
“Berarti belum registrasi?”
“Ya, Mbak, dia belum registrasi! Aku sudah bilang besok aja. Bahkan, ya, Mbak, aku sudah kasih dia kemudahan, lho. Yang harusnya registrasi besok, aku daftarkan sekarang biar nanti dia enggak perlu antre lagi. Tapi, ya, gitu Mbak... orangnya maksa mau ketemu sekarang. Aku kes....”
“Ya, sudah, minta dia tunggu sampai pasien terakhir. Kalau enggak mau, bilang sama dia, ‘Dapat salam dari Mbak Nin, tunggu atau enggak ketemu sama sekali.’ Oke?” Jawabanku membuat Indy keluar ruangan dengan langkah riang dan senyum yang terangkat setengah.
Aku kembali menatap wajah ibu paruh baya yang sedang berbaring di meja pemeriksaan. Kasur khusus pasien yang aku desain sendiri ini membuat ibu ini nyaman bak di kasur rumahnya. Ia tertidur pulas, padahal alisnya sedang kusulam. Tapi, sepertinya ia bisa tertidur begini juga karena alisnya sudah empat kali kububuhi cairan anestesi. Jadi, ia tak merasa sakit sedikit pun.
Di studio sulam alis ini tak ada yang boleh merasa sakit. Akan kulakukan apa pun agar mereka yang datang ke sini keluar dengan wajah semringah. Kata orang, beauty is pain. Tapi bagiku, kecantikan hanya didapat saat seseorang bahagia. Jarum embroidery pen-ku tak boleh membuat pasienku bergidik ngeri. Itulah kenapa studio yang baru berjalan satu tahun ini memiliki banyak pelanggan.
Mereka yang sudah pernah sulam di sini juga bilang, tanganku ajaib. Alis yang kubuat terlihat natural. Bulu asli dengan hasil sulam tidak terlihat bedanya. Aku memang berusaha hanya menambah gambar bulu halus pada alis mereka, bukan mengubah bentuknya. Menurut pengalamanku selama menjadi make up artist, tiap wajah sudah memiliki bentuk alis alami, wanita hanya perlu mengisi bagian kosong dengan produk alis agar bentuknya terlihat jelas.
Tapi, tidak semua orang punya bakat menggambar, bukan? Itu kenapa aku beralih untuk menekuni bisnis sulam alis setelah mempelajari tekniknya di Prancis dan Korea. Merias seluruh wajah memang menyenangkan. Dalam beberapa jam, seseorang dengan wajah lusuh berubah menjadi lebih segar dan berbeda. Tapi, menjadikan seseorang berbeda sebentar membuatku merasa bersalah.
Setelah dirias, biasanya pelanggan akan mengambil ponsel pintarnya dan mulai ber-selfie dengan kamera depannya. Mereka mulai tersenyum dengan wajah yang percaya diri. Tapi, keajaiban riasanku hilang ketika pembersih wajah menyentuh kulit mereka. Mereka kembali lusuh dan berharap wajahnya bisa disembunyikan saja. Memang sulam alis juga tak mengubah wajah seseorang secara permanen, tapi setidaknya ada yang tersisa, yaitu penilaian.
Dari sepasang alislah orang lain bisa menilai seseorang. Misalnya saja alis naik dengan goresan tegas yang dinilai galak. Atau alis tebal dengan posisi lurus yang akan menimbulkan komentar, “Oh, dia pasti suka artis Korea, deh.” Meski tidak 100% tepat, aku berharap mereka yang datang ke studioku mendapat penilaian yang mereka harap dari orang di sekitarnya.
Sulam selesai. Aku membangunkan pelangganku yang tidurnya makin nyenyak. Wanita itu tergopoh bangun sembari mengelap sudut bibirnya. Aku berangsur pergi ke meja rias, meninggalkannya karena takut ia malu.
“Mbak Nin, aku ketiduran. Maaf, lho.” Kata-kata wanita itu hanya kujawab dengan senyum kecil. Aku membantunya menyisir rambut belakangnya yang berantakan, sementara ia mematut diri di depan cermin.
