
NINA MASUK ke Kedai Charles Cooke dengan uang di sakunya yang tersisa 10 dolar. Mata kanannya balut dan pipi kananya lebam. Dia berusaha menutup mata dan pipi kanannya dengan rambutnya, tapi tetap saja Charles bisa melihat ketidakberesan itu. Nina baru saja meninggalkan apartemen Joe Nicholson. Nina dan Joe Nicholson hidup bersama hampir lima tahun.
Di penghabisan tahun kelima ini, Nina merasa mulai kehilangan cinta pada Joe. Charles adalah orang satu-satunya tempat Nina bercerita. Nina mengatakan kepada Charles, Joe Nicholson adalah seorang pria tukang tidur. Lebih banyak bermain game. Lebih banyak merokok. Pemalas yang bisa tinggal di apartemen karena tunjangan mendiang istrinya.
Nina dan Joe Nicholson sering makan di Kedai Charles Cooke. Charles pernah melihat Joe memukul meja. Sebotol soda tumpah lantas mengenai rok Nina. Lain waktu, Charles mendapati Joe nyaris mencekik leher Nina di toilet. Karena itu, Charles mengusir Joe dari kedainya.
“Aku minta maaf untuk Joe. Tapi, aku akan tetap makan di sini. Aku terlalu menyukai kentang tumbuk dan pie lemonmu. Mungkin lain kali aku akan membungkusnya.”
“Kau bisa makan di sini, tanpa Joe,” ujar Charles. Nina mengangguk dan meminta maaf lagi untuk kesekian kalinya. Charles berempati pada Nina. Meski Nina kerap kesulitan uang, dia selalu membayar lunas kentang tumbuk ikan cod dan pie lemon yang dipesannya.
Keesokan harinya, Nina datang sendiri ke kedai Charles. Dia menempati bangku kedelapan. Nina memain-mainkan gantungan kunci ikan emas di tangannya ketika dia menunggu pesanannya. Tangannya bergerak. Tapi, tatapan matanya kosong. Nina teringat neneknya di Meksiko. Neneknya yang sepanjang waktu duduk di beranda seperti mengamati debu-debu kuning di jalanan.
“KENTANG TUMBUK berlumur saus peterseli hijau segar dipadu daging ikan cod siap disantap,” Charles sudah berdiri di depan Nina dengan membawa pesanan gadis itu. Nina tersenyum. Charles menarik bangku di depan Nina. Berbicara sejenak, lalu tangannya menunjuk iklan pengumuman di dinding kaca depan kedainya. “Jangan lupa dibaca.”
“Bagaimana kabarmu?”
“Ini musim dingin yang berat, Charles. Aku kehilangan pekerjaan lagi. Joe mengacau di tempat kerjaku yang baru dan aku dipecat.”
“Kau tidak melaporkan ke polisi?”
“Apa yang bisa dilakukan imigran sepertiku, Charles?”
“Jangan lupa baca iklan pengumuman itu,” Charles kembali mengingatkan, kemudian meninggalkan Nina. Nina meletakkan gantungan kunci ikan emas di meja, lalu mulai menyantap kentang tumbuknya. Nina mengunyah kentangnya pelan-pelan sembari menghitung bangku-bangku di depannya.
Charles Cooke menempatkan sembilan pasang bangku di kedainya, seolah-olah dia setengah hati menerima keriuhan. Kedainya bercat cokelat kayu dengan bagian depan kaca semua. Di jendela kacanya selalu ada iklan pengumuman yang berganti tiap pekan.
Menurut Charles, iklan-iklan pengumuman itu setidaknya sudah menolong empat imigran bertahan hidup di Colorado. Pertama, seorang wanita paruh baya, baru berpisah dari suaminya yang pecandu. Dia mendapat pekerjaan di toko 24 jam. Kedua, seorang pelanggan murung, mendapatkan pekerjaan di restoran pizza. Ketiga, seorang pelanggan yang selalu membenahi lipstiknya, mendapat pekerjaan di Bar Mark Bersaudara. Keempat, seorang pelanggan tambun yang selalu bercerita tentang merpati peliharaannya, dia mendapatkan pekerjaan sebagai penjaga pemakaman paruh waktu.
