CAHAYA LAMPU neon berpendar-pendar di permukaan air kolam yang bening. Pukul enam pagi, dengan udara Jakarta sisa hujan deras semalam yang mampu membuatku gemetar membayangkan gigitan air di seluruh kulitku. Keheningan kolam renang di lantai tiga yang terbuka ini tidak memberiku perasaan apa pun. Atau mungkin, itu justru merupakan sebuah perasaan tersendiri. Karena tepat di detik berikutnya, aku pertama kali melihatnya. Perempuan di dalam kolam dengan sneakers yang masih melekat di kakinya.

Aku bukan orang yang percaya pada hantu (lagi pula, adakah hantu yang berenang?). Walau demikian, sengatan tajam di dada, yang menimbulkan efek dingin di seluruh tubuhku secara cepat dan tiba-tiba, membuatku harus berpegangan erat pada permukaan tangga yang terasa licin karena tanganku yang basah. Dengan enggan harus kuakui, perempuan itu membuatku merasa seperti baru saja melihat hantu.

Sedikit demi sedikit, kumasukkan tubuhku ke dalam kolam. Air yang mengepung tubuhku dengan sengatan dingin di setiap pori-pori, mampu mengalihkanku dari rasa sakit yang sedang kurasakan. Dalam diam, kuperhatikan perempuan di ujung kolam. Ia tidak sedang berenang. Ia hanya... mengambang. Wajah dan dagunya terangkat di atas air, sementara tangan dan kakinya terentang. Ia tidak mengenakan baju renang, melainkan celana lebar seperti celana Aladdin dan kaus panjang berwarna gelap. Entah hitam, atau biru gelap. Dan yang paling memaku perhatianku adalah sneakers yang melekat di kakinya.

Baiklah. Mungkin tidak perlu terlalu heran menemukan banyak orang eksentrik di sekitarku. Kulirik baju renang yang kukenakan (kalau memang ini bisa disebut baju renang). Celana kulot hitam dengan kaus lengan panjang longgar hampir selutut dengan warna serupa rainbow cake.

Belakangan ini, sejak menikah dengn Frans setahun yang lalu, aku memang tidak pernah nyaman memakai baju renang yang ketat dan terbuka. Bukan sekali dua kali Tuan Penjaga Kolam dengan matanya yang (sedikit) jalang memperingatkanku untuk mengganti bajuku dengan yang sesuai. Mungkin sesuai dengan pikiran kotormu, Tuan!    

Tapi, sekarang (tepatnya tiga bulan sejak aku menjadi penghuni apartemen ini), di antara kami akhirnya tercapai kesepakatan. Tubuhku bergelambir, sama sekali tidak indah untuk dilihat. Aku berjanji hanya akan datang pagi-pagi sekali, dan tidak boleh lebih dari satu jam menguasai kolamnya. Aku juga harus bertanggung jawab terhadap keselamatan diriku sendiri. Oh iya, dan sedikit makanan dan minuman ringan yang sebaiknya kuletakkan langsung di mejanya.

Mungkin karena itu juga, aku merasa kami sehati. Aku dan perempuan dengan sneakers itu, maksudku.
Kuhampiri perempuan itu tanpa banyak suara. Naluriku sebagai penulis meyakini ia bisa menjadi kisah yang menjual untuk kutawarkan ke majalah wanita yang sudah lama menjadi incaranku. Majalah wanita yang redaktur fiksinya puluhan kali mengirimiku surat penolakan dengan bahasa yang semanis madu.

Tapi, aku bukanlah tipe perempuan yang mudah patah karena penolakan. Sepuluh naskahku tertolak, akan kuhujani dengan puluhan naskah yang baru. Begitu terus, hingga mereka terpaksa mengakui tulisanku pantas untuk majalah mereka. 
 
 

“Halo...,” aku menyapa pelan, khawatir mengagetkannya.

Perempuan itu melirikku sekilas, sebelum kemudian cepat mengubah posisinya menjadi berdiri. Air kolam membungkus tubuhnya hingga ke pundak. Aku menekan-nekan ujung jemari kakiku ke dasar kolam sambil sedikit membayangkan, bagaimana rasanya memakai alas kaki di dalam kolam renang?
“Ya?”

“Maaf, Anda tidak apa-apa? Apa yang sedang Anda lakukan sedari tadi, mengapung dengan pakaian selengkap ini?”

