
Rizky Siregar
Unggulan Sayembara Cerpen 2016
Sudah seminggu ini, Mamak menetap di rumah Suri yang terletak di pinggiran kota Jakarta. Datang jauh-jauh dari Kota Asahan, Sumatera Utara. Selama tujuh hari itu pula, perempuan yang melahirkan Suri itu mengabaikannya. Kalau diajak berbincang-bincang, singkat-singkat saja jawaban sang ibunda: Ya, Tidak, atau Bisa jadi. Persis peserta kuis di salah satu stasiun televisi.
Pagi-pagi begini, biasanya Suri menengok Mamak di kamar dan mengajak ibunya itu sarapan. Namun, hari ini berbeda. Pasalnya, Mamak sudah menghampirinya di dapur sewaktu Suri baru saja selesai memasak Nasi Goreng.
“Mamak mau teh atau kopi?” Suri memancing dengan pertanyaan yang tidak bisa dijawab hanya dengan tiga kata andalan ibunya selama ini.
Yang ditanya diam saja. Tapi, kemudian tangan ibunya menunjuk stoples berisi teh. Dengan sigap, Suri siapkan permintaannya. Bubuk tehnya lebih banyak dan tanpa gula karena Mamak penyuka teh yang kental.
“Suri....”
Mamak mulai bersuara. Ia senang karena akhirnya Mamak mengakhiri aksi tutup mulut tersebut. Akan tetapi, ada kekhawatiran yang menyeruak di hati. Takut jika Mamak menceramahinya tentang keputusan yang ia lakukan akhir-akhir ini.
Tapi ternyata, Mamak hanya berkata, “Beberapa hari lagi sudah masuk bulan puasa. Kau siapkanlah pangir!”
Permintaan Mamak tadi pagi mengantarkan ingatan Suri kepada masa kecil. Seminggu sebelum Ramadan, ibunya sudah sibuk bersiap. Salah satu yang tidak pernah dilupakan adalah pangir, yaitu bahan berupa daun, rempah, dan bunga-bunga wangi. Nantinya, pangir ini akan direbus dengan air yang digunakan untuk mandi tepat sehari sebelum kita berpuasa, biasanya di sore hari.
Tiba-tiba, telepon genggam yang terletak di meja kerja Suri berbunyi. Setelah berbasa-basi menanyakan kabar satu sama lain dengan Kak Arta, Suri pun menceritakan bahwa Mamak sudah mau mengajaknya berbicara.
“Jadi, kau belum dimarahi? Mamak cuma minta pangir?”
Ada nada heran dari kalimat itu. Ia mengangguk. Namun, akhirnya menyahut, “Iya,” karena menyadari Kak Arta tidak bisa melihat anggukan itu.
“Padahal, waktu pertama kali mendengar berita tentang kau itu, merepet terus tak berhenti.”
Nah, berita yang disinggung-singgung kakaknya itulah yang membuat Suri berdebar setiap berada di dekat Mamak.
Menurut Kak Arta, sehabis mengabarkan berita itu, Mamak bersikeras terbang ke Jakarta demi menemui Suri langsung. Jadi, ia takut kalau Mamak murka di hadapannya. Ia tidak akan mampu menyaksikan kekecewaan di wajahnya.
“Dia bagaimana, Suri? Sudah kau pertemukan?”
Suri menggeleng. Sebaik Kak Arta memberitahukan kedatangan Mamak, ia mengungsikan orang yang dimaksud kakaknya itu. Jangan sampai Mamak bertemu dengannya. Tidak sampai sang ibunda mendapat penjelasan dan menerima kehadirannya.
Terdengar helaan napas di seberang sana. Kakaknya itu berpesan, “Ikuti saja apa katanya, Suri. Jangan kau bikin dia marah, ya?” seraya mengakhiri telepon.