“Gimana? Suka, Bu?”
“Mbak Nin memang yang terbaik. Makanya saya sulamnya di sini terus,” katanya, tanpa melepaskan pandangannya dari cermin.
Lega. Satu pelanggan lagi yang puas dengan hasil kerjaku. Tinggal satu lagi. Wanita yang berhasil membuat Indy, sekretaris yang paling pendiam, naik pitam. Setelah wanita paruh baya itu keluar, tak lama Indy masuk.
“Mbak, ini pasien yang aku bilang tadi, ya,” katanya ketus. Wanita yang dimaksud Indy memutar manik matanya. Ia berjalan masuk ke ruangan sambil menabrak bahu Indy. Sengaja.
“Terima kasih, ya, In. Kamu boleh pulang duluan.”
Kata-kataku membuat Indy kembali mengatupkan mulutnya yang hampir mengatakan sesuatu. Indy kemudian mengangguk. Ia menyerahkan kartu registrasi wanita itu, lalu keluar ruanganku dengan langkah lebar.
“Lama banget, sih, Mbak,” kata wanita berwajah oriental itu, sambil menarik kursi.
“Maaf, ya, Bu, sudah menunggu lama. Proses sulam memang sekitar satu jam. Tapi, kalau jam sembilan pagi Ibu registrasi seperti pasien yang lain, Ibu enggak perlu nunggu lama, lho. Soalnya sekretaris jadi bisa kasih estimasi waktu berapa lama lagi Ibu harus menunggu. Jadi, Ibu bisa jalan-jalan dulu.”
Penjelasanku tak dihiraukan oleh wanita itu. Ia malah mengutak-atik telepon genggamnya.
“Bu, hari ini kita konsultasi dulu saja, ya. Pengerjaannya besok pagi.”
“Kok, gitu?”
“Soalnya jam kerjanya sudah habis, Bu. Kalau saya kerjakan sekarang, jadi tidak adil untuk orang lain yang datang terlambat seperti Ibu. Lagi pula, Ibu harus cek alergi dulu, sedangkan tim kesehatannya sudah pulang dari jam 11 tadi.”
Wanita itu mendengus kesal, tapi ia tidak mengatakan apa-apa.
Dari kartu registrasi kudapati namanya Anike Sudradjat. Wanita ini masih cukup muda, umurnya 35 tahun, hanya terpaut empat tahun lebih tua dariku. Sepertinya ia sudah banyak melakukan perubahan pada wajahnya. Kulit di sekitar pipinya terangkat tinggi sehingga pipinya terlihat tirus. Barisan giginya putih bersih. Bibirnya merona merah, kurasa beberapa hari yang lalu ia baru sulam bibir. Dan soal alisnya, ia menggambarnya dengan sempurna. Arsirannya tidak terlalu tebal, warnanya bergradasi, dan lengkungannya tidak terlalu tegas. Ia cantik sekali, tapi seperti ada yang salah.
“Ibu Anike pekerjaannya apa?”
“Ibu rumah tangga.”
“Sehari-hari jarang dandan yang full make up, ya?”
“Tiap hari saya dandan, tapi paling hanya pakai pensil alis, maskara, bedak, dan blush on. Soalnya, kalau enggak gitu nanti jadi pucet banget. Kan jadi enggak enak dilihat suami, Mbak,” ceritanya tanpa diminta. Ia kemudian mengeluarkan ponselnya, lalu mulai menggeser dan menyentuh layarnya. “Lihat Mbak, ini saya kalau enggak dandan sama sekali. Alis saya botak.”
Ibu Anike menunjukkan salah satu fotonya yang sedang duduk di halaman dengan latar kolam renang. Sosoknya di foto itu sedang menggunakan bikini model two piece warna hitam, membiarkan wajahnya tanpa polesan make up sama sekali. Aku dapat melihat bercak-bercak kehitaman di bawah matanya dan tentu, kedua alisnya yang hanya setengah dan tipis itu. Jujur saja, aku takjub dengan keahliannya menggambar alis yang natural tanpa panduan dari bentuk asli alisnya. Tapi, aku masih merasa alisnya kurang cocok dengan wajahnya.