Perempuan itu mengamatiku, lalu tertawa kecil. Baru kusadari rambutnya yang keriting kecil-kecil, hitam, dan panjang, sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih. Kutaksir kami seumur. Ia terlihat sedikit lebih tua. Pertengahan 30, atau mungkin malah di akhir. Tapi, aku harus mengakui, perempuan itu cantik sekali.     

Uitemate,” ia menjawab singkat.
Aku sekuat tenaga mengumpulkan ingatan tentang kata yang baru saja terdengar. Uitemate.
Ayolah, Lora, kau seorang penulis! Penulis (seharusnya) tahu banyak hal!

Uitemate, salah satu teknik menyelamatkan diri di dalam air. Kau hanya perlu tenang, menjaga tubuhmu agar tetap mengapung, lalu menunggu seseorang datang untuk menyelamatkanmu. Jangan lepas sepatumu, karena bisa membantumu mengambang. Bila ada botol plastik minuman kosong, kau bisa mendekapnya di dada dan kau akan tetap selamat.”

Mendengar penjelasan lengkapnya membuat wajahku seperti tengah disoroti cahaya matahari. Panas. Merah. (Aku, terkadang, memang penulis yang payah.)

Perempuan itu tersenyum, lalu mengulurkan tangannya ke arahku. “Aku Geta.”

Ia perempuan yang hangat dan ramah. Dengan segera, kami menjadi akrab. Kupikir, karena ia pun menyadari sedikit kemiripan kami, dari kenekatan pilihan baju renang yang kami kenakan. Padahal, peraturan yang mengharuskan pengunjung mengenakan baju renang (sungguhan) di dalam kolam ini, jelas-jelas tertempel di dinding.

Baiklah, Geta, untuk apa kau melakukan uitemate di kolam yang tidak akan bisa menenggelamkanmu?

Pertanyaan tak terucap itu hilir mudik di kepalaku. Menekan-nekan rasa penasaranku, menuntut jawaban. Tapi, layaknya dua orang asing yang baru pertama kali bertemu, kami tidak banyak membuka diri. Di pertemuan kami yang kedua, hampir sebulan setelahnya, Geta mulai bercerita tanpa kuminta.  
 
 

 
“Lima tahun yang lalu, aku adalah instruktur renang untuk anak-anak TK dan SD. Selain cara berenang, aku juga selalu mengajarkan uitemate ini. Sampai kemudian aku menikah dan suamiku melarangku untuk mengajar lagi.”

Kami berjajar di pinggir kolam. Aku bertumpu pada pinggir kolam, berusaha meluruskan dan meregangkan tubuhku sambil mengayunkan kakiku bergantian. Geta mungkin berpikir kemampuan renangku tidak lebih baik dari murid-murid TK dan SD-nya. 

“Al tidak suka aku mengajar murid-murid pria. Ia pria pencemburu dan sangat posesif,” Geta melanjutkan ceritanya.

“Maksudmu, suamimu cemburu pada pria-pria kecil?”

Geta tertawa. Tidak salah lagi. Ada sesuatu dalam nada tawanya. Satir? Takut? Kemarahan?

Aku buru-buru mencatat di kepalaku. Suami pencemburu dan posesif. Sudah bisa kubayangkan jalan cerita yang akan kutulis nanti.

“Tidak hanya pria-pria kecil. Tiap aku berada di kolam renang, akan selalu ada pria-pria besar yang meminta waktu ekstraku untuk mengajari mereka berenang. Al membenci itu.” Geta bergidik, seperti teringat sesuatu. “Pernah ada seorang pria setengah baya yang agak memaksaku. Kebetulan, Al ada di sana. Ia langsung menghampiri pria itu. Membuat hidungnya patah dan lenganku terkilir. Sehingga kami berdua harus dibawa ke rumah sakit.”  

Kami lalu terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. 

“Al tidak pernah mengizinkanku berenang lagi sejak itu.”

“Sekarang?”

“Aku kabur.” Geta tertawa. Getir. “Tiap Al pergi ke luar kota, aku bisa bermain-main sebentar saat kolam sepi. Tapi, yah, bisa dibilang itu jarang terjadi.”

Aku jatuh iba kepada perempuan itu. Bisa kubayangkan hari-hari yang dilewati Geta dalam pengawasan ketat suaminya.
 
 


“Kau sendiri, Lora, apa pekerjaanmu?”

Hmm, aku penulis.”

“Kau penulis?” kata Geta. Wajahnya cerah. “Apa yang kau tulis? Fiksi atau nonfiksi?”

“Fiksi. Aku menulis cerita pendek untuk koran dan majalah.”