Suri setuju. Jika menuruti keinginan Mamak, siapa tahu hati ibunya itu melunak? Tidak kecewa meskipun telah mengetahui rahasianya. Tidak marah-marah. Pada saat itulah, ia baru bisa mengenalkan obyek berita kepada Mamak dan berharap akan disambut dengan baik oleh ibunya.
Jadi, kalau Mamak minta dibelikan pangir, itulah yang akan Suri lakukan. Gadis itu baru akan mengecek lokasi pembelian pangir di internet. Namun, terganggu dengan dokumen yang jatuh. Ada logo sebuah rumah sakit di sampulnya dengan secarik kertas pesan yang tertempel. Peringatan untuk mendatangi rumah sakit tersebut sesuai janji yang tertera. Ia simpan dokumen yang ia rasa tidak begitu penting tersebut ke dalam tasnya.
Tiba-tiba, pintu ruang kerja Suri terbuka. Sekretarisnya ada di sana menggandeng seorang anak perempuan enam tahun yang bermata bulat sempurna. “Ibu Suri, maaf, ya. Tapi, sepulang sekolah tadi Tisha memaksa ke sini. Nggak mau ke rumah saya. Katanya mau ke rumahnya sendiri. Katanya kangen sekali dengan Ibu.”
Selanjutnya, klik laman berikutnya.
Sepulang kerja tadi, kusut labirin otak Suri karena memikirkan antara membiarkan Tisha berjumpa dengan Mamak atau mencari tempat baru ia bisa menitipkan anak itu. Berputar-putar dengan mobil sampai urusan membeli pangir selesai, tidak satupun nama teman yang ia percaya untuk mengurus Tisha terbit dalam benaknya. Oleh sebab itu, Suri membawa anak enam tahun itu pulang.
“Benar-benar, ya. Tak kasihan kalian sama Mamak kalian ini.”
Sesuai dugaan, ibunya itu murka. Suri menundukkan kepala. Tidak berani beradu pandang dengan perempuan yang mempertaruhkan nyawa saat melahirkannya itu.
“Waktu aku datang ke sini, kutengok sepi-sepi saja rumah kau. Tak ada anak yang dibilang si Arta. Kupikir Arta berbohong. Ternyata, kau sembunyikan selama aku di sini!”
Bukan seperti ini yang ada dalam skenarionya. Ia menggigit bibir. Sekuat tenaga, Suri menahan mulutnya untuk tidak menyanggah.
“Suri, kau ini sudah 30 tahun. Belum menikah pula. Langsung kaburlah semua laki-laki melihat kau punya anak. Mau jadi apa kau, Suriii?” keluh ibunya sambil terisak-isak.
Ia memberanikan diri mengangkat kepalanya. Mengusap-usap bahu Mamak demi menenangkannya. Tapi, ibunya itu menepis tangannya.
“Kusekolahkan kau tinggi-tinggi. Supaya sejahtera hidupmu. Dapat suami yang baik, hebat, dan berpendidikan. Tapi, tak kawin-kawin juga kau. Sekarang, malah kau mengadopsi anak. Asal-usul anak itu pun tak jelas. Tak takutkah kau nanti kenapa-kenapa kau dibuatnya?”
Mengapa nilai seorang wanita hanya didasarkan pada menikah atau tidak? Mengacu kepada sehebat apa status dan kedudukan laki-laki yang mempersuntingnya? Suri mengepalkan tangannya. Dengan cara itu, ia berharap dapat membendung kemarahannya.
“Ah, malangnya nasibku ini yang punya dua anak perempuan,” kata Mamak merintih sesenggukan.
Suri memalingkan muka. Air matanya mulai tergenang. Kekecewaan yang tergambar di raut wajah ibunya merupakan pukulan telak buatnya. Tanpa perlu ditegaskan, Mamak sudah menghakiminya sebagai anak durhaka. Anak perempuan yang bisanya hanya membuat susah sang ibunda.
“Ah, sudahlah. Besok kau pesankan saja tiket buat aku pulang,” titah Mamak sambil tergopoh-gopoh memasuki kamar tidur.