Nina keluar dari kedai Charles. Dia berdiri di depan iklan pengumuman. Di sana, seseorang bernama Stuart tengah mencari wanita yang mau mengurus seseorang bernama Tuan Burroughs. Dicari wanita telaten. Yang bisa mengurus penuh waktu pria stroke 68 tahun. Lokasi mukim di Steamboat Springs. Telepon Stuart di 303678XXX.
Nina menelepon Stuart. Dan, sebagaimana yang disarankan Stuart, Nina menunggu di kedai Charles Cooke dengan satu koper pakaian. Hanya sekoper itu saja hartanya. Joe Nicholson sedang pergi selama empat hari ke Wyoming bersama teman-temannya, sehingga Nina bisa berkemas dengan tenang. Stuart akan datang menjemputnya.
Menjelang pukul tujuh, seorang pria mengenakan jaket musim dingin berwarna biru gelap dengan beanies dan ear muff yang serasi masuk ke dalam kedai. Pria itu melepaskan ear muff-nya, kemudian dia menelepon. Ponsel Nina berdering. Nina melambai. Pria itu menuju meja Nina. Nina berdiri. Mereka bersalaman.
“Nina?”
“Apa kabar, Stuart?”
“Tidak begitu baik. Kita akan berkendara setengah jam lagi. Aku ingin minum kopi dulu. Kau tidak keberatan?”
“Sama sekali tidak. Ada pie lemon enak di kedai ini,” ujar Nina.
“Aku tahu. Charles dan aku sepupu.” Perlahan-lahan kecemasan Nina sirna. Semula dia cemas, iklan pengumuman itu akan mengelabui imigran sepertinya. Nina menilai Stuart lewat Charles. Charles pria baik, kemungkinan Stuart juga baik.
“Aku harap kau tidak keberatan dengan uji coba yang kukatakan. Musim dingin belum selesai, Tuan Burroughs sudah memberhentikan dua pengurus. Jadi, aku memintamu uji coba selama sebulan ini. Jika kau sanggup dan Tuan Burroughs tak lagi berteriak. Ah, Tuhan, kuharap semua bisa lancar.”
“Apa dia sering berteriak?”
“Ya, dia sering berteriak jika pengurusnya kaku dan lamban.”
“Ke mana anak-anaknya?”
“Putra dan istrinya kecelakaan mobil di hari kedua musim dingin. Kecelakaan itu membuat Tuan Burroughs terpukul kemudian stroke. Ini musim dingin yang berat.”
“Sedih sekali.”
SETELAH STUART menandaskan kopinya. Charles menemui mereka. Charles dan Stuart terlibat pembicaraan. Charles menanyakan kabar seseorang bernama Bibi Billie, lalu dijawab Stuart, “Dia sehat dan menyewakan kuda-kudanya.”
Stuart dan Nina kemudian keluar dari kedai Charles. Dia membantu Nina dengan membawakan koper gadis itu. Mereka menuju mobil Stuart. Nina masuk ke dalam mobil Stuart. Mobil itu berbau, seperti bau pakaian yang tidak mendapat cukup sinar matahari. Seekor kecoak melintasi boneka anjing pit bull.
“Ini mobil lamaku. Jarang kupakai, jadi kondisinya begini. Aku baru saja bangkrut. Toko buahku sekarat. Tuan Burroughs mempekerjakan aku sebagai asistennya, aku mencarikan dia perawat, membayar pajaknya, membayar tagihannya, dan sebagainya. Ini musim dingin yang berat. Kau menyukai Colorado?”
“Kurasa begitu. Tapi, seperti kata Anda, musim dingin ini sungguh berat.”