“Dan apa yang seorang penulis fiksi lakukan di kolam renang sepagi ini?”

Aku tertawa, sedikit gugup. Mudah-mudahan saja perempuan itu tidak menyadari kalau aku sedari tadi sibuk menuliskan kisah tentangnya di kepalaku.

“Aku sedang berobat. Bagian pinggang hingga kakiku sering terasa nyeri. Bisa jadi karena posisi duduk yang salah dalam waktu lama. Dokter menyarankanku untuk terapi renang.”

Geta menatapku prihatin. Dan sebelum perempuan itu bertanya lebih jauh, aku buru-buru ganti menanyainya. “Jadi, bagaimana caramu meluluhkan hati Tuan Penjaga Kolam di depan sana?”
Perempuan itu menatapku sambil mengerutkan keningnya.

“Kostummu, terutama sneakers-mu yang berada di dalam kolamnya.”

Ia menyeringai lebar. “Walau kejadian hidung patah itu sudah lama berlalu, aku pikir, pria itu pasti masih mengingat sifat Al dengan baik.”

Dengan satu gerakan yang anggun, Geta menarik tubuhnya ke belakang, hingga membuat dirinya terapung sekali lagi. Tangannya terentang, dan kakinya terbuka. Ia menatap langit sambil tersenyum.

“Cobalah, Lora. Uitemate! Kau tetap bisa melakukannya, walau tanpa sepatu. Mengasyikkan bisa mengapung dengan tenang. Melihat awan yang melukiskan banyak hal indah. Hidup jadi terlihat sederhana dan memiliki harapan.”
 
 

 
 SUDAH HAMPIR dua bulan aku tidak mengunjungi kolam renang karena beberapa alasan. Periode bulananku yang panjang, sekujur tubuh yang sakit, batuk pilek yang bertahan hingga dua minggu, hingga perjalanan ke luar kota yang baru berakhir semalam. Aku begitu merindukan beningnya air kolam yang dingin, dan juga Geta.

Tuan Penjaga Kolam menyambutku sambil cemberut pagi ini. Bukan ekspresi yang sesuai dengan suasana hatiku, sebenarnya.

“Kau harus mengenakan baju renang mulai sekarang. Betul-betul baju renang! Kalau tidak, cepat atau lambat, kau juga akan celaka!”

“Jangan memulai lagi, Rik. Bukankah kita sudah sepakat?”

“Dua hari yang lalu, seorang perempuan tenggelam dan sampai sekarang masih koma di rumah sakit. Sama sepertimu, ia tidak pernah memakai baju renang yang benar. Lebih gila lagi, ia suka mengenakan sepatu. Walau saat ditemukan kemarin, sepatu itu ada di pinggir kolam….”

Aku tidak bisa mendengar kata-kata pria itu lagi. Seperti ada ribuan lebah berdengung di telingaku. Limbung, aku berjalan menuju kolam tempat aku dan Geta terakhir bertemu. Dua orang perempuan sudah berada di dalam sana, berbicara dan saling menimpali dengan volume suara yang menimbulkan dentuman di kepalaku.

“Mereka bilang, perempuan itu sengaja menenggelamkan dirinya. Tubuhnya penuh memar dan bekas luka, tertutupi oleh bajunya selama ini.”

“Suaminya masih di kantor polisi untuk ditanyai....”

Seluruh tubuhku gemetar. Udara seakan lesap, membuatku merasa kosong dan hampa. Tanpa melepas sepatuku, aku terjun ke dalam kolam. Air yang dingin segera menyelimuti dan membasuh luka-luka di dalam diriku. Kurentangkan tangan dan kaki, dan kubiarkan tubuhku mengapung tenang. Langit dan awan tampak kabur. Aku tidak bisa melihat jelas dengan air yang terus memenuhi mataku.

Geta, di kolam yang seharusnya tidak mungkin menenggelamkanmu, kau melakukan uitemate dan menunggu seseorang hadir untuk menolongmu. Tapi, aku terlambat datang dan hanya sibuk menyelamatkan diriku sendiri.

Semalam, balasan surel dari redaktur fiksi majalah wanita incaranku datang. Kisah tentang perempuan yang kutemui di dalam kolam dengan sneakers di kakinya, akan dimuat di edisi mendatang. Mungkin, aku harus belajar mengakui, bahwa kisah Geta yang kuuraikan dengan sepenuh hati adalah kisahku sendiri. (f)

 
***
 
Yulina Trihaningsih
 
Finalis Sayembara Cerpen Femina 2016


Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/