Selanjutnya, klik laman berikutnya.
Pagi itu, seperti biasa Suri melongok ke dalam kamar tidur ibunya. Tidak ia temukan sosok ibunya di sana. Ketika ia beranjak ke dapur, rupanya Mamak telah duduk di sana. Berpakaian rapi lengkap dengan kerudung. Pertanda wanita itu telah siap untuk berangkat.
“Mak, baru siang nanti aku ambil tiket Mamak. Besok sajalah baliknya.”
“Ah, buat apa aku di sini? Anakku sendiri tak mendengarkan omonganku. Lebih baik aku di rumahku sendiri. Apalagi, besok sudah puasa, Suri. Kalau pagi ini aku berangkat, sore aku sudah sampai. Masih sempatlah aku pesan daging –
“Aku sudah beli pangir,” potong Suri sambil menyodorkan sebuah besek. “Aku ingat Mamak dulu menyiapkan ini buat kami sebelum puasa.” Ia berharap kemarahan Mamak sedikit mereda jika mengingat nostalgia masa kecil Suri.
Boro-boro melunak, Mamak justru melempar besek itu dengan kasar. “Apa pula ini? Itu bukan pangir. Merah-merah tak ada gunanya. Eh, Suri. Tak ada pula jeruk purut. Yang namanya pangir itu bukan bunga segala bunga. Yang kau bawa ini apa? Tak ada daun serai, daun laos, daun nilam, daun pandan, akar wangi? Bunga-bunga boleh kau pakai, tapi tambahan saja itu. Jeruk purut yang utama.”
Terburu-buru, Suri memeriksa isi besek. Salahnya sendiri. Kemarin malam ketika membeli, ia tidak mengecek terlebih dahulu. Ketika penjual bingung saat ia menyebutkan istilah pangir, Suri hanya menjelaskannya sebagai air wangi yang digunakan untuk mandi bersih. Pantas saja ia membawakan barang yang salah.
“Ah, macam mana anakku ini. Sudahlah melanggar norma, tak mengerti pula adat dan tradisi. Kalau orang-orang tahu, mau ditaruh di mana mukaku?”
Suri menggigit bibir. Lagi-lagi, ia mengecewakan Mamak. Bukannya ia sengaja membuat ibunya itu marah. Tapi, ia benar-benar tidak mengerti alasan Mamak menumpahkan kekesalan kepadanya. Ya, ia mengadopsi anak. Apakah itu salah? Ya, dirinya belum menikah? Apakah itu memalukan? Apakah prestasinya sebagai pemilik bisnis perjalanan wisata tidak cukup bikin ibunya bangga? Apakah perangainya yang sopan dan hormat kepada orang lain bukanlah tanda keberhasilan bahwa ia dididik dengan baik oleh Mamak?
Gumpalan kekesalan di perut Suri meluncur ke atas. Menunggu untuk ditumpahkan. Ia sudah membuka mulut. Tiba-tiba, seorang anak kecil yang masih mengenakan piyama mendatanginya. “Ibu,” sapa anak itu memeluk diri Suri. “Tisha mau sarapan.”
“Sebentar, ya. Ibu masakin nasi goreng.”
“Ah, lagi-lagi nasi goreng. Anak kecil itu perlu makan yang sehat. Bukan yang instan-instan seperti yang kau bikin tiap hari itu, Suri. Itulah kau. Merasa hebat mampu mengurus anak. Padahal tak tahu apa-apa. Sendiri pula, tak ada suami. Mau di mana ditaruh mukaku kalau orang bilang kau wanita nakal!”
Prang! Suara penggorengan yang dijatuhkan menghentikan omelan Mamak. Suri tidak tahan lagi. Ia harus segera pergi dari sini. Menjauh agar tidak mendengar kata-kata ibunya yang membuat sakit hati. Ia mengambil kunci mobil dan tasnya. Kemudian, menggandeng Tisha agar mengikutinya.