Setelah dua setengah jam berkendara, mobil memasuki sebuah properti luas. Di kanan kiri, pagar-pagar putih memanjang. Stuart menjelaskan, properti seluas 12 hektare itu milik Tuan Burroughs. Setelah Tuan Burroughs pensiun dari bankir investasi, dia memilih menjual rumah utamanya di Selatan Denver. Dia membeli properti ini karena ada danaunya.
“Dia membangun rumah ini untuk hari-hari pensiunnya bersama istri dan putranya, tapi kecelakaan itu telah mengubah segalanya. Tugasmu adalah memandikannya, mengganti pakaiannya, mencuci pakaian kotornya, menyiapkan makanannya yang telah diresepkan perawat, meminumkan pilnya, membawanya jalan-jalan di sekitar rumah jika dia menginginkan, asalkan tidak di musim dingin ini.”
Mobil kemudian berhenti di depan rumah kayu berlantai ganda. Di lantai bawah, berdinding batu-batu alam dan di atasnya berdinding papan pernis yang mengilap. Rumah itu berwarna cokelat, baik batu-batunya maupun papannya. Jendela di lantai bawah tampak kuning bercahaya dari luar sini. Di salah satu jendela besar, Nina melihat seorang wanita berseragam perawat duduk di meja dapur. Perawat itu tengah merokok sendirian.
“Itu Suster Suzan, yang datang mengontrol tekanan darah, meresepkan makanan dan melakukan terapi bicara pada Tuan Burroughs. Dia hanya bisa datang seminggu sekali.”
Tuan Burroughs tengah duduk di kursi rodanya. Bibirnya mengatup tidak seimbang. Di sudut bibirnya, air ludah turun ke dagunya. Tapi sorot matanya tampak baik. “Ini Nina, Tuan Burroughs. Dia akan bekerja uji coba selama musim dingin ini, dia sepakat, jika kau tidak bermasalah dengannya, kau bisa memperpanjang kontrak kerjanya hingga musim semi dan seterusnya.”
Nina menyalami Tuan Burroughs. Susah payah pria tua mengangkat tangannya. Sepasang mata Tuan Burroughs mengarah ke kanan bawah. Sementara sepasang bibirnya mengarah ke kiri atas. Dan alis kirinya tampak bengkok. “Dia teman Charles, sepupuku,” ujar Stuart.
Tuan Burroughs hanya menatap Nina dengan mimik yang sulit dijelaskan.
Nina kemudian mengikuti Stuart. Stuart menunjukkan kamar Nina. Nina tertegun, kamarnya sungguh indah. Di luar sana, tampak danau yang tenang. Nina tiba-tiba merasa kasihan pada Tuan Burroughs yang belum apa-apa menikmati rumah danaunya, musibah menimpanya, lalu stroke datang menyerang. Stuart meninggalkan Nina untuk beres-beres.
“Istirahatlah dulu,” ujar Stuart sambil berlalu.
USAI MEMASUKKAN semua pakaiannya ke dalam lemari, Nina keluar menemui Stuart sebelum pria itu pulang. Stuart sedang berjongkok menambah kayu bakar di perapian ruangan. Sementara Tuan Burroughs sedang duduk di kursi roda menonton televisi. Televisi tengah menyampaikan kabar badai musim dingin yang melanda beberapa kota di Colorado, termasuk Denver. Sekolah-sekolah tutup dan penerbangan di Bandara Internasional Denver dibatalkan.
“Tuan Burroughs, aku ingin bicara berdua dengan Stuart. Apakah Anda tidak keberatan?”
Dengan susah payah Tuan Burroughs menggerakkan kepalanya untuk menatap wajah Nina. Tak ada jawaban. Stuart kemudian mengajak Nina ke beranda. Nina menanyakan banyak hal kepada Stuart. Apa yang disukai dan tak disukai Tuan Burroughs. Semua jawaban Stuart ditulis Nina di jurnalnya: Tuan Burroughs suka lagu country Ray Price. Lebih suka kuku-kukunya dipotong. Membenci tirai jendela yang telat dibuka.
