Ketika akhirnya suara-suara itu menghilang aku melihat sejumlah tanaman merambat. Sulur-sulurnya bergerak cepat, lalu berubah menjadi kabut, yang dalam sehelaan napas menggiringku ke ruang berkubah dedaunan. Larik-larik cahaya putih matahari hilang tampak di selanya. Hutan?
Tak ada jawaban. Angin membaluri wajahku dengan dingin dan kebas. Mendadak seluruh indraku berkali lipat lebih waspada. Kini tak setitik partikel pun luput dari perhatianku. Warna kelabu tengah berada di gradasi tersuramnya. Tanah, cendawan, bahkan lumut menghamburkan wanginya yang paling rahasia. Gemuruh air terjun, getar sayap dan gesek kaki serangga melata di udara.
Lima langkah dari tempatku berdiri dua gadis kecil berdiri mengamati. Wajah dan potongan rambut mereka sama, kemuraman mereka pun sama. Kembar.
Gadis pertama memakai terusan polkadot putih merah. Baju baru, tapi kedodoran. Yang lain, berdiri dengan tongkat penyangga, mengenakan gaun biru berkerah renda putih. Usang, tak nyaman dipakai.
Mata hening mereka menatapku. Aku mencoba tersenyum, tapi si terusan polkadot menekuk wajah. Nona kerah renda bahkan mencebik samar.
Mendadak sesuatu di atasku berderak. Aku tengadah. Kubah dedaunan hijau itu, lambat dan berat, mulai berpusar. Helai-helai daunnya berubah menjadi kuning, lalu luruh perlahan dalam gerak mengapung yang luar biasa indah.
Dedaunan itu berjatuhan di kepala kami, menyisir pipi, hinggap di pucuk telinga, tersangkut di tepian rok, tapi tak satu pun tergelincir ke tanah. Perlahan udara berubah pejal. Aku membeku.
Tiba-tiba terdengar letupan tawa. Tawa gadis-gadis kecil itu. Riang, riuh, bergelombang-gelombang melelehkan udara. Lalu hening. Hening yang aneh dan seketika, menyengat akal yang telah jauh meninggalkanku.
 
 

Aku tersentak, terjaga. Gerimis deras di luar. Tempiasnya berjejak di kaca jendela kapal. Mata perihku tak sanggup mengartikan objek apa pun di depan sana.
Balose,” gumam seorang sahila, “kita sudah sampai, tapi mesin kapal mati.”
Ya. Balose Rui di depan sana. Di tengah semesta kelam dermaga tua itu seperti nyaris mati, kontras dengan napasku yang bergetaran oleh sensasi hujan daun kuning dalam mimpiku. Semua begitu nyata, memaksaku percaya bahwa aku pernah mengenal mereka, gadis-gadis kecil bergaun biru dan bercorak polkadot.
Dua sahila lain berbincang di belakangku. Aku ingat, pembicaraan mereka di awal perjalanan tadi yang memicu mimpiku.
“Konon begitu,” ujar sahila bersuara berat. ”Setelah memberi tahu Panguian wafat, gadis itu menghilang. Tak ada yang tahu asal usulnya. Entah bagaimana ia bisa berada di dalam puri, entah bagaimana pula ia keluar masuk pulau ini.”
“Tapi, pihak kepolisian sudah memanggil penjaga dermaga,” sahut rekannya, “juga memanggil Georda, among puri yang ditemui gadis itu. Semoga ada titik terang.”
Gunjingan yang aneh. Jadi ada seorang gadis yang datang tanpa tanda, lenyap tanpa jejak, dan muncul hanya untuk mengabarkan berita itu?  Tak sedikit pun Lasa Barra, abangku, bercerita soal ini saat mengabarkan wafatnya Panguian kemarin.
Mesin hidup lagi, membawa kapal mencapai dermaga. Rumpae Amba, batu raksasa yang dipercaya sebagai perahu pertama manusia Rui, diselempangi untaian cangkang kerang hitam, pertanda wafatnya anggota keluarga puri. Deretan lentera daun kelapa yang telah mengering kecokelatan dan rompal sana sini berderak-derak kaku didera gerimis deras. Hawa duka jelas masih bersemayam di pulau ini.
Penjaga dermaga tak sedikit pun memperhatikanku. Dengan kepala terbungkus selendang butut, tak ada yang tahu akhirnya aku pulang. Menggunakan ojek, dari Dermaga Rui aku menuju rumah Georda. Among puri yang diceritakan sahila di kapal tadi adalah teman SMA-ku.
 