“Mak, aku pergi dulu. Seperti biasa, nanti Ria juga datang,” ujarnya menyebut nama asisten yang ia pekerjakan untuk membersihkan rumahnya. “Kalau ada apa-apa, Mamak bilang saja sama dia.” Suri mengaduk-aduk tas. Ia mencari-cari uang untuk pegangan ibunya. Tapi, tangannya menyentuh sesuatu. Dokumen berlogo rumah sakit.
Sembari mengembuskan napas panjang, ia sodorkan berkas itu. “Kalau Mamak sempat, tolong baca, ya,” pintanya.
Selanjutnya, klik laman berikutnya.
Sehari sebelum Ramadan, suasana pasar sungguh ramai. Semuanya berlomba-lomba membeli bahan makanan terbaik yang akan disiapkan untuk menyambut bulan suci itu. Sambil menggandeng anaknya, Suri kerepotan membawa barang belanjaan.
“Ibu, belum beres, ya? Ini, kan, udah banyak,” keluh Tisha.
“Masih ada satu lagi, Sayang. Jeruk purut untuk pangir.”
“Itu ada jeruk, Bu,” tunjuk Tisha.
“Bukan yang itu. Itu jeruk nipis. Yang kita cari, kulitnya berkerut-kerut.”
“Kayak muka Nenek kalau lagi marah,” celetuk anak enam tahun itu.
Suri tersenyum. “Nenek marah kalau kita nggak bersikap manis, Tisha. Tapi, kalau kita berubah jadi anak baik, Nenek nggak akan marah lagi, kok.”
“Ibu, Ibu. Itu jeruknya!”
Tisha benar. Bahan pelengkap pangir itu tersedia di salah satu gerai. Dengan senang, ia memasukkan jeruk perut ke dalam tas belanjaannya. Sekarang, ia bisa membuat pangir sesuai kemauan Mamak.
Pulang ke rumah, semerbak harum masakan menerpa hidung Suri. Penyebabnya adalah berbagai penganan yang ada di meja yang saat itu sedang disajikan oleh Ria, asisten rumah tangganya.
“Ah, sudah pulang kau? Suruhlah si Tisha itu mandi baru kita makan.”
Sebaik anak adopsi Suri itu berlalu, Mamak memeluknya erat sambil terisak. “Kenapa kau tak bilang-bilang Suri. Sedih hatiku membaca kertas yang kau kasih.”
Suri membalas pelukan ibunya. Kertas yang dimaksud Mamak adalah berkas-berkas kondisi kesehatannya. Bahwa setahun terakhir ini, ia divonis mengidap kanker rahim. Bahwa setelah operasi pengangkatan rahim, ia tidak akan bisa hamil. Dengan pertimbangan matang, itulah sebabnya Suri memutuskan untuk mengadopsi anak.
“Maafkan aku, ya, Mak. Aku cuma nggak mau Mamak sedih dan bingung mendapat gunjingan dari orang-orang.”
“Ah, peduli setan apa kata orang. Aku Mamak kau. Mau sampai kapanpun, kau tetap anakku yang harus aku lindungi.”
Bergenang air mata Suri mendengar kalimat itu. Di balik sikap tegas dan kolotnya, Mamak tetaplah ibunya. Yang sayang dan peduli terhadap anak-anaknya ketimbang merepotkan tudingan orang lain.
“Ah, sudah adakah pangir yang aku minta? Harus dibikin sekarang supaya nanti sore bisa mandi bersih sebelum puasa besok. Terus, tak usah kau belikan tiket pulang, ya! Masih banyak yang harus aku ajarkan supaya kau mengerti adat dan pintar mengurus anak kau itu. Eh, mana pula si Tisha? Panggillah biar makan sama-sama.”
