“Bungkukkan tubuhmu, Nak. Jalan merunduk. Julurkan satu tanganmu lurus ke bawah dengan jari-jari terbuka rapat. Ucapkan tabe’, minta permisi  tiap kali lewat di depan orang. Anggap siapa pun itu puang. Terutama orang yang duduk bersila itu. Merendahkan badan tak membuatmu lebih rendah. Justru sebaliknya, akan kau tunjukkan kau lebih bangsawan daripada bangsawan itu sendiri. Lebih Andi!”

Andi Tenri Punna Gau menatap anaknya bangga, untuk pertama kali datang berkunjung bersama,  pulang kampung halaman di tanah Bugis yang bermarwah itu. Kejadian masa silam sudah berumur, mengental lumut dalam kenangan. Meredam dendam yang pendam setelah sekian lama menggerogoti ingatan.

“Kalian sudah lancang silariang dan berani kembali tanpa pikir panjang!” amuk ayahnya.

Dahulu dikepung kerabat, saudara, tumpah ruah orang di pekarangan yang sama, suaminya mati ditikam badik ayahnya sendiri. Tatkala dia dan suaminya kembali mengakui kesalahan, telah silariang. Hendak menebusnya dengan meminta maaf; dikejar sesal tiada terkira. Namun berharap terlalu pagi, maut langsung sudi menemui.

Badik telanjur terhunus pantang pulang bersarung tanpa berdarah. Sekali tikam, tepat di leher, ditancap lalu diputar kemudian dientak keluar. Dibuat kaget, nyawa lenyap sekejap tanpa erang; hilang pekik. Bersimbah dan memercik, tanah meresap darah. Jasad tumbang.

Kalau bukan karena Amma’ yang meraung mau gila di tangga, barangkali dia pun tewas. Andi Tenri Punna Gau hanya berujar meminta belas kasihan, “Jika Etta’ punya pesse’ bukan hanya siri’, maka izinkan saya pergi terusir. Saya mengandung Etta’. Anak ini tak punya kewajiban menanggung dosa orang tuanya, tak layak dibunuh.”

Sekarang ia pemuda. Puteraku. Batin wanita yang pernah bangsawan itu seraya memandang rumah panggung megah yang berpekarangan permai. Di luar, seolah tampak sunyi bagai tanpa penghuni dan masih seperti dulu: anggun dan angkuh. Andi Tenri Punna Gau tahu ada sepi yang ramai karena dia tak disambut. Di atas–dalam sana dia yakin orang-orang berkerumun, bergerimit suara-suara. Barangkali beberapa mengintip di celah dinding papan yang belum lapuk, melihatnya tiba. Pintu kayak sengaja dikuak, terbuka gelap bak ruang yang menunggu.

Hari memang di ujung sore, remang magrib hendak bertandang. Senja menua sumir. Begitu lamur.
Meski ada listrik, kelihatan api di lampu minyak saja yang dinyalakan, bayang-bayang sayup. Tak ingin benderang sebelum terang maksud kepulangan. Betul-betul tak ada siapa yang keluar dari rumah itu sekadar mengajak masuk orang yang telah lama dihapus dari garis keluarga. Padahal, dia sudah mengabarkan kepulangan jauh-jauh hari sebagai angin lalu. Laiknya tamu tak diundang mengetuk keharibaan rindu. Masih adakah itu?

Etta’mu masuk penjara karena kau,” bertubi-tubi sebab ditimpakan padanya.
“Tak kan begini jadinya bila kau tetap di belakang rumah.”
“Bukankah buat kita, ruang dan waktu berkebalikan, Amma’?”

Bagi orang Bugis, di belakang bisa berarti masa depan, di belakang hari, hari kemudian setelah ini. Di depan dapat bermakna dulu, waktu yang pernah datang. Itu sebabnya kejayaan masa lampau masih diagung dan digaungkan hingga kini. Sejarah masih kentara. Sekarang kita apa? Pikir Andi Tenri Punna Gau menerobos. *
“Kau anak perempuanku yang terlalu pintar!”

“Setidaknya ada yang saya perjuangkan, Amma’, walau membuatku tak bernasib baik.”
“Cinta membuatmu tidak mau mendengar, Tenri.”
“Kelirukah itu, Amma’? Bila kemauan hati kupilih.”
“Memperturutkan hati banyak hal yang kau tentang.”
 
 


Kenangan melintas.
Pedagang dari Ujung Pandang di ujung pandang jalan petang itu naik sepeda jengki yang tinggi ringkih itu. Lewat di depan rumah Andi Tenri Punna Gau yang sedang duduk merapikan rambutnya hendak dia ikat sehabis dicarikan kutunya di jenjang tangga. Pandang temu pandang. Senyum dilempar tak sengaja, begitu saja terulas meski sekilas, tunduk malu menahan mau, walau sekadar kenalan yang pantas.