“Saya sudah dandan tiap hari saja, suami masih lirik yang lain, Mbak.” Curahan hati Ibu Anike membuat saya tersadar, saya sudah terlalu lama memandangi fotonya.
“Oh, ya?”
“Ya, Mbak Nin. Suami saya itu kayaknya punya hubungan spesial dengan suster mamanya. Tiap hari ia pasti menelepon si suster.”
“Dia nelepon di depan Ibu?”
“Dulu iya, Mbak. Terus saya marahin, soalnya dia sering banget nelepon orang itu. Memang, sih, obrolannya soal Mama, tapi kan saya enggak suka. Feeling saya enggak enak. Perempuan kan feeling-nya jarang salah ya, Mbak. Sekarang si Mas, sih, sudah enggak pernah nelepon lagi, tapi enggak tahu, deh, kalau di belakang. Saya, sih, yakin dia masih berhubungan.”
Aku mengangguk-angguk. Entah untuk apa, karena sebenarnya aku tidak sepenuhnya setuju.
“Kalau gitu, minta ibu mertua tinggal di rumah saja, Bu. Biar Ibu yang urus, jadi kan enggak perlu jasa suster lagi dan suami Ibu tidak ada alasan untuk berhubungan lagi dengan dia,” kataku, berusaha bijak. Namun, wanita di depanku ini malah tertawa puas.
“Mbak Nin, aku senang, sih, kalau Mama di rumah. Tapi, kalau ada Mama di rumah, aku jadi tidak bisa melakukan hal lain selain mengurus Mama. Mama harus makan makanan yang lembek, tapi aku dan anak-anakku enggak suka. Jadi harus masak beberapa menu, kan jadi menghabiskan banyak waktu. Yang harusnya aku sudah selesai masak, makan, dan pergi antar anak sekolah, arisan atau bahkan ke salon, jadi terhambat. Mama juga harus dimandiin dan diganti popoknya tiap beberapa jam sekali. Itu artinya aku memang harus stand by di rumah. Aku enggak bisa Mbak, aku kan punya kehidupan sendiri.”
“Lagi pula, Mbak, laki-laki kalau sudah suka sama perempuan lain ya susah balikinnya. Kecuali di depan dia ada perempuan yang lebih dari perempuan yang lagi disukanya itu.”
“Memang susternya cantik, Bu?”
“Biasa aja, sih, Mbak. Tapi, alisnya itu, lho, Mbak. On fleek! Perfect. Padahal enggak pakai produk buat alis, Mbak,” jawab Ibu Anike menggebu-gebu. Aku terperangah. Wanita ini sirik karena sepasang alis? Lalu ia kembali menatap telepon genggamnya dan mulai menggesernya. “Ini orangnya, lihat, deh.”
Aku mengambil ponsel yang ia sodorkan. Sebuah foto keluarga terpampang. Di sebalah kanan Ibu Anike ada pria besar duduk setengah jongkok. Tangannya memeluk wanita tua yang duduk di kursi roda. Wajah pria itu semringah. Kedua orang ini pasti suami dan mama mertua Ibu Anike. Di depan mama mertuanya, terdapat dua anak lelaki remaja duduk bersila. Kutaksir mereka anak-anak Ibu Anike.
Dan ada seorang wanita muda dengan senyum malu-malu berdiri di sebelah kiri kursi roda mama mertuanya. Dress putih selutut dengan dua kantong besar menggambarkan jelas siapa dirinya. Ibu Anike benar, penampilannya sangat biasa dan wajahnya kalah cantik dengan Ibu Anike. Tapi, bentuk alisnya melengkung indah. Membingkai wajahnya yang berahang kotak menjadi lembut dan teduh dipandang.
“Itu kenapa saya mau sulam alis, Mbak. Saya mau ketika suami saya bangun di pagi hari, saya sudah cantik. Jadi, dia sadar kalau saya jauh lebih baik dari suster itu,” katanya sambil menunduk. Air mukanya seketika berubah. Tak ada lagi intonasi yang menggebu dan memaksa. Ia justru terdengar seperti orang yang lelah.