Suri menatap ibunya dengan penuh rasa sayang. Masalah yang selama ini ia anggap sungguh sulit, ternyata tidak begitu berat. Kuncinya hanyalah berterus-terang. Mamak tetaplah seorang ibu hebat yang rela mengikis egonya sendiri demi kebahagiaan anak-anaknya. Meskipun menyesal tidak bercerita tentang kecemasannya setahun yang lalu, Suri senang karena akhirnya Mamak tetap mendukung apa pun pilihan hidupnya. (f)
Pagi-pagi begini, biasanya Suri menengok Mamak di kamar dan mengajak ibunya itu sarapan. Namun, hari ini berbeda. Pasalnya, Mamak sudah menghampirinya di dapur sewaktu Suri baru saja selesai memasak Nasi Goreng.
“Mamak mau teh atau kopi?” Suri memancing dengan pertanyaan yang tidak bisa dijawab hanya dengan tiga kata andalan ibunya selama ini.
Yang ditanya diam saja. Tapi, kemudian tangan ibunya menunjuk stoples berisi teh. Dengan sigap, Suri siapkan permintaannya. Bubuk tehnya lebih banyak dan tanpa gula karena Mamak penyuka teh yang kental.
“Suri....”
Mamak mulai bersuara. Ia senang karena akhirnya Mamak mengakhiri aksi tutup mulut tersebut. Akan tetapi, ada kekhawatiran yang menyeruak di hati. Takut jika Mamak menceramahinya tentang keputusan yang ia lakukan akhir-akhir ini.
Tapi ternyata, Mamak hanya berkata, “Beberapa hari lagi sudah masuk bulan puasa. Kau siapkanlah pangir!”
Permintaan Mamak tadi pagi mengantarkan ingatan Suri kepada masa kecil. Seminggu sebelum Ramadan, ibunya sudah sibuk bersiap. Salah satu yang tidak pernah dilupakan adalah pangir, yaitu bahan berupa daun, rempah, dan bunga-bunga wangi. Nantinya, pangir ini akan direbus dengan air yang digunakan untuk mandi tepat sehari sebelum kita berpuasa, biasanya di sore hari.
Tiba-tiba, telepon genggam yang terletak di meja kerja Suri berbunyi. Setelah berbasa-basi menanyakan kabar satu sama lain dengan Kak Arta, Suri pun menceritakan bahwa Mamak sudah mau mengajaknya berbicara.
“Jadi, kau belum dimarahi? Mamak cuma minta pangir?”
Ada nada heran dari kalimat itu. Ia mengangguk. Namun, akhirnya menyahut, “Iya,” karena menyadari Kak Arta tidak bisa melihat anggukan itu.
“Padahal, waktu pertama kali mendengar berita tentang kau itu, merepet terus tak berhenti.”
Nah, berita yang disinggung-singgung kakaknya itulah yang membuat Suri berdebar setiap berada di dekat Mamak.
Menurut Kak Arta, sehabis mengabarkan berita itu, Mamak bersikeras terbang ke Jakarta demi menemui Suri langsung. Jadi, ia takut kalau Mamak murka di hadapannya. Ia tidak akan mampu menyaksikan kekecewaan di wajahnya.
“Dia bagaimana, Suri? Sudah kau pertemukan?”
Suri menggeleng. Sebaik Kak Arta memberitahukan kedatangan Mamak, ia mengungsikan orang yang dimaksud kakaknya itu. Jangan sampai Mamak bertemu dengannya. Tidak sampai sang ibunda mendapat penjelasan dan menerima kehadirannya.
Terdengar helaan napas di seberang sana. Kakaknya itu berpesan, “Ikuti saja apa katanya, Suri. Jangan kau bikin dia marah, ya?” seraya mengakhiri telepon.
Suri setuju. Jika menuruti keinginan Mamak, siapa tahu hati ibunya itu melunak? Tidak kecewa meskipun telah mengetahui rahasianya. Tidak marah-marah. Pada saat itulah, ia baru bisa mengenalkan obyek berita kepada Mamak dan berharap akan disambut dengan baik oleh ibunya.
