Aku berjarak 1250 kilometer dari Jakarta. Kupasrahkan diriku pada Natuna sejak empat tahun yang lalu. Sebuah titik balik dari awal hidupku sebagai manusia pulau. Telah kularung mimpi para dewi yang mendambakan hidup dalam sebuah bahtera dengan seorang dewa yang perkasa. Khayali benar.

Kudapati diriku yang lampau—muda dan memuja kesempurnaan—memproyeksikan surga kecil buatan manusia lengkap dengan detailnya. Kayu kusen berwarna putih deco, meja makan oval yang tak berpelitur gelap, sprei ranjang bermotif floral yang sering basah karena gerakan tengah malam, dua piring seragam bergambar ayam jago dan betina, serta setumpuk lipatan dasi di lemari.

Kudapati diriku demikian ibarat seorang manusia darat yang hanya terusik dengan kemacetan di persimpangan lampu merah, yang hanya bisa pasrah saat air ledeng macet, yang terbiasa antri panjang di pom bensin, yang suka berlama-lama di depan meja rias, memandangi diri sendiri dengan blazer elegan berwarna merah marun, sambil iseng membatin, apakah suami akan memuji dandanan istrinya dari balik punggung.

Hingga dewa-yang-katanya-perkasa itu mengeluh bosan padaku. Bosan pada tingkahku yang serba kaku, seperti kaki meja yang bersikukuh menopang berbagai jamuan. Bosan pada segunung khayalanku yang katanya semu. Tapi bukankah semua mimpi awalnya semu belaka?

Seusai melepas cincin pernikahan kami di suatu meja makan berpenerangan lilin yang hangat, aku mendaftarkan diri ke sebuah kantor media, mencari tempat pelarian di mana tak lagi aku harus berlari kian kemari, seperti layaknya gadis kecil yang mengejar kupu-kupu di halaman belakang rumah sang nenek. Aku berangkat dengan hati yang kusimpan dalam peti pandora. Kulanjutkan perjalanan tidak lagi untuk mencari jalan pulang. Aku menuju laut lepas meninggalkan sepotong bahu yang tak lagi mau menjadi tempatku berlabuh.
 
 


Aku masih ingat hari pertamaku di Natuna. Sore itu adalah sore paling mistis yang pernah kujumpai selama hidupku. Setelah dua hari dua malam berlayar dari Tanjung Pinang, kuputuskan hari pertama sebagai acara jalan-jalan seorang diri di Ranai, ibukota Natuna yang berpagar laut lepas.

Kubayangkan jika aku punya sirip seperti puteri duyung, aku akan bebas meloncat sewaktu-waktu dari dermaga, menyelam di antara terumbu karang yang indah. Aku tidak pandai berenang, jadi kuhentikan imajinasiku. Dengan berbekal selebaran brosur dari agen perjalanan, aku menuju Pulau Sedanau.

“Kau sudah ke Pulau Tiga, Lang?” tanya seorang lelaki bertopi baret pada seorang lelaki berkucir yang duduk di sebelahku.

“Belum. Ada apa di sana, Bang?” balik tanya lelaki berkucir dengan suara berat yang terdengar menyenangkan. Kuputar sedikit kepalaku, mengamati sekilas lelaki tersebut. Tubuhnya penuh dibalut kaos putih yang mengusam.

“Terumbu karangnya indah sekali. Mainlah ke sana. Itu gugusan tiga pulau di seberang Selat Lampa. Dari Ranai ke Selat Lampa cuma satu setengah jam.”

“Kalau ada putri duyungnya, mau aku Bang!” ujar lelaki berkucir antusias.

“Bah! sudah urusi saja tuan putrimu di Jawa. Macam mana pula kau ini dengan si Juwita? Jangan kau gaet gadis Natuna!” larang lelaki bertopi baret dengan terkekeh. Logat batak kental menyeruak dari bibir kehitaman.

Lelaki berkucir itu tertawa. Ia merogoh ke dalam kantong ranselnya sesaat. Kulihat beberapa detik kemudian, ia sudah sibuk berdiam sambil menyulut sebatang rokok berfilter. Dahinya lebar, kulitnya kecoklatan dan matanya agak sipit. Saat ia tertawa, ia benar-benar sipit. Terdapat sisa-sisa kumis di antara hidung dan bibirnya yang tipis berwarna jelaga. Sebuah tas kamera terkalung di lehernya.

Kutebak ia turis, bukan wartawan. Ia tidak tampan—maksudku, bukan ciri lelaki segar dan wangi yang sering beredar di koridor-koridor mal di Jakarta. Tapi suaranya membuatku tersandera duduk di tempat. Tak lama kemudian, lelaki sipit berkucir itu beranjak dari duduknya.

