yang dulu terlindung oleh rambut pirang, sekarang kelihatan menonjol telanjang sehingga nampak terlalu lebar. Itu semua membikin rusak garis-garis harmonis yang dulu menyebabkan Yustina tertarik kepadanya.
Perut gendut menandakan kemapanan.
“Biar saja!” kata ibu Erik. “Itu tandanya kamu memberinya makanan enak-enak, dapurmu terus berasap. Laki-laki boleh gemuk. Tapi kita perempuan harus menjaga daya tarik kita supaya suami tidak melirik ke arah lain.”
Yustina beruntung mempunyai waktu menjadi anggota klub kebugaran di gedung, tidak jauh dari apartemennya. Maka dia langsing dan berotot. Sedangkan Erik hanya mempunyai waktu hari Sabtu untuk ke sauna di tempat yang sama. Jika dia kehilangan satu kilo karena berpeluh dan energinya terisap kolam renang, keluar dari sana, dia minum-minum dan makan semaunya di restoran mewah.
Yustina tidak mendapatkan kegairahan bercinta lagi dari suaminya.
Tidak ada lagi belaian memanaskan yang begitu disukai Yustina. Tahap awal sekarang dihilangkan, langsung saja Yustina dipaksa suaminya ke tengah perjalanan. Dulu mereka berdua berjalan ibarat bergandengan, perlahan, selalu seirama. Selangkah demi selangkah hingga sampai pada taraf kecepatan yang dipadu untuk berdua. Inilah yang disukai Yustina. Tapi kini itu sudah menguap entah kemana. Tidak dibisikkan lagi kata-kata lembut,atau panggilan-panggilan kesayangan.
Tidak hanya itu yang membuat Yustina kecewa berumah tangga.
Dilihat selintas, keluarga besan sayang kepadanya. Tetapi yang sesungguhnya, Yustina merasakan iri hati di bidang segalanya. Kakak Erik tidak kawin, hidup serumah dengan seorang aktivis politik golongan oposisi. Seolah-olah peduli lingkungan, selalu ikut serta dimana pun terjadi unjuk rasa mengenai soal ekologi. Tetapi bila dicari namanya, tak satu pun organisasi Lingkungan Hidup yang mencatatnya sebagai anggota. Dia hanya ikut-ikutan. Yang pasti, dia memang mempunyai kartu tanda anggota Partai Sosialis negeri itu.
Pekerjaan yang menopang hidupnya adalah tata kota di suatu provinsi terdekat dengan Paris. Maka tidak jarang dia tiba-tiba muncul, sendirian atau didampingi kakak perempuan Erik. Mereka sengaja datang untuk turut bersama makan siang di hari libur, atau makan malam di hari biasa. Tetapi bukan itu yang mengganjal bagi Yustina.
Kalimat-kalimat yang diucapkan orang tua dan saudara-saudara Erik selalu siap menghunjam dada anak perempuan satu-satunya si Bapak bertangan emas itu. Yustina dan kakak-kakaknya memang terpelajar karena mempunyai gelar sarjana. Tetapi pengetahuan mereka terbatas. Mereka tidak tertarik pada hal-hal di luar bidang masing-masing. Apa lagi Yustina. Bahasa Prancisnya maju karena dia menggunakannya untuk berbicara sehari-hari. Tetapi jika harus menulis atau membaca, matilah dia. Dia juga berbicara bahasa Inggris. Tetapi ilmunya memudar terdesak oleh tahun-tahun yang hilang.
Maka dalam perbincangan bersama saudara, orang tua, atau lingkungan besan itu, Yustina hanya diam. Nyata lingkungan barunya tidak mempedulikannya. Mereka tidak menganggapnya sejajar karena setiap kali dimintai pendapat, jawabannya kekanak-kanakan atau meleset jauh dari pokok persoalan. Bahkan dua atau tiga kali terluncur kata-kata kakak Erik yang jelas ditujukan kepadanya.
“Orang-orang kaya di dunia inilah yang memelihara kemiskinan. Karena, kalau mereka memang rela menghapus kemelaratan, sebenarnya bisa. Kaulihat misalnya ayah Tina, dia menjadi tuan tanah ukuran raksasa. Apakah dia menjamin pendidikan para pekerjanya supaya lebih pandai. Tidak, bukan. Karena bila pekerja diberi tambahan pengetahuan, mereka akan meninggalkan kebun, bekerja pada orang lain!”
Lalu di kesempatan yang berbeda, sedang asyiknya mereka minum kopi sesudah makan, ayah Erik melirik ke arah menantunya wanita Indonesia itu.
“Aaaah, kopi dari Jawa! Inilah nikmatnya mempunyai menantu orang berasal dari Jawa. Anak orang kaya pula! Jadi simpanan kopi tidak bakal habis karena selalu menerima kiriman.”
“Ya, benar,” adik Erik yang juga bekerja sebagai insinyur menunjang . “Tahukah Ayah, Tina sering menerima kiriman langsung dari Jakarta dibawa pesawat sehari semalam tiba di sini. Begitu itu kalau menjadi anaknya orang kaya! Seperti Duta Besar saja!”
