Foto: 123RF, Dok. Freepik

Kaki-kaki mungil Terry saling susul-menyusul dalam langkah yang mungkin disebutnya lari. Asha mengikuti dengan tali kekang. Ponsel Asha berbunyi. Ah, Bastian.

“Hai!” Asha langsung menyapa. Suara Bastian terdengar bernada mengomel di seberang. “Ada di mana?”

“Aku bawa Terry jalan-jalan ke lapangan parkir, kenapa?”

“Anjing itu lagi. Ini sudah hampir pukul lima sore. Seharusnya kamu bersiap-siap!”

Asha menarik napas sejenak, berusaha mengenyahkan perasaan jengkel dengan senyum. “Aku akan ada di rumah sebelum jam enam, tenang saja.”

“Pokoknya, segeralah pulang, sudah terlalu sore.”

“Jangan khawatir.”

Bastian menutup sambungan telepon tanpa basa-basi lagi. Terry beralih menjauh dan bermain-main dengan sepotong ranting. Anjing itu milik Oma Linda, nenek tua tetangga sebelah rumahnya yang sedang dirawat di rumah sakit.

Sepulang kerja, dia buru-buru menjemput Terry untuk memberinya makanan anjing kalengan dan membawanya berjalan-jalan ke arena parkir GOR yang jadi lokasi arena belajar menyetir sepeda motor dan mobil.

Sedan berwarna kuning melintas untuk kedua kalinya sangat perlahan, tepat di depan Asha. Dari kaca depan, tampak pengemudinya lelaki, dan lelaki lain di sampingnya. Di bangku belakang, samar-samar ada dua lelaki lagi yang tampaknya semuanya berusia awal tiga puluhan, dengan anak lelaki kecil duduk di pangkuan salah satu lelaki itu.

Pintu belakang mobil terbuka dan anak lelaki kecil dengan baju lusuh robek-robek dan tanpa alas kaki itu berlari keluar mobil, tapi kemudian ada lelaki ikut turun dan mengejar anak itu. Dalam satu meter, anak itu sudah berhasil direngkuhnya.

Lelaki itu membungkuk dan menyodorkan sesuatu, entah apa. Si bocah mengangguk dan kembali digiring masuk ke dalam mobil. Mobil itu kembali berjalan perlahan-lahan.

Ketika mobil itu semakin dekat, Asha melirik hati-hati melihat lewat kaca depan mobil, dan dilihatnya anak lelaki itu sekarang didekap erat di pangkuan lelaki lainnya, bukan lelaki yang sebelumnya memangkunya.
 
 


Jantung Asha berdebar kencang sementara mobil itu bergulir menjauhinya. Dia mencoba menyusun berbagai teori dan semuanya membuat perutnya seperti bergolak. Asha menatap ponselnya, mencari mencari sebuah nama.

“Halo, Rifai?”

Terdengar suara ramah Ahmad Rifai, teman satu sekolahnya dulu kini bertugas sebagai penyidik di kepolisian.

“Hai! Asha? Tumben sekali menelepon sore-sore gini?”

“Kamu masih tugas di kota, Rif?”

“Masih, kenapa? Mau memperpanjang SIM?” Rifai bercanda.

“Kurasa lebih dari itu. Bisakah kamu datang ke area parkir Kompleks Bima?”

“Ada apa? Kamu menemukan mayat?”

“Aku tidak yakin apa yang terjadi, tapi baru saja aku melihat mobil mencurigakan. Pengendaranya pria, seperti belajar menyetir, tapi aku yakin dia sudah mahir. Juga tiga orang pria lainnya dan anak kecil. Seperti anak jalanan, bajunya lusuh, tak beralas kaki, sementara keempat pria itu berkemeja dan tampak keren sekali. Anak itu sempat ke luar mobil, lalu ditarik masuk lagi dengan iming-iming sesuatu. Kurasa ada sesuatu yang tak beres. Pentingkah menurutmu?” Asha merepet dan tersengal.

Sejenak tak ada jawaban dari Rifai. Jangan-jangan dia hanya berlebihan, “Menurutmu itu tak penting? Kalau begitu jangan hiraukan aku….”

“Tidak, ini penting sekali!” Rifai menukas. “Kau di mana?”

“Di depan pintu utara GOR, di bawah pohon rindang dekat tukang minuman.”

“Mobil itu masih berputar-putar?”

“Ya.”

“Asha, kusarankan kamu menyingkir dari situ. Pergilah mencari tenda penjual makanan dan duduk di sana. Aku akan datang dengan satuan dari Unit PPA.”

“Unit PPA?” Asha mengernyit. Tapi Rifai sudah menutup telepon. Asha menggigit bibir, sesaat kebingungan.