 

 
JIKA KEPERGIAN Mamasa adalah cahaya putih kepasrahan, maka pernikahan Apasa adalah prisma pemecah warna, pembentuk spektrum terpilu yang siap melukaiku kapan saja.
Aku dan abangku adalah para pengampu gelar kebangsawanan Sultanah Dora Rui. Beratus tahun dipercaya rakiyat untuk memimpin dan menyemai berbagai kebajikan, kesultanan ini tak mudah dikoyak laju zaman. Ayah kami, sultan ke-22, berkomitmen penuh menjaga keberadaannya.
Apasa tak cuma bicara. Di tangannya modernitas dan kearifan lokal berjalan sejajar, saling menggenapi, saling menghormati. Jejak kerjanya tertatah di ngarai dan ladang, padang sabana, laguna rupawan, bahkan di tebing-tebing terjal. Namun, semua tak berarti saat ia menikah lagi, hanya lima bulan sebelum Mamasa tiada.
Ketika Apasa membawa wanita itu memasuki puri, aku tahu semua berada di alur yang salah. Tak seperti bayanganku, Apasa tak didampingi sesosok penyihir mengerikan. Ia, wanita itu, malah bermata suram dan sendu, bersuara pelan lagi dalam. Meski tak berwajah kecut, senyumnya tak pernah lebar. Aku hampir yakin, jangankan merayu, bersungut-sungut pun ia tak sanggup. Ia seperti datang dari pulau yang selalu diselimuti kabut pemusnah harapan.
Dalam diam dan muram kami saling tolak dan pasang jarak. Rasanya benar-benar ganjil. Apasa seperti memindahkan kesedihan wanita itu ke puri kami. Hawa sukacita diisap habis olehnya. Wanita itu tak bahagia, dan tak akan pernah bahagia kukira.
Dari seorang among puri kuketahui ia pernah punya anak. Perempuan. Wafat di usia empat tahun. Inikah yang membuat sorot matanya padam? Cih. Apa peduliku?
Kukira ia perlu tahu sakitnya kehilangan hal berharga. Lagi pula, puri muram ini butuh kejutan. Maka, kucuri dua buah foto dari bilik pribadinya. Foto-foto anaknya. Aku ingin tahu, sanggupkah dua foto yang hilang menciptakan sedikit huru-hara? Sial, begitu kedua foto itu kugenggam, ia muncul di pintu. Kami sama-sama terkejut. Matanya nanap penuh curiga, segaris senyum mengambang kaku di wajahnya. Aku membuang muka, khawatir wajah merah padamku menjelaskan semuanya.
Jelas ini di luar rencana. Maka, membayangkan huru-hara itu benar-benar muncul dan menyeret namaku, aku tak berani lagi makan bersama mereka. Apasa tak pernah bertanya kenapa aku selalu makan sendiri, apalagi Panguian – istrinya itu.
 
 