Jadi, kalau Mamak minta dibelikan pangir, itulah yang akan Suri lakukan. Gadis itu baru akan mengecek lokasi pembelian pangir di internet. Namun, terganggu dengan dokumen yang jatuh. Ada logo sebuah rumah sakit di sampulnya dengan secarik kertas pesan yang tertempel. Peringatan untuk mendatangi rumah sakit tersebut sesuai janji yang tertera. Ia simpan dokumen yang ia rasa tidak begitu penting tersebut ke dalam tasnya.
Tiba-tiba, pintu ruang kerja Suri terbuka. Sekretarisnya ada di sana menggandeng seorang anak perempuan enam tahun yang bermata bulat sempurna. “Ibu Suri, maaf, ya. Tapi, sepulang sekolah tadi Tisha memaksa ke sini. Nggak mau ke rumah saya. Katanya mau ke rumahnya sendiri. Katanya kangen sekali dengan Ibu.”
Selanjutnya, klik laman berikutnya.
Sepulang kerja tadi, kusut labirin otak Suri karena memikirkan antara membiarkan Tisha berjumpa dengan Mamak atau mencari tempat baru ia bisa menitipkan anak itu. Berputar-putar dengan mobil sampai urusan membeli pangir selesai, tidak satupun nama teman yang ia percaya untuk mengurus Tisha terbit dalam benaknya. Oleh sebab itu, Suri membawa anak enam tahun itu pulang.
“Benar-benar, ya. Tak kasihan kalian sama Mamak kalian ini.”
Sesuai dugaan, ibunya itu murka. Suri menundukkan kepala. Tidak berani beradu pandang dengan perempuan yang mempertaruhkan nyawa saat melahirkannya itu.
“Waktu aku datang ke sini, kutengok sepi-sepi saja rumah kau. Tak ada anak yang dibilang si Arta. Kupikir Arta berbohong. Ternyata, kau sembunyikan selama aku di sini!”
Bukan seperti ini yang ada dalam skenarionya. Ia menggigit bibir. Sekuat tenaga, Suri menahan mulutnya untuk tidak menyanggah.
“Suri, kau ini sudah 30 tahun. Belum menikah pula. Langsung kaburlah semua laki-laki melihat kau punya anak. Mau jadi apa kau, Suriii?” keluh ibunya sambil terisak-isak.
Ia memberanikan diri mengangkat kepalanya. Mengusap-usap bahu Mamak demi menenangkannya. Tapi, ibunya itu menepis tangannya.
“Kusekolahkan kau tinggi-tinggi. Supaya sejahtera hidupmu. Dapat suami yang baik, hebat, dan berpendidikan. Tapi, tak kawin-kawin juga kau. Sekarang, malah kau mengadopsi anak. Asal-usul anak itu pun tak jelas. Tak takutkah kau nanti kenapa-kenapa kau dibuatnya?”
Mengapa nilai seorang wanita hanya didasarkan pada menikah atau tidak? Mengacu kepada sehebat apa status dan kedudukan laki-laki yang mempersuntingnya? Suri mengepalkan tangannya. Dengan cara itu, ia berharap dapat membendung kemarahannya.
“Ah, malangnya nasibku ini yang punya dua anak perempuan,” kata Mamak merintih sesenggukan.
Suri memalingkan muka. Air matanya mulai tergenang. Kekecewaan yang tergambar di raut wajah ibunya merupakan pukulan telak buatnya. Tanpa perlu ditegaskan, Mamak sudah menghakiminya sebagai anak durhaka. Anak perempuan yang bisanya hanya membuat susah sang ibunda.
“Ah, sudahlah. Besok kau pesankan saja tiket buat aku pulang,” titah Mamak sambil tergopoh-gopoh memasuki kamar tidur.
Selanjutnya, klik laman berikutnya.
Pagi itu, seperti biasa Suri melongok ke dalam kamar tidur ibunya. Tidak ia temukan sosok ibunya di sana. Ketika ia beranjak ke dapur, rupanya Mamak telah duduk di sana. Berpakaian rapi lengkap dengan kerudung. Pertanda wanita itu telah siap untuk berangkat.