Nada-nada suara mereka bukannya bercanda, melainkan diselubungi iri hati. Walaupun semula Yustina menanggapinya serius, kemudian ganti dengan sikap ringan seolah-olah tidak memperhatikan, lama kelamaan dia merasa kesal juga. Hingga pada suatu ketika, keluarlah kalimat lain, “Kita ini ‘kan harus bekerja untuk menutupi kebutuhan kita. Bukan begitu, Ayah?”
Dan, ipar Erik melayangkan pandang ke arah suami Yustina sekaligus mencari di mana si nyonya rumah duduk, kemudian meneruskan. “Tidak seperti Erik. Sesungguhnya dia tidak perlu ke kantor setiap hari. Hidupnya sudah dijamin mertua!”
Ibu Erik menyahut,“Kalau Erik tidak bekerja, bayangkan, badannya akan menggelembung seperti disengat lebah karena semakin tidak bergerak hanya makan melulu kegiatannya.”
“Ya, Ibu benar,” ipar itu setuju. Dia sudah melihat dimana Yustina duduk, maka katanya kepada istri Erik itu,” Dan kamu, Tina, kapan kamu akan mulai bosan sehari-hari berbelanja, bersolek, dan bersenam saja? Kapan kamu akan mulai bekerja seperti orang-orang lainnya”.
Kali ini Tina, Neng Yustin atau Yus tidak bisa lagi menahan dirinya. Santai dia menjawab, “Kalau aku bekerja, namanya bukan lagi anaknya orang kaya. Anda mestinya juga tahu, bahwa orang tuakulah yang membayari belanja kebutuhan pokok kami yang selalu Anda makan baik siang atau malam di sini. Padahal Anda semua bukan orang-orang miskin peliharaan ayahku!”
Malam itu Yustina tidak keluar lagi mengucapkan selamat jalan kepada keluarga Erik. Langsung terjadi pertengkaran hebat pertama di antara suami istri. Di lain waktu telah pernah ada perselisihan. Namun masih bisa dianggap kecil. Sepele. Lumrah, karena ‘hanya’ mengenai anak sakit, anak menangis, anak tidak mau makan.
Hingga saat itu, pertengkaran agak gawat adalah tentang cara Erik bercinta. Yustina nyaris ‘mogok’ tidak mau disentuh lagi oleh suaminya. Alasannya Erik tidak romantis lagi. Yustina menginginkan kelembutan seperti dulu. Erik menjawab bahwa dia lelah karena seharian bekerja di kantor. Tetapi nyatanya, pada hari-hari libur pun kelembutan yang diharapkan istrinya tidak pernah hadir lagi. Yustina menuduh adanya perempuan lain. Erik menuduh Yustina terlalu manja, selalu ingin dituruti kehendaknya.
Dua hari kemudian, ibuYustina datang menghibur. Itu juga bukan kali pertama ibunya datang berusaha mentralkan suasana rumah tangga anaknya..
“Ayo, ikut pulang ke Jakarta bersamaku!” ibu Yustina mengajak “Tinggalkan suamimu selama satu atau dua bulan. Bawa anakmu bersama pengasuhnya sekalian. Biar Erik kelabakan.”
Yustina tidak menjawab. Bukankah Erik malahan akan terlalu senang mempunyai seluruh apartemen buat dirinya sendiri? Siapa tahu, keluarganya justru akan berpesta dan mondok di sana.
“Aku sungguh tidak tahan lagi mendengarkan sindiran-sindiran mereka,” Yustina melampiaskan kekesalan hatinya kepada ibunya, “Seolah-olah mereka tidak turut menikmati uang Ayah.”
“Jangan didengarkan!”
“Bagaimana bisa! Meskipun Ibu tidak pernah mengajarku bertengkar, akhirnya kesopananku runtuh. Aku membalas tingkah mereka yang menjengkelkan. Apa lagi si Sosialist! Sementara mengkritik terus, perutnya sendiri selalu kenyang dan makan enak!”
“Sekarang mereka masih kemari? Makan di sini?”
“Sudah seminggu ini tidak. Aku sudah menyiapkan kalimat jawaban bila ada yang telepon mengatakan akan makan di sini.”
“Apa yang akan kaukatakan?”
“Akan kuberitahu mereka, bahwa aku sekarang bekerja mencari nafkah. Bahwa uang dari Bapak tidak kugunakan buat membeli kebutuhan bahan pokok. Oleh karenanya, jika mereka akan kemari, sebaiknya membawa urunan makanan sendiri-sendiri.”
“Ah, kau ada-ada saja! Mana mereka percaya kamu akan bekerja!”
“Mereka harus percaya, karena aku memang akan bekerja!”
Ibu itu mengerutkan kening mendengar suara anaknya. Dia amati baik-baik mata satu-satunya anak perempuan yang dia miliki itu.
“Benar, Ma! Aku akan bekerja. Hari Selasa depan aku dipanggil ke kedutaan sambil membawa surat lamaran.”
Ibu Yustina memandang heran ke arah anaknya. Benarkah anak perempuannya perlu bekerja? Bukankah ayahnya bisa mencukupi kebutuhan hidupnya. Apa yang dicari oleh Yustina ?
***
NH Dini