Sulit ketemu jodoh lantaran sering duduk termangu magrib-magrib di serambi rumah tidak berlaku bagi Andi Tenri Punna Gau. Dia sudah pernah menikah. Janda yang masih gadis. Kena talak dari lelaki bangsawan Bugis. Andi Tenri Punna Gau menolak suaminya dalam kelambu dengan sarung berlapis-lapis. Sebab, dia tahu diam-diam suaminya punya istri, nikah di bawah tangan tanpa pesta dan tak diakui, tapi pasti dicintai. Sampai hati! Andi Tenri Punna Gau tak mau cuma perkawinan status: sekadar cita-cita orang tua. Perjodohan sejak kecil tak harus diteruskan bila hidup menyodorkan kenyataan lain.

Telanjur tak ada kata cerai untuk perkawinan yang baru saja dimulai, kecuali ingin mengibarkan kain permusuhan di antara kedua keluarga mempelai. Harga diri tidak boleh dicederai. Aib keluarga dalam-dalam disembunyikan. Andi Tenri Punna Gau memilih caranya sendiri.

Lelaki bangsawan Bugis itu menyerah. Andi Tenri Punna Gau kepala batu, tak sudi membuka diri. Sampai bilangan tahun dilewati tanpa dikaruniai anak, jelas saja hingga dia dituduh mandul oleh orang yang tidak tahu. Dikembalikan ke orang tuanya. Betapa terhinanya. Sampai dia melakukan pembuktian dini, dihamili orang lain. Pedagang dari Ujung Pandang yang dia cintai betul.

“Kita mesti kembali, Andi’. Menjelaskan segala perkaranya. Tidak mungkin kita terus sembunyi dan lari. Kita bakal terus dicari.”
Puang Imam tempat kita berlindung saja tidak diterima untuk baku baik, apalagi kita, pelakunya. Saya tahu betul Etta’-ku. Tidak bisa dibengkokkan. Salah tetap salah, tidak ada baiknya.”
“Saya pun punya harga diri, Andi’-ku, punya malu. Tapi tidak malu untuk mengakui.”
Daeng, saya seorang janda. Bebas memilih lelaki yang ingin saya nikahi tanpa perlu bayang-bayang orang tua. Dan sejarah asalmu meyakinkan saya, kau tidak akan pernah diterima.”
“Karena saya bukan bangsawan?”
“Itu juga!”
“Saya hadapi.”
“Kau menantang maut?”
“Mari bersama demi anak kita.”
Oh, Daeng, anak kita sudah besar. Kudidik, kusekolahkan hingga jenjang pendidikan tinggi dari hasil dagang yang Daeng tinggalkan, kukelola buat putra kita hingga ia telah berhasil maju jadi pengusaha. Tinggal mencarikan jodohnya, wanita yang sepadan dan pantas!
 
 


Sebelum itu, Andi Tenri Punna Gau ingin tampil bukan untuk mengangkat diri, tapi sekadar berkunjung menjenguk orang tuanya, sudah sangat lama kabarnya ayahnya bebas dari penjara. Mengenalkan dan mempertemukan kakek nenek dengan cucu. Berharap putranya diterima baik, meski dia sangsi. Namun, ada hal lain yang membuatnya bertaruh. Berdamai dengan masa lalu atau membuka masalah baru. Seperti karma yang berlaku.

“Melangkahlah, Nak.”
Amma’ tidak masuk?”
Amma’ tunggu di pekarangan. Wakili Amma’.”
“Maafkan, jika permintaanku ini berat, Amma’.”
“Bukan soal. Ini ujianmu, Nak. Jika kau berhasil, Amma’ yang berterima kasih.”
Amma’, doakan kalau begitu.”

“Pasti, Nak. Minta tabe’-lah lebih dahulu sebelum mohon restu. Jadilah bangsawan yang sesungguhnya. Sudah! Melangkahlah….” Linang tertahan di pelupuk ketika menepuk pundak putranya.

Tidak ada yang salah, tapi dia yang cerita. Supaya anaknya paham perjuangan ibunya. Andi Tenri Punna Gau tidak sangka itu menjelma bumerang. Anaknya menelusuri masa lalunya sampai menemukan gadis pujaan, dan ingin menikahinya. Adalah salah satu anak perempuan lelaki bangsawan Bugis yang pernah menalaknya.

 Kini, Andi Tenri Punna Gau memandang punggung anaknya yang melangkah maju tanpa menoleh lagi, menaiki tangga rumah panggung, lantas ditelan remang gelap. Menghadapi segala kemungkinan. Menghadapi pintu yang terbuka. (f)
 

Catatan Bugis:
Tabe’:  Minta permisi
Andi:  Gelar bangsawan Bugis (pemberian Belanda)
Etta’:  Ayah
Amma’: Ibu
Siri’: Harga diri, kehormatan
Pesse’: Simpati
Silariang : Kawin lari
Puang: Gelar bangsawan atau panggilan untuk orang yang dihormati
Andi’  atau Anri’: Panggilan adik untuk wanita                                                             
Daeng: Gelar bangsawan atau panggilan kakak untuk laki-laki
 

 ***

Emil Amir

Unggulan Sayembara Cerpen Femina 2016


Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/