Lalu dia ingat perintah Rifai untuk menyingkir ke tenda penjual makanan.
 
 

Bagaimana mungkin hal semengerikan itu terjadi di kota sekecil ini? Asha bergidik. Hanya satu jam beberapa menit lagi menuju pesta pertunangannya di sebuah hotel berbintang.

Dari kejauhan Asha terus memantau mobil sedan kuning itu. Adrenalinnya seketika memuncak ketika sebuah mobil kijang berisi sepasukan polisi berpakaian sipil tampak memasuki area parkir dan melaju menjejeri mobil kuning itu.

Asha nyaris tak berani bernapas, terus mengamati adegan demi adegan, bagaimana mobil kijang itu berhenti tepat di depan sedan kuning setelah beberapa menit menjejerinya dan kedua mobil itu lantas berhenti.

Empat orang perwira polisi tanpa seragam resmi mendatangi mobil sedan kuning dan mengetuk kaca
jendelanya. Lalu kejadian selanjutnya seolah terjadi begitu cepat. Keempat lelaki di sedan kuning dibekuk masuk ke dalam mobil kijang, sementara dua orang polisi membawa mobil sedan kuning mereka. Anak lelaki kecil yang tampak sangat ketakutan itu dibawa masuk bersama dua polisi dalam mobil sedan kuning dan melaju pergi.

Sebuah mobil sedan lain berhenti dan pengendaranya turun. Rifai tampak mengedarkan pandangannya, lalu mengangkat ponsel ke telinga.

Ponsel Asha tiba-tiba berbunyi. “Halo? Kamu di mana?” tanya Rifai.

“Arah jam sepuluh dari tempatmu berdiri.” Rifai sekitar lima puluh meteran darinya, seketika itu dia pun menoleh dan menemukannya. Asha menutup ponsel, mengabaikan lusinan pesan singkat dari Bastian dan Mama.

“Apa-apaan tadi itu?” tanyanya masih gemetar ketika Rifai mendekatinya.

“Komplotan pedofilia terorganisasi. Korbannya kebanyakan anak-anak jalanan yang diberi iming-iming rupiah sekadarnya. Unit PPA sudah lama mengincar komplotan ini. Mereka ternyata berpraktik mesum di seputaran tempat parkir ini dengan modus pura-pura belajar menyetir. Terima kasih sudah membantu kami,” Rifai berkata lembut sambil menatap mata gelisah Asha.

“PPA itu….”

“Unit Perlindungan Perempuan dan Anak.”

“Bagaimana nasib anak kecil tadi?”

“Dua temanku mengantar ke rumahnya, yang menurutnya di dekat pekuburan Katiasa, rumah-rumah kardus semipermanen yang menempel di tembok luar pabrik, di atas tanah milik pemerintah. Dia akan segera divisum. Bukan hanya anak-anak jalanan seperti mereka yang jadi korban, tapi juga anak-anak korban kesibukan orang tua. Kamu akan terkejut melihat laporan anak hilang yang makin menyibukkan Unit PPA akhir-akhir ini.”

“Ya, Tuhan.” Asha menelan ludah, matanya mulai berkaca-kaca."
 
 


“Oh, tapi aku dengar kamu bertunangan malam ini. Kamu tak mengundangku?”

Asha tertegun sesaat seperti baru menyadari sesuatu, lalu diliriknya arloji di tangannya, sudah lewat lima menit dari pukul enam sore. Pantas saja cahaya matahari makin lenyap. Asha mengangkat wajahnya dengan panik. “Hanya untuk keluarga, maaf kamu enggak diundang. Dari mana kamu dengar soal pertunanganku?”

“Diumumkan di koran pagi tadi, kamu tak membacanya?”

Asha menggeleng, dia bahkan tak tahu soal itu. Pasti Bastian. Lalu dia menggedikkan bahunya. “Aku harus segera pulang dan bersiap-siap.”

“Seharusnya begitu. Memangnya sedang apa kamu di sini, Tuan Putri?”

Pertanyaan itu membuat Asha teringat pada Terry yang duduk di bawah pohon. Telinga anjing terrier itu terkulai dan matanya agak terpejam. “Aku membawa dia jalan-jalan, dan tak sengaja melihat insiden tadi.”

Rifai menoleh ke Terry, lalu menyeringai. “Dia bukan anjingmu, ‘kan?”

“Anjing tetangga. Pemiliknya sedang diopname dan aku hanya ingin mengajak Terry jalan-jalan untuk mengurangi rasa sedihnya ditinggal majikan.”

“Sangat khas Asha. Jadi sore ini kamu sudah membantu anjing tetangga yang kesepian sekaligus membantu polisi menyergap para pedofilia, lalu malamnya bertunangan. Hari yang bagus, bukan?”