“Mak, baru siang nanti aku ambil tiket Mamak. Besok sajalah baliknya.”
“Ah, buat apa aku di sini? Anakku sendiri tak mendengarkan omonganku. Lebih baik aku di rumahku sendiri. Apalagi, besok sudah puasa, Suri. Kalau pagi ini aku berangkat, sore aku sudah sampai. Masih sempatlah aku pesan daging –
“Aku sudah beli pangir,” potong Suri sambil menyodorkan sebuah besek. “Aku ingat Mamak dulu menyiapkan ini buat kami sebelum puasa.” Ia berharap kemarahan Mamak sedikit mereda jika mengingat nostalgia masa kecil Suri.
Boro-boro melunak, Mamak justru melempar besek itu dengan kasar. “Apa pula ini? Itu bukan pangir. Merah-merah tak ada gunanya. Eh, Suri. Tak ada pula jeruk purut. Yang namanya pangir itu bukan bunga segala bunga. Yang kau bawa ini apa? Tak ada daun serai, daun laos, daun nilam, daun pandan, akar wangi? Bunga-bunga boleh kau pakai, tapi tambahan saja itu. Jeruk purut yang utama.”
Terburu-buru, Suri memeriksa isi besek. Salahnya sendiri. Kemarin malam ketika membeli, ia tidak mengecek terlebih dahulu. Ketika penjual bingung saat ia menyebutkan istilah pangir, Suri hanya menjelaskannya sebagai air wangi yang digunakan untuk mandi bersih. Pantas saja ia membawakan barang yang salah.
“Ah, macam mana anakku ini. Sudahlah melanggar norma, tak mengerti pula adat dan tradisi. Kalau orang-orang tahu, mau ditaruh di mana mukaku?”
Suri menggigit bibir. Lagi-lagi, ia mengecewakan Mamak. Bukannya ia sengaja membuat ibunya itu marah. Tapi, ia benar-benar tidak mengerti alasan Mamak menumpahkan kekesalan kepadanya. Ya, ia mengadopsi anak. Apakah itu salah? Ya, dirinya belum menikah? Apakah itu memalukan? Apakah prestasinya sebagai pemilik bisnis perjalanan wisata tidak cukup bikin ibunya bangga? Apakah perangainya yang sopan dan hormat kepada orang lain bukanlah tanda keberhasilan bahwa ia dididik dengan baik oleh Mamak?
Gumpalan kekesalan di perut Suri meluncur ke atas. Menunggu untuk ditumpahkan. Ia sudah membuka mulut. Tiba-tiba, seorang anak kecil yang masih mengenakan piyama mendatanginya. “Ibu,” sapa anak itu memeluk diri Suri. “Tisha mau sarapan.”
“Sebentar, ya. Ibu masakin nasi goreng.”
“Ah, lagi-lagi nasi goreng. Anak kecil itu perlu makan yang sehat. Bukan yang instan-instan seperti yang kau bikin tiap hari itu, Suri. Itulah kau. Merasa hebat mampu mengurus anak. Padahal tak tahu apa-apa. Sendiri pula, tak ada suami. Mau di mana ditaruh mukaku kalau orang bilang kau wanita nakal!”
Prang! Suara penggorengan yang dijatuhkan menghentikan omelan Mamak. Suri tidak tahan lagi. Ia harus segera pergi dari sini. Menjauh agar tidak mendengar kata-kata ibunya yang membuat sakit hati. Ia mengambil kunci mobil dan tasnya. Kemudian, menggandeng Tisha agar mengikutinya.
“Mak, aku pergi dulu. Seperti biasa, nanti Ria juga datang,” ujarnya menyebut nama asisten yang ia pekerjakan untuk membersihkan rumahnya. “Kalau ada apa-apa, Mamak bilang saja sama dia.” Suri mengaduk-aduk tas. Ia mencari-cari uang untuk pegangan ibunya. Tapi, tangannya menyentuh sesuatu. Dokumen berlogo rumah sakit.