 
PAGI ITU tak terlupakan, pagi yang hadir di kelindan hari-hari kelam, hari-hari ketika kusadari aku tak hanya ditinggalkan Mamasa, tapi juga Apasa. Udara lembap, langit dipadati awan tebal. Angin musim barat telah kembali, siap membasuh jejak kemarau di padang-padang sabana. Saat itulah gelombang warga tiba-tiba muncul, minta izin bertemu Panguian.
Ini di luar kebiasaan. Kuhadang mereka.
Dugaanku benar, mereka membawa kabar buruk. Ladang mulai dicengkeram meriposo oro, ngengat yang masyhur dengan daya hancurnya. Meski terlihat sejak dua minggu lalu tak ada yang menduga siklus kekacauan yang mereka ciptakan akan datang lebih cepat. Musim hujan baru mengetuk pintu, tapi kawanan pupa berbulu telah siap berpesta, gerombolan ngengat dewasanya bahkan mulai kawin-mawin, dan itu semua gara-gara Panguian!
Ha, seorang istri sultan disalahkan? Hatiku bersorak. Tak pernah terjadi sebelumnya!
Sejak pohon cokelat pertama ditanam di pulau ini 4 abad silam, meriposo oro selalu datang bersama musim hujan, demikian penjelasan seorang peladang. Begitu ratusan telurnya yang berderet di tepi daun menetas, siapa pun harus siap jika kebun avokad, jambu mete, kenari, atau cokelatnya ranggas hingga nyaris labas. Yang tersisa kelak cuma reranting kering digelantungi kokon-kokon kuning kopong.
Namun, alam selalu adil. Mengerahkan sepasukan jamur dan serangga, para peladang berhasil melumpuhkan sang penghancur kemakmuran. Dan ilmu kuno itu terus diaplikasikan selama ratusan musim. Maka, sangat mengejutkan ketika dua minggu lalu empat ekor meriposo oro ditemukan di ladang dan Sultan tak berbuat apa pun hanya karena Panguian melarang mereka dimusnahkan!
Akhirnya kuizinkan para peladang menemui Panguian. Namun tak berguna, keputusan wanita itu tak berubah. Tak satu makhluk pun boleh menyentuh hama itu!
 
 

 
SIANG ITU bumi Rui kuyup oleh hujan. Wangi tanah basah berkeliaran di udara. Di lorong puri seorang among duduk mengerjakan sesuatu. Benda-benda mungil keemasan terhimpun di dekatnya. Aku tertegun. Ada yang salah.
 “Kokon meriposo oro bisa dipintal jadi serat sutra dan dibuat semacam ini,” ujarnya, seraya menunjukkan sesuatu. Aku terenyak. Sebuah bros. Kuning kemilau, mewah memukau! Bagaimana mungkin?
Kokon meriposo oro memang tak biasa. Kantong pembungkus pupa itu mirip jala emas. Reputasi sebagai hama yang membuat derajatnya tak lebih tinggi dari sampah, harus dienyahkan bersama lumpur, guguran daun dan patahan ranting. Masalahnya, mengapa di pulau ini, setelah beratus tahun, orang pertama yang menyadari keistimewaan kokon hama itu justru dia, wanita itu, Panguian…!
“Selama ini cuma sutra ulat murbei yang dikenal di luar negeri, tapi sutra emas? Langka! Apalagi ngengat ini tak bisa diternak, harganya tinggi!” ocehnya lagi. Tiap katanya yang sarat kekaguman bertubi menghujamkan rasa geram.
Sejak itu ladang dengan pepohonan bertajuk ribuan ulat bulu nan rakus menjadi pemandangan menakjubkan. Saat itu alam tengah menjanjikan limpahan kokon emas sekaligus pembungaan yang lebih baik karena pohon berganti daun. Panen kokon dan panen buah berkejaran. Panguian, pualam tak tersentuh itu, dipuja dan dipuji. Apasa tak lagi diperhitungkan, apalagi aku dan abangku.
Aku tak tahan lagi, kuputuskan untuk kuliah di Pulau Jawa.
 
 

 
CRICULA trifenestrata nama ilmiah hama pemintal serat keemasan itu. Lengkung halus sayapnya mengisahkan sempurnanya sebuah penciptaan. Bahkan sebutir kokonnya yang berusia belasan tahun tak sedikit pun melapuk, tak seulas pun kehilangan kilaunya. Makhluk jelita itu mungkin tak mengarungi udara kota tempatku tinggal, namun kepak sayapnya di mana pun ia melintasi malam terus menyinggahkan risau. Setelah bertahun-tahun pertanyaanku tetap sama. Mengapa justru di tangan pengganti Mamasa hama itu jadi kunci kemakmuran rakiyat kami?
 