Entah kenapa, kalimat itu terdengar sangat positif dan cukup membuat Asha merasa terhibur. Setelah segala hal yang terjadi tadi, baru sekarang Asha merasa cukup tenang dan bisa tertawa lepas. “Hari yang aneh, tepatnya. Kabari aku perkembangan kasusnya.”

“Tentu! Mau kuantar pulang?” Rifai bangkit mengikuti langkah Asha yang sedang melepaskan tali kekang Terry.

“Tidak usah, aku membawa mobil.” Asha menunjuk sedan kecil hitam mengilat yang terparkir sekitar dua puluh meter dari warung tenda itu. “Lagi pula, kamu harus siap-siap datang mengapeli seseorang, ‘kan?”

“Oh, aku jomblo!” tukas Rifai, lalu cepat-cepat menyambung kalimatnya. “Info saja, buat jaga-jaga saja
barangkali pertunanganmu batal.”

Sekali lagi Asha dan Rifai tertawa lepas.
 
 

Baru saja Asha selesai mengunci pintu rumah Oma Linda usai mengantar Terry, ada suara Bastian berteriak.

“Kamu di situ rupanya! Jam berapa ini?”

“Ada insiden tadi di lapangan parkir,” Asha mencoba memberi alasan dengan suara tertahan.

“Insiden apa? Kamu menggagalkan perampokan?”

Kenapa Bastian mengatakan hal seperti itu? Dan dia tiba-tiba tersadar, entah bagaimana terjadinya, tiap kali ada janji temu atau apa pun dengan Bastian, selalu saja ada kejadian-kejadian tak terduga yang membuatnya terlambat. Perampokan di simpang jalan hanya salah satunya.

“Bukan perampokan kali ini, ada korban pedofil terorganisasi. Aku harus menghubungi polisi. Untunglah ada Rifai.”

Bastian tercengang, dan dipastikan dia rasa itu omong kosong. “Kamu ingat kan malam ini kita bertunangan?”

“Ya, kamu mengumumkannya tanpa seizinku di koran.”

“Banyak relasiku yang hadir, harus dibuat eksklusif.”

Asha terpaku. “Kamu tak mengizinkanku mengundang siapa pun selain keluarga, tapi mengundang para relasi?”

“Relasiku kan berbeda. Ini demi kelancaran proyekku. Ayo bersiap-siap. Seluruh keluargaku bahkan sudah tiba di hotel di saat kamu hanya memikirkan menolong orang lain.”

Kata-kata Bastian membuat Asha marah. “Apa salahnya dengan menolong orang? Kamu ingat, begitulah caraku bertemu kamu. Saat itu kamu baru saja ditabrak lari oleh mobilmu yang dibawa mantan pacarmu. Aku yang sedang menemani Mama di IGD lalu meminjamkanmu ponselku agar kamu bisa menelepon ibumu. Ingat?”
 
 


Beberapa saat Bastian diam, lalu dengan rahang mengeras, pria tampan berusia akhir dua puluhan itu mendekati Asha. “Hanya aku yang boleh kamu tolong. Bukan yang lain. Kamu bukan Pahlawan Pemberantas Kejahatan, Sayang. Biarkan para polisi itu bekerja.”

Kemarahan Asha memuncak seketika. “Aku tidak ambil pekerjaan mereka. Aku hanya bantu sedikit!” ia merasa sesak dan bisa menangis saking marahnya.

“Asha?” Tiba-tiba Asha melihat mama dan papanya berdiri di depan rumah mereka dengan pakaian pesta. “Ada apa? Kenapa kamu enggak segera masuk dan bersiap-siap?”

“Asha baru selesai memberantas kejahatan dengan menangkap pedofilia yang memangsa anak kecil, Tante!” Lalu Bastian, tertawa seolah itu lelucon bagus.

Asha langsung teringat anak lelaki kecil si korban dan itu bukan sesuatu yang pantas ditertawakan. Dengan muak Asha berpaling ke arah Bastian dan mulai bicara dengan suara bergetar. “Kamu benar, Bas. Aku lebih baik jadi Pahlawan Pembasmi Kejahatan daripada jadi tunangan bodohmu!”

Sebelum Bastian memahami tiap detail kata-katanya, Asha sudah berjalan pergi menyeberangi halaman rumah Oma Linda, kemudian terus saja memasuki halaman rumahnya sendiri, melewati mama dan papanya. Masuk terus ke dalam rumah, naik ke kamarnya di lantai dua, dan mengunci pintu rapat-rapat. Tak ingin siapa pun mengganggunya hingga esok pagi. (f)

***

Nimas Aksan
 
 
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/