HARI PERTAMA Nina bekerja, berlalu dengan baik-baik saja. Nina membuka tirai jendela di kamar Tuan Burroughs. Dilanjutkan membawakan sarapan, menyuapinya, lalu meminumkan pilnya. Dilanjutkan menuntun Tuan Burroughs ke kamar mandi. Mendudukkan Tuan Burroughs di dalam bak mandi. Melepaskan pakaian Tuan Burroughs. Kemudian Nina mengambil sehelai kain untuk menutupi penis pria tua itu. Tapi, Tuan Burroughs dengan susah payah menyingkirkan tutupan penisnya. Nina mengabaikan tingkah Tuan Burroughs.
Nina kemudian menampung air panas dan air dingin. Setelah itu, dia mengambil sebuah handuk kecil. Handuk itu dimasukkan ke dalam baskom air hangat. Kemudian Nina menggosok tubuh Tuan Burroughs dengan handuk yang terasa panas suam-suam kuku. Nina menggosok kedua tangan Tuan Burroughs. Menggosok kedua ketiaknya. Menggosok tengkuknya. Menggosok punggungnya. Menggosok kedua kakinya. Setelah itu, Nina menyabuni tubuh Tuan Burroughs. Kemudian Nina membilas tubuh Tuan Burroughs dengan air hangat.
HARI-HARI musim dingin terus berganti di rumah danau Steamboat Springs. Stuart menelepon dan bertanya kabar Nina. Nina mengatakan, sampai hari kedelapan belas ini Tuan Burroughs belum berteriak kepadanya. Stuart mengatakan, “Tuan Burroughs tak lagi meneleponku dan aku mulai agak tenang. Pekan depan aku akan singgah di Steamboat Springs.”
Hari kesembilan belas Nina mengurus Tuan Burroughs, pria tua itu meminta Nina memutarkan sebuah CD di atas mejanya. Nina mengambil CD itu dan tertegun. Di sana ada potret wanita telanjang, memakai sepatu merah, stocking hitam jala-jala, dengan posisi mulut setengah menelan bola merah kecil.
Nina mengabaikan permintaan Tuan Burroughs. Di dalam, pria tua itu berbicara, tapi Nina tidak mengerti semua yang diucapkan Tuan Burroughs.
Malam itu, Nina menelepon Stuart, Nina meminta izin mengunjungi Charles. Stuart menawarkan diri mengantar Nina. Malam bersalju deras, mobil mereka melaju menuju pusat kota. Stuart menurunkan Nina, lalu pergi lagi. Malam itu. Ketika Nina dan Charles tengah minum-minum menyesali musim dingin yang panjang, Joe Nicholson menerobos ke dalam kedai dengan membawa pistol. Joe menyeret Nina keluar dari kedai Charles. Joe menodongkan pistol di kepala Nina.
“Aku tidak suka polisi, Charles,” ancam Joe Nicholson. Pria itu kemudian mendorong tubuh Nina. Nina tersungkur di jalanan. Joe menduduki tubuh Nina. Dia mencekik leher Nina. Charles panik. Dia kemudian memasuki kedainya. Dia keluar dari sana dengan membawa bat pingpong. Charles menghantamkan bat itu di kepala Joe Nicholson. Pria itu tersungkur. Bunyi tembakan terdengar.
Nina meloloskan tubuhnya dari Joe. “Pergilah, pergilah!” teriak Charles. Nina menyetop taksi dengan wajah shock. Dia kembali ke Steamboat Springs.
Nina tiba di rumah danau dalam kondisi kedinginan. Dia langsung menuju kamar mandi. Dia mengguyur tubuhnya di dalam kamar mandi. Nina tidak menangis. (f)