MATA GEORDA mengerjap tak percaya saat selendang kulepas dari kepala. Wangi tanah basah naik ke teras rumah panggungnya, menautkanku pada segenap ingatan yang tak butuh kukenang.
“Sejak apasa-mu wafat dan Lasa Barra menjadi sultan,” kisahnya, “Panguian pindah ke bilik pribadinya. Penyakit diabetes terus menggerus staminanya. Ia lebih suka berada di dalam dan hanya keluar sesekali.”
 Aku tak terkejut. Niat abangku untuk mengerdilkan keberadaan Panguian telah terealisasi rupanya. Sejarah pulau ini tak diizinkan mencatat kerja keras dan reputasinya. Serat-serat sutra emas itu cukup dipahami sebagai anugerah yang menjulai begitu saja dari langit. Maka, yang merapuhkan wanita itu bukan penyakit diabetes, tapi berbagai kebijakan baru yang menghadang langkahnya.
“Namun pagi itu seluruh peladang meradang,” lanjut Georda. “Ribuan ulat meriposo oro yang kemarin masih bergerumbul melahapi dedaunan ditemukan bergelimpangan di tanah. Ngengat dewasanya sama saja. Semalam mereka masih tampak beterbangan, tapi pagi itu tak seekor pun tampak.
“Para peladang lalu minta izin bertemu Panguian. Maka kudatangi bilik, kuketuk pintunya. Itulah saat pertama aku bertemu gadis itu. Ia yang membukakan pintu.
Panik dan kehabisan kata, ia hanya sanggup menunjuk-nunjuk tempat tidur Panguian. Segera aku menghampiri. Panguian nyaris kehilangan kesadaran. Tubuh kurusnya menggigil, basah oleh keringat dingin. Jelas kadar gula darahnya anjlok.
Kubantu Panguian minum sirop. Dua puluh menit kemudian beliau pulih dan memaksakan diri untuk menemui para peladang. Saat itulah aku ingat gadis itu. Aku bertanya pada semua yang ada di sana, tapi tak seorang pun melihatnya. Terpikir untuk bertanya pada Panguian, tapi sehabis menemui para peladang beliau tidur.
 
 

Aku kembali ke pekerjaanku. Sekitar dua jam kemudian gadis itu muncul lagi, sambil menangis. Hampir aku tak mengenalinya karena ia berganti pakaian. Aku berlari ke bilik Panguian, tapi kudapati ia telah tiada. Lalu kami semua sibuk. Menjelang Panguian dimakamkan baru kusadari gadis itu tak terlihat sejak terakhir menemuiku. Lagi-lagi aku menanyakannya pada semua orang, dan seperti yang kau dengar, ia benar-benar menghilang ….”
Georda lalu mengeluarkan sehelai kertas. Sketsa sesosok gadis. Sekujur kulitku meremang seketika.
“Ini pakaian yang dikenakannya saat itu?” tanyaku parau.
“Ya. Baju putih totol-totol merah. Ia juga memakai tongkat penyangga tubuh karena kakinya kecil sebelah. Baru jelas terlihat ketika ia muncul untuk kedua kalinya, saat memberi tahu Panguian wafat.”
Aku menggeleng, kutatap Georda.
“Bukan satu gadis yang kamu lihat, Georda. Tapi dua. Yang pertama memakai terusan putih dengan motif bulatan-bulatan merah. Yang muncul berikutnya bergaun biru dengan kerah putih, ia yang berkaki kecil sebelah. Mereka kembar, mereka anak-anak Panguian!

 
PETANG TELAH luruh ketika aku tiba di makam Panguian. Berkalang kelam dan sunyi di dalam sana, ia buktikan dirinya bukan makhluk setengah bayangan dari balik kabut pemusnah harapan. Huru-hara akibat foto gadis-gadis kecilnya kucuri tak pernah terjadi. Namun tetap saja, tak ada kata maaf yang ingin kusampaikan.
Saat awan menyisi dan cahaya rembulan menerpa bumi Rui, ratusan Cricula trifenestrata muncul dari balik pepohonan. Seperti hujan daun kuning, mereka mengarungi malam dalam gerak mengapung yang luar biasa indah. (f)
 
Catatan:
sahila               =  sebutan untuk wanita setengah baya
meriposo oro   =  berasal dari bahasa Portugis, mariposa (ngengat) dan ouro (emas) untuk membedakannya dari ngengat rama-rama atau mariposa atlas***

Evi Indriani

Unggulan Sayembara Cerpen Femina 2016



Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/