Ada bagian dari tubuhku yang mulai mengedarkan sinyal, mencari teman di tempat asing ini. Tapi aku tidak butuh berkenalan dengan turis, simpulku. Tak boleh diriku terlalu antusias dengan pelancong yang mempunyai tawa renyah. Alangkah beruntungnya, pikirku kemudian, jika di hari pertama ini kutemui juga jurnalis lokal.
 
Kuedarkan pandanganku ke kabin feri, tidak kutemui sesosok manusia yang mengalungkan id card layaknya jurnalis. Tiba-tiba aku tersadar, aku terlalu menilai penampilan seseorang. Eh, mungkin lelaki sipit itu seorang jurnalis.

Kubalik tubuhku, lelaki berkucir telah menghilang dari pandangan. Mungkin tengah berada di buritan. Aku bergegas bangkit lalu mencarinya. Aku tidak tahu mengapa dorongan kuat ini muncul. Aku hanya ingin berkenalan dengannya. Tak peduli jika ia bukan seorang jurnalis.
 
 


“Halo, siapa namamu?” sapanya pada seorang gadis kecil yang tengah memandang laut biru kehijauan di pinggiran pembatas geladak. Gadis itu menatapnya penuh curiga.

Aku urung menghampiri lelaki sipit yang entah kenapa kini mendebarkan. Aku berpura-pura memandangi laut lepas pula, dengan tatapan yang kubuat sangat syahdu ala seorang perempuan matang melamunkan garis hidupnya. Alih-alih menyelami sanubari terdalam melalui riak air laut, aku justru hanya berhasil memasang wajah datar.

Lelaki berkucir mengeluarkan kameranya. Ia mulai sibuk memotret. Berkali-kali lensanya dibidikkan ke arah gadis kecil yang tampak tak peduli dengan lelaki asing yang tertarik padanya. Dan aku tertarik pada lelaki asing yang tertarik pada gadis kecil yang asing ini. Sial. Tiba-tiba pemandangan laut toska dan Pulau Sedanau di kejauhan tampak biasa-biasa saja. Ketertarikan pada seorang manusia inilah yang mengacaukan pesona alam.

Karena ikut penasaran, sekarang pandanganku beralih pula ke gadis kecil itu. Kutaksir umurnya sekitar sebelas tahun. Rambutnya hitam panjang, tergerai. Ia berponi panjang, berbandana putih tanpa ornamen. Matanya bulat polos, agak sipit. Hidungnya mungil runcing. Ia mengenakan baju kurung warna merah bermotif bunga-bunga. Sepasang sandalnya pun merah, dengan hiasan bunga plastik besar di ujungnya.

“Dia cantik sekali,” komentarku lirih.

“Aku sepakat,” sambung lelaki berkucir, mantap. Aku terhenyak. Tiba-tiba saja ia sudah berdiri rileks di sampingku, bersandar pada pagar pembatas kapal. Mungkin ia menyadari kalau aku turut memperhatikan sosok gadis kecil itu. Aku melempar senyum, berusaha mengaburkan salah tingkahku. “Mungkin dia mengingatkanmu pada seseorang di masa lalu.
Jadi kau memotretnya berkali-kali,” ucapku spontan.

Lelaki berkucir tergelak. “Tidak ada yang secantik dia di kampungku. Coba kau lihat foto-foto ini.” Sekejap ia menyodorkan kamera DSLR-nya ke tanganku. Aku kagum melihat foto yang berhasil ia ambil diam-diam. Gadis cilik itu mendominasi kumpulan foto belakangan. Gadis itu tertawa, cemberut, mengibaskan poninya, berbicara serius dengan ayahnya, naik ke atas kapal dari dermaga dan menggandeng tangan sang ayah.

“Aha! Aku paling suka foto dia yang ini!” seru lelaki berkucir bersemangat, sambil menunjuk foto gadis cilik yang setengah membungkuk di dermaga.

“Dia gadis melayu paling elegan yang pernah kulihat,” komentarku tulus.

Lelaki berkucir tergelak lagi. “Indah sekali, ya. Aku akan selalu mengingat Natuna dengan kenangan atas gadis ini.”

“Kau jatuh cinta padanya!” tebakku, spontan.

“Oh, tampak seperti itu kah?” tanyanya, mengerutkan dahi, pura-pura berpikir.

Giliranku tergelak.
 
 

 Galang nama lelaki itu. Ia memperkenalkan dirinya sebagai seorang pengelana. Tidak kulihat ransel gemuk besar seperti para backpacker pada umumnya. Ia bukan jurnalis. Bukan pula seorang turis. Sebenarnya, aku tak peduli siapa sebenarnya lelaki berkucir di sebelahku ini. Sama halnya ia pun tak peduli siapa sebenarnya gadis kecil bergaun merah itu.