Aku mengembalikan ponselnya dan mengelus punggung tangannya. Kujanjikan besok pagi jam 9 ia akan langsung masuk ke ruangan dan alisnya akan kupermak sebaik mungkin. Ibu Anike tersenyum kecil. Ia pun berjanji akan membayar dengan harga tinggi. Aku terkekeh. Meski ia tidak membayar, aku tidak keberatan karena ceritanya menggerakkanku untuk melakukannya tanpa imbalan. Kami berdua keluar dari studio bersama dan berpisah di parkiran.
Aku pulang menuju daerah Daan Mogot dengan mobil pribadiku. Jalanan menjelang magrib di Jalan Panjang memang tidak pernah menyenangkan. Macet, terutama di depan gedung salah satu perusahaan televisi berbayar. Tapi justru kali ini aku menikmatinya karena aku jadi punya waktu untuk memikirkan Ibu Anike dan alisnya yang akan kusulam esok. Alisnya yang hanya setengah dari bentuk alis pada umumnya menjadi keuntungan dan kerugian bagiku.
Alis yang biasa ia buat memang bagus, tapi tetap saja aku merasa bentuknya tidak cocok dengan wajahnya. Tapi, jika bentuknya diubah, Ibu Anike belum tentu suka dan percaya diri dengan hasilnya karena ia terbiasa dengan alis buatannya. Sebenarnya itu bukan masalah besar. Lambat laun ia pasti akan menyukainya. Yang terpenting orang lain tidak merasa aneh melihat wajahnya dan dapat membaca karakter Ibu Anike hanya dengan melihat mukanya.
Tapi, bentuk seperti apa yang cocok? Hhh... akhirnya aku merasakan ketakutan dalam melakukan pekerjaan ini. Aku menepikan mobilku di sebuah toko roti di perempatan jalan. Secangkir kopi. Ya, aku butuh secangkir kopi sebelum melanjutkan perjalanan pulang.
Toko roti ini tampak sepi. Beberapa orang memang hanya membeli dan membawa pulang belanjaannya, tak banyak yang memilih makan di tempat ini. Aku memesan sebuah frapuccino dan roti cokelat keju berbentuk memanjang, lalu membawanya ke kursi pojok dekat jendela dan pintu masuk. Tak lama seorang pria besar masuk. Dengan gesit ia membuka pintu masuk lebar-lebar lalu pergi lagi.
Aku mengintip dari jendela di sampingku dan mendapatinya sedang mengangkat bagian depan kursi roda yang diduduki seorang wanita tua. Seorang wanita berbaju putih mengangkat bagian belakang kursi roda itu. Mereka bekerja sama menaikkan kursi roda itu dari tangga lalu masuk ke toko dengan wajah lega. Setelah mereka memilih tempat duduk di seberang mejaku, pria besar itu mendekatkan mulutnya ke telinga wanita tua dan mulai membisikkan sesuatu.
Wanita itu menjawab dan kemudian lelaki itu pergi ke kasir, meninggalkan wanita tua itu dengan wanita berbaju putih. Wanita itu terlihat masih muda, mungkin umurnya baru 27 tahun. Sekilas kudengar suara wanita tua itu. Suaranya terkadang tinggi, terkadang melemah. Terbata-bata dan tidak terlalu jelas maksudnya. Tapi wanita di depannya menanggapi dengan sabar. Sesekali ia menyeka liur di tepi bibir wanita tua itu dengan tisu.
Wanita tua itu juga tersenyum menanggapi obrolan wanita muda di depannya. Tangannya menggenggam tangan wanita muda itu seakan tak mau berpisah barang sejenak. Kini aku tahu alis seperti apa yang cocok untuk Ibu Anike. Alis memanjang dan sedikit turun di ujungnya. Wanita itu butuh belas kasihan suaminya karena yang ia miliki hanya wajahnya. (f)
***
Tahniah
Unggulan Sayembara Cerpen Femina 2016
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/