Sembari mengembuskan napas panjang, ia sodorkan berkas itu. “Kalau Mamak sempat, tolong baca, ya,” pintanya.
Selanjutnya, klik laman berikutnya.
Sehari sebelum Ramadan, suasana pasar sungguh ramai. Semuanya berlomba-lomba membeli bahan makanan terbaik yang akan disiapkan untuk menyambut bulan suci itu. Sambil menggandeng anaknya, Suri kerepotan membawa barang belanjaan.
“Ibu, belum beres, ya? Ini, kan, udah banyak,” keluh Tisha.
“Masih ada satu lagi, Sayang. Jeruk purut untuk pangir.”
“Itu ada jeruk, Bu,” tunjuk Tisha.
“Bukan yang itu. Itu jeruk nipis. Yang kita cari, kulitnya berkerut-kerut.”
“Kayak muka Nenek kalau lagi marah,” celetuk anak enam tahun itu.
Suri tersenyum. “Nenek marah kalau kita nggak bersikap manis, Tisha. Tapi, kalau kita berubah jadi anak baik, Nenek nggak akan marah lagi, kok.”
“Ibu, Ibu. Itu jeruknya!”
Tisha benar. Bahan pelengkap pangir itu tersedia di salah satu gerai. Dengan senang, ia memasukkan jeruk perut ke dalam tas belanjaannya. Sekarang, ia bisa membuat pangir sesuai kemauan Mamak.
Pulang ke rumah, semerbak harum masakan menerpa hidung Suri. Penyebabnya adalah berbagai penganan yang ada di meja yang saat itu sedang disajikan oleh Ria, asisten rumah tangganya.
“Ah, sudah pulang kau? Suruhlah si Tisha itu mandi baru kita makan.”
Sebaik anak adopsi Suri itu berlalu, Mamak memeluknya erat sambil terisak. “Kenapa kau tak bilang-bilang Suri. Sedih hatiku membaca kertas yang kau kasih.”
Suri membalas pelukan ibunya. Kertas yang dimaksud Mamak adalah berkas-berkas kondisi kesehatannya. Bahwa setahun terakhir ini, ia divonis mengidap kanker rahim. Bahwa setelah operasi pengangkatan rahim, ia tidak akan bisa hamil. Dengan pertimbangan matang, itulah sebabnya Suri memutuskan untuk mengadopsi anak.
“Maafkan aku, ya, Mak. Aku cuma nggak mau Mamak sedih dan bingung mendapat gunjingan dari orang-orang.”
“Ah, peduli setan apa kata orang. Aku Mamak kau. Mau sampai kapanpun, kau tetap anakku yang harus aku lindungi.”
Bergenang air mata Suri mendengar kalimat itu. Di balik sikap tegas dan kolotnya, Mamak tetaplah ibunya. Yang sayang dan peduli terhadap anak-anaknya ketimbang merepotkan tudingan orang lain.
“Ah, sudah adakah pangir yang aku minta? Harus dibikin sekarang supaya nanti sore bisa mandi bersih sebelum puasa besok. Terus, tak usah kau belikan tiket pulang, ya! Masih banyak yang harus aku ajarkan supaya kau mengerti adat dan pintar mengurus anak kau itu. Eh, mana pula si Tisha? Panggillah biar makan sama-sama.”
Suri menatap ibunya dengan penuh rasa sayang. Masalah yang selama ini ia anggap sungguh sulit, ternyata tidak begitu berat. Kuncinya hanyalah berterus-terang. Mamak tetaplah seorang ibu hebat yang rela mengikis egonya sendiri demi kebahagiaan anak-anaknya. Meskipun menyesal tidak bercerita tentang kecemasannya setahun yang lalu, Suri senang karena akhirnya Mamak tetap mendukung apa pun pilihan hidupnya. (f)