Tapi ternyata, sejak itulah kupasrahkan diriku pada Natuna. Kutulis banyak artikel berita dan esai tentang kepulauan ini. Kutulis kisah apa pun tentang Natuna. Yang tak pernah kutulis justru gerimis panjang setelah feri berlabuh di Sedanau.
Gerimis sore itu tak henti-henti merembesi hatiku yang tengah memiliki banyak lubang. Gerimis yang mengacaukan kenikmatan pejalan kaki sore hari di Sedanau. Gerimis yang menghantarkan sepotong kehangatan yang tak disangka-sangka, yang berhasil menjejalkan tubuhku pada jelaga malam di Sedanau.

Lelaki berkucir itu mengajakku bergabung untuk duduk-duduk menunggu hujan reda di kedai kopi di pinggir pelabuhan bersama temannya, seorang lelaki Medan. Kami mengobrol banyak ditemani tiga cangkir kopi dan kudapan khas Natuna, Kernas dan Lempa yang berbahan dasar ikan tongkol.

Sepekan kemudian, Galang mengirimiku surel dengan foto dua butir kelapa yang bersandar pasrah pada garis tepi pantai di depan kedai kopi. Tunas muda menyembul segar dari kelapa tersebut, berlatar belakang air laut yang tenang dengan lembah hijau Sedanau yang diwarnai barang sebatang dua batang cerobong asap pabrik.

Ia menulis; Kau tahu, Naya, kepulauan itu seperti dua butir kelapa yang sengaja kufoto tanpa maksud awalnya. Tua namun punya harapan untuk kembali muda. Asal kau tanam atau kau biarkan tumbuh sebebasnya. Ancaman selalu ada di sana. Selamat beradaptasi dengan Natuna.
 
 


Empat tahun yang lalu, kukira hatiku sudah benar-benar terikat pada lelaki yang tak pernah datang lagi ke Natuna. Mungkin aku seperti Lille Havrue, patung putri duyung di atas batu hitam di sebuah pantai di Langelinie, Kopenhagen Utara. Patung paling sendu sedunia itu seolah tak jemu-jemu menunggu kepulangan sesosok pelaut yang dicintainya. Aku pernah mendengar kelakar bahwa saking bosannya warga Denmark hidup sejahtera dan jarang sekali mendapati peristiwa yang menggemparkan, mereka sesekali iseng memotong kepala Lille Havrue.

Bedanya diriku dengan Lille, sudah ada beberapa orang yang mengancam akan memotong kepalaku karena laporan-laporan yang kutulis. Darah mereka mendidih dengan informasi yang berhasil kukumpulkan mengenai berbagai sengkarut masalah di sini.

Aku tak sanggup membayangkan jika kepulauan yang indah ini dilingkari peperangan di laut lepas suatu hari nanti. Cina sudah menyiapkan pasukan marinir terbaiknya. Triliunan kubik gas memang tertanam dalam-dalam di Blok Alpha yang sekarang dikuasai para investor asing. Semua pihak berebut. Dan warga mulai tercerabut dari akarnya.
 
 

Sore ini gerimis turun rintik-rintik di Ranai. Aku berteduh di gedung baru pemerintahan yang tak kunjung dihuni. Bangunan bergaya melayu klasik ini mulai menua dengan semak belukar yang tumbuh di halaman yang tak terawat.

Aku tengah membolak-balik buku catatanku, membaca cepat tulisan cakar ayam hasil wawancara singkat dengan seorang pegawai di kantor kabupaten. Dari kejauhan, terdengar klakson mobil. Aku mendongak, mataku refleks menyipit.

Pandanganku tertumbuk pada seorang gadis belia berambut panjang yang tengah bercakap dengan seorang lelaki dari balik kaca mobil. Jantungku mencelos. Sosok ayong* berpayung tersebut mengenakan baju kurung merah bercorak bunga-bunga. Aku samar-samar mengenalinya, meski ia tumbuh lebih tinggi sekitar lima senti dari terakhir kali kulihat di geladak feri yang menuju Sedanau.

Ia masuk ke dalam mobil. Gincu merah menyolok sekilas kulihat saat ia cepat-cepat menutup jendela mobil. Seorang lelaki paruh baya merangkul mesra pundaknya. Mau tak mau, aku teringat oleh cerita teman sesama jurnalis kemarin, mengenai gadis-gadis Natuna yang menawarkan tubuhnya seharga tiga juta rupiah. Kasus perdagangan ini sedang marak terjadi dengan sebutan Gadis 3G. Mereka yang tak berdosa, yang terkikik-kikik di tepian jalan sepulang sekolah, entah sadar atau tidak atas perkara hidup yang semakin runyam di sini.

Aku segera pergi dari gedung kosong itu, yang konon tiap senja hingga subuh berhantu. Sedangkan aku dihantui perasaan bersalah yang tak jelas dari mana muasalnya. Aku kembali ke kantor. Kuputuskan mengetik laporan lanjutan tentang konflik Laut Cina Selatan. Sebelum kepalaku hilang. Sebelum rinai hujan mereda.
 
*Panggilan untuk anak perempuan di Natuna.
***

Amanatia Junda
 

Unggulan Sayembara Cerpen 2016
 
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/